
Khadijah kembali menatap buku yang ada di tangannya itu. Apakah buku ini yang dicari Islam?
Islam melangkah dengan tergesah-gesah melewati kerumunan para pembeli yang sedang saling tawar-menawar.
"Ibu, liat buku saya tidak?" tanya Islam pada salah satu penjual bertubuh gempal.
"Buku apa?"
"Buku bacaan sholat," jawabnya.
Wanita itu menggeleng membuat Islam mendecapkan bibirnya.
Kenapa tidak tau? Harusnya kan dia tau jadi Islam tak perlu bersusah payah harus mencari.
Islam kembali melangkah dan bertanya pada setiap orang yang ia jumpai dengan perasaan khawatirnya.
Masalahnya bukan karena hapalan Islam yang belum selesai tapi buku itu adalah milik Sarifuddin, jadi tak boleh sampai hilang.
Islam menopang pinggang dengan perasaan lelahnya. Penglihatannya meraba kesegala arah berusaha untuk mencari buku bacaan sholat itu.
Dimana buku itu sekarang?
"Islam!" panggil Umma Nur membuat Islam menoleh menatap Umma Nur bersama dengan Khadijah yang sudah membawa kantong dan keranjang belanjaan.
"Ada apa?" tanya Umma Nur.
Islam tersenyum lalu menggeleng.
Tanpa jawaban Islam meraih keranjang belanjaan dan kantong keresek hitam dari tangan Umma Nur dan Khadijah.
Khadijah menelan salivanya. Apa buku yang ada ia sembunyikan di balik jilbabnya ini yang sedang dicari oleh Islam. Apa perlu ia memberikannya sekarang?
"Islam-"
"Assalamu'alaikum," potong Rahman yang datang entah dari mana.
Khadijah yang berniat untuk memberikan buku untuk Islam itu kembali mengurungkan niatnya. Tak mungkin ia memberikannya sementara ada Rahman di sini.
"Waalaikumsalam," jawab Umma Nur yang menyambutnya dengan senyuman.
"Tumben terlambat?"
"Iya Umma, baru selesai mengajar mengaji," jawabnya sembari menerima beberapa kantong kresek yang dijulurkan oleh Islam.
Islam mendecapkan bibirnya dengan kesal setelah mendengar jawaban Rahman. Ah, mulia sekali alasan anak Ustad Firdaus ini. Jika dibandingkan dengan dirinya alasannya hanya satu yaitu terlambat bangun karena Sarifuddin yang lupa membangunkannya.
Khadijah melirik menatap Islam yang untuk saat ini menjadi pendiam. Apakah diamnya Islam karena buku bacaan sholat ini?
Khadijah tersenyum tipis dibalik cadarnya. Saat Islam diam seperti ini wajahnya yang tampan itu jauh lebih tampan dibandingkan jika ia tersenyum.
"Astagfirullah!" Khadijah menggeleng cepat. Ada apa dengan pikirannya ini?
Jangan pikirkan tentang Islam!
Islam meletakkan kantong keresek belanjaan ke atas meja dapur dan mengaturnya dengan rapi sementara Umma Nur dan Rahman sudah pergi dan tak menyusun hasil belanjaan ini.
Khadijah menghembuskan nafas panjang dengan perasaan gugupnya. Apa ia berikan sekarang buku ini?
Islam berbalik badan membuatnya tersentak kaget setelah mendapati Khadijah yang berdiri di pintu masuk.
Khadijah sama terkejutnya. Ia yang sejak tadi fokus menatap punggung Islam dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Ada apa?" tanya Islam.
__ADS_1
"Emmm, akhi Islam mungkin cari ini," ujanrnya sambil menjulurkan tangan gemetarnya yang memegang buku bacaan sholat ke arah Islam.
Kedua mata Islam membulat melihat buku itu ada di tangan Khadijah.
Islam memejamkan matanya dan menggerakkan kepalanya karena malu. Buku bacaan sholatnya kenapa bisa ada di Khadijah?
"Ini yang akhi Islam cari?" tanya Khadijah.
Islam menoleh lalu tersenyum. Ia melangkah mendekati Khadijah dan meraihnya.
"Ini punyanya si Sarifuddin," jawabnya lalu menyembunyikannya di balik tubuhnya sambil tersenyum malu.
Dasar bodoh! Khadijah sepertinya sudah tau kalau Islam sedang belajar bacaan sholat.
Islam berbalik badan lalu ia melangkah dengan pelan menuju pintu keluar. Sebenarnya ia ingin lari tapi itu tak mungkin sementara ia yakin Khadijah masih sedang melihatnya.
"Akhi Islam!" panggil Khadijah membuat langkah Islam terhenti.
Apa ia lupa mengucapkan kata terimakasih?
Islam memejamkan kedua matanya dengan erat.
Kenapa Khadijah memangilnya?
"Iya, Khadijah?" tanya Islam setelah dengan terpaksa ia menoleh sambil tersenyum.
"Semangat! Khadijah yakin akhi Islam bisa," ujarnya lalu ia melangkah pergi.
Islam mengerjabkan kedua matanya beberapa kali. Apa ia salah dengar?
