
Islam berlari menaiki anakan tangga menuju lantai dua kamarnya dengan semangat.
Islam mendorong pintu kamar dan mendapati Sarifuddin yang terbelalak kaget, yah sepertinya pria berpeci miring itu agak terkejut karena Islam yang membuka pintu dengan tiba-tiba.
"Din!" ujar Islam cepat lalu berlari dan berlutut di hadapan Sarifuddin yang melongo.
"Sarifuddin! Lo sibuk nggak?" tanya Islam.
"Saya baca Al-Qur'an," jawabnya dengan ekspresi datar.
Mendengar hal itu Islam meraih Al-Qur'an Sarifuddin dan menutupnya lalu meletakkannya di atas meja. Islam kembali menatap Sarifuddin yang terlihat takut.
"Sekarang lo sibuk?" tanya Islam.
Sarifuddin menggeleng cepat membuat bibir bawahnya itu bergetar.
"Gue mau minta bantuan sama lo," ujarnya dengan nada serius.
"Bantuan apa?"
Islam menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kedua mata Islam yang dipejamkan itu terbuka menatap Sarifuddin yang diam tanpa ekspresi.
"Din!"
"Apa?"
"Bantuin gue jadi imam masjid pondok pesantren."
Sarifuddin mengernyitkan dahinya dengan mulut yang menganga tak percaya. Ada apa yang terjadi sehingga Islam tiba-tiba meminta hal ini.
"Apa?" tanya Sarifuddin, mungkin ia salah dengar.
Islam mendecapkan bibirnya dengan kesal.
"Tadi gue bilang, bantuin gue jadi imam masjid di pondok pesantren," ulangnya.
"Hah?" kagetnya sambil menutup mulutnya yang menganga itu.
"Kenapa?" tanya Islam kebingungan.
Sarifuddin meletakkan telapak tangannya itu ke atas dahi Islam yang rasanya baik-baik saja, hangat dan tidak panas.
"Loh apa-apaan sih?" kesal Islam yang langsung menghempas tangan Sarifuddin dari dahinya.
"Yah saya kira kita sakit."
"Kita, lo ajah tuh yang sakit, gue enggak," tolaknya.
Sarifuddin terdiam, semenjak Islam ada di kamar ini ia selalu mendapat bentakan dari Islam, untung saja dia cucu Abah Habib dan yang lebih terpenting cucu Abah Habib itu belum paham agama.
Bagi Sarifuddin, Islam hanyalah seperti anak kecil yang selalu bertanya kepadanya tentang segala hal yang tidak dia pahami dan tugas Sarifuddin adalah menjawab.
"Jadi lo mau kan?" tanya Islam.
"Mau apa?"
"Aduh, Din-Din. Lo ngerti dikit dong!"
Islam meremas rambutnya gondrongnya yang diikat ke belakang itu dengan kesal.
"Yah mengerti apa?"
"Lo mau kan bantuin gue biar gue bisa jadi imam masjid di pondok pesantren?"
__ADS_1
"Jadi Imam?"
Islam mengangguk sambil tersenyum.
"Lo mau kan bantuin gue jadi imam kayak si Rahman itu?"
Sarifuddin terdiam sejenak sementara Islam tersenyum menanti jawaban Sarifuddin.
"Jadi Imam itu susah."
Islam mendecapkan bibirnya. Bukan jawaban iya atau tidak yang diberikan oleh Sarifuddin tapi malah menjelaskan bahwa jadi imam itu susah.
"Yah susah apanya?"
"Yah masalahnya jadi imam itu harus bagus bacaan sholat dan paham rukun sholat sementara kita saja ini mengaji saja tidak tau terus kita juga kalau sholat mengikut sama saya persis sepeti anak-anak..."
Islam diam tanpa dengan wajah datar, lihatlah begitu lancarnya Sarifuddin saat membahas tentang keburukan Islam.
"...Bagaimana caranya mau jadi Imam sholat kalau begitu," sambungnya.
"Yah dari itu gue mau minta bantuan sama lo. Din, bantuin gue biar gue bisa jadi imam masjid," jelas Islam.
"Masalahnya susah."
"Yah lo ajarin gue dong biar nggak susah. Kayaknya bukan jadi imam yang susah tapi otak lu yang susah."
"Tapi jadi imam itu bukan main-main."
"Yah siapa yang mau main-main sih? Hah? Gue serius nih. Lo bantuin gue yah!"
Sarifuddin terdiam.
"Yah? Bantuin gue yah?" Tatap Islam penuh harap sambil mengangkat satu alisnya.
"Ayo dong! Lo jangan kebanyakan mikir!"
