
Suasana dapur kini menjadi bising oleh suara kesibukan ibu-ibu yang sedang memasak untuk berbuka puasa.
"Islam kok tumben tidak ada? Biasanya dia selalu ada di dapur."
Umma Nur menghentikan aktifitasnya mengupas bawang, ia menatap Nenek Sia yang baru saja bertanya.
"Dia ke rumah Katrin, cucu si Una. Katrin lagi sakit jadi Islam bantu jagain si Katrin."
Seketika gerakan tangan Khadijah yang mematong kangkung itu terhenti setelah mendengar ujaran Umma Nur.
"Loh, sekarang Islam sama Katrin jadi dekat, yah?"
"Iya."
Khadijah kembali melanjutkan gerakan tangannya memotong kangkung berusaha untuk tidak memikirkan hal itu.
Mengapa ia harus sedih? Khadijah harus sadar jika ia dan Rahman sudah resmi akan menikah.
...***...
Khadijah menyusun beberapa lembar pakaian ke dalam lemari kayu setelah ia melipatnya dengan rapih.
"Khadijah!"
Khadijah menoleh menatap ustad Hasim yang berdiri di pintu masuk kamar.
"Iya Abi?"
"Ada Islam di depan."
"Akhi Islam?"
Khadijah melangkah ke arah ruang tamu mendapati Islam yang kini dengan cepat bangkit dari sofa.
"Ini ada Islam. Abi yang memanggilnya untuk menemani antum ke tempat percetakan undangan pernikahan."
"Ta...tapi kenapa harus akhi Islam?"
"Islam yang pintar bawa mobil."
"Tapi ustad Syuaib juga bisa. Abi juga."
"Ustad Syuaib ada urusan, Abi juga sibuk dan di sini cuman Islam yang tidak sibuk. Lagipula Islam itu orang kota dan dia pasti tau model undangan yang bagus, iya kan Islam?"
Islam tersenyum lalu mengangguk.
Khadijah terdiam sejenak. Ia menatap beberapa detik ke arah Islam lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar untuk meraih tasnya.
15 Menit kemudian...
Islam kini melajukan mobil milik Abah Habib melewati jalanan yang tak rata serta jejeran rumah para penduduk desa yang sesekali berteriak menyapa Islam.
Sejak tadi keduanya hanya saling diam seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Beberapa kali mereka saling melirik dan menjadi salah tingkah saat mereka bertemu pandang.
Mobil kini menepi di depan sebuah toko percetakan undangan yang tidak terlalu besar, itu bisa Islam lihat di spanduk yang sudah usang dengan beberapa harga percetakan undangan yang tertera di sana.
Islam melangkah turun setelah mematikan mesin mobil disusul Khadijah yang ikut turun dari mobil.
"Di sini?" tanya Islam sambil menopang pinggang dengan tatapannya yang menatap ke arah spanduk.
"Iya," jawab Khadijah yang sedikit mengangguk.
Islam mengangguk lalu alisnya bertaut saat suara bisik-bisik terdengar mengganggu telinganya membuatnya menoleh menatap beberapa gadis yang saling berbisik dan tersenyum menatapnya.
Apakah mereka sedang berbisik karenanya?
Islam tersenyum berniat menyapa gadis-gadis itu dan alhasil membuat mereka menjerit dan berlari bersembunyi di dalam tokoh.
Islam melongo, ada apa dengan mereka?
Islam melangkah masuk menghampiri Khadijah yang lebih dulu masuk ke dalam toko disambut oleh pria yang duduk di depan komputer yang kemudian bangkit dan tersenyum menyambut kedatangan Khadijah.
"Mau cari model undangan?" tanya pria itu.
Islam menghentikan langkahnya tepat di samping Khadijah membuat pria itu mengangguk.
"Mau buat undangan pernikahan,yah?"
"Iya," jawab Islam.
Pria itu mengangguk lalu meneriaki wanita bertubuh gemuk yang kemudian ikut menghampiri.
"Perlihatkan mereka beberapa model undangan!" pintanya lalu ia kembali duduk di depan komputernya.
__ADS_1
"Mari silahkan duduk!"
Islam dan Khadijah kini duduk di kursi panjang sementara wanita gemuk itu meletakkan beberapa undangan dari berbagai macam jenis model dan warna.
"Ini modelnya, silahkan dipilih! Kalau sudah ada yang cocok nanti panggil saya."
Wanita gemuk itu melangkah pergi meninggalkan Islam dan Khadijah yang terdiam kaku.
Islam menghela nafas gugup. Entah ada apa pada perasaanya yang tak nyaman dan jantungnya yang berdetak sangat cepat.
Ayolah Islam! Ini bukan undangan pernikahanmu tapi untuk Khadijah dan Rahman!
Islam meraih beberapa undangan dan menatapnya, menatap bagian depan dan belakang.
"Akhi Islam, apa ini bagus?" tanya Khadijah yang nada suaranya terdengar bersemangat.
Islam meletakkan undangan yang ada di tangannya ke atas meja dan meraih undangan yang sedang diperlihatkan oleh Khadijah.
"Warna kuning, mungkin yang kuning emas lebih bagus."
"Kuning emas?"
Khadijah menatap ke seluruh meja dan menyentuh satu persatu undangan yang ada.
