
Islam membuka kedua matanya membuat dahinya mengkerut saat cahaya pelan-pelan menerobos masuk ke Indra penglihatannya.
Islam menyentuh dahinya yang telah dilindungi oleh sebuah kain yang masih hangat sepertinya ini sebuah kompres.
Islam meringis lalu menekannya agar tak sakit. kepalanya terasa sangat sakit seakan otaknya sedang berputar di dalam. Islam juga bisa merasakan tangannya dan sekujur tubuhnya terasa sakit hingga ke tulangnya.
Kedua mata Islam kini terbuka sempurna. Pandangan yang buram itu kini benar-benar terpampang dengan jelas menatap langit-langit berwarna coklat kayu.
Cahaya lampu itu seakan menyakiti matanya membuat Islam menatap ke arah dinding yang dipampang sebuah bingkai kaligrafi.
Tunggu!
Ini bukan kamarnya!
Islam berniat untuk bangkit dari sebuah kasur empuk tapi tubuhnya terasa ditekan. Islam meraba belasan selimut tebal di atas tubuhnya yang telah membuatnya kepanasan.
Kedua mata Islam mengerjab beberapa kali berusaha untuk melihat jelas wajah pria yang sedang membaringkan kepalanya dan menggenggam jari-jari tangannya dengan erat.
Pria itu menggerakkan kepalanya hingga Islam bisa melihat wajah pria itu. Dia Akbar, Abi-nya. Jadi semalaman ia di sini dan Abi-nya yang menemaninya di dalam ruangan yang tak pernah Islam lihat sebelumnya.
Kedua mata Islam memanas dan dadanya terasa sakit. Bagaimana bisa Abi-nya masih mau merawatnya sementara ia selalu bersikap buruk kepada Abinya.
Islam ingin menyentuh kepala yang masih terbalut dengan peci putih itu tapi tak bisa, tubuhnya tak bisa bergerak seakan telah membersihkan seluruh pondok pesantren saja.
Islam menyentuh tenggorokannya yang begitu kering hingga ia tak mampu untuk bicara.
"Islam!" panik Akbar yang langsung bangkit dari tidurnya setelah merasakan jari tangan Islam bergerak.
Islam bisa melihat wajah panik Akbar sambil menyentuh kedua bahunya.
"Ada apa, Nak? Kamu sudah bangun?" tanya Akbar.
Islam terdiam.
"Apa yang sakit?"
"Ha-haus," jawab Islam terdengar merintih.
Akbar dengan buru-buru meraih gelas berisi air hangat di atas meja.
"Ayo, Nak!" ujar Akbar lalu ia duduk di pinggir kasur dan membantu Islam untuk duduk walau tak duduk dengan sempurna.
Akbar mendekatkan gelas itu ke bibir Islam yang kering.
"Tunggu!" tahan Islam lalu kedua matanya melirik ke arah dinding.
"Ada apa?"
"Jam berapa sekarang?"
"Untuk apa?"
"Islam puasa," jawabnya.
"Tak apa, Nak. Kamu sedang sakit, jadi minumlah!" ujarnya.
Islam mengangguk pelan lalu membuka kedua bibir keringnya hingga beberapa teguk air hangat itu turun melewati tenggorokannya.
Akbar kembali membaringkan Islam ke kasur dan setelahnya ia mengganti kompres yang telah berkurang hangatnya itu dari dahi Islam.
Islam menatap sedih pada wajah Akbar yang bisa Islam tatap wajahnya dengan sangat dekat itu.
__ADS_1
Masih bisakah ia marah pada sosok seorang Ayah yang kini sedang memperhatikan kompres yang ia letakkan di atas dahinya?
"Abi," ujar Islam.
Gerakan tangan Akbar terhenti. Wajahnya terkejut setelah mendengar suara Islam.
Akbar menoleh menatap Islam yang kedua matanya telah terhalang dengan air mata. Apa ia salah dengar?
"Apa? Kamu bilang apa?" tanya Akbar.
Islam tersenyum walau bibirnya bergetar berusaha untuk menahan tangisannya yang bisa saja meledak kapan saja.
"Kamu memangil saya apa?" tanya Akbar.
Islam memejamkan kedua matanya dan meneteslah air mata itu, mengalir hingga ke telinganya.
"Abi," ujar Islam lagi lalu meledakkan tangisannya.
Akbar tersenyum walau ia ikut menangis dan menarik Islam dalam pelukannya yang terasa hangat.
"Maafkan Islam, Abi! Maafkan Islam," ujar Islam yang sesegukan.
Akbar mengangguk sembari tangannya yang mengelus rambut panjang Islam yang telah ia lepas ikat rambutnya. Kali ini Akbar tak tahu harus berkata apa.
"Maafkan Islam, Abi! Islam sudah banyak salah sama Abi."
"Iya, Nak. Abi juga minta maaf sama Islam. Islam tidak mendapatkan kasih sayang dari Abi karena Abi yang tidak pernah datang ke rumah."
Islam menggeleng kencang.
Pelukan itu terlepas. Tangan Akbar menyentuh kedua pundak Islam dan menatapnya dengan tatapan sedih.
"Tangan ini sudah menampar pipimu, Nak. Ka-ka-kamu boleh menampar Abi!"
Islam menggeleng cepat.
