Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
77. Cadar


__ADS_3

"Lalu apa boleh Rahman melihat wajah Khadijah?" tanya ustad Firdaus lagi.


"Kalau hal itu ana-"


Dengan cepat Islam bangkit dari sofa membuat semua orang menoleh.


"Saya permisi dulu."


Islam berpaling dan bersamaan itu air matanya menetes membasahi pipinya. Islam melangkah pergi membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan tumpah ruah membasahi pipinya yang mulus itu.


Apakah seperti ini rasanya sakit hati?


Oh Tuhan, bahkan dadanya terasa sesak untuk bisa bernafas.


Islam melangkah dengan tatapan kosong dengan perasaan yang benar-benar hancur. Apakah ini akhir dari kisahnya dan membiarkan Rahman memiliki Khadijah.


Islam tetap melangkah pergi mengabaikan teriakan Umma Nur yang berusaha untuk memanggilnya.


Khadijah berlari dan menghempaskan tubuhnya bersamaan dengan lepasnya tangisan. Sejak tadi ia bersandar di balik pintu kamar dan mendengar percakapan mereka semua.


Khadijah menyumbat mulutnya dengan kain agar suaranya tak di dengar oleh orang-orang yang masih ada di luar sana.


Ini bukan kemauan Khadijah! Ini bukan impian Khadijah.


Khadijah akui jika ia benar-benar telah mencintai pria bernama Islam itu. Pria yang selalu datang dan menggangunya.


Khadijah telah mengakui jika Allah telah merayu hati ini untuk mencintai Islam.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar membuat Khadijah dengan cepat menghentikan tangisannya. Ia bangkit dan duduk di atas kasurnya.


"Siapa?"


"Khadijah, ini ada Rahman. Dia mau melihat wajah antum," jawab ustad Hasim dari luar.


Dengan buru-buru Khadijah mengusap kelopak matanya yang ikut basah itu dan berusaha untuk tidak menangis.


Pintu terdengar dibuka membuat Khadijah ingin menangis lebih kencang lagi.


Apa yang akan ia lakukan sekarang? Khadijah tidak mau jika Rahman yang lebih dulu melihat wajahnya. Tak ada yang pernah melihat wajahnya bahkan ustad Hasim, Abinya sendiri sudah jarang melihat wajahnya.


Rahman tersenyum menatap Khadijah yang terlihat membelakanginya.


"Khadijah, ini ada Rahman. Rahman sudah resmi melamar antum jadi bolehkah Rahman melihat wajah antum?"


Khadijah terdiam, tak menjawab apa-apa.


"Em, mungkin kita biarkan saja mereka berdua di sini, mungkin Khadijah malu untuk membukanya jadi mari kita keluar!" usul ustad Firdaus lalu menarik tangan ustad Hasim dan membawanya keluar dari kamar.


Suasana kamar kini menjadi sunyi membuat Rahman meneguk salivanya. Ia tak mengerti mengapa seakan-akan Khadijah tak menyukainya dan bahkan Khadijah sama sekali tak pernah menoleh untuk menatapnya.


"Ukhti Khadijah! Boleh kah ana melihat wajah antum sebelum hari pernikahan itu tiba?"

__ADS_1


Hening, tak ada jawaban.


"Ana tau jika ukhti Khadijah merasa malu tapi di sini tidak ada yang melihatnya."


"Hanya ada ana di sini."


"Niat ana baik bukan jahat."


"Boleh kah ana melihat wajah ukhit?" tanya Rahman yang kesekian kalinya.


"Tujuan akhi Rahman melihat wajah Khadijah apa?" tanya Khadijah yang bicara juga akhirnya.


"Karena ana akan menikahi ukhti Khadijah."


"Hanya itu?"


"Iya."


Khadijah menghela nafas.


"Menurut akhi Rahman bagaimana rupa Khadijah?"


