Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
34. Telpon


__ADS_3

Mawar menatap penuh dalam sebuah bingkai foto, foto itu adalah foto Islam bersamanya. Islam terlihat tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Di foto itu terlihat Islam merangkul Mawar yang juga ikut tersenyum. Foto ini adalah foto lebaran tahun lalu dimana setelah ia menangis Islam langsung membujuknya dan mengajaknya berfoto.


Mawar akui, ia boleh saja tak bertemu dengan Akbar untuk selamanya tapi tidak dengan Islam, putra satu-satunya itu. Bagi Mawar hanya Islam lah yang sangat mencintai dan menyayanginya. Mawar tak tau bagaimana kabar Islam di pondok pesantren, apa ia baik-baik saja. Mawar sesekali ingin menelepon tapi ia ragu karena ia yakin Akbar yang akan memegang ponsel Islam.


Mawar meletakkan bingkai foto itu di atas meja. Hari ini adalah puasa kedua tanpa kehadiran Islam di sampingnya. Saat sahur Mawar hanya makan sedikit dan tubuhnya pun terasa lemas.


Tok


Tok


Tok


Suara pintu yang diketuk itu terdengar membuat Mawar menoleh hingga ia menatap gadis dengan mata sembab berdiri di bibir pintu. Mawar terheran, ia sama sekali tak pernah melihat gadis ini sebelumnya. Rambut gadis itu terlihat acak-acakan dengan bagian bawah matanya yang terlihat hitam, sepertinya make up gadis itu luntur setelah menangis.


"Cari siapa?" tanya Mawar dengan hati-hati.


...***...


"Gereja dimana?" tanya Kristian kepada salah satu santri yang sedang menyapu.


Santri itu menganga setelah mendengar pertanyaan pria berparas bule itu.


"Cari apa?" tanyanya lagi, mungkin ia salah dengar.


"Gereja, Gereja dimana?" tanya Kristian.


"Astagfirullah." Santri itu menutup bibirnya yang menganga, terkejut bukan main.


"Kenapa?" kaget Kristian.


Islam terdiam di atas balkon sambil menatap Kristian yang terlihat sedang bicara dengan salah satu santri.


"Heran gue sama tuh anak, gue udah bilang di sini nggak mungkin ada gereja," oceh Ali yang juga berdiri di samping Islam.


Santri itu menggaruk kepala, ia menatap dari ujung kaki sampai ujung peci yang dikenakan oleh Kristian.


"Abangnya ini sehat?"


Kristian mengernyitkan dahinya.


"Sehat," jawabnya.


"Seharusnya Abang ini cari masjid bukan gereja," protesnya.


"Kalau abdi cari masjid abdi tidak perlu tanya kamu atuh, kalau masjid abdi juga tau. Abdi mah cari gereja," jelasnya dengan raut wajah ingin menangis.


"Masalahnya Abangnya ini Islam."


"Abdi bukan Islam, nah yang itu Islam!" Tunjuk Kristian ke arah Islam yang ada di balkon.


Santri itu mendongak menatap Islam yang kini tersenyum sambil melambaikan tangannya. Santri itu kembali menatap Kristian yang kini melepas peci dari kepalanya lalu mengeluarkan kalung salib dan memegangnya membuat kedua mata santri itu terbelalak.


"Kristian!"


Kristian menoleh menatap Syuaib yang kini berjalan menghampirinya.


"Mana Islam?"


"Mau apa?"


"Ada telpon dari Umi-nya," jawabnya.


"Tuh Islam!" Tunjuk Kristian membuat Syuaib mendongak.

__ADS_1


"Islam! Ada telpon dari Umi!!!" teriak Syuaib.


Islam tersenyum kegirangan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Syuaib.


"Dimana?!!" teriak Islam.


"Di ruangan pak haji kiyai!!!" jawabnya.


Islam berlari dengan tergesa-gesa melewati lapangan pondok pesantren sambil tersenyum bahagia sementara Kristian, Abirama, Ali dan Sarifuddin ikut berlari di belakang sana.


Islam menghentikan langkahnya ketika ia telah tiba dibibir pintu menatap Abah Habib yang sedang berbicara sambil memegang ponselnya. Islam tak henti-hentinya tersenyum dengan nafas ngos-ngosan.


"Itu Umi?" tanya Islam.


"Itu Islam sudah datang. Islam, Umi antum mau bicara," ujar Abah Habib yang kemudian menjulurkan ponsel itu ke Islam.


Islam meraihnya dan menoleh menatap Kristian, Abirama, Ali dan Sarifuddin yang ikut tersenyum seakan ikut bahagia walaupun itu telpon untuk Islam.


