Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
63. Sudah bisa?


__ADS_3

Islam duduk di atas kasurnya sambil memegang buku, kini ia sedang menghapal surah-surah pendek dengan penuh serius bahkan Sarifuddin yang tengah melipat beberapa lembar pakaiannya itu baru kali ini melihat Islam seserius ini.


Sudah beberapa hari ini Islam habiskan waktunya untuk menghapal surah-surah pendek yang setiap malamnya ditambahkan jumlah surah oleh Sarifuddin.


Kini hari telah memasuki 20 puasa ramadhan yah sudah tak banyak waktu lagi untuk berpuasa. Tersisa 10 hari lagi.


Abah Habib yang selalu memperhatikan Islam hanya dapat melihat beberapa perubahan kecil pada Islam, seperti rajin ikut sholat secara berjamaah di masjid, ikut kerja bakti, membantu memasak di dapur dan tetap ikut mengantri saat mandi dan makan.


Hanya ada satu tujuan Abah Habib yaitu Islam bisa sholat di sampingnya tapi sayangnya Islam selalu menolak dan lebih memilih untuk sholat di saf paling belakang.


Abah Habib mau jika Islam mengecup punggung tangannya setelah sholat tapi sepertinya itu tak mungkin. Islam selalu pergi dan keluar dari masjid tanpa bicara dengan siapapun.


Ruangan Kamar


Sarifuddin terdiam di atas kasurnya sambil menatap Islam yang kini sedang berdiri menghadap kiblat.


Hari ini Islam akan praktek menjadi imam sholat dan Sarifuddin yang akan mengamati dan mengomentari Islam setelah praktek selesai.


Seperti guru saja si Sarifuddin .


Islam menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Rasanya kali ini jantungnya berdetak sangat cepat padahal di ruangan kamar ini hanya ada ia dan Sarifuddin yang kini sedang duduk diam menantinya untuk memulai sholat.


"Ingat! Niat sholat dan bacaan yang lainnya tidak diucapkan dengan nada suara yang keras," ujar Sarifuddin mengingatkan.


Islam mengangguk, ia menurut seperti anak kecil.


"Cepat mulai!" pintanya.


Islam menghembuskan nafas dari ujung bibirnya dan mengangguk berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.


Islam pasti bisa, ini demi Khadijah!


"Allahu Akbar," ujar Islam yang memulai sholat.


Suasana kamar kini menjadi hening, hanya ada suara Islam yang melantungkan beberapa surah-surah yang telah ia hapalkan dengan matang.


"Lembut lagi!" pinta Sarifuddin membuat Islam menurut.


"Jari-jari kakinya jangan begitu!" tegur Sarifuddin sambil memukul telapak kaki Islam dengan penggaris.


Kedua mata Islam membulat setelah ia mendapat pukulan itu. Dari mana Sarifuddin bisa tau dan mendapatkan penggaris itu padahal Islam sudah memnyembunyikannya di bawah kasur miliknya agar Islam tak kena pukul lagi.


Islam dengan cepat membetulkan posisi sujudnya sebelum telapak kakinya benar-benar merah. Islam tak tau apa masalah Sarifuddin yang sengaja memukulnya dengan keras, yah mungkin saja ia balas dendam.


"Lebih membungkuk!" tegurnya lagi sambil menekan punggung Islam yang sedang rukuk dengan penggaris.


"Lagi!" tegur-nya sambil memukul bokong Islam dengan penggaris.

__ADS_1


Islam tersentak kaget dengan mata membulatnya. Entah mengapa ia merasa jika dirinya seperti kerbau.


"Assalamualaikum warahmatullah," ujar Islam yang kini menoleh ke kanan dan kiri untuk menutup sholatnya.


Islam mengusap wajahnya dengan kedua tangannya lalu dengan senyuman ia menatap ke arah Sarifuddin yang terlihat sedang menatapnya.


"Bagaimana?" tanya Islam dengan raut wajah penasarannya.


Sarifuddin tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya lalu mengangkat ibu jarinya ke arah Islam.


"Mantap," ujarnya membuat Islan tersenyum lebar.


Bruak


Pintu ruangan kamar terhempas ketika Islam membukanya dengan keras. Islam berlari ke balkon, ada banyak orang di sana.


"Gue udah bisa jadi imaaaaaaam!!!" teriak Islam sambil merentangkan kedua tangannya persis seperi penjelajah yang telah mencapai puncak bukit.


Semua para santri yang ada di lapangan, santri yang sedang berbaris untuk mandi, bahkan beberapa santri ikut membuka pintu langsung menoleh menatap Islam seakan penasaran kepada siapa yang telah berteriak.


