
"Allahu akbar!!!"
"Allahu akbar!!!"
"Allahu akbar!!!"
"Laa ilaha illallaahu wallaahu akbar!!!"
"Allahu akbar wa lillaahil-ham!!!"
Islam tersenyum menatap peci putih yang telah terpasang di atas kepalanya serta baju Koko dan sarung putih pula.
"Ayo!"
Islam menoleh menatap Sarifuddin yang telah selesai berpakaian rapi dengan pakaian serba putih pula.
Islam tersenyum lalu menggeleng. Ia melangkah mendekati Sarifuddin dan merapikan peci yang ada di kepalanya.
Bisa-bisanya peci ini miring di hari yang sangat spesial.
"Keren!"
Islam dan Sarifuddin kini melangkah turun menuju masjid. Langkahnya memelan menatap Khadijah yang terlihat melangkah bersama dengan umma Nur dan beberapa perempuan di sana termasuk ukhti Fitri.
Islam yang semula tersenyum itu kini tertunduk sedih, yah bagaimana ia tidak sedih jika hari ini adalah hari pernikahan Khadijah.
Islam menoleh menatap Sarifuddin yang terlihat tersenyum sambil mengelus punggung Islam.
"Serahkan semua kepada Allah."
Islam tersenyum lalu ia mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya menaiki anakan tangga menuju masuk ke dalam masjid yang sudah ramai.
Warga desa melaksanakan sholat idul fitrinya juga di masjid ini bahkan sakin ramainya orang-orang menggelar sajadahnya di teras masjid.
"Sholatnya dimana?" tanya Sarifuddin yang kepalanya menoleh ke kiri dan kanan.
"Udah di situ aja! Siapa suruh mandi lu lama." Tunjuk Islam pada saf paling terakhir.
Sarifuddin menghela nafas lalu menggelar sajadah ke lantai.
"Islam!" panggil Abah Habib membuat Islam menoleh.
Suara panggilan itu bukan hanya membuat Islam menoleh tapi semuanya hingga seluruh jamaah yang ada langsung menoleh menatap ke arah Islam yang berada di teras luar.
Islam menoleh ke kiri dan kanan dengan rasa gugup saat ditatap oleh semua orang.
"Islam?" Tunjuk Islam ke arah hidungnya membuat Abah Habib mengangguk.
Abah Habib menghela nafas lalu segera melangkah membela para saf. Semua orang menoleh menatap ke arah mana Abah Habib melangkah.
Islam bangkit dari sajadah menatap Abah Habib yang memegang kedua bahunya.
"Mari ke saf depan dan jadi imam untuk hari ini!"
Islam membulatkan kedua matanya dengan tatapan tidak menyangka.
"Saya?"
__ADS_1
Abah Habib mengangguk. Baru saja semalam ia bermain menjadi imam sholat lebaran bersama dengan Sarifuddin dan kini ia telah ditawarkan untuk menjadi imam.
Islam menoleh menatap Sarifuddin yang terlihat tersenyum lalu mengangguk.
Islam kini bangkit lalu melangkah ke depan diiringi oleh tatapan semua orang termasuk Rahman. Tatapan Rahman menatap kesal pada Islam yang seakan telah merebut posisinya. Setiap tahunnya dialah yang menjadi imam masjid bukan Islam.
Islam menghentikan langkahnya ketika kedua kakinya telah berada di atas sajadah paling depan. Islam menoleh saat Akbar mengelus kepala Islam. Islam melemparkan senyuman menatap haru pada semuanya.
Sholat dilaksanakan dengan khusyu dengan suara Islam yang melantungkan bacaan merdu. Semua orang mengikut dengan khusyu.
Islam meneteskan air matanya saat ia sujud terakhir membayangkan semua kejadian yang ia lakukan selama ia di pondok pesantren ini.
Islam mengusap wajahnya dan mengusap pipinya yang basah itu karena air mata. Islam menoleh saat seseorang menyentuh bahunya membuat Islam meledakkan tangisannya dan memeluk tubuh Akbar yang juga menangis.
Semua orang saling bersalaman dan berpelukan untuk saling bermaaf-maafan.
"Taqobalallahu minna wa minkum," bisik Islam.
"Sudah tidak usah menangis!" bisik Akbar sambil mengusap punggung Islam yang menangis sesegukan.
"Maafin Islam!"
"Islam udah banyak salah sama Abi."
Islam melepaskan pelukannya lalu meraih tangan Akbar dan mengecupnya dan kembali memeluknya. Hari ini adalah hari dimana impian Islam akhirnya terkabul. Islam bisa merayakan sholat idul fitri bersama dengan sosok Abi.
Akbar tersenyum sambil mengelus punggung tubuh anak kesayangannya itu.
"Tidak mau memeluk Abah?"
Islam menoleh menatap Abah Habib yang terlihat merentangkan kedua tangannya ke arah Islam. Islam tersenyum lalu segera memeluk tubuh Abah Habib dengan rasa cinta.
Abah Habib tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Islam yang menangis sesegukan.
