
Hay semuanya🌺🌺🌺
Terimakasih karena masih setia untuk menunggu kelanjutan kisah Islam Belajar Puasa. 🌺
Emak sebenarnya tidak percaya karena like-nya tembus 50 karena selama ini like disetiap bab hanya sampai 20 ke bawah.
Apalagi saya juga dapat komen yang menagih janji saya di bab atas, wah senengnya 🤭 Ada yang rindu rupanya sama Islam dan Khadijah.
Terimakasih yah like-nya, hehehe😁
Okay deh, jadi hari ini khusus 7 bab untuk para readers yang tercinta.
Bagaimana yah dengan kisahnya?
Yuk baca!
Selamat membaca 🌺
...****************...
Islam terdiam menatap Umma Nur yang terlihat masih tak menyangka dengan apa yang Islam katakan.
"Apa ini serius?" tanya Umma Nur.
"Serius, Umma."
"Islam!" panggil Abah Habib membuat Islam menoleh.
"Sejujurnya Khadijah adalah gadis sholeha yang telah kami kenal sejak dia masih kecil."
"Khadijah sudah seperti cucu bagi Abah-"
"Dan anak bagi Abi," potong Akbar.
Abah Habib tersenyum lalu mengangguk.
"Khadijah sudah kami anggap sebagai keluarga dan alangkah lebih baik jika dia menjadi keluarga yang sesungguhnya bagi keluarga kita," jelas Abah Habib.
Islam menoleh menatap Umma Nur yang membelai rambut panjang Islam.
"Jadi kapan Islam mau melamar Khadijah?"
Kedua mata Islam membulat dengan perasaan terkejutnya seakan tak menyangka jika pertanyaan itu akan dilontarkan oleh Umma Nur.
"Apa boleh Umma?"
"Tentu saja. Niat baik tidak boleh ditunda-tunda."
Islam tersenyum penuh bahagia lalu ia menoleh menatap Abah Habib, Akbar dan Akbir yang juga ikut mengangguk.
"Kalau begitu secepatnya. Tolong lamar Khadijah untuk Islam!"
Abah Habib tertawa lalu ia bangkit dari sofanya dan duduk di samping Islam.
"Terburu-buru sekali antum. Kita cari hari yang baik dan mari kita temui ustad Hasim."
"Baik, Abah," jawabnya cepat.
"Tapi sebelum itu antum sudah tau rukun iman dan rukun Islam?"
"Islam akan belajar."
"Belajar dengan siapa?"
"Sarifuddin."
"Wah rupanya Sarifuddin sangat berguna untuk Islam," ujar Akbir yang kemudian tertawa.
"Jadi kapan Abah dan semuanya menemui ustad Hasim?" tanya Islam.
__ADS_1
"Besok juga boleh," jawab Umma Nur.
"Iya kan Abah?"
"Yah tentu saja."
Islam mendecapkan bibirnya dengan perasaan gelisah membuat Umma Nur yang terheran itu menoleh menatap Abah Habib yang juga merasa keherangan.
"Islam!"
Islam menoleh.
"Ada apa?"
"Kenapa bukan hari ini saja dilamarnya?"
Seluruh anggota keluarga ini saling bertatapan dengan wajah tak menyangkanya. Di satu sisi Umma Nur langsung tertawa dan memukul pelan lengan Islam.
"Jangan terlalu terburu-buru!"
"Sepertinya ada yang tidak sabar disini," gurau Abah Habib lalu ikut tertawa membuat semua orang tertawa.
Islam tersenyum malu lalu menggaruk belakang telinganya yang tak gatal.
"Tenang saja! Tidak ada yang akan merebut Khadijah. Besok kami akan menemui ustad Hasim untuk melamar Khadijah," jelasnya membuat Islam tersenyum.
...****...
Islam yang sejak tadi menyusuri koridor memelankan langkahnya ketika ia melihat Khadijah yang terlihat melangkah dari kejauhan.
Islam tersenyum lalu ia berlari dan menghampiri Khadijah.
"Assalamu'alaikum."
Khadijah menoleh menatap Islam yang terlihat tersenyum sumringah di sampingnya. Khadijah menatap sejenak lalu kembali tertunduk.
"Waalaikumsalam."
Khadijah tersenyum di balik cadarnya lalu ia mengangguk pelan.
Islam menghela nafas. Harus bicara apa lagi sekarang?
"Khadijah."
"Iya?"
"Boleh saya bicara?"
"Silahkan!"
