
Khadijah terdiam menatap tubuhnya yang telah terbalut dengan gaun pengantin berwarna putih di pantulan cermin. Hari ini ia sedang mencoba pakaian pengantin yang baru diantar oleh wanita tukang jahit yang tinggal di luar pondok, tidak terlalu jauh dari dari pondok pesantren.
"Wah, sangat cantik sekali," puji wanita itu.
"Terimakasih, ukhti."
"Benar. Terlihat sangat pas."
Keduanya menoleh saat Islam masuk ke dalam kamar sambil membawa beberapa hiasan kamar pengantin. Kini hari pernikahan tersisa dua hari lagi dan tak punya banyak waktu untuk hal itu.
Di depan kediaman ustad Hasim dan lapangan pondok sudah terdapat hiasan pengantin. Para santri dan santriwati juga telah dipulangkan ke rumah masing-masing karena telah mendekati waktu lebaran.
"Islam!" panggil wanita penjahit itu membuat Islam menoleh menatap Khadijah yang terlihat anggun memakai pakaian pengantin.
"Apa Khadijah terlihat cantik?"
Islam terdiam beberapa detik. Islam menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala Khadijah hingga tatapan Islam terhenti saat Khadijah berpaling membelakanginya.
"Cantik, kan?"
"Yah, cantik," jawab Islam dengan wajah sedihnya.
Ia terdiam sejenak lalu tersenyum menatap wanita itu hingga ia memutuskan untuk berpaling dan akhirnya melangkah pergi meninggalkan kamar.
Islam menyandarkan tubuhnya ke dinding setelah berhasil keluar dari kamar. Ada apa dengan perasaanya, mengapa sangat sakit seperti ini?
Seharusnya rasa ini sudah lenyap! Ia sudah berusaha untuk melenyapkan rasa ini tapi kenapa rasanya sangat sulit.
"Islam!"
Suara teriakan itu terdengar membuat Islam menoleh menatap wanita penghias dekorasi rumah pengantin itu yang sedang memasang kain.
"Tolong bantu saya!"
Islam mengangguk sambil berusaha untuk tersenyum hingga akhirnya ia berlari dan membantu wanita itu.
"Tolong pasang ini, yah!" pintanya sambil memberikan bunga-bunga bermacam warna.
"Ini modelnya bagaimana!"
"Terserah kamu saja!"
Islam mengangguk lalu memasang bunga-bunga itu di kain yang telah digelar di dinding.
__ADS_1
"Islam! tolong angkat beras ini!"
"Siap, sayangku!!!"
Suara teriakan terdengar membuat Islam dengan cepat berlari dan membantu Nenek Sia untuk mengangkat karung besar ke dalam dapur.
"Islam! Ini tabungnya mau dipasang!"
Suara teriakan itu terdengar membuat Islam kembali berlari menghampiri Umma Nur dan membantu untuk memasang tabung gas untuk memasak.
"Islam, sudah dipasang lampu yang di depan?" tanya Abah Habib yang baru saja masuk ke dalam dapur.
"Iya, sudah Abah," jawabnya sambil memasang tabung gas.
"Islam!"
Suara teriakan itu kembali terdengar memanggil nama Islam membuat Islam dengan cepat menghampiri.
"Bawa ini ke depan!" pintanya.
Islam hanya tersenyum manis lalu melangkah pergi sambil membawa beberapa kursi ke depan melewati Khadijah yang terus menatap Islam.
Sejak tadi Islam tak pernah berhenti membantu orang-orang disini bahkan sejak tadi ia tak henti-hentinya mendengar nama Islam yang dipanggil terus.
Khadijah melangkah keluar lalu menyadarkan pipinya yang terlapisi kain cadar itu dipermukaan tiang rumah sambil menatap Islam yang sedang sibuk menghias bunga di dinding.
"Islam!" sapa Katrin yang langsung melompat di depan Islam sambil tersenyum manis.
Islam menoleh lalu tersenyum menatap kehadiran Katrin.
"Lagi ngapain lo?"
"Lagi hias ini."
"Emmm, mau gue bantu?"
Islam menoleh menatap dari ujung kaki sampai ujung jilbab Katrin.
"Emang lo bisa?"
"Wah, ngeremehin gue, nih."
Katrin menopang pinggang.
__ADS_1
"Sini biar gue liatin caranya!"
Katrin mendorong Islam pelan lalu meraih beberapa tangkai bunga dari tangan Islam.
"Nih, liat yah!"
"Em, coba mana!"
Katrin tersenyum lalu mengubah dekorasi bunga yang yang telah Islam membuat Islam hanya mangut-manggut sambil menatap apa yang dilakukan oleh Katrin.
Khadijah menyingkir, ia menyembunyikan sedikit tubuhnya ke tiang agar ia tak dilihat oleh Islam dan Katrin.
"Katrin!" panggil Islam yang menyentuh bahu Katrin yang langsung menoleh.
Katrin tertawa lepas saat ia menatap Islam yang menyelipkan setangkai bunga di atas telinganya lalu tersenyum menggoda seperti perempuan.
"Ih apaan, sih?"
Katrin tertawa lalu memukul lengan Islam yang terlihat masih tersenyum.
"Tapi gue cantik, kan?"
"Hahaha, nggak!"
"Cantik gue."
"Nggak! Lo kayak bencong!"
Katrin kembali tertawa lalu memukul Islam yang kini menyelipkan setangkai bunga di atas telinga Katrin yang seketika terdiam dengan hal itu.
Katrin menatap dalam kedua bola mata Islam yang terlihat begitu indah.
"Nah, kalau gini kayak nenek lampir."
"Ih nyebelin!!!" teriak Katrin yang berniat untuk memukul Islam tapi Islam malah berlari membuat Katrin mengejar.
Katrin tak hentinya tertawa saat Islam berlari berputar-putar mengelilingi tangga dimana ada wanita yang sedang menghias langit-langit dekorasi dengan kembang bunga.
Islam yang berlari itu menghentikan larinya saat ia berdiri di depan Khadijah yang entah sejak kepada ada di sini dan kini ia sedang menatapnya.
"Dapat!!!" teriak Katrin yang langsung memeluk lengan tangan Islam.
Katrin mengernyit heran. Entah mengapa wajah Islam menjadi serius seperti ini. Katrin menoleh menatap Khadijah yang kini terdiam dan tak berselang beberapa lama Khadijah berpaling lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Islam menghela nafas berat lalu ikut berpaling dan melangkah pergi meninggalkan Katrin yang kini terdiam.
Ada apa dengan mereka?