Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
81. Cemburu


__ADS_3

Suara kicauan burung-burung terdengar seakan memberikan sebuah persembahan lagu dengan nyanyian merdu dan ranting pohon sebagai panggungnya.


Khadijah melangkah di koridor hingga langkahnya memelan saat dari kejauhan ia melihat Islam yang sedang melangkah di depan sana tanpa menatapnya sedikitpun.


Harus bagaimana sekarang?


Khadijah menghembuskan nafas panjang. Rasanya ia bahagia bisa melihatnya, sosok Islam yang setiap paginya selalu menyapanya seperti ini.


Khadijah tetap melangkah dengan kedua matanya yang menatap Islam tapi pagi ini Islam sama sekali tak menatapnya sedikit pun.


Khadijah menghentikan langkahnya dengan tatapan tak menyangka. Islam melewatinya begitu saja padahal setiap pagi Islam selalu menyapanya.


Memberikan salam atau sekedar menggodanya tapi hari ini tidak.


Khadijah menoleh menatap Islam yang tak kunjung berbalik badan dan pergi hingga ia benar-benar hilang dari pandangan Khadijah.


Khadijah sadar, ia telah melukai hati Islam dan bagaimana bisa seseorang akan bersikap baik jika telah dibuat kecewa.


Khadijah kembali melangkah pergi membuat Islam yang sedang bersembunyi di balik tembok itu mengintip menatap kepergian Khadijah.


"Maafin gue, Khadijah."


...***...


Hari ini ada banyak santri di lapangan sambil membawa sapu dan beberapa alat membersihkan lainnya. Hari ini ada kerja bakti di hari minggu dan tak lama lagi hari ini akan menuju hari lebaran, yah tinggal menghitung hari.


"Hust!"


"Apaan sih lo?" kesal Islam saat Sarifuddin berbisik di telinganya.


"Itu di sana ada Khadijah sama Rahman. Mereka berduaan pungut sampah."


"Terus?"


Sarifuddin mengernyit bingung. Mengapa harus bertanya?


"Yah masa kita tidak cemburu. Biasanya to kita itu selalu pergi dan ganggu itu dua orang apalagi sama ustad Rahman yang berusaha untuk mendekati ukhti Khadijah," bisiknya seperti iblis.


"Udahlah itu kan terserah dia."


"Loh kok begitu?"


Islam terdiam. Sesekali ia melirik menatap Khadijah dan Rahman yang sedang memungut sampah. Islam membuang sampah itu yang telah ia pungut dengan perasaan kesal membuat Sarifuddin sesekali tersentak kaget karena Islam yang memukul tempat sampah.


Harusnya di sini Khadijah yang cemburu bukan Islam!


"Islaaam!!!" suara teriakan terdengar membuat semua orang menoleh termasuk Islam yang langsung terbelalak menatap Katrin yang sudah ada di depannya.

__ADS_1


"Lo?"


"Iya, gue datang mau ketemu lo," jawabnya dengan raut wajah bahagia.


"Buat apa?"


"Ketemu."


"Cuman ketemu?"


Katrin mengangguk.


"Mendingan lo pulang aja dulu soalnya gue lagi kerja bakti."


Katrin menoleh kiri kanan menatap para santri yang sedang memungut sampah itu.


"Em ya udah kalau begitu gue juga mau bantu."


Kedua mata Islam membulat dengan jawaban Katrin ditambah lagi saat Katrin jongkok dan membantu Sarifuddin memungut sampah.


Islam menghela nafas. Ia melirik menatap Khadijah yang terlihat menatapnya namun dengan cepat Khadijah mengalihkannya menatap ke arah lain.


Islam tersenyum lalu ikut jongkok di samping Katrin. Sepertinya ada yang diam-diam sedang memperhatikannya di sini.


Islam terdiam beberapa saat memikirkan sesuatu. Mungkin ia bisa mengetes rasa cemburu Khadijah melalui Katrin. Islam ingin tahu bagaimana respon Khadijah.


"Iya?"


"Itu jilbab lo kayaknya ada sampah." Tunjuknya berbohong.


"Oh yah? Mana?"


Katrin mengusap bagian atas jilbabnya sementara Islam tampak sesekali melirik ke arah Khadijah.


"Em bukan yang itu! Sebelah itu!" Tunjuknya lagi.


"Mana sih?"


"Itu!"


"Udah nggak ada?"


"Belum, itu masih ada."


Islam menyentuh bagian kepala Katrin yang kini terdiam menatap tak menyangka pada apa yang dilakukan Islam kepadanya.


Di sebrang sana Khadijah dengan cepat tertunduk berusaha untuk tak melihat lagi apa yang dilakukan Islam kepada Katrin.

__ADS_1


Entah mengapa rasanya ada yang aneh pada hatinya yang rasanya tak suka jika Islam melakukan hal itu kepada Katrin.


Khadijah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia tak boleh cemburu! Tak boleh tapi...


Khadijah kembali menatap Islam yang sedang tertawa bersama dengan Katrin di sana membuat Khadijah segera bangkit dan melangkah pergi. Ia mengabaikan teriakan Rahman yang terus memanggilnya di belakang sana.


Islam menoleh menatap kepergian Khadijah dan hal ini membuat Islam tersenyum. Dari sini sudah jelas jika Khadijah cemburu membuat hati Islam merasa senang.


Cemburu hanya akan datang jika sudah ada rasa. Islam yakin Khadijah menyukainya tapi itu tak ada gunanya jika Rahman sudah resmi melamar Khadijah dan bahkan hari pernikahannya sudah ditentukan.


Lebih sialnya ustad Hasim menyuruh Islam lah yang membantunya untuk mempersiapkan pernikahan ini. Tak ada sakit yang lebih dari itu.


...***...


Katrin tersenyum sambil mengusap keringat di dahi Islam yang basah dengan sebuah tisyu. Islam mendecapkkan bibirnya dengan wajah tak nyaman.


"Rin, lo jangan gitu dong!" ujarnya sambil mendorong pelan tangan Katrin agar menjauh dari dahinya.


"Loh emangnya kenapa?"


"Yah kan diliatin semua orang di sini. Nggak enak sama para santri."


Katrin mengangguk membuatnya dengan wajah sedihnya itu menurunkan tangannya.


Islam menoleh menatap Khadijah yang rupanya sedang menatapnya membuat Islam dengan cepat meraih pergelangan tangan Katrin.


"Ini masih ada keringat kayaknya."


Islam mengerakkan tangan Katrin untuk mengusap dahinya. Katrin mengernyit heran, aneh sekali Islam ini.


"Lap apaan, sih?"


"Ini keringat."


"Nggak ada, udah habis."


"Ada di sini," jawabnya bersikeras sambil sesekali melirik menatap Khadijah.


Katrin yang merasa aneh itu menoleh menatap ke arah mana Islam selalu berusaha untuk mencuri-curi pandang.


Dari sini Katrin bisa melihat Khadijah yang sedang menatapnya. Tak berselang lama Khadijah melangkah pergi membuat Islam dengan cepat melepas pergelangan tangannya.


Katrin seketika mematung. Ia menatap Islam yang terlihat menatap kepergian Khadijah tanpa henti.


Islam menoleh menatap Katrin yang sedang menatapnya.


"Lo kenapa?"

__ADS_1


Katrin tersenyum lalu menggeleng.


__ADS_2