Rahman terdiam. Rahman mendecapkan bibirnya. Mengapa Khadijah selalu saja memberikan pertanyaan kepadanya. Mengapa sesulit itu untuk melihat wajah Khadijah.


"Emmm ana yakin jika wajah ukhti Khadijah sangat cantik."


"Lalu bagaimana jika tidak?"


"Apakah akhi Rahman tetap mau menikahi Khadijah jika wajah Khadijah tak seperti apa yang akhi Rahman bayangkan."


"Tidak usah meragukan ukhti Khadijah. Ana akan tetap menikahi antum apapun yang terjadi."


Khadijah tertunduk. Bukan rasa senang yang ia rasakan di hatinya. Yang ia inginkan adalah Islam bukan Rahman yang kini masih berdiri di belakangnya.


"Bagaimana? Apa boleh ana melihatnya?"


"Kalau begitu akhi Rahman boleh keluar sekarang."


"Kenapa?"


"Saat ini Khadijah belum siap untuk membuka cadar dan memperlihatkan wajah Khadijah kepada akhi Rahman."


"Khadijah akan membukanya dan memperlihatkan wajah Khadijah sebelum akad nikah," sambungnya.


Rahman mengerutkan dahinya.


"Kenapa bukan sekarang?"


Hening, tak ada jawaban.


"Bukankah ini sama saja. Ana melihatnya hari ini dan nanti juga sama saja, ana tetap akan menikahi antum."

__ADS_1


"Afwan ya akhi Rahman tapi Khadijah belum siap untuk memperlihatkan wajah Khadijah kepada akhi Rahman."


Rahman menghela nafasnya dan ia tersenyum menatap Khadijah yang sedari tadi membelakanginya.


"Baik, jika itu yang ukhti Khadijah inginkan maka akan ana turuti tapi ingat! Tak ada yang bisa memiliki ukhti Khadijah, siapapun itu termasuk Islam."


Khadijah membulatkan kedua matanya, ia terkejut saat Rahman membawa-bawa nama Islam dalam hal ini. Pintu ditutup seiring suara langkah yang ia dengar menjauh darinya.


Khadijah menoleh menatap ruangan kamarnya yang telah kosong. Khadijah membaringkan kepalanya di atas bantal dengan tatapan sedihnya.


Ustad Firdaus menoleh dan tersenyum setelah menatap Rahman yang datang menghampiri.


"Bagaimana?"


Rahman terdiam. Ia menatap Abah Habib, Umma Nur dan Akbar yang terlihat khawatir.


"Rahman ada apa?" tanya ustad Hasim.


"Maaf ustad, tapi Khadijah menolak untuk memperlihatkan wajahnya."


"Benarkah?" tanya Umma Nur yang langsung tersenyum bahagia.


Rahman mengangguk.


"Tapi kenapa?" tanya ustad Hasim.


"Dia mau memperlihatkan wajahnya di hari pernikahan sebelum akad nikah," jawabnya.


Ustad Firdaus bangkit dari sofa dan merangkul bahu Rahman.


"Tidak usah khawatir, sudah pasti dia malu karena wajahnya tak pernah dipamerkan kepada orang lain."


Akbar tertawa lalu ia ikut bangkit dari sofa membuat semua orang menoleh.


"Dan mungkin saja bukan hal itu alasannya."


"Maksud antum apa?"


Akbar tersenyum lalu ia ikut merangkul bahu Rahman.


"Mungkin saja dia menolak membuka cadar karena tak ada cinta di hatinya untuk Rahman."


Rahman yang mendengar hal itu langsung menoleh menatap sorot mata Akbar yang seakan menikamnya.


"Cinta akan muncul jika sudah sah menjadi suami istri-"


"Tapi tidak semudah itu," potong Akbar.


"Iya kan?"


Akbar menepuk bahu Rahman beberapa kali lalu ia melangkah pergi meninggalkan kediaman ustad hasim setelah mengucapkan salam.

__ADS_1


__ADS_2