
Umma Nur menempelkan plester pada luka di dahi Islam yang kini terlihat tersenyum menatap wajah berkeriput Umma Nur yang terlihat sangat serius mengobati luka Islam.
Umma Nur menatap Islam dengan wajah bingungnya.
"Ada apa?"
"Mau menikah dengan Islam?" tanya Islam sambil tersenyum membuat Umma Nur tertawa.
"Cari perempuan yang lain saja!"
"Kenapa? Islam maunya Umma bukan yang lain. Lagian Umma sih yang terlalu cantik," godanya lalu tersenyum nakal membuat Umma Nur kembali tertawa.
"Umma sudah tua, cari saja yang lebih muda!"
"Siapa? Khadijah?" tanya Islam.
Umma Nur menatap aneh lalu kembali tertawa.
"Ada apa dengan Khadijah? Apa Islam suka?" tanya Umma Nur.
Islam tertawa lalu ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Umma Nur yang dengan lembut membelai rambutnya.
"Apa boleh Islam suka dengan Khadijah?" tanya Islam.
"Boleh, kenapa tidak?"
"Yah soalnya Islam..."
Islam mengangkat kepalanya menatap Umma Nur yang terlihat tersenyum dengan wajah penasarannya.
"Ah sudah lah. Khadijah bukan tipeku."
"Lalu tipe Islam seperti apa?"
"Yang seperti Umma," jawab Islam membuat Umma Nur tertawa lalu memukul lengan Islam.
Umma Nur mengelus rambut Islam dan mengecupnya. Islam duduk membelakangi Umma Nur yang terlihat meletakkan dagunya di atas kepala Islam.
"Jangan kabur lagi yah, Nak!"
Mendengar hal itu Islam menoleh dan duduk berhadapan dengan Umma Nur.
"Emangnya kenapa kalau Islam kabur?"
"Karena Umma hanya punya satu cucu yaitu Islam."
"Kalau begitu suruh saja istri paman Akbir untuk hamil, mudah kan?"
"Jika mudah maka Umma Nur sudah punya banyak cucu."
Umma Nur menarik nafas panjang lalu menyentuh pipi Islam yang mulus.
"Istri paman Akbirmu tidak bisa memiliki anak."
"Kenapa?"
"Dulu dia mengandung dan setelah beberapa bulan ia terjatuh lalu perutnya terbentur sehingga rahimnya harus diangkat," jelasnya.
Mendengar hal itu Islam kini terdiam.
"Tapi kan paman Akbir bisa menikah lagi, kenapa dia tidak menikah?" tanya Islam.
"Umma sudah menyarankannya agar Akbir menikah lagi tapi dia tidak mau."
"Kok nggak mau? Kan enak punya istri baru."
Islam tertawa membuat Umma Nur juga ikut tertawa.
"Itu yang Islam pikirkan tapi itu tidak mudah jika dilakukan dan tanggung jawabnya jauh lebih besar."
Islam kini terdiam sejenak lalu ia menoleh menatap Umma Nur yang kembali menyentuh pipinya.
"Cuman Islam harapan Umma jadi tolong jangan kabur lagi!"
"Pergunakan waktu satu bulan ini untuk kebaikan. Cukup nikmati dan ambil hikmahnya."
Islam mengangguk. "Akan Islam coba."
__ADS_1
"Islam tak perlu menjadi sesuatu yang diharapkan oleh Abi, Islam. Umma hanya ingin Islam menjadi anak yang baik, sopan, paham agama dan-"
"Ganteng," potong Islam lalu memainkan kedua alisnya.
Umma Nur kembali tertawa.
"Kalau itu sudah terwujud sekarang."
Umma Nur menepuk pelan pipi Islam yang terlihat tersenyum lebar.
Di luar sana Abah Habib tersenyum tipis. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat istrinya itu tertawa lepas. Islam memanglah orang yang keras tapi dia begitu sangat lembut dan lucu di hadapan orang tertentu.
...***...
"Ayo kemari!" ajak Umma Nur ketika Islam mengikut di belakangnya.
Islam melepas sendalnya lalu menaiki tangga. Kini niatnya ia ingin membantu Umma Nur untuk memasak makanan untuk buka puasa walau sejujurnya bukan itu tujuan utamanya.
Tujuan utama Islam adalah untuk melihat Khadijah memasak. Islam juga penasaran mengapa Khadijah hanya keluar satu kali saja yaitu ketika dia menuangkan sayur kangkung dan dia tak pernah muncul lagi.
Islam menatap ke sekeliling dapur yang terlihat dilengkapi dengan berbagai jenis bahan pangan. Ada beberapa sayur yang terdiri dari beberapa jenis, bawang merah, bawan putih dan masih banyak lagi.
Di dapur ini juga ada beberapa wanita berhijab yang sedang sibuk memasak.
"Islam!"
Islam menoleh menatap Umma Nur yang terlihat merangkul wanita berjilbab besar.
"Ini Fitri, istrinya Akbir," ujar Umma Nur.
