
"Astagfirullah!!!" teriaknya.
Kedua mata Sarifuddin yang terbelalak itu menatap orang-orang dari perempuan yang berpakaian seksi sampai laki-laki dari berbagai usia sedang melompat-lompat di lantai dansa yang berukuran besar yang berada di tengah-tengah diiringi musik DJ dengan suasana gelap yang hanya bermodalkan lampu sorot yang berputar putar dan lampu ambience yang menempel di dinding.
Sarifuddin menyipitkan matanya karena pusing setelah lampu yang berputar-putar berubah warna itu menyilaukan matanya. Sarifuddin melangkah melewati orang-orang yang terlihat menatap aneh ke arah Sarifuddin terlebih lagi ketika Abah Habib dan yang lainnya melangkah masuk.
Sarifuddin menutup hidungnya saat bau alkohol itu menyengat indra penciumannya ketika ia melewati tempat minuman yang berjejer dengan botol-botol minuman alkohol. Sarifuddin melangkah mundur disaat seorang gadis yang hanya menggunakan baju seksi yang memperlihatkan belahan dadanya serta pahanya yang mulus dan putih sedang menuntun pria berjas hitam dengan perut yang terlihat besar.
"Kenapa itu?" Tunjuk Sarifuddin ke arah pria yang sedang mabuk itu.
Gadis itu tak menjawab, ia hanya tersenyum.
Sarifuddin menoleh menatap gadis dan pria itu sampai tak terlihat lagi. Sarifuddin menutup kedua telinganya ketika suara DJ itu seakan menganggu pendengarannya.
Satu yang ada di pikiran Sarifuddin! Siapa yang sedang menikah hingga ada pesta seramai ini?
"Islam!!!" teriak Sarifuddin yang terus melangkah berusaha untuk mencari Islam.
"Astagfirullah!!!" kaget Abah Habib yang menutup kedua matanya ketika menatap gadis seksi yang melintas di hadapannya.
Gadis seksi itu tertawa kecil lalu menyentuh lengan Abah Habib membuat Abah Habib meringis ketakutan.
"Kakek, Kakek cari kesenangan yah?" godanya.
"Abah cari Islam," jawab Abah Habib.
"Kenapa tidak pakai baju?" tanya Syuaib kepada gadis yang sedang memegang minuman alkohol bersama dengan beberapa gadis lain.
Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal menatap penampilan Syuaib dari ujung kaki sampai ujung peci Syuaib.
"Ada yang kesasar nih," sahutnya lalu tertawa.
Syuaib melongo, ia tak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh gadis seksi ini.
"Sikat aja, Sis!" sahut gadis yang sedang merangkul seorang pria berjas.
Gadis itu tersenyum lalu meletakkan gelas berisi alkoholnya di meja dan melangkah mendekati Syuaib yang tak mundur sedikit pun.
"Pesan Adek dong, Bang!" goda gadis itu.
"Emang harganya berapa?" tanya Syuaib dengan polosnya.
Akbar yang sedari tadi terdiam menatap ke segala arah kini mendekati seorang gadis yang sedang sibuk bermain DJ sambil mengangkat satu tangannya lalu berteriak tak jelas.
"Adek! Adek liat Islam?" tanya Akbar yang berusaha untuk menjaga pandangannya dari penampilan seksi pemain DJ itu dengan tangannya.
Gadis itu menoleh dan mengernyit heran pada pria berpeci yang sedang menutup matanya dengan telapak tangan.
"Islam!!!" teriak Ustad Hasim yang menoleh ke segala arah.
"Nah mau kemana Anda?" tanya penjaga keamanan itu sambil memeluk tubuh gemuk Ustad Hasim dari belakang membuat Ustad Hasim memberontak.
__ADS_1
"Ah lepasin!!" teriak Ustad Hasim dengan wajah terkejutnya.
"Menyingkir!!!" teriak Akbir yang kemudian mendorong pria penjaga keamanan itu hingga dia terjatuh bersama dengan Ustad Hasim ke lantai.
Penjaga kemanan itu meringis saat tubuhnya di tekan oleh tubuh berat Ustad Hasim yang memanglah lumayan berat ditambah tubuhnya yang gemuk.
"Afwan, ana terpaksa," ujar Akbir yang sedang membantu Ustad Hasim bangkit.
"Ana tidak apa-apa," ujar Ustad Hasim.
Akbir menunduk menatap pria penjaga keamanan itu yang sedang terbaring lemas sambil memegang dadanya.
"Afwan, antum tidak apa-apa?" tanya Akbir yang merasa khawatir.
"Heh jangan lari!!!" teriak satu penjaga keamanan lagi sambil menunjuk Akbir dan Ustad Hasim yang dengan cepat berlari menghindari kejaran pria itu.
Sarifuddin menghela nafas panjang ketika ia sejak tadi tak bisa menemukan Islam di tempat yang sangat berisik ini. Bagaimana caranya ia bisa menemukan Islam di tempat yang sangat ramai seperti ini.
Sarifuddin duduk di kursi menatap pelayan diskotik yang sedang menuangkan minuman alkohol ke dalam gelas untuk salah satu pengunjung yang sedang membaringkan kepalanya di atas meja kaca, sejak tadi pengunjung itu tak berhenti minum.
