Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
89. Akad Nikah


__ADS_3

Khadijah melepaskan cadarnya di hadapan Rahman yang langsung kehilangan senyuman menatap wajah Khadijah yang terpampang jelas di hadapannya.


Kedua bibir Rahman terbuka saat ia berhasil menatap wajah Khadijah. Wajah yang selama ini ingin ia lihat dan hari ini terwujud.


Rahman tersenyum sejenak lalu senyum itu kembali hilang dari bibirnya.


Rahman bangkit dari kasur lalu melangakahkan kakinya keluar dari kamar membuat Khadijah kembali memasang cadarnya. Kedua matanya masih tertutup, ia tak ingin melihat wajah Rahman setelah melihat wajahnya.


Semua orang menoleh saat Rahman keluar dari pintu dengan wajah syoknya.


Islam ikut menoleh menatap Rahman. Oh Tuhan, pria itu telah melihat wajah Khadijah.


"Bagaimana apa akad nikah boleh kita mulai sekarang?" tanya Bapak penghulu itu.


Rahman masih terdiam membuat semua orang keherangan. Ada apa yang terjadi pada Rahman?


"Rahman!"


Rahman menoleh menatap ustad Firdaus, Abi dari Rahman yang telah menyentuh bahu Rahman.


"Ayo kita mulai, Nak!"


Ustad Firdaus menarik pergelangan tangan Rahman yang seketika Rahman tahan membuat ustad Firdaus menoleh dengan wajah bingungnya.


"Ada apa?"


"Ana tidak ingin menikah."


Semua orang terbelalak kaget pada apa yang telah mereka dengar dari Rahman.


"Apa yang kamu katakan?" tanya ustad Hasim yang langsung bangkit dari duduknya.


Semua orang ikut bangkit dari duduknya dengan wajah kaget tak percaya.


"Ana tidak bisa menikah dengan Khadijah, ustad Hasim."


"Tapi kenapa?"


"Saya tidak menduga jika putri ustad seperti itu."


"Apa yang kamu katakan?"


"Ustad tidak perlu bertanya banyak karena saya yakin Ustad Hasim tau semuanya dan hari ini saya mohon maaf. Pernikahan ini saya batalkan."


"Rahman!" teriak Abah Habib membuat semua orang menoleh menatap takut pada tatapan amarah pada sorot mata Abah Habib.


"Pernikahan bukanlah permainan yang bisa dihentikan begitu saja. Apakah antum tidak memikirkan perasaan Khadijah?"


Rahman tersenyum sinis.


"Kalau begitu suruh cucu Abah untuk menikahi Khadijah dan sebelumya persilahkan dia untuk melihat wajah Khadijah maka dari itu Islam juga akan melakukan hal yang sama," jelasnya lalu melangakahkan kakinya pergi meninggalkan rumah dan mengabaikan panggilan semua orang yang meneriaki namanya.


Semua orang yang ada di dalam ruangan kini terdiam dan saling bertatapan.


Umma Nur berlari masuk ke dalam menatap Khadijah yang terlihat duduk di pinggir kasur membelakanginya. Umma Nur bisa melihat kedua bahu Khadijah yang bergerak-gerak, yah Khadijah pasti sedang menangis.


"Khadijah!"


Khadijah melirik.


"Rahman membatalkan pernikahan," ujarnya memberitahu.


Tangisan Khadijah pecah dan hal itu membuatnya terbaring ke kasur dan menangis sesenggukan.

__ADS_1


Islam tersenyum sejenak, itu berarti Rahman tidak jadi menikah dengan Khadijah. Islam menoleh menatap Katrin yang ada di sampingnya. Gadis yang sangat mencintainya itu terlihat terdiam.


Islam menghela nafas. Islam tak mungkin mengatakan jika ia bersedia menikah dengan Khadijah sementara ia pernah mengatakan kepada Katrin untuk bersedia membuka hatinya untuk Katrin.


"Pergilah!"


Islam menoleh saat suara Katrin terdengar samar-samar.


"Apa?"


Katrin menoleh menatap Islam yang diam terheran.


"Pergi! Lo cinta kan sama Khadijah? Yah, udah sekarang pergi!"


"Pergi dan temui Khadijah!" sambungnya.


"Tapi gimana sama lo?"


Katrin tersenyum walau sejujurnya ini berat.


"Lo kenapa bego banget, sih? Kenapa lo mau mikirin gue dan perasaan gue?"


Islam terdiam.


"Lo harusnya bisa egois dikit, dong! Lo nggak usah mikirin hati gue? Please, pikirin hati lo juga!"


"Lo cinta kan sama Khadijah."


"Gue bisa liat itu semua, kok saat lo lebih milih nolongin Khadijah daripada gue sampai gue jatuh ke tanah."


"Nggak ada cinta di mata lo buat gue, Islam. Nggak ada."


"Gue cinta sama lo tapi gue nggak bisa maksa lo buat cinta sama gue."


