
Islam duduk di sebuah ujung bangku panjang dan Rahman juga duduk di ujung bangku. Islam dan Rahman kadang bertemu pandang membuat Islam melirik tajam hingga mengalihkan pandangannya.
Rahman melirik para gadis-gadis desa yang terlihat sedang berbisik sambil menatap ke arah Islam yang terlihat tidak menyadari hal itu.
Apakah setampan itu pria yang merupakan cucu Abah Habib hingga para gadis-gadis desa sejak tadi menatapnya.
Rahman menoleh menatap Islam yang terlihat tanpa ekspresi. Hidungnya mancung, Rahman bisa melihatnya dari samping. Rambut gondrong yang diikat ke belakang itu tidak membuatnya berkesan seperti penjahat tapi dia terlihat sangat keren.
Rahman menuju ke bulu mata Islam, hitam dan panjang bahkan bulu mata itu terlihat lentik walaupun tak menggunakan maskara. Bibir Islam berwarna pink segar membuat Rahman berpikir apakah pria itu merokok?
"Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya Islam yang menatap tajam setelah mengetahui jika Rahman sejak tadi memperhatikannya.
"Tidak," jawabnya cepat lalu mengalihkan pandangannya.
Rahman terdiam menatap wanita tua yang jalan berbungkuk sambil membawa beberapa kantong belanjaan dengan kesusahan.
Apakah perlu ia membantu wanita itu? Tapi bagaimana jika Umma Nur dan Khadijah kembali? Mungkin mereka akan meninggalkannya dan membiarkan Islam mendekati Khadijah.
Biarkan saja wanita tua itu berlalu.
Islam bangkit dari bangku panjang lalu menghampiri seorang wanita tua yang telah Rahman lihat itu.
"Mau kemana?" tanya Islam membuat wanita tua itu mendongak.
"Mau pulang ke rumah," jawabnya dengan nada bergetar ciri khas nenek-nenek.
"Mau Islam bantu?" tawar Islam.
"Islam? Cucunya pak haji kiyai?"
"Iya, mau Islam bantu?"
"Hahaha, tidak usah, Nak!"
"Ah nggak apa-apa kok," jawab Islam yang langsung merenggut semua kantong belanjaan wanita tua itu.
"Ayo, Nek!" ajaknya lalu melangkah pergi meninggalkan wanita tua itu yang terlihat tersenyum.
Rahman menghela nafas panjang. Entah mengapa Rahman merasa jika pria bernama Islam itu memiliki sifat yang berbeda terhadap seorang wanita. Sifatnya baik dan lemah lembut berbeda jika dia bersama dengan pria.
"Dimana Islam?" tanya Umma Nur yang telah sampai di bangku.
Seingat Umma Nur, ia menyuruh Islam untuk duduk di sini dengan jarak yang berjauhan agar mereka tak beradu mulut lagi.
"Itu Islam!" Tunjuk Rahman ke arah Islam yang masih melangkah bersama dengan wanita tua itu.
Umma Nur tersenyum, cucunya adalah pria yang baik.
"Kita mau pulang?" tanya Rahman.
"Masih lama soalnya Umma juga mau beli barang-barang lain, Khadijah, Ayo!" jawab dan ajaknya lalu ia melangkah pergi meninggalkan Rahman yang kini menyesal.
Andai saja dia yang membantu wanita itu mungkin dia tidak akan diam seperti ini dan apa yang akan dipikirkan oleh Khadijah setelah melihat apa yang sedang dilakukan oleh Islam.
__ADS_1
Islam tersenyum lalu melambaikan tangannya setelah mengantar wanita tua yang kini masih melambai.
Islam berpaling dan melangkah. Tak sia-sia ia membantu wanita tua itu ternyata ia mendapatkan sekantong mangga yang diberikan cuma-cuma.
Islam menghentikan langkahnya ketika dari kejauhan ia bisa melihat Rahman yang masih duduk di bangku panjang.
Islam harus lewat jalan lain jika tidak maka Rahman akan melarangnya masuk ke dalam pasar.
Islam menghela nafas panjang sambil menopang pinggangnya. Ia harus memikirkan sesuatu kali ini tapi apa?
Islam yang melihat gerobak bakso yang di dorong menuju masuk ke dalam pasar itu dengan cepat berlari dan berjalan di balik gerobak bakso dan masuk tanpa dilihat oleh Rahman.
"Tunggu sampai berlumut lo di situ!"
Islam tertawa kecil lalu berlari memasuki kerumunan pasar dan berhimpitan dengan para pembeli.