"Mau minum?" tanya pelayan itu kepada Sarifuddin yang langsung menoleh setelah ia tersadar dari lamunannya.
"Boleh pesan minum?"
"Boleh."
"Alhamdulillah," syukur Sarifuddin yang langsung mengusap wajahnya.
Apa pria ini sehat?
"Di sini tidak ada susu coklat," jawabnya.
"Kok tidak ada?"
"Heh jangan lari!!!" teriak penjaga kemananan itu yang masih mengejar Akbir dan Ustad Hasim.
Sarifuddin menoleh menatap Akbir dan Ustad Hasim yang berlarian ke sana kemari, mereka masih dikejar.
"Di sini tidak menjual minuman seperti itu," jawab pelayan itu membuat Sarifuddin menoleh.
"Terus itu minuman apa?" tanya Sarifuddin yang menunjuk botol minuman alkohol yang pelayan itu tuangkan ke dalam gelas untuk pria yang ada di samping Sarifuddin.
"Ini minuman alkohol," jawabnya.
Sarifuddin mengangguk tanda mengerti.
"Mau?" tawar pelayan itu.
"Saya sukanya susu coklat," jawab Sarifuddin.
Pelayan itu tersenyum lalu meletakkan gelas berisi alkohol ke meja membuat pria yang ada di samping Sarifuddin meraihnya.
__ADS_1
"Adek ini dari mana?"
"Dari pesantren Al Habibi Akbar," jawab Sarifuddin.
"Kok bisa masuk ke sini?"
"Saya cari cucu pak haji kiyai saya, namanya Islam. Di depan ada motor Ustad Syuaib nah itu motor dipakai sama Islam," jelas Sarifuddin membuat pelayan itu melongo.
"Lagi!" minta pria yang ada di samping Sarifuddin sambil meletakkan gelas kosong ke meja tepat di hadapan pelayan itu.
Sarifuddin terbelalak kaget, suara pria ini mirip dengan suara Islam. Sarifuddin dengan cepat menoleh menatap pria itu dan benar saja pria itu adalah Islam yang kini kepalanya dibaringkan di atas meja kaca.
"Islam!!!" teriak Sarifuddin yang dengan cepat bangkit dari kursi dan menghampiri Islam yang sudah mabuk itu.
"Alhamdulillah, Islam ayo pulang! Semuanya nyariin Islam," syukurnya.
"Ini orang yang Adek cari?" tanya pelayan itu.
"Iye ini cucu pak haji kiyai, ini Islam namanya, nama lengkapnya Islam ramadhan," jawab Sarifuddin.
Sarifuddin yang berniat untuk membantu Islam bangkit itu langsung mengernyitkan hidungnya disaat ia mencium bau alkohol pada tubuh Islam.
"Yah ketemu kamu!!!"
Sarifuddin tersentak kaget saat pria penjaga kemanan yang telah ditimpa oleh badan Ustad Hasim itu memegang kedua bahunya.
"Pak penjaga! Tolong bantu saya! Ini Islam yang saya cari," adunya membuat pria penjaga kemanan itu langsung menoleh menatap Islam.
Penjaga kemanan itu langsung mengangguk dan membantu Sarifuddin untuk menuntun Islam yang sudah mabuk itu berjalan menuju pintu keluar.
"Sesungguhnya Allah Subhana Wa taala tidak menyukai hambanya yang berpakaian seperti ini!!!" Tunjuk Abah Habib ke arah gadis-gadis berpakaian seksi yang kini duduk di sofa dan hanya bisa tertunduk mendapati ceramah dari Abah Habib.
"Rasulullah SAW telah memberikan peringatan tegas kepada para wanita untuk menutup auratnya dengan benar. Dalam sebuah hadits, beliau melarang wanita mengenakan pakaian ketat seperti ini lalu antum semua mempertontonkannya!!!"
"Untuk apa?!!" teriaknya.
"Pak haji Kiyai!" panggil Sarifuddin membuat Abah Habib menoleh.
"Ini Islam." Tunjuknya.
"Astagfirullah!!!" kagetnya menatap Islam yang terlihat dituntun oleh pria penjaga keamanan itu.
"Bawa ke mobil!" pintanya dibalas anggukan oleh Sarifuddin.
Abah Habib kini kembali menatap gadis-gadis itu yang masih saling tertunduk.
"Ingat! Aurat wanita itu adalah seluruh badan selain wajah dan kedua telapak tangan. Beliau Baginda nabi mengatakan pula bahwa perempuan boleh menunjukkan wajah serta kedua telapak tangan sampai pergelangan tangannya, begitu pula ketika shalat."
"Tobat!!! Ini bulan puasa!!!" teriaknya lalu melangkah pergi.
Abah Habib menghentikan langkahnya ketika ia melihat Syuaib yang sedang berbincang dengan seorang gadis seksi.
__ADS_1
"Kemari antum!" Tarik Abah Habib ke kerah baju Syuaib yang kini menjerit saat ia dituntun keluar diskotik.