
"Islam menangis?" tanya Umma Nur.
Islam menggeleng dengan perlahan, suara lemah lembut wanita ini membuatnya kembali mengingat Uminya. Apa yang sedang Umi-nya lakukan malam ini? Apakah dia juga merindukan Islam seperti Islam yang sangat merindukan Umi.
"Apa Islam rindu dengan Umi?"
Islam kembali menggeleng lalu berujar, "Tidak."
Umma tersenyum lalu kembali membelai lembut rambut dan turun ke pipi Islam yang begitu mulus. Wajah Islam benar-benar tampan, hanya saja ada anting di telinga yang terlihat menganggu pandangan Umma Nur.
"Umma tau Islam sedang berbohong jadi katakan yang sebenarnya, Umma akan dengar apa yang Islam katakan."
Islam terdiam, tak ada jawaban.
"Islam tenang saja! Ini Ummanya Islam..." Umma Nur menyentuh dadanya.
"...Umma tidak akan memberitahu Abah tentang apa yang telah Islam katakan. Islam rindu Umi kan?" tanyanya dengan lembut sambil mengusap rambut gondrong Islam.
Islam menghela nafas panjang lalu mengangguk.
Umma Nur tersenyum.
"Kemari peluk Umma! Ini Umma-nya Islam juga," ujarnya membuat Islam mengangkat dagunya menatap Umma Nur yang terlihat tersenyum.
"Ayo!"
Islam tersenyum lalu segera memeluk tubuh lemah Umma Nur yang telah dimakan usia. Islam memejamkan kedua matanya merasakan kehangatan penuh kasih dari Umma Nur, kembali lagi ia mengingat Mawar membuat Islam ingin menangis tapi ini bukanlah kebiasaan Islam.
Umma Nur mengelus punggung Islam dengan penuh kasih. Umma Nur tak mengerti mengapa suaminya itu mengatakan jika Islam adalah anak yang kepalanya sekeras batu dan Islam yang berbeda dari anak yang lainnya, yah Umma Nur akui jika Islam memanglah berbeda dari anak yang lainnya. Islam memanglah memiliki sikap yang keras kepala seperti batu tapi hatinya begitu sangat lembut.
Islam melepas pelukannya sambil mengusap pipinya yang basah, ia baru saja menangis.
"Menangis saja! Tidak apa-apa. Di sini hanya ada Umma."
Islam tersenyum saat Umma Nur mengusap pipinya dengan penuh kelembutan.
"Ayo sahur, Nak! Nanti telat," ujarnya membuat bayangan Mawar kembali terbayang di ingatan Islam.
Islam terdiam, ia menunduk lalu kembali menatap Umma Nur yang kembali mengelus rambut Islam.
...***...
Abah Habib terdiam menatap pintu utama, ia sejak tadi menunggu kedatangan istrinya yang tak kunjung muncul. Rasanya Abah Habib sangat khawatir jika Islam marah besar karena Umma Nur yang berusaha membangunkan Islam untuk makan sahur dan bisa saja Islam memukul istrinya itu.
"Abah, pergi lah makan! Umma tidak akan datang bersama Islam."
Abah Habib melirik menatap Akbar yang berdiri di sampingnya. Abah Habib hanya terdiam.
"Akbar sudah bilang kalau sebaiknya Islam dipulangkan saja. Tidak ada gunanya membiarkan Islam tinggal di pesantren, Abah mau ana ingatkan lagi kesalahannya?"
"Tidak perlu!" ujar Akbir yang kini menghentikan langkahnya di sebelah kiri kanan Abah Habib.
"Tidak perlu menyebutkan kesalahan seseorang! Ana yakin Islam akan berubah," sambungnya.
Akbar mendecapkan bibirnya dengan kesal, kakaknya itu selalu saja membela putranya itu.
"Mengapa antum selalu-"
"Hentikan! Tidak usah diperpanjang!" potong Abah habib membuat Akbar kini terdiam.
__ADS_1
Abah Habib kini berpaling lalu melangkah dengan raut wajah sedih menjauhi Akbar dan Akbir yang kini saling terdiam.
"Ya akhi Akbir!" ujar Akbar membuat Akbir menoleh.
"Tak perlu membela putra ku itu! Akhi Akbir tak tau apa yang telah ia lakukan kepada Syuaib di rumah ku dan di masjid. Apakah akhi melihat kepala Syuaib yang benjol karena terkena sepatu? Itu semua karena ulah Islam," jelasnya.
"Itu yang akhi Akbar lihat tapi bukan itu yang ana lihat," ujar Akbir sambil tersenyum.
"Terserah!" ujarnya lalu ikut berpaling.
Akbir menunduk sejenak lalu ia menatap ke arah pintu dimana senyumnya merekah indah menatap Umma Nur dan Islam yang berjalan bersama.
"Itu Islam!" ujar Akbir membuat Abah Habib dan Akbar menoleh.
