Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
95. Hari Yang Indah


__ADS_3

Islam membuka kedua matanya dan tersenyum mendapati istrinya yang kini masih tertidur lelap di hadapannya. Paras cantik yang mempesona itu membuat Islam tak tahan untuk membelai pipi istrinya pada bekas luka bakar itu.


Khadijah pernah mengatakan jika luka bakar ini ia dapatkan saat kejadian kebakaran bersama dengan sang ibu yang telah meninggal dunia.


Islam mengecup kening istrinya yang hangat membuat dahi Khadijah bergerak. Islam menjauhkan wajahnya dan tersenyum saat Khadijah membuka kedua matanya. Khadijah terbangun dari tidurnya.


"Assalamu'alaikum," bisik Islam yang membelai pipi Khadijah dengan penuh lembut.


Khadijah tersenyum.


"Waalaikumsalam."


"Sudah bangun?"


Khadijah mengangguk membuat Islam kembali mengelus pipi Khadijah dan mengecup keningnya.


"Sholat subuh dulu, yuk!"


"Sekarang?"


"Iya, nggak lama lagi azan."


Khadijah menarik nafas lalu ia menoleh menatap jam yang ada di atas lemari kayu.


"Masih ada sepuluh menit."


Khadijah menoleh dan memeluk tubuh Islam. Menyandarkan pipinya itu ke dada Islam yang terasa hangat. Islam tersenyum lalu memeluk tubuh Khadijah dengan erat.


"Sebelum sholat kan harus mandi dulu, kan semalam kita sudah, Aaaa aduh!!!" jerit Islam kesakitan saat Khadijah mencubit lengannya.


"Aduh, kenapa dicubit?"


"Akhi nyebelin."


"Dan kamu istriku yang bikin gemes."


Islam tersenyum lalu mencubit pelan pipi Khadijah yang kini tertawa kecil.


"Yuk mandi! Atauuuu."


"Atau?"


"Atau mau mandi bareng?"


"Ih akhi," geli Khadijah yang kembali mencubit lengan Islam yang meringis kesakitan.


"Ya udah cepat mandi!"


Khadijah mengangguk lalu ia mulai bangkit dari kasurnya membuatnya meringis saat ia merasakan rasa perih pada bagian bawahnya.


Islam ikut bangkit dan menatap Khadijah dengan wajah khawatirnya.


"Kenapa, sayang?"


Khadijah membuka kedua matanya yang berusaha untuk menahan rasa sakit. Khadijah berusaha untuk tersenyum walau Islam bisa melihat rasa sakit dari raut wajah istrinya.


"Kenapa?"


Khadijah kembali menggeleng.


"Terus?"


"Khadijah tidak apa-apa."


Khadijah bangkit dari kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Islam tertawa saat melihat istrinya yang berjalan seperti kepompong putih dengan susah payah.

__ADS_1


"Kenapa harus ditutupi?" tanya Islam membuat Khadijah menoleh dan menjerit kaget saat menatap Islam yang tak menggunakan pakaian di sana.


Khadijah membalikkan badannya membuat Islam tertawa.


"Kenapa harus menutup mata? Kemarin kan kamu sudah merasakannya."


"Lalu kenapa kamu juga menutupi tubuh kamu, sayang? Saya kan sudah melihatnya semalam, jadi kenapa harus malu?"


Khadijah menggeliat geli lalu semakin mempercepat langkahnya yang susah payah itu. Islam dibuat tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya dan tak berselang lama tawa Islam terhenti menatap bercak darah yang ada di atas kasur.


Hah, ini perbuatannya semalam.


...****...


Sholat subuh kini dipimpin oleh Islam dan untuk yang kedua kalinya Khadijah menjadi makmum di belakang Islam, tapi kali ini berbeda. Kali ini Khadijah menjadi makmum sebagai istri di belakang suaminya, Islam yang kini sedang memimpin sholat.


Islam mengusap wajahnya dengan kedua belah tangannya untuk menutup sholatnya. Tak berselang lama Islam menoleh dan menjulurkan tangannya pada Khadijah yang dengan penuh lembut meraihnya dan mengecup punggung tangan Islam.


Islam menangkup kedua pipi Khadijah dan membawa wajah Khadijah ke bibirnya. Islam mengecup kening Khadijah, kedua pipi, dagu dan berakhir pada bibir Khadijah.


Islam membaringkan kepalanya di atas paha Khadijah membuat Khadijah dengan penuh lembut membelai kepala Islam yang terlihat begitu bahagia.


Islam meraih tangan kanan Khadijah dan mengecupnya dengan lembut.