"Ayo tampar Abi!"
Plak
Plak
Akbar memukul pipinya berulang kali membuat Islam dengan cepat memegang pergelangan tangan Akbar agar berhenti untuk menampar pipinya sendiri.
"Tampar Abi, Nak!"
"Tidak, Abi!"
"Ayo tampar!" suruh Akbar.
Akbar menarik pergelangan tangan Akbar dan menampar pipinya sendiri menggunakan telapak tangan Islam yang sekuat tenaga Islam tahan.
Tanpa sengaja jari Islam menyentuh peci putih yang dikenakan oleh Akbar membuat peci itu terlepas. Kedua mata Islam membulat menatap kaget pada bekas jahitan panjang di bagian kepala yang tak ditumbuhi rambut.
Islam menyentuh bekas jahitan itu membuat Akbar terkejut. Ia tak sadar jika peci itu terlepas.
Akbar dengan cepat meraih peci itu berniat untuk memakainya. Ia tak mau jika Islam melihat ini, namun dengan cepat Islam menahan pergelangan tangan Akbar.
Akbar terdiam, ia bisa merasakan jari tangan Islam yang menyusuri bekas jahitannya.
"Kenapa ini?" tanya Islam.
__ADS_1
Akbar menggeleng berusaha untuk memberahu jika bekas jahitan ini tidak apa-apa.
"Kenapa ini? Tolong beritahu Islam!" Tatapnya penuh harap.
"Ini tidak apa-apa," jawabnya sambil berusaha untuk memakai pecinya tapi dengan cepat Islam meraihnya dan menggenggamnya dengan erat .
"Tolong katakan! Ini kenapa, Abi?" tanya Islam dengan tatapannya yang begitu penuh harap.
Akbar menggeleng, ia berusaha untuk tersenyum.
"Tolong beritahu Islam!" ujar Islam yang memohon.
Akbar mengigit bibirnya yang bergetar itu lalu menarik nafasnya yang terputus-putus itu.
"Saat umur kamu 12 tahun kami sekeluarga memutuskan untuk berkunjung ke rumah agar bisa bertemu dengan kamu dan Umi untuk lebaran bersama."
"Di tengah perjalanan mobil kami yang pada saat itu Abi yang mengemudikannya mengalami kecelakaan dan karena kecelakaan itu ukhti Fitri kehilangan janin dan rahimnya."
Islam membulatkan matanya, jadi hal ini yang pernah ceritakan oleh Umma Nur jika ukhti Fitri tidak akan pernah memiliki anak karena rahimnya yang telah diangkat setelah terjatuh, tapi yang sebenarnya terjadi adalah bukan terjatuh tapi kecelakaan.
"Akbir marah besar kepada Abi dan untuk menebus rasa bersalah akhirnya Abi memutuskan dimasukkan ke dalam penjara."
"Abi dipenjara selama 6 tahun dengan ayat 3 atas dasar yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia dan denda dua belas juta rupiah."
"Tak ada satupun keluarga yang mau menebus maka masa tahanan Abi di perpanjang 2 tahun."
Akbar meledakkan tangisannya di hadapan Islam yang hanya bisa terdiam.
"Itulah mengapa Abi tidak pernah pulang, itu semua karena Abi di penjara dan Abi malu untuk mengatakan ini kepada Umi."
Akbar mengusap pipinya lalu berusaha untuk mengatur nafasnya.
"Abi kemudian dibebaskan dan Abi memutuskan untuk tidak kembali ke pondok pesantren karena malu dan memutuskan untuk kembali ke rumah karena Abi sangat rindu sama Islam."
Akbar tersenyum sambil menyentuh pipi Islam yang hanya bisa terdiam.
"Abi menghubungi Umi dan mengatakan akan pulang tapi di tengah perjalanan Abi di rampok."
"Mereka mengingkan tas yang Abi bawa lalu karena Abi tidak mau maka mereka mengeroyok Abi dan melayangkan senjata tajam pada kepala Abi hingga Abi tidak sadarkan diri."
"Abi koma di hari lebaran dan itu sebabnya Abi tidak bisa pulang."
Islam meledakkan tangisannya lalu segera memeluk tubuh Akbar yang juga menangis.
"Maafkan Abi, Nak," ujar Akbar.
"Islam juga minta maaf karena telah salah paham sama Abi."
Mereka hanya bisa menangis terlebih lagi kepada Islam yang menangis penuh penyesalan. Andai saja ia tahu semuanya mungkin ia tidak akan berprilaku buruk kepada Abinya sendiri.
Tak ada seorang Ayah yang tak peduli pada anaknya, dia bahkan sangat sayang.
Kesalahan pahaman yang menjauhkan mereka.
Di luar jendela Umma Nur menutup mulutnya agar tidak mengeraskan suara tangisannya setelah menatap penuh bahagia seorang Ayah dan Anak yang akhirnya disatukan.
"Sudah jangan menangis!" bisik Abah Habib.
Umma Nur menoleh menatap Abah Habib yang kedua matanya sudah memerah.
"Abah melarang Umma, tapi Abah sendiri menangis."
__ADS_1
Umma Nur tertawa lalu ia melangkah pergi. Abah Habib ikut tertawa lalu mengusap pipinya dengan ujung lengan bajunya.
Siapa yang tidak menangis jika seperti ini?