
Semua orang menoleh dan terdiam dengan wajah kebingungan. Apa yang terjadi dengan mereka?
Islam yang merasa kebingungan itu segera menghempas pergelangan tangan Katrin yang dengan cepat menoleh menatap Islam.
"Lo ngapain sih malah narik gue?" tanya Islam.
Katrin tak menjawab, ia menarik Islam lagi dan membawanya ke tempat yang sepi, benar-benar tak ada orang di sini.
"Lo beneran Katrin yang kuliah di Universitas Harapan jaya kan?" Tunjuk Islam.
Katrin menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk memastikan tak ada orang yang melihatnya, setelahnya ia langsung menoleh menatap Islam.
"Bukan," jawabnya.
"Ah sotoy lu, gue ingat banget sama muka lo. Lo kan yang ngemis-ngemis supaya gue cinta sama lo?"
Katrin terdiam. Katrin masih menatap ke sekeliling berusaha untuk memastikan tak ada orang yang melihatnya.
"Tapi tunggu!" ujar Islam lalu menatap dari atas sampai ujung kaki.
Islam sedikit bingung. Terakhir kali yang ia ingat adalah gadis itu tidak memakai hijab dan bahkan dia menggunakan pakaian seksi di hadapannya.
"Lo pakai hijab?" Tunjuk Islam membuat kedua mata Katrin membulat karena terkejut.
"Hust!" suruhnya sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, ia takut jika ada yang mendengar hal ini.
"Tapi lo beneran Katrin yang-"
"Iya okay, gue Katrin yang udah ngemis-ngemis cinta sama lo. Lo ngapain di sini?" tanya Katrin yang akhirnya mengaku.
Islam seketika menciut, jika tadi Katrin yang merasa khawatir sekarang Islam yang merasa khawatir.
Harus jawab apa sekarang?
Malu rasanya jika Islam memberitau Katrin kalau dia dimasukkan ke dalam pesantren.
"Atau tunggu!" ujar Katrin membuat Islam terbelalak kaget dan menoleh menatap Katrin yang terlihat sedang menerka-nerka.
"Kata Nenek gue, gue katanya mau dijodohin sama cucu seorang kiyai dan semua keluarganya itu adalah ustad dan ustazah."
Katrin menatap penampilan Islam dari atas sampai bawah. Jika dulu Katrin melihat Islam yang tampil keren dengan pakaian serba hitam, sekarang Islam hanya menggunakan kaus biasa berwarna putih dan sarung.
Islam yang sudah tak nyaman saat ditatap dari atas sampai bawah itu langsung memejamkan matanya. Bodohnya ia memakai pakaian yang diberikan Abah Habib dulu karena baju yang sering ia gunakan masih basah dan berteger di tali jemuran.
"Hahahaha..."
Islam menatap bingung pada Katrin yang langsung tertawa terpingkal-pingkal seperti orang gila. Apa yang dipikirkan Katrin mengenai dirinya?
"Gue nggak nyangka ternyata ketua geng motor dan playboy nomor satu di kampus bisa juga masuk pesantren. Diajarin apa lo di sini? Kasidah?"
Katrin kembali tertawa cekikikan membuat Islam hanya bisa terdiam. Sial, yang ia takuti akhirnya terjadi.
"Lagian gue nggak nyangka, ternyata lo yang senakal ini ternyata keturunan kiyai pendiri pesantren."
"Oh iya ngomong-ngomong mereka semua tau lo kayak gimana di luar pesantren?" tanya Katrin.
__ADS_1
"Lo berisik banget sih? Heh Lagian lo juga nih yang aneh. Perasaan lo nggak pakai jilbab deh waktu di kampus tapi sekarang kok lo-"
"Hust!" Tahannya cepat sebelum Islam menyelesaikan ujarannya.
Islam tersenyum sinis, sepertinya ada yang sedang berpura-pura di sini.
"Lo pura-pura baik yah di depan Nenek Una?" tanya Islam membuat kedua mata Katrin melebar.
"Lo berisik banget sih," kesalnya.
"Terus lo pakai jilbab juga, emmmm atau lo pura-pura jadi sholeha biar keluarga gue setuju kita dijodohin, iya kan?"
"Eh bahkan gue nggak tau kalau lo itu cucu si kiyai itu," bela Katrin.
"Terus lo ngapain pakai hijab?"
Katrin menyentuh dahinya yang terasa pening itu setelah mendengar pertanyaan dari Islam. Mampus kamu sekarang, Katrin!
"Okay, gue jujur. Gue emang pakai hijab," ujarnya dengan jujur.
"Loh tapi kan di-"
"Iya," potong Katrin sambil mengangguk.