Islam menoleh menatap Khadijah yang sudah melangkah jauh meninggalkannya.
"Yes yes yes!!!" teriak Islam dengan bahagia sambil melompat-lompat seperti monyet yang melihat pisang.
...***...
Islam duduk di atas kasurnya sambil menghapalkan bacaan sholat yang belum ia hapal. Sesekali jari tangannya membuka lembaran kertas untuk melihat bacaan sholat dan kembali menutupnya.
Pintu kamar terbuka membuat Islam menoleh menatap Sarifuddin yang baru selesai belajar di kelas.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Islam.
"Islam, dicariin di kelas katanya kenapa tidak masuk belajar," jelasnya memberitahu sambil melepas pakaiannya.
"Siapa yang cari?"
"Ustad Hasim," jawabnya.
"Calon mertua dong." Islam tertawa membuat Sarifuddin ikut tertawa.
"Din! Gue udah hapal yang bacaan duduk diantara dua sujud," ujarnya memberahu sambil menunjuk buku bacaan sholat.
"Wah bagus-bagus," pujinya.
"Kalau udah bacaan sholat apa lagi?" tanya Islam.
Sarifuddin duduk menatap Islam yang terlihat tersenyum menanti jawaban.
"Nanti saya kasih tau kalau Islam sudah hapal bacaan sholat," ujarnya.
Islam mengangguk lalu kembali melanjutkan hapalannya.
__ADS_1
...***...
Islam melangkah dengan langkah pelan sembari penglihatannya yang masih fokus dengan lembaran buku bacaan sholat. Tak pernah lepas buku ini dari tangan Islam dimana pun ia pergi.
Islam yang berjalan itu tiba-tiba tanpa sengaja disenggol oleh salah satu santri yang berlari.
Buku itu terjatuh ke lantai membuat Islam mendecapkan bibirnya dengan kesal saat ia menunduk dan meraihnya.
Santri itu menghentikan larinya lalu menutup mulutnya karena terkejut setelah mengetahui jika yang ia tabrak adalah Islam si pria pemarah yang selalu marah kepada siapa saja, tak pandang bulu.
"Matilah kamu, Don," bisik sahabatnya yang juga merasa ketakutan.
Islam menoleh menatap santri yang sedang mengigit ujung jari tangannya itu. Islam menghela nafas berat. Apakah ia perlu memarahi santri itu?
"Maaf, Bang Islam. Saya tidak sengaja," ujar santri itu yang melangkah mendekati Islam.
Islam terdiam sejenak lalu ia mengangguk dan melangkah pergi.
"Untung yang jatuh cuman buku, bukan kepala gue yang jatuh. Kalau kepala gue yang jatuh bisa hilang hapalan gue," ujar Islam sambil terus melangkah pergi.
Kedua santri itu melongo dengan wajah kaget sekaligus bingung. Apakah ia tidak salah lihat? Islam pergi tanpa marah.
"Itu Abang Islam kan?" tanya santri yang masih menatap kepergian Islam.
"Iya," jawab santri yang satu lagi.
"Kok dia tidak marah yah?"
Mereka saling bertatapan dengan tatapan bingungnya.
Islam tidak marah!
Islam terus melangkah tanpa tujuan hingga langkahnya terhenti saat ia mendengar sorakan gadis-gadis yang seakan meneriaki namanya.
Islam mendongak dan terbelalak saat ia berada depan bangunan kamar di pondok pesantren khusus untuk santriwati.
"Kak Islam!!!"
"Kak Islam!!!"
"Bang Islam!!!"
"Itu cucunya pak haji kiyai kan?" bisik mereka.
"Iya, ganteng banget," bisik yang satunya lagi.
Kedua bibir Islam terbuka menatap tak percaya pada setiap balkon yang berdiri para gadis-gadis berjilbab bahkan ada yang bercadar. Semuanya terdengar berteriak dan terlihat melambaikan tangannya ke arah Islam.
Islam tak tau harus berbuat apa. Islam memang sudah biasa diteriaki oleh para gadis-gadis tapi ini beda. Islam diteriaki oleh ratusan para santriwati berhijab dan ada dari mereka yang bercadar.
Islam terdiam, tak tau harus berbuat apa.
"Kak Islam!!!" teriak mereka lagi.
Islam tersenyum kaku sambil melambaikan tangannya membuat semuanya menjerit. Islam tertawa lalu menggeleng, bisa-bisanya ia semalu ini? Mana Islam yang selalu ceria?
Islam tersenyum memperlihatkan senyum lepasnya pada santriwati yang menjerit. Islam yang iseng itu dengan cepat mengangkat kedua tangan ke atas kepalanya membentuk love.
Ratusan santriwati itu menjerit kegirangan lalu ikut membalas apa yang dilakukan oleh Islam, bahkan ada beberapa dari mereka yang menjulurkan jari tangannya yang berbetuk hati ala korea itu.
"Sarange!!!" teriak mereka.
Islam tertawa. Mengapa ia merasa dirinya seperti aktor yang punya banyak fans.
__ADS_1
Islam menghela nafas lalu melangkah pergi. Jangan sampai hapalannya terlupakan setelah lama-lama di sini.