
"Islam!!!" teriak Umma Nur yang terus melangkah mengikuti Islam yang terus melangkah pergi.
Islam tak peduli bahkan ia terlihat berlari dan keluar dari pondok pesantren melewati gerbang. Ia tak peduli jika Umma Nur tetap berteriak dan mengikutinya dari belakang.
Islam mengusap pipinya yang basah itu sambil menangis sesenggukan. Islam berlari menaiki bukit yang agak tinggi yang ditumbuhi oleh pepohonan besar dan hijau.
Islam menghempaskan tubuhnya ke samping pohon yang paling besar. Islam memeluk lututnya sambil terus menangis. Matanya yang merah itu menatap ke segala arah dengan tatapan yang tidak menentu.
"Jangan sakit!!!"
"Tolong jangan sakit!!!" teriak Islam sambil memukul dadanya berusaha untuk menghilangkan perih di dadanya itu.
Islam mengusap rambut gondrongnya itu ke belakang lalu menjambaknya dengan kuat. Islam kembali memukul dadanya yang telah memerah itu.
"Umi," bisik Islam.
"Umi, Abi udah nampar Islam," aduhnya.
Islam mendongak. Kepalanya terasa sakit setelah menangis. Dada Islam terasa sakit terasa ditikam oleh sembelih dengan belati.
"Islam mau pulang," ungkap Islam lagi.
Islam bangkit dari rerumputan hijau lalu mendekati sebuah bangku yang mengahadap ke gunung yang tinggi. Dari atas sini, Islam bisa melihat pemandangan sawah yang luas di bawah sana.
Islam duduk di bangku panjang itu, ada dua bangku di sisi kiri dan kanan. Islam tak menyangka jika di atas bukit ini terdapat bangku panjang seakan telah dibuat untuk menyaksikan pemandangan di bawah sana.
Islam mengusap pipinya. Ia menarik nafas panjang berusaha untuk berhenti menangis, tapi itu tak mudah. Islam meledakkan tangisannya lalu kembali memukul dadanya yang masih terasa sakit.
Islam kini hanya bisa merasakan sakit di hatinya sedangkan luka dan darah yang mengalir itu, ia tak peduli.
Islam menghentikan tangisannya walau ia suara sesegukannya masih terdengar saat ia mendengar suara langkah kaki yang terasa mendekatinya. Islam bisa mendengar jelas ranting-rantin yang patah saat seseorang melangkah.
Islam tau sesorang itu pasti Umma Nur yang tak menyerah untuk mengejarnya.
"Pergi!" pintah Islam tanpa ia menoleh.
Islam tak mau jika Umma Nur melihat wajahnya yang menangis itu.
Langkah kaki itu terhenti, Islam bisa mendengarnya. Tak berselang lama langkah kaki itu kembali melangkah seakan mendekatinya.
"Pergi gue bilang!!!" teriak Islam membuat langkah itu langsung terhenti.
"Gue mau sendiri."
"Gue nggak mau diganggu sama Umma," ujar Islam yang berusaha untuk tidak menangis.
Kini suasana menjadi hening membuat Islam menghela nafas panjang dan ia menunduk.
"Assalamu'alaikum."
Kedua mata Islam membulat, itu bukan suara Umma Nur. Islam tak pernah mendengar suara itu sebelumnya.
Islam dengan cepat menoleh dan mendapati seorang gadis bercadar yang selalu ia lihat di meja saji untuk menuangkan sayur kangkung.
Islam tak mengerti mengapa gadis bercadar itu bisa ada di tempat ini dan kini ia terlihat tertunduk walau sesekali ia menatap Islam yang masih terlihat terkejut.
Islam berpaling membelakangi Khadijah yang kini melangkah menuju bangku panjang yang berada di sisi kiri dan duduk di sana.
Islam mengusap pipinya dengan cepat dengan telapak tangannya lalu merapikan rambutnya yang berantakan. Islam tak mau jika ia terlihat berantakan di hadapan Khadijah yang kini sedang duduk mengahadap ke arah penggunungan.
Islam melirik Khadijah yang terlihat tertunduk dengan rasa canggung. Sesekali Khadijah melirik Islam yang mulai salah tingkah disaat mereka bertemu pandang.
__ADS_1
Islam menghela nafas panjang, ia masih ingin menangis tapi ada Khadijah di sini.
"Abah yang menyuruh kamu ke sini?" tanya Islam yang menoleh ke kiri menatap Khadijah yang terlihat menatap pemandangan.
Khadijah tak menjawab, ia sibuk menatap pemandangan.
Islam tertunduk lalu ikut menatap pemandangan di depan sana. Beberapa menit kemudian mereka yang saling diam itu membuat Islam mendecapkan bibirnya karena pertanyaannya tak dijawab oleh Khadijah.