Islam menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok Khadijah dan Umma Nur. Ini bukan perihal hal yang mudah.
Langkah Islam terhenti saat ia berhasil melihat orang yang berpakaian panjang dan jilbab besar. Islam tau itu adalah Khadijah membuat Islam segera menghampiri.
"Assalamu'alaikum," ujar Islam tepat di belakang Khadijah.
Khadijah terbelalak kaget lalu ia menoleh mendapati Islam yang sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum.
"Apa yang akhi Islam lakukan di sini?" tanya Khadijah.
"Cari Umma, Umma dimana?" tanya Islam, berbohong.
"Umma ada di penjual ikan," jawabnya.
Islam mengangguk sambil tersenyum. Senyum itu tak pernah lenyap dari bibirnya walaupun Khadijah tak pernah menatapnya dalam waktu lebih dari dua detik.
Khadijah melangkah membuat Islam mengikutinya dari belakang.
Khadijah menoleh menatap Islam yang masih mengikutinya.
"Mengapa akhi Islam mengikuti ana?" tanya Khadijah yang masih melangkah.
"Nanti kalau saya hilang di pasar bagaimana?"
"Akhi Islam tidak akan hilang karena akhi Islam bukan anak kecil."
"Tapi kan saya nggak tau daerah sini," jawab Islam yang masih mengikuti Khadijah.
Khadijah menghela nafas lalu menggeleng pelan. Islam selalu saja pandai dalam hal menjawab dan memberi alasan.
Islam tersenyum. Khadijah yang diam itu seakan memberi tau jika ia boleh mengikutinya.
Islam yang masih melangkah itu segera menarik gamis yang dikenakan oleh Khadijah membuat Khadijah melangkah mundur sehingga ia tak bersentuhan dengan pria yang sedang memikul sebuah keranjang berisi kol.
"Ada apa?" tanya Khadijah yang rupanya tak sadar dengan hal itu.
Sejak tadi ia sibuk menatap dagangan yang dijual oleh pedagang.
__ADS_1
"Itu tadi ada bapak-bapak, dia hampir nyentuh kamu," jawab Islam.
Khadijah menoleh dan benar saja ada pria yang melangkah menjauhinya.
"Terimakasih," ujarnya.
Islam terdiam sejenak lalu kembali menarik gamis yang digunakan oleh Khadijah hingga jarak antara ia dan Islam agak dekat.
Khadijah bisa merasakan jika para pembeli berdesakan di belakangnya, untung saja itu perempuan.
Islam menatap ke arah kerumunan itu tanpa mengetahui jika Khadijah sedang mendongak menatapnya.
Untuk waktu ini Khadijah bisa melihat betapa sempurnanya wajah Islam jika sedang serius seperti ini.
Islam menunduk menatap Khadijah yang langsung tertunduk membuat Islam tersenyum tipis.
"Kemari!" ajak Islam yang menarik baju gamis yang Khadijah yang hanya bisa mengikut.
"Duduk di sini!" pintahnya.
"Untuk apa?"
"Duduk!" Tunjuk-nya membuat Khadijah duduk.
"Tapi untuk apa? Ana mau belanja."
"Biar saya yang masuk dan belanja."
"Kenapa?"
"Nanti kalau ada yang menyentuh kamu bagaimana?"
Khadijah seketika terdiam.
Islam menarik kertas daftar belanjaan dan keranjang yang sedang Khadijah pangku lalu melangkah masuk ke dalam kerumunan.
Khadijah tersenyum di balik cadarnya. Cucu Abah Habib itu adalah pria yang perhatian.
"Astagfirullah," ujar Khadijah cepat.
Lupakan tentang Islam.
Rahman mengusap wajahnya yang terasa mengantuk setelah sejak tadi menunggu. Apakah mereka semua sudah pulang ke pondok sehingga tidak muncul?
Rahman menghela nafas panjang. Islam juga belum kembali setelah membantu wanita tua itu.
Rahman menoleh dan terbelalak menatap Umma Nur, Khadijah dan... Tunggu! Ada Islam. Sejak kapan Islam sampai dan dia sudah bersama dengan Umma Nur dan Khadijah.
"Rahman! Ayo pulang!" ajak Umma Nur lalu melangkah.
"Yuk!" ajak Islam yang tersenyum mengejek sambil terus melangkah berdampingan dengan Khadijah.
Rahman mendecapkan bibirnya kesal jadi sejak tadi Islam sudah bersama dengan Khadijah semetara dia duduk di luar seperti orang bodoh.
__ADS_1