
"Islaaaam!!!" teriak Katrin.
Semua para santri menoleh menatap Katrin yang diseret sambil berteriak memanggil nama Islam tanpa henti. Katrin tak peduli jika semua orang menatapnya.
Katrin menghentikan langkahnya saat ia berpapasan dengan Khadijah yang terlihat sedang menatapnya.
Kali ini dua gadis yang berbeda kepribadian ini saling bertatap mata. Khadijah, gadis yang dicintai Islam sedangkan Katrin adalah gadis yang mencintai Islam.
"Katrin!" sapa Khadijah.
Katrin mengernyit heran. Ia tak tahu siapa gadis yang berdiri di hadapannya.
"Siapa lo?"
"Ana Khadijah."
Katrin tersenyum, itu adalah sahabat kecilnya.
"Khadijah, tolong beritahu Islam untuk menerima perjodohan ini!"
"Islaaam!!!'
Nenek Una menarik Katrin lagi hingga ia kembali melangkah membuat Khadijah menoleh menatap kepergian Katrin yang masih berteriak memanggil nama Islam.
"Ada apa dengan, Katrin?"
Khadijah kembali melangkah hingga tiba di depan ruangan Abah Habib ia menghentikan langkahnya setelah mendengar suara di dalam sana.
"Apa ini sakit, Nak?" tanya Umma Nur.
"Untung saja perjodohan ini dibatalkan dan Allah memperlihatkan sikap asli Katrin yang sangat kasar," ujar Abah Habib.
"Jika Katrin yang bisa kasar di depan kita semua bagaimana jika nanti di belakang kita," Tambah Umma Nur.
Khadijah terdiam di samping jendela dan mendengar suara itu. Ia mencerna semua perkataan mereka di dalam sana.
Apa ini berarti Islam dan Katrin tidak jadi dijodohkan oleh keluarga? Hal ini membuat Khadijah tersenyum di balik cadarnya.
Seharusnya ini adalah berita buruk karena hal ini adalah gagalnya sebuah pernikahan sedangkan pernikahan adalah sebagian dari ibadah, tapi entah mengapa rasanya Khadijah bahagia kali ini.
"Lihat sekarang pipi antum berdarah!" ujar Umma Nur.
Mendengar hal itu membuat Khadijah mengintip di celah jendela. Dari sini ia bisa melihat Umma Nur yang menarik Islam untuk duduk di sofa.
"Apa ini sakit?" tanya Umma Nur yang ingin menyentuh pipi Islam yang berdarah itu tapi ia tak berani.
__ADS_1
Khadijah membulatkan matanya menatap pipi Islam yang terlihat berdarah.
"Ini kotak obatnya."
Akbar meletakkan kotak obat ke meja disusul Umma Nur yang dengan cepat membukanya dan meraih tisyu untuk membersihkan darah di pipi Islam.
"Apa ini sakit?"
Islam tersenyum lalu menggeleng. Sejujurnya luka ini memang tak sakit bagi Islam tapi mereka semua yang terlalu berlebihan.
Yah maklumi saja, Islam adalah anak satu-satunya dan cucu satu-satunya di keluarga ini, jadi kasih sayang terlalu berlebihan itu untuk Islam dan maklumi saja.
"Sekarang apakah antum merasa sedih karena batalnya perjodohan ini?" tanya Umma Nur yang kini terlihat mengolesi luka Islam.
"Tidak."
"Oh yah? Kenapa?"
"Em, karena Islam memang tidak suka dengan Katrin."
Umma Nur tersenyum menatap aneh pada Islam.
"Kenapa tidak suka? Kan Katrin gadis yang cantik."
"Percuma cantik kalau kasar," jawab Abah Habib membuat semua orang menoleh.
"Iya dong kan Abah suami yang baik dan romantis," jawab Abah Habib membuat Umma Nur tersenyum malu.
"Cieeeee!!!" goda Akbar dan Akbir yang langsung tertawa.
"Jadi bagaimana? Antum sudah punya calon atau mau Umma carikan?"
Islam tersenyum lalu ia tertunduk.
"Heh, apakah dia malu?" goda Akbir yang terlihat tersenyum.
"Sebenarnya Islam sudah mencintai seorang gadis, iya kan Islam?"
Kedua mata Islam membulat menatap Akbar yang terlihat mengangkat kedua alisnya ke arah Islam.
"Apa yang Abi katakan?"
"Ah mengaku saja lah!" goda Akbar.
Islam menggaruk belakang telinganya sambil tersenyum malu.
__ADS_1
"Oh yah? Islam sudah mencintai seorang gadis?" tanya Umma Nur sambil mengelus rambut panjang Islam yang diikat ke belakang.
"Mengaku saja! Cepat katakan!"
Islam menoleh menatap Akbar yang mengangguk dengan nada memaksanya.
"Ayo katakan!"
Islam menarik nafas panjang lalu ia menoleh menatap Umma Nur yang terlihat diam menantinya.
"Siapa?" bisik Umma Nur.
"Khadijah," jawab Islam.
Khadijah menyentuh dadanya setelah Islam menyebut nama Khadijah di hadapan keluarganya.
Oh Tuhan, apakah dia salah dengar? Bahkan ini seperti mimpi bagi Khadijah.
Umma Nur yang terkejut itu langsung menoleh menatap Abah Habib yang juga sama terkejutnya.
Mereka tak menyangka jika Islam bisa mencintai seorang gadis bercadar yang sama sekali tak pernah Islam lihat. Bahkan Umma Nur juga sudah tak pernah melihat wajah Khadijah lalu bagaimana Islam bisa menyukai Khadijah.
"Islam suka?"
"Iya, Umma," jawab Islam.
Khadijah meremas ujung cadarnya dengan jantungnya yang berdebar begitu sangat cepat. Khadijah berlari pergi dengan perasaan bahagianya.
Rasanya ia tak tahan untuk berlama-lama di tempat itu dan mendengar semua percakapan mereka.
Khadijah berlari masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan rapat. Khadijah menyandarkan tubuhnya ke permukaan pintu sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak itu.
Khadijah melangkah dan segera sujud di atas lantai dengan waktu yang lama. Khadijah memejamkan kedua matanya lalu ia bangkit dan mengangkat kedua belah tangannya.
"Ya Allah, jika dia jodohku maka permudahkan hamba agar bisa bersamanya."
......................
Hay semuanya🌺
Jadi di sini Emak mau kasih tau kalau emak mau ngajak semuanya untuk memberikan Like pada bab ini, khusus bab ini Emak mau semuanya like dan jangan lupa komen!
Kalau likenya tembus 50 maka Emak janji Doble up sebanyak 7 bab **setelah bab ini tembus 50 like.
Up-nya kalau bab ini tembus 50 like kalau tidak tembus maka upnya untuk sementara dihentikan**.
__ADS_1
Jadi yuk buruan like biar bisa baca banyak bab 🌺🌸