"Kalau ditanya itu dijawab bukan malah diam."
Islam melirik menatap Khadijah yang terlihat memaingkan kedua kakinya.
"Akhi juga tidak menjawab salam ana lalu bagaimana ana bisa menjawab pertanyaan dari akhi Islam?"
Islam tersenyum simpul bahkan ia lupa untuk menjawab salam Khadijah.
"Waalaikum'salam," jawab Islam membuat Khadijah tersenyum dibalik cadar hitamnya.
"Ana datang ke sini karena perintah Umma Nur, beliau tidak kuat untuk naik ke bukit ini jadi ana yang ke sini."
"Untuk apa?"
"Menyuruh akhi Islam pulang," jawab Khadijah dengan hati-hati.
Islam tersenyum sinis membuat sudut bibirnya terangkat.
"Pulang kemana?"
"Ke pondok pesantren."
"Kasi tau sama Umma kalau saya nggak mau pulang!"
"Kenapa?"
"Nggak ada yang sayang sama saya," jawab Islam lalu tersenyum.
"Akhi Islam salah."
"Kenapa?"
"Sejujurnya Khadijah merasa iri dengan akhi Islam karena banyak yang menyayangi akhi Islam di pondok."
Islam tersenyum simpul lalu menggeleng.
"Kalau kamu liat apa yang telah dilakukan oleh si Akbar itu mungkin kamu akan tau betapa bencinya dia kepada Islam."
"Akhi Islam hanya tidak mengerti bagaimana kasih sayangnya Ustad Akbar."
Islam terdiam. Islam seakan muak mendengar nama itu atau bahkan menyebutnya.
"Khadijah iri dan Khadijah cemburu. Khadijah pikir, Umma Nur sangat mencintai Khadijah tapi ternyata tidak. Umma Nur jauh lebih sayang dan cinta kepada akhi Islam."
"Akhi Islam seharusnya bersyukur banyak yang sayang kepada akhi Islam. Ada Abah, Umma Nur, Umi dan Abinya Islam."
"Abi nggak sayang sama gue... em maksudnya saya."
Khadijah tersenyum dibalik cadar.
"Kamu juga pasti banyak yang mencintai kamu."
"Siapa?"
__ADS_1
"Saya," jawab Islam yang tersenyum sok manis ke arah Khadijah yang tak pernah menatap ke arahnya.
"Hanya Abi yang mencintai Khadijah saat ini."
"Umi?"
Khadijah tertunduk sejenak seakan sukar untuk mengatakan sesuatu.
"Umi Khadijah telah meninggal," jawab Khadijah membuat Islam terkejut.
"Meninggal?"
Khadijah mengangguk.
"Umi Khadijah telah meninggal karena kebakaran dan tu..tubuhnya hangus terbakar," jawabnya.
Khadijah tertunduk sejenak.
"Maaf," ujar Islam dengan rasa bersalah.
Kini suasana menjadi sunyi, tak ada diantara mereka berdua yang bicara lagi.
"Saya mau pulang ke rumah. Saya rindu dengan Umi," ujar Islam.
"Jika rindu maka berteriak saja!"
"Berteriak?"
Khadijah mengangguk.
"Jika Khadijah rindu dengan Umi maka Khadijah akan berteriak dan memanggil Umi lalu rindu itu terbalaskan."
Islam mengernyit heran.
"Berteriak dimana?"
"Di sini."
"Di sini?"
Khadijah mengangguk.
Islam menoleh ke kiri dan kanan menatap pemandangan yang ada disekitarnya.
"Kalau yang ada yang liat gimana? Nanti disangka orang gila."
"Tidak ada orang di sini. Khadijah juga sering berteriak di sini."
Islam tertawa tipis lalu menggeleng. Saran Khadijah terlalu menantang.
Tak berselang lama Khadijah bangkit dan berdiri di atas bangku panjang membuat Islam mendongak heran. Apa yang gadis bercadar itu akan lakukan?
"Umiiiiiii!!!" teriak Khadijah dengan suara sekeras mungkin.
Khadijah menoleh menatap Islam yang sedang menertawainya.
"Umiiiiii!!!! Khadijah rinduuuuu!!!" teriaknya lagi.
Islam tertawa lalu ikut berdiri di atas bangku membuat Khadijah tersenyum.
Islam menarik nafas panjang dari mulutnya merasakan udara segar yang masuk mengisi rongga paru-parunya.
__ADS_1
"Umiiiiiii!!! Islam rinduuuuu!!!" teriak Islam sekeras mungkin, meluangkan rasa rindunya dengan berteriak.