
Islam meletakkan kopernya ke dalam bagasi mobil dan menutupnya dengan rapat. Ia menoleh dan tersenyum menatap para ustad yang sedang tersenyum menatapnya.
Hari ini adalah hari kepulangannya ke Jakarta dan meninggalkan pondok pesantren. Islam memeluk Abah Habib yang terlihat begitu bahagia.
"Kalau ada waktu nanti main ke pesantren yah!"
Islam mengangguk lalu melepas pelukannya dan mendekati ustad Hasim yang baru saja telah melepas pelukan dari putrinya, Khadijah.
Islam mengecup punggung tangan ustad Hasim yang kini menjadi Ayah mertuanya. Ustad Hasim memeluknya dengan erat hingga ia berbisik.
"Tolong jaga putriku satu-satunya."
"Jika dia berbuat kesalahan maka jangan pukul dia, tapi nasihati lah dia, namun jika dia tidak ingin mendengar maka kembalikan ia padaku," bisiknya lagi.
"Iya, ustad," jawab Islam.
Ustad Hasim melepas pelukannya dan memukul lengan Islam.
"Ana adalah Ayah mertuamu tapi antum memanggil ana dengan sebutan ustad," tegurnya membuat Islam garuk-garuk kepala tidak jelas.
Islam melangkah mendekati Umma Nur yang menyambutnya dengan kecupan di pipi kiri dan kanan Islam.
"Apa boleh ditunda saja kepulangannya?"
"Islam harus lanjut kuliah. Tinggal menghitung bulan untuk wisuda."
"Sahabat Islam, si Kristian, Abirama dan Ali juga udah pulang kemarin karena senin depan udah masuk kuliah."
"Tapi kalau kamu pergi sekarang, terus siapa yang menemani Umma ke pasar?"
"Tuh!" Tunjuk Islam dengan bibirnya ke arah Sarifuddin yang terlihat tersenyum.
Umma Nur menghela nafas berat lalu ia mengangguk.
"Hati-hati di jalan yah, Nak! Dan jangan lupa jaga Khadijah di sana!"
Islam mengangguk lalu ia mendekati Sarifuddin yang terlihat tersenyum menatapnya.
"Gue pamit dulu, yah!"
Sarifuddin mengangguk.
Islam menepuk bahu Sarifuddin yang masih tersenyum.
"Jagain pesantren, yah!"
"Iye."
"Em atau lo nggak mau ikut ke Jakarta buat kuliah?"
__ADS_1
"Tidak, di sini ada Bapak saya. Saya tidak bisa jauh dari Bapak saya."
Islam mengangguk. Ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sarifuddin. Islam menoleh saat Akbir menyentuh bahunya.
"Sudah mau pulang?"
Islam meraih tangan Akbir dan mengecupnya.
"Iya, paman."
"Hati-hati di jalan!"
"Siap, paman."
10 Menit kemudian....
Mobil hitam yang dikemudian oleh Akbar kini melaju meninggalkan pondok pesantren yang kini penghuninya sedang melambaikan tangan kepada Islam yang terlihat ikut melambaikan tangannya di kaca mobil yang dibiarkan setengah terbuka.
Islam menatap sedih pada bangunan pondok pesantren yang dulu selalu ia benci dan tak pernah mengharapkan dirinya tinggal di sana.
Kini setelah semuanya ia lalui selama satu bulan ternyata banyak ilmu yang ia dapatkan. Bukan hanya tentang Tuhan tapi juga tentang arti cinta dan persahabatan.
Islam tidak akan pernah melupakan kenangan yang pernah ia lakukan di pondok. Belajar puasa, belajar sholat, belajar wudhu, belajar mengaji, belajar sabar, belajar tata tertib, belajar arti kesederhanaan dan belajar menjadi imam sholat.
Sampai jumpa pondok pesantren. Semoga kelak ia bisa datang ke tempat ini lagi.
Islam bahkan lupa jika ia sudah tidak sendiri lagi. Ada tanggung jawab yang harus ia jaga sekarang, yah tentu saja itu adalah Khadijah, istrinya yang sekarang terlihat menatap ke luar jendela.
...***...
Mobil berhenti memasuki area parkiran rumah. Pintu mobil terbuka disusul Islam yang ikut melangkah keluar lalu membuka bagasi mobil dan mengeluarkan beberapa koper di sana.