"Taqobalallahu minna wa minkum, Islam."
Pria berhati baik dan selalu sabar untuk menghadapi Islam dalam setiap kondisi apapun.
Islam melepas pelukannya lalu ia memeluk tubuh Syuaib. Pria yang selalu ia jadikan musuh bebuyutannya dan pernah menggulung tubuh Syuaib dengan selimut karena telah berani menginjak selimut kesayangannya.
"Taqobalallahu minna wa minkum, ustad."
"Iya, ana juga, ya."
Syuaib, pria yang pernah ia pukul bersama dengan ketiga sahabatnya, Kristian, Abirama dan Ali hingga babak belur.
Setelah melepas pelukannya Islam kini bersalaman dengan ustad Hasim, ustad Firdaus dan ustad Faizal secara bergantian hingga tangan Islam terdiam saat ia tak mendapat juluran tangan dari Rahman yang terlihat terdiam.
Islam tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Kita nggak usah musuhan karena hanya seorang wanita. Sekarang lo udah mau nikah sama Khadijah jadi lo nggak usah khawatir lagi."
Rahman menghela nafas. Benar juga yang dikatakan oleh Islam, tak lama lagi ia dan Khadijah akan bersama lalu apalagi yang menjadikannya membenci Islam.
Rahman tersenyum lalu menjabat tangan Islam dan memeluknya sambil mengelus punggung Islam. Akhirnya dua pria yang selalu beradu mulut ini saling berpelukan.
Islam melepas pelukannya lalu menoleh menatap Sarifuddin yang sejak tadi terdiam menatapnya.
__ADS_1
Islam tersenyum lalu melangkah mendekati Sarifuddin yang ikut melangakah mendekatinya.
Islam tak mampu menahan tangisannya menatap sedih pada Sarifuddin. Pria yang telah banyak memberikan ilmu kepadanya, bukan hanya tentang agama tapi tentang kehidupan.
Islam memeluk tubuh erat pria yang juga menangis di pelukannya. Pria yang terasa telah menjadi saudara baginya.
Islam tak menyangka jika ia bisa mengenal sosok Sarifuddin dalam hidupnya ini. Ada banyak ilmu yang Islam dapatkan dari sosok pria ini.
Begitu beruntungnya Islam bisa mendapatkan sosok sahabat seperti Sarifuddin.
"Terimakasih, yah, Din!" bisik Islam membuat Sarifuddin mengangguk sambil mengelus punggung Islam.
"Islam!"
Islam menoleh menatap Akbir yang menyambutnya dengan pelukan setelah melepas pelukannya dari Sarifuddin.
"Taqobalallahu minna wa minkum," bisik Islam.
"Taqobalallahu minna wa minkum. Sudah ana bilangkan kalau antum akan berubah."
Islam mengangguk sambil mengusap punggung Akbir yang sesekali mengusap kepalanya.
"Islam! Ada yang ingin bertemu."
Islam melepas pelukannya lalu menoleh menatap Akbar.
"Siapa?"
Tanpa sepatah kata Akbar menunjuk ke arah depan membuat Islam menoleh. Kedua matanya berbinar dengan mulut yang menganga menatap kaget pada apa yang ia lihat.
"Umi!!!" teriak Islam lalu segera berlari dan memeluk tubuh Mawar yang terasa hangat.
Mawar menangis di dalam pelukan Islam yang juga menangis. Rasa rindu yang selama sebulan ini harus ditahan kini tercurahkan di hari ini hingga air mata tak mampu mereka tahan.
"Umi, Islam rindu."
Mawar mengangguk. Tak bisa lagi ia berkata-kata dalam situasi seperti ini.
"Umi, tadi Islam jadi imam."
"Iya, Nak. Umi dengar tadi. Islam pintar."
"Tidak mau memeluk Abi?"
Islam menoleh lalu tersenyum menatap Akbar yang menjulurkan kedua tangannya. Mawar dan Islam membuka pelukannya lalu keduanya memeluk tubuh Akbar yang untuk pertama kalinya setelah sekian lama akhirnya mereka bisa berkumpul dan berpelukan di hari raya idul fitri.
Tak ada lagi rasa bahagia yang bisa digambarkan untuk hari ini. Keinginan Mawar yang ingin lebaran bersama sang suami dan anaknya kini terkabul.
Keinginan Islam yang ingin merasakan sosok Abi-nya juga telah terjadi sekarang.
Abah Habib, Umma Nur, Akbir, Syuaib, ustazah Fitri dan yang lainnya terlihat tersenyum walau beberapa dari mereka ada yang meneteskan air mata melihat kebahagiaan ini.
Semuanya boleh pergi tapi tolong jangan salah satu dari anggota keluarga yang pergi!
...****************...
**Alhamdulillah.
__ADS_1
Walaupun terlambat tapi Emak mau ngucapin T**aqobalallahu minna wa minkum **semuanya. Semoga amal dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT, Aamiin Ya Rab 🙏🌺
Selamat Hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin🌸**