Abah Habib tersenyum menatap Islam yang kini melangkah beriringan dengan Islam. Abah Habib tak mengerti bagaimana cara istri itu memarahi Islam sehingga mau bangun sahur.
"Islam!!!" teriak Ali yang kini melambaikan tangannya membuat Islam tersenyum dan berlari mengahampiri sahabatnya itu.
Umma Nur mengentikan langkanya tepat di hadapan Abah Habib yang terlihat sedang memperhatikan Islam yang kini sedang tertawa bersama para sahabatnya.
"Apa antum memukulinya sehingga ia mau menurut?" tanya Abah Habib dibalas gelengan oleh Umma Nur.
"Lalu?"
"Islam memanglah memiliki sikap yang keras tapi hatinya lembut. Abah hanya mendekati Islam, bukan hatinya."
Umma Nur melangkah pergi meninggalkan Abah Habib yang kini tersenyum simpul. Perlahan senyuman pudar dari bibir Abah Habib, apa yang baru saja ujarkan oleh istrinya itu seakan menampar dirinya.
"Kali ini ana benar kan Abah?" tanya Akbir yang kini tersenyum lalu ikut melangkah pergi sementara Akbar ikut terdiam di belakang sana.
...***...
"Em, ini nggak ada kangkung?" tanya Islam.
"Sudah habis," jawab Sarifuddin.
"Jadi tadi ada kangkung?"
Sarifuddin mengangguk.
"Udah dituang?"
Sarifuddin kembali mengangguk.
Buk
Rasanya jantung Islam berhenti berdetak, dasar bodoh! Karena ia terlambat datang ke tempat makan Islam jadi tak bisa melihat gadis bercadar itu, kesialan macam apa ini?
Bruk
Islam terperanjat kaget menatap Kristian yang dahinya terbentur di meja. Kristian mengangkat kepalanya dengan mata yang terlihat merah dengan dahi yang juga ikut memerah setelah terbentur tadi. Yap Kristian baru saja tertidur.
"Kenapa lu?" tanya Ali sambil tertawa cekikikan menatap wajah Kristian yang diam tanpa ekspresi.
Kristian menguap lebar sehingga nasi yang berada di dalam rongga mulutnya terlihat.
"Nah makan!"
Semuanya tertawa saat Islam menyuapi makanan ke dalam mulut Kristian yang tadi menguap membuat Kristian langsung menutup mulutnya dengan sendok yang separuh telah masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Ahh, emang kenapa sih harus makan jam segini?" tanya Kristian sambil mengunyah.
"Biar kuat puasanya," jawab Sarifuddin.
"Ah saya mah endak usah makan sahur juga kuat puasanya atuh, jadi endak usah sahur."
"Em sotoy kamu," sahut Abirama.
"Yah emang," ujar Kristian.
"Mungkin kamu udah nggak tahan puasa di jam sepuluh pagi," ujarnya sambil mengangkat sepuluh jarinya.
"Ah itu mah menurut kamu atuh, bagi abdi mah tidak begitu," bela Kristian.
Abirama terdiam sejenak, ada yang tak ia mengerti kali ini.
"Puasa itu apa sih?" tanya Abirama membuat semuanya menghela nafas berat.
"Anjirt, nasi lo udah habis tapi lo nggak tau puasa apaan. Din jelasin!" pintah Ali sambil menyikut siku Sarifuddin.
"Puasa itu menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar sampai terbenamnya."
"Maksudnya nggak makan, nggak minum?"
"Betul," jawab Sarifuddin.
"Mati dong," jawab Abirama.
Sarifuddin tersenyum lalu menggeleng lalu berujar, "Kalau puasa bisa membuat orang mati mungkin saya sudah mati dari umur lima tahun."
"Puasa bukan hanya tidak makan dan tidak minum tapi seluruh tubuh juga ikut puasa," jelasnya.
"Maksud lo?" tanya Ali tak mengerti.
"Mata juga ikut puasa."
"Hah?" kaget Ali dengan wajah bingungnya, "Kan emang mata nggak makan, emang bisa makan pake mata?"
Sarifuddin tersenyum lalu menggeleng.
"Mata ikut puasa itu berarti menjauhkan penglihatan dari hal yang tidak baik."
"Maksud lo nonton bokep?" tanya Ali dengan santai membuat para santri terbelalak kaget dan menatap ke arah Ali.
"Jadi kalau nonton bokep puasanya batal?"
"Puasa itu seperti mengumpulkan poin, kalau mata melihat yang tidak baik maka poinnya akan berkurang."
"Yang ngasih poin siapa?"
Sarifuddin tersenyum lalu menunjuk ke atas membuat Islam, Abirama dan Ali mendongak menatap langit-langit ruangan.
"Cicak?" tanya Ali.
Sarifuddin menghela nafas, "Allah."
Semuanya mengangguk lalu melanjutkan makannya.
Bruk
__ADS_1
Semuanya menoleh menatap Kristian yang untuk kedua kali baginya terbentur di permukaan meja. Yap Kristian kembali tertidur.