Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
68. Dia Islam?


__ADS_3

Islam mengusap wajahnya lalu kembali bersujud sambil menangis.


Ruangan Kamar


Sarifuddin membuka kedua matanya setelah mendengar suara Syuaib yang berteriak berusaha membangunkan para santri untuk bangun sahur sambil memukul botol dengan besi.


Buk


Buk


Buk


Pintu dipukul dari luar membuat Sarifuddin segera bangkit dari kasurnya dan mengusap kedua matanya.


Kedua mata Sarifuddin terbelalak saat menatap kasur Islam yang telah kosong, tak ada Islam di atas sana.


Sarifuddin menutup mulutnya yang terbuka itu. Dimana Islam?


"Islam!" panggil Sarifuddin sambil menoleh ke kiri dan kanan.


Hening, tak ada jawaban.


"Islam!" panggil Sarifuddin lagi.


Sarifuddin menelan salivanya dengan wajah panik serta cemas. Tanpa pikir panjang Sarifuddin segera berlari keluar dari kamar.


Ia berlari sekencang mungkin tanpa memperdulikan genangan air yang ia injak sampai membasahi sarungnya.


Islam pasti kabur lagi, yah seperti apa yang pernah terjadi sebelumnya.


"Pak haji kiyai!!!!" teriak Sarifuddin yang berlari mendekati ruangan makan.


Semua orang menoleh lalu bangkit dari duduknya dan menatap kaget pada Sarifuddin yang terlihat syok bahkan Sarifuddin berlari tanpa menggunakan alas kaki.


"Ada apa?" tanya Akbir yang dengan cepat berlari untuk menyambut kedatangan Sarifuddin yang masih panik.


"Ya ustad Akbir, Islam hilang! Islam tidak ada di dalam kamarnya," jawabnya dengan wajah takut, panik dan cemas menjadi satu.


"Apa?" kaget Abah Habib yang langsung melangkah mendekati Sarifuddin.


Semua orang terbelalak kaget mendengarnya termasuk Khadijah yang sedang menyiapkan hidangan di meja saji.


Apa yang baru saja Sarifuddin katakan?


"Apa yang kamu katakan?" tanya Umma Nur yang terlihat kaget.


"Saya minta maaf, Ustazah tapi saya dengan jelas melihat ranjang Islam sudah kosong. Islam tidak ada," jelas Sarifuddin dengan nafas terengah-engah.


"Apa dia kabur setelah dia keluar dari masjid?"


"Bukan, Pak haji kiyai. Saat saya mau tidur Islam masih ada tapi setelah saya bangun Islam sudah tidak ada," jawabnya, kedua matanya memerah, yah ia ingin menangis.


Abah Habib menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas berat. Kedua matanya menatap Akbar yang terlihat cemas.


"Apa Abah menyalahkan ketidak adanya Islam karena ana?" tanya Akbar sambil menyentuh dadanya.

__ADS_1


"Pak haji kiyai!!!!" teriak Syuaib yang berlari masuk ke dalam ruangan makan membuat semua orang menoleh.


Syuaib terjatuh ke lantai lalu dengan cepat ia kembali bangkit dan berlari.


"limadha tajri? (Kenapa kamu berlari?)" tanya Abah Habib.


"Pak haji kiyai, ada orang di masjid."


"Lalu mengapa antum berlari?" tanya Akbar.


"Dia sujud dan tidak pernah bangkit, mungkin dia telah meninggal," jawabnya dengan tubuh gemetar.


Semuanya terbelalak kaget lalu dengan cepat berlari menuju masjid dengan wajah panik. Bukan hanya Abah habib dan para ustad tapi juga semua para santri ikut berlari.


"Cepat, Pak haji kiyai!" ujar Syuaib yang berlari dan menjadi penunjuk jalan.


"Dimana?" tanya Abah Habib.


"Itu sana!" Tunjuknya.


Semua orang menoleh menatap seorang pria yang sedang sujud tanpa pernah bergerak sedikitpun bahkan Syuaib sampai berteriak berusaha untuk membangunkannya.


"Dia dari tadi begini," ujar Syuaib.


Sarifuddin berlari menaiki anakan tangga lalu ia kembali berlari membelah kerumunan para santri yang sedang saling berbisik.


Kedua mata Sarifuddin membulat saat menatap Islam, yah sudah jelas jika itu Islam. Sarifuddin bisa mengenalinya dari pakaian yang Islam gunakan.


"Islam!" teriak Sarifuddin lalu berlari menghampiri Islam yang masih bersujud.