"Khadijah!"
"Iya, Umi ah maksud Khadijah-"
"Tidak apa-apa! Ini Uminya Islam dan berarti juga sudah resmi menjadi Uminya Khadijah, iya kan Abi?"
"Iya betul itu," jawab Akbar yang sedang membuka pintu rumah dengan kunci.
"Nah, ini rumah Islam."
Khadijah mengangguk. Ia menoleh ke seluruh pekarangan rumah yang terlihat bersih. Sepertinya Mawar adalah wanita pencinta bunga, itu bisa Khadijah tebak pada deretan pot berisi berbagai macam bunga.
"Nah, kalau itu pohon mangga!" Tunjuk Islam pada pohon mangga yang tumbuh di samping rumah tetangga yang dahannya melewati pagar dan masuk ke halaman rumah.
Khadijah tertawa kecil. Tentu saja itu mangga.
"Jangan didengarkan! Asal Khadijah tau kalau Islam suka mencuri buah mangga di situ."
__ADS_1
"Bukan mencuri!"
"Lalu apa?"
"Hanya mengambil," jawabnya membuat Mawar geleng-geleng kepala sementara Khadijah tertawa kecil.
...***...
Islam melangkah masuk ke dalam kamar diikuti oleh Khadijah yang mengikut di belakangnya. Khadijah menghentikan langkahnya lalu pandangannya merambah keseluruh ruangan kamar Islam yang bernuansa hitam.
Ada beberapa gitar hitam dan beberapa gambar poster pria rocker yang bergaya sambil mengeluarkan lidahnya yang ditindik itu.
Khadijah melangkah mendekati dinding dan mendongak menatap beberapa foto para sahabat Islam, yah siapa lagi jika bukan Abirama, Kristian dan Ali.
Ada banyak foto mereka di sana yang terpampang. Salah satu dari foto itu adalah foto mereka yang duduk di atas motor masing-masing dengan jaket yang sama, sepertinya itu jaket geng motor mereka.
Khadijah menatap foto yang satu lagi dimana mereka berempat sedang berada di atas panggung dengan alat musik yang mereka pegang. Apa dia juga anak band? Yang jelas mereka terlihat bahagia.
Yang paling mencuri perhatian Khadijah adalah empat bocah kecil yang tersenyum lebar menatap ke arah kamera sambil saling merangkul. Seragam merah putih, dari penampilannya sepertinya mereka masih berusia 9 tahun.
Dari sini Khadijah tahu jika mereka telah bersahabat sejak kecil dan persahabatan itu berlanjut sampai sekarang.
"Mau makan sesuatu?"
Khadijah menoleh lalu ia menggeleng.
"Lalu mau apa?"
"Khadijah tidak mau apa-apa, Akhi."
Islam mendecapkkan bibirnya lalu melangkah mendekati Khadijah membuat jantung Khadijah berdetak sangat cepat dan spontan membuatnya melangkah mundur.
"Ada apa?"
Khadijah menggeleng cepat. Untung saja ia menggunakan cadar, jika tidak mungkin ia sudah ketahuan kalau wajahnya sudah pucat karena gugup.
Islam tersenyum nakal. Sepertinya ada yang sedang berpikir aneh di sini. Islam. menghentikan langkahnya tepat di hadapan Khadijah yang diam membisu.
Islam menunduk membuat Khadijah dengan cepat memejamkan kedua matanya. Dahi Khadijah mengerut saat tak ada sentuhan atau kecupan yang ia dapatkan dari Islam. Biasanya jika sudah begini bibir Islam sudah mengecupnya.
Khadijah membuka kedua matanya menatap Islam yang ternyata menunduk untuk meraih handuk yang ada di kasur tepat di belakangnya.
"Menunggu sesuatu?" tanya Islam lalu tertawa membuat kedua pipi Khadijah memerah karena malu.
Ah, Khadijah pikir Islam akan menciumnya tapi itu ternyata salah.
"Tenang sayang! Setelah kamu berhenti menstruasi maka suamimu ini tidak akan pernah membiarkanmu berdiri di malam hari, okay!"
Islam mengedipkan sebelah matanya lalu melangkah pergi meninggalkan Khadijah yang merinding takut.
__ADS_1