Sarifuddin menghela nafas pendek lalu mengangguk membuat kedua mata Islam berbinar.
"Yang bener lo?" Tunjuk Islam tak percaya.
"Iye," jawab Sarifuddin.
"Ahahaha, makasih yah, Din!!!" teriak Islam lalu mengguncang tubuh Sarifuddin lalu melompat-lompat bahagia.
Sarifuddin tersenyum. Baru kali ini Sarifuddin melihat Islam begitu bahagia tapi tunggu! Sarifuddin mengernyit heran.
"Kenapa tiba-tiba mau jadi Imam masjid?" tanya Sarifuddin sambil mendongak menatap Islam.
Islam menghentikan lompatannya. Ia menunduk lalu berlutut di depan Sarifuddin yang kini tertunduk menatapnya.
"Gue mau rebut hatinya Khadijah," ujarnya seakan nada menghasut, berbisik seperti hantu.
"Wah, kalau begitu saya dukung Islam 100%. Pantang menyerah sebelum akad nikah," ujarnya semangat.
"Mantap!!!" teriak Islam.
Islam tersenyum lebar lalu ia bangkit dan melangkah ke arah cermin menatap wajahnya yang tampan itu.
Islam mentautkan kedua alisnya menatap risih pada anting di telinganya.
"Emangnya apa yang salah sih sama anting gue?" tanya Islam yang menyentuh antingnya.
"Kayak preman," jawab Sarifuddin yang kembali meraih Al-Qur'an dari atas meja.
__ADS_1
"Emang iya?"
Sarifuddin mengangguk cepat, Islam bisa melihat wajah Sarifuddin dari cermin.
Islam menjulurkan lidahnya membuat Sarifuddin menggeliat ngeri menatap tindik di lidah itu.
"Ih ngeri. Apa tidak takut tertelan itu?" tanya Sarifuddin.
"Biar gaya-gaya aja, keren gitu."
"Apanya yang keren? Itu mengerikan, bikin takut-takut," jelasnya.
"Emang iya?"
Islam menoleh menatap Sarifuddin yang masih memberikan ekspresi ngeri.
"Mengerikan, apalagi rambut gondrong itu!" Tunjuk-nya.
"Emang kenapa?"
Islam menoleh menatap cermin dan mengusap rambut gondrongnya yang diikat ke belakang itu.
"Seperti preman," jawab Sarifuddin.
Islam menghela nafas panjang. Ia menatap serius pada anting di telinganya.
Islam melepas anting hitam di sebelah kanan telinganya, tidak sulit karena anting ini adalah anting magnet.
Islam menatap serius pada wajahnya. Menggunakan anting dan tidak jauh lebih rapi jika tidak menggunakan.
"Yang satu lagi!" Tunjuk Sarifuddin.
Islam melepas anting yang satu lagi dan tersenyum menatap wajahnya yang tak dihiasi dengan anting lagi.
Islam membuka mulutnya lalu menjulurkan lidahnya dan melepaskan anting dari lidah membuat Sarifuddin menggeliat ngeri di belakang sana.
"Pelan-pelan! Nanti lidahnya terlepas!" bisik Sarifuddin membuat Islam yang serius merabah tindik di lidahnya itu melirik tajam.
"Emang pakai itu biar apa sih?" tanyanya yang kini sudah berdiri di samping Islam.
Islam mengeluarkan tindik itu dari mulutnya lalu melirik menatap Sarifuddin.
"Biar keren. Nih, kalau lo mau coba!" tawar Islam sambil menjulurkan tindik besi itu ke arah Sarifuddin yang terbelalak kaget.
"Ih, mau diapa? Ada airnya itu!" Tunjuk-nya sambil meringis jijik.
"Tolol," umpat Islam sambil tertawa lalu melempar tindik itu ke jendela dan terjatuh ke bawah sana.
"Itu juga heh, ada air liurnya!" panik Sarifuddin sambil menunjuk ke arah jari tangan Islam yang telah ia gunakan untuk melepas tindik itu.
"Yang ini?" tanya Islam sambil mengangkat jari tangannya.
Sarifuddin mengangguk.
"Nih ambil," ujar Islam lalu menempelkan jari tangannya yang berair itu ke lengan baju koko Sarifuddin.
"Ih, astagfirullah," jeritnya geli.
Islam tertawa lalu menggeleng dan menatap wajahnya di pantulan cermin.
Islam menarik nafas panjang lalu tersenyum.
"Ok, Islam. Siap merebut hati Khadijah?" tanyanya pada pantulan cermin.
__ADS_1
"Siap!!!" teriak Sarifuddin dengan semangat.