"Gue udah bisa jadi imaaaaam!!!" teriak Islam lagi lalu berlari membuat semua orang menoleh menatap kepergian Islam dengan wajah melongo.


Islam berlari menuruni tangga menuju lantai satu, tak peduli pada banyaknya para santri yang terlihat sedang menatapnya. Islam tak peduli dengan mereka, yang Islam tau adalah ia saat ini sedang sangat bahagia.


Islam berlari ke arah dapur yang terlihat ramai karena ibu-ibu yang sedang memasak untuk buka puasa. Semuanya menoleh menatap Islam yang terlihat sesak nafas itu menatap ke segala arah.


"Islam ayo-" ujaran Umma Nur terhenti saat Islam kembali berlari pergi.


Umma Nur menatap heran pada Islam yang terlihat aneh. Ia menoleh menatap ibu-ibu yang juga terlihat kebingungan.


"Ada apa dengan Islam?" tanya Nenek Sia.


Umma Nur tertawa lalu menggeleng.


"Ana juga tidak tau," jawabnya.


"Cucumu itu selalu saja punya cara membuat kita semua geleng-geleng kepala," ujar Nenek Sia.


"Iya, Umma. Ana sampai berpikir bagaimana jadinya jika Islam sudah kembali ke ukhti Mawar mungkin pondok pesantren ini akan sunyi seperti biasanya tanpa ada kehadiran Islam," ujar Fitri yang sedang memotong wortel.


Senyum Umma Nur menghilang dari bibirnya. Jika Islam pergi dari pesantren, apakah ia masih bisa tersenyum dan tertawa seperti ini tanpa adanya Islam?


Islam bagaikan matahari yang menyinari pondok pesantren.


...***...


Islam berlari menulusuri pondok pesantren berusaha untuk mencari sosok Khadijah yang tak kunjung ia jumpai.

__ADS_1


Entah dimana dia sekarang.


Islam menghentikan langkahnya yang telah lelah berlari itu. Islam menoleh ke kiri dan kanan sambil mengatur nafasnya.


Tak berlangsung lama Islam kini tersenyum saat ia mengingat tempat dimana Islam selalu menemukan Khadijah.


Bukit itu, sudah pasti dia ada di sana.


Islam berlari menuju bukit tak peduli ketika beberapa kali ia harus terjatuh saat ia mencoba untuk mendaki bukit. Kini yang ada di pikiran Islam adalah ia bisa bertemu dengan Khadijah.


"Khadijah!!!" teriak Islam bersamaan dengan jatuhnya ia di rerumputan.


Khadijah yang mendengar namanya disebut itu langsung menoleh dan menatap kaget pada Islam yang berusaha untuk bangkit.


Islam tersenyum lebar menatap Khadijah sambil menatap Islam yang sedang berusaha untuk bangkit dan melangkah.


Khadijah bangkit dengan tatapannya yang terlihat khawatir. Bagaimana tidak jika Islam terlihat berkeringat dan wajahnya yang terlihat pucat.


Apa dia sepucat itu karena tak ikut sahur tapi sepertinya tidak. Khadijah melihat Islam saat sahur tadi tapi kenapa Islam terlihat pucat seperti ini?


"Akhirnya saya menemukan kamu di sini," ujar Islam yang cara bicaranya terdengar sesak itu.


"Apa akhi Islam telah berlari?" tanya Khadijah yang kini sudah berdiri sementara Islam terlihat melangkah mendekatinya.


Islam tertawa, dadanya terlihat kembang kempis lalu berujar, "Yah, saya terlalu bersemangat."


Islam menghentikan langkahnya dengan jarak yang agak jauh dari Khadijah.


"Saya ingin memberitau kepada Khadijah kalau nanti malam saya akan menjadi imam masjid," ujarnya.


"Apa?" tanya Khadijah yang seakan tak percaya.


Islam tersenyum.


"Saya akan menepati janji saya kepadamu. Jika nanti malam namamu disebut sebelum sholat maka percayalah itu adalah Islam."


Khadijah terdiam, ia tak tau harus berkata apa kali ini.


"Jika saya telah berhasil menjadi imam maka itu berarti saya sudah menjadi bagian dari kriteria calon suami yang ukhti Khadijah inginkan."


Islam tersenyum lalu tertunduk.


"Saya pamit dulu dan saya harap kamu bisa datang ke masjid untuk mendengar dan bahkan bisa melihat saya menjadi imam untuk pertama kalinya."


"Jika kamu tidak datang maka hancurlah hati ini," ujar Islam sambil menyentuh dadanya.


Islam tersenyum lalu berpaling dan melangkah pergi meninggalkan Khadijah yang terlihat terpatung di tempatnya berdiri.

__ADS_1


__ADS_2