"Tapi-"


"Pergi! Sebelum gue berubah pikiran!"


Islam seketika terdiam lalu ia menoleh menatap ustad Hasim yang terlihat sangat sedih dengan apa yang telah terjadi pada putrinya.


Islam menoleh menatap Katrin. Islam tersenyum lalu mengusap pipi Katrin yang tersenyum paksa, yah berat rasanya.


"Terimakasih."


Katrin mengangguk.


"Udahlah nggak usah terimakasih! Gue bisa dapat cowok yang lebih ganteng daripada lo."


Katrin mengangkat sebelah alisnya dengan sombong membuat Islam tertawa.


Islam berbalik badan untuk melangkah meninggalkannya dan tepat pada saat itu air mata Katrin menetes. Tak sanggup ia menahan kesedihan ini.


"Saya bersedia menikahi Khadijah," ujar Islam membuat semua orang menoleh menatap kaget pada Islam.


"Apa?" tanya ustad Hasim.


"Saya bersedia menikahi Khadijah," ujarnya lagi.


"Ana tau antum melakukan hal ini hanya karena kasihan kepada Khadijah."


"Tidak, ustad. Saya memang mencintai Khadijah sejak pertama kali saya menginjakkan kaki saya di pesantren."


"Benar ustad. Sebenarnya kedatangan Abah datang ke rumah bersama dengan keluarga untuk melamar Khadijah tapi karena nak Rahman dan ustad Firdaus datang lebih dulu maka kami mengurungkan niat kami agar tetap menjaga hubungan keluarga," jelas Abah Habib.

__ADS_1


Umma Nur yang mendengar hal itu dengan cepat berlari masuk ke dalam kamar.


"Khadijah, berhentilah menangis! Islam bersedia menikah dengan kamu."


Seketika tangisan Khadijah terhenti. Ia bangkit dan duduk di pinggir kasurnya.


"Biarkan dia masuk dan melihat wajah Khadijah. Khadijah tidak mau jika Akhi Islam tidak melihat wajah ana terlebih dahulu."


Umma Nur mengangguk lalu melangkah keluar dari kamar dan menyampaikan hal yang telah dikatakan oleh Khadijah.


5 Menit Kemudian...


Islam membuka pintu kamar lalu melangkah mendekati Khadijah yang tertunduk.


Islam berlutut di hadapan Khadijah yang sejak tadi terdiam. Suasana yang hening ini membuat perasaan Islam terasa gugup.


"Apa akhi Islam telah siap menerima kenyataan?" tanya Khadijah.


Islam terdiam baru saja ia ingin berujar Khadijah dengan jari perlahan menggerakkan jari tangannya untuk membuka cadar yang menutupi separuh wajahnya.


Cadar itu terlepas membuat Islam bisa melihat wajah Khadijah yang terlihat jelas di depan matanya.


Islam diam tanpa ekspresi dan tak berselang lama Islam bangkit dan melangkah keluar tanpa sepatah kata membuat Khadijah menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menangis sejadi-jadinya.


Islam menghentikan langkahnya tepat dihadapan semua orang. Melihat Islam keluar dari kamar, ustazah Fitri berlari masuk ke dalan kamar untuk menangkan Khadijah.


"Ukhti, sebaiknya bantu ana untuk melepas pakaian pengantin ini! Khadijah yakin jika akhi Islam juga tidak mau menikahi ana," ujar Khadijah.


...***...


"Bagaimana?" tanya Abah Habib menatap Islam yang masih terdiam.


Ustad Hasim menghela nafas sepertinya keputusan Islam akan sama seperti Rahman.


"Bapak penghulu mungkin pernikahan ini dibatalkan saja-"


"Saya bersedia menikahi Khadijah!" ujar Islam membuat semua orang menoleh menatap Islam.


Umma Nur tersenyum, ia berlari masuk ke dalam kamar menghampiri Khadijah dan ustazah Fitri yang sedang membantu melepas pakaian pengantin milik Khadijah.


"Islam bersedia menikah dengan Khadijah!"


Kedua mata Khadijah membulat ia menoleh menatap Umma Nur dengan tatapan tidak menyangka.


"Apa? Akhi Islam mau menikah dengan ana?"


Umma Nur mengangguk dengan wajah bahagianya.


"Apa keputusan akhi Islam sudah pasti?"


"Iya, Khadijah."


...***...


"Saudara Islam Ramadhan bin Akbar Al Habib, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kami Khadijah binti Hasim yang wali nikahnya telah diwakilkan kepada saya dengan seperangkat...."


Islam berusaha untuk tidak gugup. Detak jantungnya berdetak sangat cepat. Tangan kanannya gemetar selama dijabah oleh Bapak penguhulu.


"...karena Allah," sambung bapak penghulu itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya-"


"Tunggu!!!" teriak seseorang membuat semua orang menoleh.

__ADS_1


__ADS_2