Islam terdiam dengan wajah herannya.
"Gue pakai hijab tapi kalau gue ke kota, gue lepas hijab."
"What? Yang benar aja lo?"
"Terus kenapa pakai hijab lagi?"
"Yah karena gue udah kembali ke desa."
"Oh gue ngerti. Kalau lo di desa sholeha kalau di kota solehun," ejek Islam lalu tertawa.
"Terus bedanya gue sama lo apa? Hah?" tanya Katrin membuat Islam menghentikan tawanya, benar juga kata Katrin ini.
"Lam, gue minta tolong yah! Tolong jangan ngasih tau Nenek Una kalau gue nggak pakai hijab di kota! Okay?"
Islam terdiam dengan wajahnya yang terlihat berpikir sementara Katrin masih menatapnya dengan wajah penuh harap.
"Yah?"
"Tapi kenapa lo nggak pakai hijab aja sih? Kenapa harus dilepas?" tanya Islam.
Katrin tertawa.
"Yah lo pikir aja dong! Gue nggak akan bisa tampil cantik kalau gue pakai hijab dan nggak bisa bersaing di kampus selama hijab ini ada sama gue," jelasnya sambil menyentuh ujung hijabnya.
"Siapa yang bilang? Lo cantik kok pakai hijab," ujar Islam.
Raut wajah Katrin seketika berubah setelah mendengar ujaran Islam. Apa ini benar? Islam baru saja memujinya.
"Apa?" tanya Katrin.
__ADS_1
"Lo cantik pakai hijab."
"Islam!" panggil Syuaib membuat Islam dengan cepat menoleh sementara Katrin terlihat terus mendongak menatap Islam.
"Dicari sama Pak haji kiyai," ujar Syuaib membertau.
...***...
"Kalian berdua saling kenal?" tanya Abah Habib sambil menatap Islam dan Katrin yang terlihat tertunduk sambil sesekali keduanya saling melirik.
Harus jawab apa sekarang? Jujur bukanlah yang terbaik, ini bisa saja menambah masalah.
"Islam! Katakan saja, Nak!" bisik Umma Nur.
Islam menoleh menatap Umma Nur lalu melirik ke arah Katrin yang menggeleng pelan berusaha untuk melarang Islam.
Islam menghela nafas pendek lalu menoleh menatap Abah Habib yang terlihat sedang menanti jawaban dari salah satu dari mereka.
"Kami saling kenal," ujar Islam membuat Katrin langsung memejamkan kedua matanya.
Mampus! Tak lama lagi semuanya akan terbongkar.
Semuanya terlihat kaget lalu saling tersenyum. Mereka juga tak menduga dua mahluk yang akan dijodohkan ini saling mengenal.
"Oh yah? Dimana?" tanya Umma Nur.
"Di kampus. Kami kuliah di tempat yang sama," jawab Islam sementara Katrin sudah senam jantung, ia takut jika Islam mengatakan tentang bagaimana dirinya di kampus.
"Bagaimana Katrin di sana? Apakah baik?" tanya Nenek Una membuat Katrin membulatkan matanya karena terkejut.
Pertanyaan ini membuat Katrin serasa ingin lenyap dari tempat ini.
Islam menoleh menatap Katrin yang ikut menatapnya.
Katrin mengusap dahinya yang berkeringat itu. Pasrah saja! Katrin tau bagaimana sikap Islam yang tak mungkin akan mengatakan sesuatu yang baik tentangnya.
"Dia...dia baik," ujar Islam membuat Katrin yang tak menyangka itu langsung terbelalak kaget.
Islam yang sikapnya brengsek itu membantunya!
Semua orang tersenyum dan mengungkapkan kata syukur.
"Jadi kalian berdua setuju dijodohkan?" tanya Abah Habib yang terlihat tersenyum.
Islam dan Katrin mempias. Mereka sesekali bertatapan dan kembali tertunduk.
Katrin tak mau bicara sekarang. Ia ingin mengatakan iya tapi kejadian Islam yang menolak cintanya di kampus itu membuat Katrin malu untuk melakukannya.
Islam adalah cinta bagi Katrin tapi belum tentu bagi Islam.
"Bagaimana? Setuju?" tanya Abah Habib yang penasaran.
Islam langsung bangkit dari sofa membuat semua orang mendongak.
"Em maaf kayaknya saya mau ke toilet dulu, permisi!" ujar Islam lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Katrin tersenyum simpul. Katrin tau apa yang sedang dilakukan oleh Islam. Toilet hanya alasan agar ia tak menolak perjodohan ini secara langsung. Islam hanya tak mau jika Katrin malu karena ia yang menolak perjodohan ini.