"Mau punya anak berapa?" tanya Islam membuat kedua mata Khadijah membulat.


"Hm?"


"Em, ti-tidak tau."


"Kenapa tidak tau?"


Khadijah menggeleng tak tahu. Ia dibuat gugup oleh pertanyaan Islam.


"Kalau 12 bagaimana?"


"Hahaha, bercanda, sayang."


Khadijah bernafas lega membuat Islam kembali tertawa. Wajah istrinya sangat lucu jika terlihat terkejut seperti itu.


"Sayang."


"Iya?"


"Bulan depan saya akan wisuda dan rencananya nanti saya akan membuat restoran halal di tengah kota, mungkin akan lama untuk pembangunan tapi ini akan selesai jika kita berusaha."


"Restoran?"


"Iya, apa itu kurang bagus?"


"Itu bagus, akhi."


"Dan kamu, sayangku harus mendoakan saya, okay?"


Khadijah tersenyum lalu ia mengangguk membuat Islam merasakan kedamaian. Islam kembali mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh kasih sayang.


...*** ...


Islam tersenyum saat Khadijah mengusap kepalanya dengan handuk putih untuk mengeringkan rambutnya yang basah itu setelah mandi lagi. Yah, setelah sholat Islam meminta lagi dan mau tak mau Khadijah hanya bisa menurut.


Islam memajukan wajahnya dan mengecup pipi Khadijah yang terlihat tersenyum bahagia. Wajah Islam menjauh membuat Khadijah kembali mengusap kepala Islam dengan handuk.


Islam tertawa kecil lalu kembali mengecup pipi Khadijah yang terlihat cemberut.


"Ada apa?" tanya Islam yang berusaha untuk menahan tawanya.

__ADS_1


"Bisakah akhi berhenti untuk mencium Khadijah?"


"Tidak bisa," jawabnya yang kembali mengecup tapi kali ini kecupan itu mendarat di bibir Khadijah.


"Akhi, kalau sepeti ini rambut akhi tidak akan kering."


"Biar saja."


Islam bangkit dan mendorong tubuh istrinya ke kasur membuat Islam menindih tubuh istrinya yang masih memakai baju mandi itu.


Kedua mata Khadijah menatap lelah pada iris mata Islam yang menatapnya dengan penuh cinta. Jari tangan Islam bergerak mendekati wajah Khadijah dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi pandangan Islam untuk melihat wajah istrinya.


"Mau lagi?"


"Akhi, apa kita hanya akan melakukan hal itu terus?"


"Apa kamu tidak mau?"


"Lalu apa Khadijah akan mandi tiga kali?"


Islam tertawa lalu mengecup bibir Khadijah dan bangkit dari tubuh istrinya.


"Kalau begitu mari kita turun!"


Ketukan pintu terdengar dari luar membuat Islam dan Khadijah menoleh menatap pintu kamar.


"Islam! Khadijah! Ayo turun! Kita sarapan pagi!"


Islam melangkah mendekati pintu dan membukanya mendapati Mawar yang terlihat terkejut melihat separuh tubuh Islam yang tak memakai baju.


"Oh, apa Umi menganggu?"


"Hahaha, jangan salah paham! Islam baru saja sudah mandi."


Mawar mengangguk dengan wajahnya yang menatap Islam dengan penuh curiga. Mawar membalikkan badannya lalu melangkah namun langkanya kembali terhenti dan menoleh menatap Islam.


"Islam!"


"Iya, Umi?"


"Tolong jangan siksa Khadijah!"


Islam tertawa. Ia mengerti maksud dari Mawar.


"Kamu mengerti kan?"


"Iya."


"Ingat! Khadijah menantu kesayangan Umi. Dulu kamu anak kesayangan Umi tapi sekarang anak kesayangan Umi adalah Khadijah."


Islam tersenyum lalu mengangguk sementara Khadijah yang berada di dalam kamar terlihat tersenyum bahagia.


Khadijah bukan hanya mendapatkan cinta dari seorang pria yang sangat mencintainya tapi ia juga mendapatkan cinta dari seorang Umi.


Keberuntungan apalagi yang belum Khadijah dapatkan sekarang. Suami yang baik dan orang tua yang baik.


Khadijah melangkah mendekati Islam dan memeluknya membuat Islam yang merasa heran itu ikut memeluk tubuh istrinya.


"Ada apa, sayang?"


Khadijah mendongak menatap wajah tampan suaminya.


"Khadijah sangat mencintai engkau ya sauji," bisiknya.


Islam tersenyum lalu mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Saya pun begitu, sayang."


__ADS_2