
Suara kicauan burung-burung terdengar merdu sambil berterbangan di angkasa lepas. Mereka hinggap dari dahan ke dahan. Udara angin sejuk tak diragukan lagi keberadaanya di desa ini.
Islam tersenyum lebar setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Setelah beristirahat kemarin, hari ini Islam sekarang sudah merasa lebih baikan walaupun kini sekarang ia sedang flu.
Islam yang sedang memperhatikan pemandangan pondok pesantren itu mengernyitkan dahinya menatap Nenek Una dan Katrin yang sedang melangkah menuju ruangan Abah Habib.
Entah apa yang mereka lakukan di sini? Apa mungkin mereka datang untuk membahas tentang perjodohan ini lagi?
Ah, bagaimana bisa ini terjadi?
Islam memutuskan untuk melangkah melewati pintu-pintu kamar para santri dan turun melewati tangga untuk bisa sampai ke lantai satu.
Islam mempercepat langkahnya saat Nenek Una dan Katrin sudah berada di dalam ruangan Abah Habib.
Islam menyandarkan tubuhnya ke dinding tepat di samping jendela dimana Islam bisa mendengar percakapan beberapa orang di dalam sana.
"Kalau bisa kita percepat saja pernikahannya."
Suara itu terdengar dari dalam membuat Islam terbelalak kaget. Ada apa ini?
Islam mengintip di celah jendela mendapati Abah Habib, Akbar, Akbir, Umma Nur, Nenek Una dan Katrin.
"Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Umma Nur yang sepertinya tak nyaman dengan usulan Nenek Una.
Nenek Una tersenyum lalu mengelus jilbab yang dikenakan oleh Katrin yang terlihat tertunduk.
"Saya hanya ingin melihat cucuku ini menikah dengan Islam. Saya sangat suka dengan Islam, Islam itu anak yang sangat baik."
"Kami tau akan hal itu," jawab Akbir.
"Yah jadi itu alasan saya ingin segera mempercepat pernikahan."
"Tapi maaf, bukankan di desa ini ada pria yang lebih baik daripada Islam. Islam itu masih belajar tentang agama bahkan Islam baru saja belajar puasa. Islam belum bisa menjadi anak yang baik," jelas Akbar yang berusaha untuk mencegah perjodohan ini.
"Paman, maaf sebelumnya tapi saya sangat suka dengan Islam. Kami sudah pacaran di kota," sahut Katrin membuat Islam membulatkan matanya di luar sana.
Islam tak mengerti mengapa Katrin selalu saja tidak mau melepasnya. Kan ada banyak pria di dunia ini, kenapa harus dia?
Akbar tersenyum tak nyaman lalu mengangguk dan kembali bicara, "Yah ana tau antum sangat suka dengan Islam tapi kita tidak tau bagaimana dengan perasaan Islam."
"Islam pasti juga sama aku."
"Oh yah?" tanya Akbar.
Katrin mengangguk.
"Aku yakin buktinya kami pacaran."
"Pacaran bukan berarti-"
"Sudah! Sudah!" potong Abah Habib yang terlihat meremas kepalanya yang terasa pening
percakapan antara Akbar dan Katrin.
"Tidak usah diperpanjang! Begini saja mungkin sebaiknya kita tanyakan ini pada Islam, kalau Islam-"
Penjelasan Abah Habib terhenti setelah ia tak sengaja melihat Islam yang terlihat mengintip di balik jendela.
"Nah itu Islam!" Tunjuk Abah Habib membuat Islam terbelalak kaget.
Bagaimana bisa kedua mata yang pandangannya telah kurang jelas itu bisa melihatnya bersembunyi di balik jendela.
__ADS_1
Semuanya menoleh menatap Islam yang kini tersenyum kaku.
"Mari sini, Nak!" panggil Abah Habib.
Islam menarik nafas panjang lalu ia melangkah menuju masuk ke dalam ruangan Abah Habib dan duduk di samping Akbar yang terlihat mengangguk pelan seakan berusaha untuk memberitahu Islam jika ini akan baik-baik saja.
"Islam!"
"Iya, Abah."
"Ini Katrin. Emm, Abah mau tanya antum suka dengan dia?"
Islam menoleh menatap Katrin yang terlihat tersenyum sok manis membuat Islam muak melihatnya.
"Kamu suka kan sama aku? Iya kan Islam? Kita kan udah pacaran loh di kota," jelas Katrin.
"Nggak," jawab Islam.
Katrin tertawa tak menyangka dengan jawaban itu.
"Kamu jangan gitu dong Islam! Masa kamu nggak suka sama aku? Kita kan udah pacaran masa kamu nggak suka?"
"Yah tapi masalahnya lo yang paksa gue buat pacaran bukan gue yang mau."
Katrin menggeleng, ia menolak hal ini.
"Iya aku tau, tapi kamu juga mau kan pacaran sama aku. Ujung-ujungnya kita juga pacaran, itu nggak penting siapa yang maksa dan siapa yang dipaksa."
"Sudah! Sudah!" ujar Abah Habib membuat Islam dan Katrin yang saling bertatapan itu menoleh menatap Abah Habib.
