
Abah Habib memebetulkan posisi duduknya sembari Sarifuddin yang sedang mengipas wajah berkeringat Abah Habib. Islam mengalihkan pandangannya saat ia ditatap penuh lekat oleh Akbar.
Apa mungkin Akbar menganggap dirinya lagi yang menjadi penyebab pingsannya Abah Habib?
"Sekarang mau antum semua apa?" tanya Abah Habib sambil menatap Islam, Kristian, Abirama dan Ali yang kini berjejer rapi.
Ali yang tertunduk itu kini mengangkat dagunya menatap Abah Habib.
"Pacar gue hamil dan dia mauuuuu gue pulang. Gue harus nikahin pacar gue," jawab Ali.
Abah Habib menghela nafas panjang dari mulutnya lalu mengangguk. Ia mengusap janggut putihnya itu sambil terdiam, sepertinya ia sedang berpikir.
"Pak haji kiyai!" ujar Kristian sambil mengangkat tangan kanannya.
Islam, Abirama dan Ali menoleh menatap Kristian yang terlihat sedih menatap Abah Habib.
"Ada apa?"
"Dady abdi mau pulang ke indonesia. Kristian harus ada di rumah sebelum Dady abdi sampai kalau tidak nanti dia marah," jelas Kristian.
"Ya, ya Abah mengerti dengan keadaan ini dan ini juga tidak bisa kita biarkan begitu saja apalagi pacar Ali sedang hamil dan Abi-nya Kristian-"
"Dady! Bukan Abi!" tegur Kristian.
"Hust! Abi itu artinya Dady! Sama aja," bisik Abirama.
"Oh iya, maaf maksudnya Dady yah Dady Kristian mau pulang ke indonesia dan Kristian harus pulang sebelum Dady sampai maka dari hal itu Ali dan Kristian dipulangkan."
Islam yang mendengar hal itu tersenyum bahagia membuat mereka bersorak lalu berpelukan.
"Ingat! Yang pulang hanya Ali dan Kristian!" ujar Abah Habib.
Islam menghentikan lompatannya lalu menatap Abah Habib yang terlihat tersenyum.
"Maksud lo? Jadi gue gimana?" tanya Islam.
"Antum tidak pulang."
"Loh tapi kan-"
"Apa? Keluarga antum ada di pesantren bukan di luar sana terus alasan antum pulang untuk apa?"
Islam mendecapkan bibirnya dengan kesal, ia tak terima dengan hal ini.
"Gue ada Umi," ujar Islam.
"Lah yah Umi antum juga maunya antum di pesantren," jawab Abah Habib lalu tertawa.
Islam mendengus kesal lalu melangkah keluar dari ruangan meninggalkan Ali dan Kristian yang kini terlihat melompat-lompat kegirangan.
"Ali, Kristian!"
"Iya pak haji kiyai," sahut Kristian.
__ADS_1
"Antum berdua boleh siap-siap nanti jam dua siang diantar sama Ustad Hasim ke kota," ujar Abah Habib dibalas anggukan oleh Ali dan Kristian.
Kini suasana ruangan Abah Habib menjadi sunyi setelah kepergian Ali, Kristian, Sarifuddin dan Akbar. Abah Habib yang meletakkan Al-qur'an ke meja itu menoleh setelah merasakan ada sesorang di belakangnya.
"Abirama?" Tatap Abah Habib yang menatap salah satu sahabat Islam yang ternyata belum keluar dari ruangan Abah Habib.
"Ada apa?" tanya Abah Habib.
"Pak haji kiyai, saya juga mau pulang," jawabnya.
"Kenapa antum mau pulang?"
Abirama menarik nafas panjang, ia tertunduk sejenak lalu kembali menatap Abah Habib.
"Disini saya merasa mulai mendekati Tuhan umat Islam. Saya belajar banyak tentang agama di pesantren ini dan saya mulau merasa nyaman tapi saya tidak bisa melupakan agama saya yang telah diwariskan oleh orang tua saya."
"Saya belajar puasa, sholat dan bersabar di sini. Ada banyak orang baik yang saya temui termasuk pak haji kiyai dan Sarifuddin."
"Jika saya tidak pulang maka bisa saja hati saya berpaling dari agama saya."
"Saya diam-diam membaca terjemahan Al-Qur'an milik Sarifuddin dan itu saya lakukan secara diam-diam disaat semua sedang tertidur dan saya menemukan sebuah kalimat yang menyentuh hati saya."