"Islam!!!" teriak Sarifuddin sambil mengguncang kedua bahunya.


Islam tak sadarkan diri.


Semuanya terkejut bukan main menatap Islam dengan kondisi seperti ini. Wajahnya terlihat pucat dengan tubuh yang terlihat lemas serta dahinya yang terlihat memerah dan kelopak matanya yang juga terlihat bengkak.


Abah Habib dan yang lainnya berlutut menatap Islam yang telah dibaringkan di atas paha Sarifuddin yang terlihat ketakutan, ia sangat takut jika Islam sampai kenapa-kenapa.


"Islam!" panggil Akbar yang menyentuh pipi Islam.


Kedua mata Akbar terbelalak karena terkejut, pipi Islam terasa dingin seperti es.


"Ada apa?" tanya Abah Habib.


"Tubuhnya dingin," jawabnya.


Telapak tangan Abah Habib menyusuri dahi Islam yang terasa sangat panas.


"Dahinya sangat panas, sepertinya dia demam," ujar Abah Habib.


"Astagfirullah, jari-jari kakinya juga teras dingin," ujar Akbir sambil memeras jari-jari kaki Islam.


"Menyingkir!" gertak Akbar yang begitu sangat panik.


Akbar menyentuh leher Islam dan meraih pergelangan tangan Islam lalu merabanya, ia berusaha mencari nadi Islam di tubuh dingin itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Dia masih hidup," ujar Akbar begitu sangat bersyukur.


"Cepat! Bawa dia ke kamar Abah!" pinta Abah Habib lalu melepas surban dari lehernya dan menyelimuti tubuh Islam.


"Biar ana yang melakukannya," ujar Akbar yang dengan cepat menggendong Islam dan melangkah menuju keluar dari masjid.


"Islam! Apa itu Islam?" tanya Umma Nur yang baru saja tiba di masjid bersama dengan Khadijah.


Akbar melangkah tanpa memperdulikan pertanyaan Umma Nur. Bagi Akbar, Islam harus cepat diberi selimut tebal agar tidak kedinginan.


Khadijah bisa melihat tubuh lemah Islam yang wajahnya terlihat sangat pucat serta kedua matanya yang membengkak dan dahi yang terlihat sangat merah.


Khadijah tak percaya jika Islam yang selalu tersenyum dan ceria di hadapannya itu bisa seburuk ini kondisinya.


Umma Nur menoleh menatap Abah Habib yang terlihat melangkah keluar bersama dengan yang lainnya. Mereka semua terlihat khawatir.


"Apa dia Islam?" tanya Umma Nur.


Abah Habib mengangguk.


"Mengapa bisa seperti ini?"


Suasana kini sunyi dan sepi, tak ada yang menjawab.


Umma Nur menatap Sarufddin yang terlihat cemas.


"Antum yang sekamar dengan Islam, kan?" Tunjuk Umma Nur membuat Sarifuddin menoleh.


"Cepat jawab!"


Sarifuddin mengangguk.


"Ada apa dengan Islam?"


Sarifuddin diam, ia melirik menatap Khadijah yang sepertinya sadar akan arti dari tatapan itu.


"Islam sholat lailatul qadar dan mungkin saja dia pergi saat hujan deras," jawab Sarifuddin.


Khadijah tertunduk. Ini bukan karena kesalahannya kan?


"Lailatul Qadar?" Tatap Umma Nur tak percaya.


Tak berselang lama semua orang menoleh menatap Khadijah yang terlihat berlari menyusul kepergian Akbar dan Islam.


Ditempat yang sama Rahman terlihat mendengus kesal. Mengapa Khadijah terlihat sangat khawatir?


Akbar melangkah tanpa memperdulikan pertanyaan Umma Nur. Bagi Akbar, Islam harus cepat diberi selimut tebal agar tidak kedinginan.


Akbar bisa merasakan jika tubuh terasa dingin sekali, terlalu berlebihan jika harus mengatakan tubuhnya membeku tapi percayalah tubuh Islam sedingin es.


Islam membuka kedua matanya yang terasa dingin itu, rasanya ia tak bisa membukanya tapi berusaha untuk ia coba walau ini sangat sulit.


Ia ingin tahu siapa yang telah menggendongnya seperti ini. Kepala Islam terasa sakit dan pandangannya terasa berputar-putar membuat Islam tak sanggup untuk membukanya lama.


Islam mengernyitkan dahinya menatap samar-samar pada pria berpeci putih. Entah siapa pria itu, Islam tak bisa mengenalinya.

__ADS_1


__ADS_2