
Tak ada jawaban membuat Sarifuddin khawatir. Mengapa Islam tak menjawab? Apa ia bunuh diri atau apa? Sarifuddin segera mengangkat sarung itu dari tubuh Islam membuat Sarifuddin terbelalak kaget.
"Astagfirullah!!!" teriaknya.
Kedua mata Sarifuddin terbelalak kaget dengan nafasnya yang terasa tertahan setelah mengetahui jika bukan Islam yang sedang terbaring di atas kasur melainkan sebuah bantal guling yang ditutupi dengan sarung yang biasa Islam gunakan saat tidur.
"Dimana Islam?"
Sarifuddin berlari keluar kamar dengan wajah paniknya menatap Islam yang terlihat mendorong motor milik Syuaib dengan penuh hati-hati ke arah gerbang. Di punggung Islam sudah ada tas serta koper hitam yang ada di atas jok motor, terlihat sudah diikat sekuat mungkin.
Kini yang terlintas dipikiran Sarifuddin adalah...Apakah Islam akan kabur dari pesantren?
"Islam!!!" teriak Sarifuddin dengan suaranya yang dibuat sekeras mungkin tak peduli apapun yang terjadi.
Semua orang yang yang baru saja keluar dari masjid langsung menoleh menatap ke arah Sarifuddin yang berada di balkon lantai dua.
Kedua mata Islam terbelalak kaget setelah mendengar namanya dipanggil. Islam menoleh menatap Sarifuddin yang terlihat menatapnya.
"Toloooooong!!! Islam kabur!!!" teriak Sarifuddin sambil memejamkan kedua matanya berusaha untuk mengumpulkan semua tenaganya untuk berteriak.
"Islam kabur!!!" teriaknya sekali lagi.
"Sial," umpat Islam lalu menstarter motor butut itu dengan sekali hentakan menghasilkan suara yang nyaring serta asap hitam yang membumbung ke udara.
Semua orang menoleh menatap ke arah Islam yang kini menoleh menatap ke arah kerumunan masjid yang kini sedang menatapnya. Lebih sialnya lagi ketika ia menoleh ke arah masjid, Abah Habib lah orang pertama yang ia tatap.
"Islam!!!" teriak Abah Habib yang kemudian berlari membuat Akbar dan Akbir juga ikut berlari.
"Kejar Islam!!!" teriak Ustad Firdaus membuat para santri itu ikut berlari.
Islam tak tinggal diam, dengan cepat ia melajukan gas motornya meninggalkan orang-orang yang berusaha untuk mengejarnya.
Abah Habib menghentikan larinya ketika ia telah tiba di gerbang pondok pesantren menatap Islam yang sudah sangat jauh, namun masih bisa ia lihat.
"Islam!!!" teriak Abah Habib.
"Aduh, astagfirullah!!! Motor ana itu," aduh Syuaib yang meremas pecinya dengan wajah yang ingin menangis.
"Bagaimana ini Abah?" tanya Akbir dengan wajah khawatir.
Abah Habib menelan salivanya dengan nafas sesak setelah berlari.
"Syuaib!"
"Iya Pak haji kiyai," sahutnya cepat.
__ADS_1
"Cepat ambil mobil! Kita harus cepat mengejar Islam!" pinta Abah Habib.
"Baik pak haji kiyai," jawabnya cepat lalu ia berlari pergi.
Sarifuddin menghentikan larinya, dadanya terasa terkunci setelah berlari menuruni tangga menuju gerbang.
"Pak haji kiyai, I-i-islam kabur," aduh Sarifuddin.
Abah Habib mengangguk, "Yah Abah melihatnya."
"Cepat pak kiyai, nanti Islam tambah jauh! Islam tunggu!!! Jangan kabur!!!" teriak Sarifuddin yang kemudian berlari mengejar Islam yang sudah tak terlihat lagi.
"Sarifuddin!!!" teriak Abah Habib.
"Anak-anak, antum semua boleh masuk!" ujar Akbir membuat para santri kini berhamburan pergi meninggalkan gerbang yang kini tersisa Abah Habib, Akbar, Akbir, Ustad Faizal, Ustad Firdaus dan Rahman.
"Dimana Islam?" tanya Umma Nur dengan suara setengah menangis membuat Abah Habib menoleh menatap istrinya yang masih berlari sambil dituntun oleh Khadijah.
"Islam kabur," jawab Abah Habib membuat Umma Nur menutup bibirnya yang terbuka karena terkejut.
"Cepat kejar Islam! Umma tidak mau kalau cucu Umma sampai terluka sedikitpun di luar sana," ujar Umma Nur.