Kini suasana menjadi sunyi diantara Abah Habib dan Abirama.
"Kalimat apa itu?" tanya Abah Habib.
Abirama yang menunduk itu dengan pelan-pelan menatap kedua sorot mata Abah Habib.
Abah Habib terbungkam, ia tak tahu harus berkata apa kali ini. Pria beragama Hindu ini berhasil membuatnya diam.
"Pulanglah, Nak! Abah tidak bisa melarangmu pulang."
...***...
Kristian memasukkan tas ke bagasi mobil disusul Ali yang juga memasukkan tasnya. Kini mereka akan benar-benar pulang ke kota, jika saja tak ada telpon itu maka kepulangan ini tak akan pernah ada.
"Tunggu!!!" teriak Abirama yang berlari menghampiri.
"Mau ngapain lo?" tanya Ali.
"Lah saya juga mau pulang."
"Loh tapi kan-" Kristian menatap ke arah Abah Habib yang terlihat tersenyum.
"Abah yang menyuruhnya."
Islam yang mendengar hal tersebut langsung panik bukan main. Bagaimana bisa ketiga sahabatnya itu pulang sementara dia tidak.
"Lo pilih kasih banget sih, masa teman-teman gue pulang terus gue nggak," protesnya.
"Antum bisa pulang kalau antum sudah paham agama," jawabnya membuat Islam mendengus kesal.
"Yang sabar yah!" ujar Ali lalu tertawa cikikan sambil masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Islam membuang kasar udara dari hidungnya sambil menjauhkan pandangannya dari ketiga sahabatnya itu yang sudah ada di dalam mobil yang mulai melaju dengan pelan.
"Islam! Abdi duluan yah!!!" teriak Kristian yang mengeluarkan separuh tubuhnya di jendela mobil dengan raut wajah bahagia.
"Dadah!!!" teriak Ali yang melambaikan tangan.
"Udah sana lo!" kesal Islam yang tak mampu ia tahan.
"Assalamu'alaikum!!!" teriak Abirama.
"Waalaikum'salam," jawab Abah Habib yang kemudian ikut melambai sambil tertawa.
Mobil itu melaju pergi dan lenyap dari pandangan Islam, ini yang terakhir kalinya Islam melihat tiga sahabatnya itu. Islam tak yakin bisa melihat mereka lagi selama ia ada di pesantren. Islam tak yakin ia jika mempelajari agama selama sebulan puasa ini.
Islam mengigit bibirnya dengan wajah yang memanas, rasanya ia ingin menangis karena kepergian Kristian, Abirama dan Ali.
Kedua alis Islam bertaut saat merasakan ada yang sedang memperhatikannya membuatnya langsung menoleh menatap Abah Habib yang sedang menatapnya.
"Ngapain lo?"
Abah Habib tertawa, "Kalau mau nangis, nangis saja! Tidak usah ditahan-tahan."
Islam tersenyum sinis lalu menggeleng.
"Sotoy lu," ujar Islam lalu melangkah pergi meninggalkan Abah Habib yang terlihat tersenyum simpul.
Sarifuddin berlari mengikuti Islam yang berjalan begitu terburu-buru menuju kamar.
"Islam! Jangan sedih! Kan ada saya!"
"Gue nggak sedih!!!" geretak Islam membuat Sarifuddin tersentak kaget dengan langkahnya yang tiba-tiba terhenti. Sarifudddin terdiam beberapa detik lalu kembali berlari mengikuti Islam.
...****...
"Oh kalau antum ini agamanya Kristen."
"Iya ustad," jawab Kristian.
"Kalau antum Hindu?"
"Iya," jawab Abirama.
Ustad Hasim mengangguk sambil terus melajukan mobil yang ia kemudikan.
Ali yang merasa bosan itu kini tersenyum setelah melihat dua ekor anjing yang berada dibelakang pria pengembala kerbau.
"Heh saudara!!! Gue balik dulu yah!!!" teriak Ali yang mengeluarkan separuh tubuhnya ke jendela sambil melambaikan tangannya.
Dua ekor anjing itu menggonggong lalu berlari mengejar mobil membuat Ali dan Kristian tertawa cekikan, berbeda dengan Abirama yang...
"Heh anjing!!! Sarung Sarifuddin balikin!!!" teriak Abirama dengan wajah setengah menangis membuat Ali dan Kristian semakin tertawa.
Urusan Abirama dengan anjing itu sepertinya tidak akan baik-baik saja.
__ADS_1