"Jadi begini saja, apakah perjodohan ini akan tetap dilanjutkan atau tidak?"
"Tidak/ Dilajutkan," jawab Islam dan Katrin bersamaan.
"Kenapa sih, Lam?"
"Yah gue nggak mau."
"Emangnya kenapa? Aku suka sama kamu."
"Kat, Lo denger yah! Lo nggak usah sok baik karena kebenaran mengenai jilbab lo ini ada sama gue!" ancam Islam.
Jari-jari tangan Katrin mengepal karena marah dengan sorot matanya yang tajam.
Bruak
Suara keras itu terdengar setelah Katrin memukul permukaan meja dengan sangat keras membuat semua orang yang ada di dalam ruangan terkejut bukan main.
"Islam!!! Maksud lo apa, sih?!!" teriak Katrin dengan kesal lalu bangkit dari kursi membuat semua orang mendongak.
"Yah lo juga, kalau gue nolak yang udah terima," kesal Islam yang ikut bangkit.
"Tapi gue suka sama lo, harusnya lo itu juga suka sama gue! Kenapa sih lo nggak bisa suka sama gue?!!" teriak Katrin.
"Katrin hentikan!" tegur Nenek Una yang juga ikut bangkit.
"Heh! Rin! Lo denger yah! Kita emang pacaran tapi itu dulu dan gue pacaran sama lo, itu karena gue kasihan sama lo."
Katrin tersenyum lalu menggeleng.
"Nggak! Nggak! Gue maunya lo setuju sama perjodohan ini! Please Islam!" ujar Katrin yang yang kini memohon di hadapan Islam dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
Islam terdiam lalu ia menggeleng.
"Gue nggak bisa," jawabnya.
"Gue mohon, gue sayang banget sama lo," mohonnya lalu ia mengerakkan tangannya berniat untuk memegang tangan Islam tapi dengan cepat Islam menyembunyikan tangannya ke belakang.
"Lam! Gue mohon."
"Katrin, sekarang lo nggak usah maksa gue!"
"Tapi-"
"Hust! Sekarang lo pergi sebelum gue kasih tau rahasia lo ke Nenek Una mengenai penampilan lo di kota itu kayak gimana!" ancam Islam.
Wajah Katrin memerah karena marah setelah ia mendengar ancaman dari Islam yang sepertinya tak mampu lagi membuatnya banyak bicara.
Plak
Semua orang terkejut setelah Katrin melayangkan tamparan ke pipi Islam yang meninggalkan bekas merah di permukaan pipinya yang mulus itu.
"Katrin!!!" teriak Umma Nur yang dengan cepat menghampiri Islam yang terlihat meraba pipinya.
"Apa pipimu terluka, Nak?" tanya Umma Nur yang menyentuh dagu Islam dan mengerakkan kepala Islam berusaha untuk memastikan jika pipi Islam tidak terluka.
"Astaghfirullah," kaget Umma Nur yang melihat pipi Islam berdarah, yah itu karena kuku Katrin yang tidak sengaja menggores pipi Islam hingga berdarah.
Islam menggeleng dan tersenyum berusaha untuk memberitahu Islam jika dia baik-baik saja.
Katrin ikut terkejut, ia tak berniat untuk menyakiti Islam. Katrin hanya bermaksud untuk meluahkan amarahnya bukan untuk menyakitinya.
Umma Nur menoleh menatap Katrin yang terlihat ketakutan setelah melihat wajah Umma Nur yang begitu marah.
"Akhirnya antum memperlihatkan sikap asli antum."
Katrin menggeleng berusaha untuk menyangkal pendapat Umma Nur.
"Allah maha baik dan Allah memperlihatkan ini semua. Una, maaf sepertinya perjodohan ini ana batalkan," ujar Umma Nur.
Nenek Una menarik nafas panjang lalu segera mengangguk dengan wajah sedihnya.
"Maafkan atas perlakuan buruk cucu saya."
Nenek Una menarik pergelangan tangan Katrin yang terlihat ingin melangkah mendekati Islam.
"Islam! Maafin gue!"
"Ayo Katrin!" Tarik Nenek Una dengan paksa.
"Islam! Gue cinta sama lo!!!" teriaknya.
"Jangan sentuh cucu ana!" larang Umma Nur yang berdiri di depan Islam berusaha untuk melindungi Islam.
"Islaaaam!!!" teriak Katrin yang telah diseret keluar oleh Nenek Una.
"Islaaaam!!!"
Umma Nur yang terdiam menatap kepergian Katrin yang masih diseret itu menoleh menatap Islam yang meraba darah di pipinya.
"Apa ini sakit, Nak?" tanya Umma Nur.
Islam tak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk dengan wajah sedihnya walau sejujurnya ia ingin berteriak sekencang mungkin karena rasa bahagia setelah perjodohan ini dibatalkan.
__ADS_1
Bukan rasa benci yang ia rasakan kepada Katrin karena telah menamparnya, tapi rasa terimakasih karena telah membuat semua keluarga membatalkan perjodohan ini.