Fitri tersenyum membuat Islam ikut tersenyum walau senyumnya terlihat tak tulus.
Islam berpaling sambil menopang pinggang menatap ke seluruh dapur berusaha untuk mencari sosok Khadijah.
"Islam mau bantu apa?"
Islam menoleh dengan cepat menatap Umma Nur setelah sejak tadi ia sibuk menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok Khadijah.
"Iya Umma?" tanya Islam.
"Umma tanya, Islam mau bantu apa?
"Masak ikan?"
"Masak nasi?"
Islam menggaruk kepalanya yang tak gatal itu sambil tertawa tipis.
"Em tumis kangkung," jawab Islam.
Yap tujuannya hanya itu.
"Kangkung?"
Islam mengangguk cepat dengan semangat.
"Oh itu di sana! Khadijah!"
"Iya Umma."
Terdengar sahutan lembut membuat membuat Islam menoleh menatap Khadijah yang terlihat memotong kangkung yang terlihat segar itu dengan pisau.
"Ini ada yang mau bantu."
"Siap-," ujaran Khadijah terhenti ketika ia berhasil menatap Islam yang terlihat tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya.
Dia lagi!
"Ini Islam yang mau bantu. Islam!"
"Iya Umma?"
"Ini pisau dan bantu Khadijah memotong kangkung!"
"Siap Umma."
Islam tertawa tipis lalu ia melangkah mendekati Khadijah yang terlihat tertunduk seakan tak mau melihat Islam.
__ADS_1
Islam yang masih tersenyum itu langsung duduk di hadapan Khadijah yang seakan tak peduli dengan keberadaannya.
Islam tersenyum menatap Khadijah yang tak pernah menatapnya tapi bagi Islam itu tak apa-apa.
"Ehem."
Islam terdiam sejenak menanti respon Khadijah yang masih sibuk dengan batang kangkung.
"Ehem.....eheeeem...ehem."
"Islam!" tegur Umma Nur setelah sejak tadi mendengar suara Islam.
Islam menoleh.
"Ada apa?"
"Nggak cuman iseng," jawab Islam lalu kembali menatap Khadijah.
Islam kini memilih untuk diam sambil memotong kangkung dengan asal, ia tak pernah melakukannya. Islam sesekali berusaha untuk mencuri pandang menatap kedua mata Khadijah yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Ah cantik sekali..."
Khadijah mengangkat pandangannya menatap Islam yang dengan cepat tertunduk menatap batang kangkung yang sedang ia potong menggunakan pisau.
"Batang kangkung ini," sambung Islam yang mengangkat batang itu ke depan wajahnya, dari sini ia bisa melihat Khadijah yang menatapnya sekilas lalu kembali tertunduk.
"Sangat indah."
Islam tersenyum lalu melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk tidak tertawa. Khadijah terlihat lucu.
"Tau nggak bedanya kangkung sama kamu?" tanya Islam.
Khadijah tak menjawab, ia hanya terdiam tanpa memperdulikan Islam yang terdiam menanti jawaban.
Khadijah bangkit sambil membawa wadah berisi potongan kangkung lalu mencucinya di bawah kerang air yang mengalir.
Islam bangkit lalu menyadarkan tubuhnya tubuhnya di meja dapur yang tak jauh dari Khadijah.
"Kalau kangkung untuk kesehatan kalau kamu untuk masa depan, ciaaaaaa hahaha," tawa Islam.
Tawa Islam terhenti menatap Khadijah yang melangkah pergi ke arah kompor. Tak mau jauh Islam ikut melangkah mengikuti Khadijah dan menyadarkan tubuhnya ke dinding.
"Mau dengar lagi?" tanya Islam.
Khadijah terdiam, ia tak menjawab. Khadijah masih terlihat sibuk dengan bawang merah yang sedang ia potong.
"Mau dengar lagi?"
Tak ada jawaban.
Islam mendecapkan bibirnya lalu kembali tersenyum.
"Assalamu'alaikum."
Khadijah melirik menatap Islam yang terlihat tersenyum lebar dan sok manis.
"Waalaikumsalam," jawabnya.
Mendengar hal itu Islam tersenyum bahagia membuat gigi putihnya terlihat jelas.
"Mau menikah dengan saya?" tanya Islam.
Gerakan tangan Khadijah terhenti dengan tiba-tiba. Dari sini ia bisa melihat Islam yang terlihat tersenyum menatapnya tanpa henti.
"Islam!" panggil Umma Nur.
"Iya Umma," sahut Islam.
"Kemari, Nak! Bantu Umma membuka botol ini!" mintanya.
"Tunggu!"
Islam menoleh menatap Khadijah yang masih sibuk dengan tumisan kangkungnya.
"Saya pergi dulu yah."
Islam melangkah beberapa langkah lalu ia kembali melangkah mundur membuat Khadijah sedikit terkejut.
__ADS_1
"Jangan rindu!" bisiknya lalu melangkah pergi.
_____