Pip
Pip
Pip
"Cepat Pak haji kiyai! Nanti Islam semakin jauh," pinta Syuaib.
Abah Habib segera naik ke mobil begitupula dengan Akbar dan Akbir. Umma Nur ikut membuka pintu namun tarikannya tertahan saat Abah Habib berujar, " Umma tidak usah ikut!"
"Umma mau ikut!"
"Tidak usah! Umma di sini saja!"
"Tapi-"
"Umma, Umma di sini saja bersama Khadijah biar Abah yang pergi," ujar Khadijah dengan lemah lembut.
"Rahman!"
"Iya pak haji kiyai," sahut rahman cepat.
"Tolong jaga Umma Nur yah!"
__ADS_1
"Iya, pak haji kiyai," jawabnya sambil mengangguk.
Tak berselang lama mobil itu melaju memberikan jarak antara Umma Nur dan yang lainnya hingga mobil itu melaju cukup kencang.
"Dimana perginya Islam?" tanya Abah Habib dengan perasaan khawatir.
"Pak haji kiyai itu Sarifuddin!" ujar Syuaib yang menatap Sarifuddin yang terlihat di pinggir jalan sambil menopang lututnya.
"Sarifuddin!"
Sarifuddin yang ngos-ngosan itu langsung menoleh menatap Syuaib yang ada di atas mobil.
"Cepat naik!" pinta Syuaib membuat Sarifuddin segera berlari dan masuk ke dalam mobil.
...***...
Islam terus melajukan motor butut hitam itu dengan kecepatan yang Islam tak tau, pengukur kecepatan motor itu sudah tidak berfungsi lagi. Bagaimana bisa ada motor seburuk ini yang masih dipakai. Islam mnyipitkan kedua matanya berusaha untuk melihat jalanan yang rusak parah, banyak lubang dan bebatuan yang menghalangi lajunya motor.
Lampu motor ini tak baik, hanya ada lampu kecil yang bahkan lebih redup di bandingkan lilin yang dinyalakan di tengah malam. Jalanan begitu sepi dan bahkan rumah di sini juga tak banyak dan berjarak cukup jauh dari satu rumah ke rumah yang lain.
Banyak suara gonggongan anjing yang membuat bulu kuduk Islam merinding ditambah lagi udara malam yang begitu sangat dingin, mungkin udara malam ini sudah tercampur dengan es batu, dingin sekali itu yang bisa Islam rasakan hawa dingin itu membuat kulit pipinya membeku. Jalanan sepi dan sunyi ini membuat jantung Islam berdebar cepat namun hal ini tak membuat Islam gentar yang ada dipikirannya adalah ia bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan Umi.
Islam juga tak peduli jika ada hantu di tengah jalan dan menghalangi jalannya, hantu pun ia akan tabrak jika menghalangi jalannya.
...***...
"Ana kan sudah bilang untuk memulangkan Islam saja, jika saja Abah mendengar ujaran ana mungkin Islam tidak akan kabur seperti ini."
Abah Habib hanya terdiam setelah mendengar ujaran Akbar yang sejak tadi mengoceh.
"Bagaimana jika Islam sampai jatuh dari motor dan terluka, siapa yang akan bertanggungjawab jika seperti ini?"
"Islam itu anak satu-satunya ana, Akbar tidak mau jika sesuatu terjadi pada Islam."
"Kalau sampai Islam terluka di jalan maka Mawar akan marah besar kepada ana, ana tidak mau. Sudah cukup Islam yang membenci aba tidak perlu Mawar juga."
"Sudah cukup akhi Akbar! Tidak perlu menyalahkan Abah!" sahut Akbir membuat Akbar melirik tajam.
"Ini adalah musibah yang tidak kita sangka-sangka," tambahnya.
"Tau apa akhi Akbir tentang hal ini? Ana memang selalu memarahi Islam karena dengan itu ana bisa meluahkan kasih sayang ana kepada Islam tapi ana selalu saja menganggap itu berlebihan."
"Ana tidak mengerti bentuk kasih sayang yang ana berikan karena ana tidak punya anak."
"Sudah cukup hentikan!" bentak Abah Habib membuat Akbar terdiam.
__ADS_1
"Dengan amarah tidak akan bisa menemukan Islam," ujar Abah Habib lagi.
Akbar kini menghela nafas panjang lalu melirik Akbir yang kini terlihat terdiam dengan wajah sedihnya. Apa kalimatnya itu terlalu berlebihan setelah ia mengatakan Akbir tidak memiliki anak.