"Boleh?"
"Bukankah akhi Islam selalu bicara tanpa Khadijah suruh dan jika Khadijah melarang apakah Islam mau berhenti bicara?"
Islam cengir seperti orang bodoh. Sudah jelas jika Khadijah sudah mengenal bagaimana sikap Islam.
"Saya tidak akan menurut karena kita belum sah menjadi suami istri tapi..."
Islam menghentikan langkahnya membuat Khadijah yang sejak tadi berjalan beriringan dengan Islam akhirnya ikut menghentikan langkahnya.
"Tapi?" tanya Khadijah yang kini menoleh menatap Islam.
Islam tersenyum malu sambil memainkan kaki kirinya dan menggosok belakang telinganya yang tak gatal.
"Tapi saya akan menurut kalau kita sudah resmi menjadi suami istri," sambungnya.
Khadijah tersenyum lalu ia menundukkan pandangannya.
"Mau?" tanya Islam.
__ADS_1
Khadijah menatap wajah Islam. Ia terkejut bukan main saat pertanyaan itu terlontar.
"Mau?" tanya Islam yang gemas sendiri.
"Khadijah tidak bisa mengatakan apa-apa dan itu kemauan Allah."
"Jika Khadijah mau tapi kalau Allah tidak mau maka itu tidak akan terjadi."
"Begitu pula dengan sebaliknya, jika Khadijah tidak mau, tetapi kalau Allah mau maka akan tetap terjadi," ujar Khadijah.
"Em tapi sepertinya kamu mau, iya kan?"
"Terkadang yang kita lihat tak sesuai dengan pikiran. Manusia terkadang hanya bisa menilai seseorang dari melihatnya."
Islam mengangguk. Senyum Islam lenyap beberapa saat lalu Islam kembali tersenyum mencoba untuk tidak mengambil hati ucapan Khadijah.
"Tapi saya yakin kamu akan jadi milikku."
"Jangan terlalu yakin," ujar Khadijah yang kemudian berpaling dan melangkah membuat Islam dengan cepat mengejar.
"Saya yakin kamu akan menjadi milik saya karena saya sudah berdoa sama Allah. Hati Allah telah saya rayu."
Khadijah terdiam, tak bicara apa-apa.
"Besok Umma dan Abah akan menemui Ustad Hasim."
Islam terdiam menanti Khadijah untuk merespon ujarannya, tapi hasilnya adalah hening. Khadijah hanya diam.
"Mau tau tujuannya?"
Islam tersenyum. Ia mengigit bibir seakan gemas sendiri dengan apa yang ingin ia katakan sementara Khadijah berlagak tidak peduli.
"Mau tidak? Tidak penasaran?"
"Untuk apa Khadijah penasaran jika setiap hari beliau juga selalu bertemu."
Langkah Islam terhenti. Kedua mata Islam menatap nanar pada Khadijah yang tetap melangkah memberikan jarak antara ia dan Khadijah.
"Besok saya, Umma dan Abah mau menemui ustad Hasim karena ingin melamar kamu sesuai permintaan saya."
Langkah Khadijah terhenti dengan tiba-tiba.
Khadijah tersenyum sambil menyentuh dadanya yang berdebar-debar tak seperti biasanya.
Islam tersenyum di belakang sana menatap Khadijah yang masih membelakanginya.
"Saya akan datang melamar."
"Jadi jika besok ada yang bertamu maka percayalah itu adalah saya dan keluarga saya."
"Tidak lama lagi kita akan bersama Khadijah."
"Kita akan bersatu."
"Saya pergi dulu," ujar Islam lagi.
Khadijah menarik nafasnya yang terasa sesak itu. Entah mengapa ia tak bisa mengatur nafasnya. Jantungnya juga berdetak sangat cepat sejak tadi.
Khadijah mengerutkan alisnya ketika tak ada suara lagi dari belakangnya, tak ada suara lagi
dari Islam. Apa mungkin Islam benar-benar telah pergi?
Khadijah menoleh berusaha untuk memastikan jika Islam sudah tidak ada di belakangnya.
Kedua mata Khadijah terbelalak menatap kaget pada Islam yang terlihat berdiri di belakang sana sambil tersenyum.
Islam belum pergi dan Khadijah telah tertangkap basah untuk bisa melihat Islam.
"Sedang mencari saya?" tanya Islam sambil mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
Khadijah tersenyum malu lalu segera berlari meninggalkan Islam yang kini tersenyum lebar.
"Hah, gemes banget."