"Ini?"
Islam meraih undangan berwarna kuning emas dari tangan Khadijah dan membolak-baliknya.
"Lumayan, sih tapi yang itu bagus juga!" Tunjuk Islam ke arah undangan berwarna silver.
"Ma sya Allah, semuanya cantik akhi, jadi kita harus pilih yang mana. Kuning emas atau silver?" tanya Khadijah sambil mengangat satu persatu undangan yang ada di tangan Khadijah.
"Kalau kamu sukanya yang mana?"
Khadijah tersenyum ia menatap undangan itu secara bergantian.
"Dua duanya cantik, Akhi."
"Tapi kita hanya bisa memilih satu, Khadijah," jawab Islam dengan nada yang mengikuti gaya bicara Khadijah membuat Khadijah tertawa.
Islam tersenyum, ini baru pertama kalinya ia mendengar Khadijah tertawa lepas.
"Sudah ada yang cocok?"
"Bagaimana akhi?"
"Em, yang kuning emas saja," jawab Islam.
"Kalau begitu silahkan ikut saya!"
Wanita gemuk itu melangkah ke arah pria yang masih duduk di depan komputer dan terdengar berbicara sesuatu hingga akhirnya memutuskan untuk pergi setelah memberi senyum pada Islam dan Khadijah.
"Ini kapan tanggal pernikahannya?"
"Tanggal 2 bulan depan?" jawab Islam.
"Bukanya itu hari lebaran, yah?"
"Iya."
"Kenapa acaranya tidak setelah lebaran saja?"
"Yah biar makanan lebaran sekaligus buat hajatan juga biar irit," jawab Islam membuat pria itu tertawa.
"Pintar juga cara pikir kamu."
"Ini jumlahnya berapa?"
"Berapa?" bisik Islam pada Khadijah.
"Kata Abi cuman 200."
"Oh 200 katanya."
Pria itu mengangguk dan mencatatnya pada buku catatan kecil.
"Nama perempuannya siapa itu?"
"Khadijah," jawab Islam.
Pria itu mengangguk lalu menekan tombol keyboard pada komputernya hingga nama Khadijah terpampang di layar komputer.
"Nama kamu siapa?"
__ADS_1
"Saya?" tanya Islam.
"Iya."
"Islam Ramadhan."
Pria itu mengangguk dan kembali menekan tombol keyboard hingga nama Islam terlihat di layar komputer.
"Apa sudah benar?"
Islam menyipitkan kedua matanya menatap serius pada layar komputer itu dimana di sana ada namanya dan Khadijah.
"Yah sudah benar," jawab Islam.
"Akhi Islam!" bisik Khadijah sambil menarik ujung baju Islam yang langsung menunduk menatap Khadijah.
"Apa?"
"Na...na...namanya."
"Kenapa sama namanya?"
"Sa...salah," jawab Khadijah dengan hati-hati.
Islam menoleh menatap layar komputer itu yang telah melakukan proses percetakan.
"Sudah benar," jawab Islam dengan santainya.
"Afwan, ta..ta...tapi tidak ada nama akhi Rahman di sana."
Islam yang terkejut itu langsung menoleh dan menatap kaget pada namanya yang tertera di atas nama Khadijah.
"Maaf, itu namanya salah. Tolong ditukar dengan nama Rahman," jelas Islam.
"Tapi ini udah jadi."
Pria itu mengangkat undangan yang telah dicetak, ada nama Islam dan Khadijah di sana.
Islam tersenyum menatap namanya yang ada di sana. Andai saja seperti ini. Jika saja di sana adalah namanya bukan nama Rahman mungkin Islam akan bahagia.
"Dibuang saja!" ujar Islam dengan raut wajah sedihnya.
Khadijah tertunduk setelah mendengar jawaban Islam. Entah mengapa rasanya sangat sakit mendengarnya apalagi saat pria itu meremasi undangan itu dan membuangnya ke keranjang sampah.
"Ditukar dengan nama siapa?"
Islam terdiam membuat pria itu kembali bertanya dan alhasil membuat Islam tersentak kaget.
"Apa?"
"Ini namanya mau diganti dengan nama siapa?"
"Rahman."
Pria itu mengangguk lalu menghapus nama Islam dan menggantikannya dengan nama Rahman di sana.
Islam terdiam menatap nanar pada permukaan komputer itu.
20 Menit kemudian...
Islam membuka pintu mobil dan membiarkan Khadijah masuk lebih dulu sambil membawa kantong hitam berisi undangan.
"Saya ke toilet dulu, yah!"
Khadijah mengangguk membuat Islam berlari masuk ke dalam toko dan menghampiri pria yang masih sibuk di depan komputernya.
"Bang, undangan yang dibuang tadi masih ada?"
"Ada tapi sudah saya remuk."
"Saya beli, yah."
Islam mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Buat apa dibeli? Ini kan sudah tidak bagus."
"Nggak apa-apa."
"Yah, sudah ambil saja."
Islam tersenyum lalu meraih undangan yang nyaris berbentuk bola itu dan membukanya dengan perlahan.
Islam tersenyum, jari tangannya menatap senang pada namanya yang berada di permukaan undangan itu.
__ADS_1