
Islam bersandar di dinding masjid dengan perut yang kenyang, setelah sholat maghrib ia telah menghabiskan dua porsi makanan, bahkan kini bernafas pun sulit rasanya.
"Sakit perut gue," aduh Ali yang kini tengah mengelus perutnya.
"Bagaimana perut kamu tidak sakit, lah kamu makannya tiga piring," ujar Kristian.
"Yah namanya juga lapar."
"Kita semua ini harus sabar, ini masih permulaan," sahut Sarifuddin membuat Ali, Kristian dan Abirama itu terkejut.
"Maksud kamu?" tanya Abirama.
"Kita sudah puasa satu hari jadi sisa 29 hari lagi," jawabnya membuat mereka terkejut bukan main.
"Yang benar aja kamu?" ujar Kristian.
"Mana pernah saya bohong."
Kristian menghempaskan tubuhnya ke lantai dengan rasa lelahnya.
"Bisa mati abdi kalau seperti ini," sedihnya.
Suara azan berkumandang merdu dan siapa lagi jika bukan Akbar yang melantunkannya membuat suasana kini menjadi sunyi, tak ada yang bicara. Para santri dan pengurus pondok pesantren kini berbondong-bondong mendatangi masjid.
"Azan lagi?" bisik Kristian.
Sarifuddin mengangkat kedua tangannya dan mengusap wajahnya. Ia bangkit membuat Islam, Kristian, Abirama dan Ali mendongak.
"Mau kemana?" tanya Abirama.
"Sholat isya," jawabnya.
Mau tak mau mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Sarifuddin persis seperti anak-anak. Ketika Sarifuddin sujud ke sajadah maka mereka juga akan sujud, jika Sarifuddin rukuk maka mereka juga akan rukuk, tak ada bedanya seperti bocah yang mengikuti ibunya yang sedang sholat.
Sholat isya kini dilaksanakan dan dipimpin oleh Rahman, yah selama Rahman pulang dari Arab kini Rahman lah yang menggantikan posisi Akbir yang selalu menjadi imam masjid.
Islam menoleh ke kiri dan kanan setelah imam mengucapkan salam sebagai tanda penutup sholat. Setelah sholat isya selesai Abah Habib kemudian naik ke mimbar dan memberikan sedikit kalimat pembuka ramadhan dan rasa syukurnya karena puasa hari ini berjalan dengan lancar.
Islam menyandarkan punggungnya ke dinding, rasanya tubuh ini sangat lelah setelah menghadapi masalah hari ini. Ali yang berbaring di lantai sambil menopang kepalanya itu menatap ke arah Abah Habib yang masih bicara di atas sana.
"Ngomong apa sih tuh si tua?" tanya Ali.
Kristian menggaruk kepalanya sambil menguap cukup lebar, ia benar-benar mengantuk.
"Din!"
Sarifuddin menoleh.
"Ini kapan selesainya sih?" tanya Kristian.
"Sabar!"
Kristian mendecapkan bibirnya lalu kembali menggaruk.
"Perasaan abdi kalau ke gereja tidak selama ini," ujarnya.
Abah Habib melangkah turun dari mimbar membuat semuanya bangkit dan berdiri di saf masing-masing. Sarifuddin ikut bangkit lalu ia mengerutkan alisnya karena merasa aneh. Sarifuddin melirik menatap ke sebelahnya yang terlihat kosong, tak ada Islam, Kristian, Abirama dan Ali.
__ADS_1
"Hey! Mau pergi mana?!!" teriak Sarifuddin setelah mendapati mereka yang terlihat melangkah ke arah pintu keluar.
"Yah mau balik lah," jawab Islam dengan santai.
"Balik kemana?"
Ali mendecapkan bibirnya, pria berpeci miring ini selalu saja bertanya.
"Lu tolol yah? Yah mau ke kamar lah pake nanya lagi lo," kesal Ali.
"Kenapa mau ke kamar? Sholat belum selesai," protesnya.
"Hah? Kristian melongo. "Lah yang tadi apa?" tanya Kristian.
"Itu baru sholat isya, bukan sholat tarawih. Sekarang ini kita mau sholat tarawih," jelasnya.
Wajah keempatnya mempias, harapnya untuk tidur dan bersantai itu hanyalah khayalan. Mereka kemudian kembali ke posisi semula dan berdiri di saf paling akhir. Lantunan bacaan Al-qur'an kembali dilantunkan dan mereka melaksanakannya dengan terpaksa.
Kristian yang mengantuk berat itu sesekali menguap dan mengusap matanya yang telah memerah sambil sesekali menggaruk lehernya yang terasa gatal. Di tempat yang sama Abirama yang tetap diam itu sibuk menatap langit-langit masjid berwarna biru dan menatap dengan teliti tulisan kaligrafi yang ada di atas sana. Sesekali Abirama membuang nafasnya dengan kasar dan merapikan sarungnya yang terasa longgar itu.