Islam melangkah agak menjauh dari mereka dan berdiri di depan jendela yang menperlihatkan pemandangan pondok pesantren.


"Halo Umi," ujar Islam yang telah mendekatkan ponsel itu ke pipinya.


Senyum Islam lenyap dari bibirnya setelah mendengar suara dari sebrang. Islam menoleh dengan raut wajah tegang membuat mereka semua ikut tegang, senyum mereka lenyap.


"Ada yang mau ngomong sama lo, Li," ujar Islam membuat kedua mata Ali melotot.


"Gue?" Tunjuk-nya tak percaya.


Islam mengangguk lalu menyerahkannya kepada Ali yang terlihat takut untuk menyentuh ponsel itu. Islam duduk di kursi bekas Ali lalu menoleh menatap ketiga sahabatnya itu yang saling berbisik, menanyakan telpon dari siapa.


Ali mendekatkan ponsel itu ke pipinya dengan rasa takut, batinnya mulai menebak siapa orang di sebrang sana.


"Halo."


Kedua mata Ali terbelalak dengan wajah yang begitu sangat terkejut. Ali kenal dengan suara gadis setengah menangis ini.


"Kia," ujar Ali.


"Kia?" tanya Kristian setelah mendengar ujaran Ali.


"Kia siapa?" tanya Sarifuddin yang kebingungan.


...***...


Mawar mengelus punggung gadis yang masih menangis tersedu-sedu itu. Sejak tadi ia tak berhenti menangis.


"Iya ini aku, ini aku Kia," jawabnya sesegukan.


"Lo kenapa nangis?" tanya Ali.


"Kamu harus tanggung jawab, Li!"


...***...


"Tanggung jawab?" tanya Ali.


"Tanggung jawab?" panik Islam.


"Tanggung jawab apaan?" bisik Kristian.


"Iya, Li. Kamu harus tanggung jawab."


"Tanggung jawab apa? Lo kenapa?" panik Ali.

__ADS_1


Mendengar hal itu semuanya kini berlari mengerumuni Ali yang masih terlihat panik. Mereka semua penasaran, begitu pula juga dengan Abah Habib yang ikut berdiri di samping Ali.


"Li, gue-gu-gue hamil," jawab gadis itu lalu melepaskan tangisannya.


"Hamil!!!" teriak Ali, terkejut.


"Hamil?!!" kaget Islam dengan wajah terkejutnya.


"Kamu apain si Kia?" tanya Abirama.


"Hamil?" tanya Abah Habib.


"Iya hamil," jawab Sarifuddin yang terlihat tersenyum.


"Alhamdulillah," ujar Abah Habib dengan raut wajah bahagia membuat semuanya melongo menatap Abah Habib dengan wajah datar.


"Kok Alhamdulillah?" tanya Islam.


"Itu istrinya hamil." Tunjuk Abah Habib ke arah ponsel.


"Pacarnya!" Tunjuk Islam.


"Astaghfirullah!!!" teriak Abah Habib sambil menutup kedua bibirnya yang menganga.


"Jadi ini pacarnya?"


Mereka mengangguk dengan kompak.


"Bukan istrinya?"


Mereka kembali menggeleng dengan kompak.


Bruk


Tubuh Abah Habib terhempas ke lantai membuat semuanya terkejut. Dengan cepat mereka mengerumuni Abah Habib dan mendudukkannya ke kursi.


Abah Habib pingsan!


...***...


Mawar yang masih mengusap punggung gadis itu menoleh menatap gadis berjilbab yang sedang mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Mawar untuk kedua kalinya kebingungan, ia tak mengenal gadis ini. Apakah gadis ini hamil juga?


"Cari siapa?" tanya Mawar ketika gadis itu sudah duduk di kursi.


...***...


"Tian, ada yang nyariin lo," ujar Ali yang kemudian menujulurkan ponsel itu ke arah Kristian yang terlihat takut.


"Siapa?"


"Nggak tau," jawab Ali.


"Lo hamilin anak orang juga?" tanya Islam.


"Tidak," banta Kristian yang kini sudah mengenggam ponsel lalu dengan hati-hati ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


"Halo."


"Aa, ini Aisyah."


"Aisyah, Dede kenapa telpon Aa?" tanya Kristian.


"Aa cepat pulang atuh Aa! Dady mau pulang ke Indonesia nanti Dady nyariin Aa terus Aa-nya nggak ada. Dady nanti marah," jelas Aisyah.

__ADS_1


Kristian menoleh menatap Islam dan yang lainnnya. Mereka terdiam dengan wajah penuh tanda tanya.


__ADS_2