"Kapan selesainya sih?" bisik Ali ke arah Islam yang meggeleng tak tau.
Kedua kaki Ali sudah tak berdiri tegak lagi, yang ia rasakan adalah pegal di seluruh tubuhnya. Bahunya pun tak tegap lagi bahkan bahunya pun terlihat berat sebelah.
Sarifuddin menoleh ke kiri dan kanan untuk menutup sholatnya lalu ia mengusap wajahnya membuat Islam yang lainnya mengikut. Setelah itu Islam, Kristian, Abirama dan Ali dengan cepat bangkit dari sajadah berniat untuk keluar lagi dari masjid dengan wajah bahagianya.
"Mau pergi kemana lagi?" tanya Sarifuddin membuat langkah mereka terhenti.
"Apaan lagi sih?" kesal Ali dengan wajahnya yang terlihat ingin menangis.
"Lah kan tadi udah!" Tunjuk Islam.
"Itu baru dua rakaat."
"Emang sholat tarawih berapa sih? Kok banyak banget?" tanya Kristian yang kini melangkah mendekati Sarifuddin dan berdiri di posisi awalnya.
Mau tak mau Islam, Abirama dan Ali kembali ke safnya dan berdiri dengan wajah lelahnya.
"Sholat tarawih ada delapan rakaat terus itu ada tiga rakaat untuk witir dan selanjutnya dua puluh rakaat untuk sholat setelah witir," jelasnya membuat mereka terbelalak kaget.
"Yang benar aja lo?" kaget Ali.
"Mana pernah saya bohong."
Islam mendecapkan bibirnya dan merapikan pecinya dengan kasar.
"Bisa mampus gue kalau kayak gini," ujarnya.
"Kalau sholat bisa buat orang mampus mungkin saya sudah mampus sejak umur saya lima tahun," jelas Sarifuddin.
"Iya, iya percaya gue," kesal Islam.
Sholat tarawih dilaksanakan dengan penuh khusyu dan begitu pula dengan mereka berempat yang terpaksa ikut sholat tarawih walau mereka sesekali saling berbisik menanyakan kapan berakhirnya sholat tarawih.
...***...
Islam melangkah menuruni anakan tangga dengan wajah mengantuk, tak berbeda jauh dari ketiga sahabatnya itu. Setelah sholat dengan keterpaksaan itu akhirnya sholat mereka selesai juga.
__ADS_1
"Din, itu lantai yang paling bawah untuk santri juga?" tanya Abirama.
"Oh itu untuk santriwati," jawabnya.
"Santriwati itu siapa?" tanya Kristian.
"Murid perempuan," jawabnya lagi yang kini sudah memakai sendalnya.
Ketiganya mengangguk, Islam menoleh menatap Ali yang sedang mondar-mandir di depan tangga seakan sibuk mencari sesuatu.
"Li! Nggak mau pulang lo?" tanya Islam.
"Tunggu! Sendal gue nggak ada," jawabnya sambil sibuk mencari.
Islam menggeleng, ia kemudian melangkah pergi bersama dengan yang lainnya tanpa memperdulikan Ali yang berteriak di belakang sana meminta untuk ditunggu.
"Jadi di sini juga ada murid perempuan?" tanya Abirama.
"Ada."
"Tapi kok gue nggak pernah liat."
"Soalnya mereka itu dipisah sama santri. Tempat tinggal mereka juga ada di sebelah sana jadi susah buat kita ketemu," jelasnya.
"Woy!!!" teriak Ali yang kini berlari di belakang sana dengan nafas ngos-ngosan membuat mereka berempat menoleh.
"Anjirt lo yah ninggalin gue!" kesal Ali yang masih sesak nafas itu.
"Kamu juga atuh yang lama."
"Yah namanya juga cari sendal," jawab Ali.
Islam mengerutkan alisnya menatap heran pada sendal berwarna putih yang Ali kenakan. Seingat Islam tadi Ali hanya menggunakan sendal jepit tapi sekarang ia memakai sendal yang terlihat bermerek.
"Sendal siapa tuh?" Tunjuk Islam membuat semuanya menunduk menatap ke arah kaki Ali.
"Oh ini, keren nggak?" tanyanya sambil menggerakkan kakinya secara bergantian.
"Dapat dari mana lo?"
"Itu tadi di depan tangga," jawabnya dengan santai.
"Nyolong lo yah?" Tunjuk Islam.
"Pinjem," jawab Ali.
"Kalau dicariin sama yang punya bagaimana?" tanya Sarifuddin yang terlihat ketakutan.
"Ah bodoh amat," jawabnya santai lalu melangkah pergi.
...***...
"Ini sendal Abah mana?" tanya Abah Habib yang tak menemukan sendal miliknya.
"Tadi Abah simpan dimana?" tanya Akbar.
"Di sini di depan tangga," jawab Abah Habib.
__ADS_1