Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
38. Diskotik


__ADS_3

Mobil yang Syuaib lajukan kini telah memasuki daerah perkotaan dan sampai sekarang pun ia tak menemui Islam yang pergi entah kemana. Abah Habib juga telah menghubungi Ustad Hasim yang telah berniat balik ke desa setelah mengantar Kristian, Abirama dan Ali.


Ponsel Syuaib berdering membuat Syuaib dengan cepat meraihnya dan mendekatkannya ke telinga.


"Halo ustad, Assalamu'alaikum," ujarnya yang masih mengemudikan mobil.


"Waalaikum'salam, Sudah dimana?" tanya Ustad Hasim.


"Ana ada di kota ini," jawabannya.


"Sudah ketemu Islam?"


"Belum," jawabnya.


"Ini ana juga sudah putar-putar dari tadi dijalan tapi tidak ketemu juga dengan Islam atau coba dulu ke rumah mana tau Islam sudah sampai!" usul Ustad Hasim.


Akbar yang mendengar hal itu langsung terdiam. Apa yang akan ia jawab kepada Mawar jika mengetahui Islam pulang tanpa diantar olehnya. Marah? Sudah pasti itu akan terjadi.


"Cepat! Kita ke rumah ana sekarang!" pinta Akbar yang menepuk bahu Syuaib.


Syuaib dengan cepat menurut dan dengan cepat melajukan mobilnya ke arah jalan menuju rumah Akbar.


Beberapa menit kemudian Syuaib menghentikan mobilnya setelah menepikan mobil di depan rumah bercat putih itu yang terlihat sunyi, hanya ada lampu penerang yang menyala di teras rumah.


"Di sini tidak ada Islam," ujar Syuaib setelah membuka jendela mobil dan menatap ke arah halaman rumah.


"Kenapa antum tau?" tanya Akbar.


"Tidak ada motor ana ya Ustad," jawab Syuaib.


Akbar menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya yang lelah itu, tubuhnya sudah berkeringat karena khawatir.


Oh Tuhan dimana Islam sekarang?


"Kita cari ke tempat yang lain!" pinta Akbar membuat Syuaib kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Mawar yang terlihat masih sunyi, yah sekarang waktu telah larut yang menunjukkan pukul 1 malam.


Abah Habib yang pandangannya merambah ke segala arah sesekali mengangkat telpon dari Umma Nur yang menanyakan apakah Islam sudah ditemukan atau belum.


Akbar yang merasa khawatir itu beberapa kali melirik Akbir yang terlihat terdiam, apakah ia masih marah karena ujarannya itu? Akbar menghela nafas panjang, rasanya ia menyesal telah mengatakan hal itu kepada Akbir.


Ponsel Abah Habib kembali berdering membuat Abah Habib mengangkatnya dan menatapnya dengan mata yang ia sipitkan berusaha untuk melihat nama yang sedang menghubunginya.


"Akbir! Siapa ini?" tanya Abah Habib yang mengarahkan layar ponsel merek Nokia jaman dulu itu ke arah Akbir.


"Itu Ustad Hasim," jawabnya setelah membaca tulisan yang tertera di layar ponsel.


"Angkat cepat Abah!" suruh Akbar.


Abah Habib menekan tombol hijau itu dengan susah payah membuat Syuaib gemas ingin segera mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Ustad Hasim.


"Tolong ditekan ini! Abah tidak bisa," ujar Abah Habib membuat Syuaib mendecapkan bibirnya dengan kesal.


"Halo!!!" teriak Abah Habib setelah tombol hijau itu ditekan oleh Akbir.


Kedua mata Abah Habib menatap ke langit-langit mobil dengan bibirnya yang menganga berusaha untuk mendengar apa yang dikatakan oleh Ustad Hasim.


"Pak haji kiyai, ana liat motornya Syuaib," ujar Ustad Hasim di sebrang sana.


"Antum liat motornya Syuaib?"

__ADS_1


Mendengar hal itu Syuaib langsung menancapkan rem membuat Abah Habib tersentak ke depan begitu pula dengan Akbar, Sarifuddin dan Akbir.


"Pelan-pelan antum!" tegur Akbar.


"Afwan ya ustad!" maafnya sambil tersenyum.


Akbar menekan tombol volume membuat suara kendaraan yang berlalu-lalang di sebrang sana terdengar jelas lewat telpon Abah Habib.


"Iya, Abah. Ana liat motor Ustad Syuaib ada di depan toko ini mungkin!!!" teriaknya.


"Toko apa?" tanya Abah Habib.


"Kurang jelas tulisannya," jawabnya.


"Ustad Hasim! Share look saja!" pinta Syuaib.


"Oh iya iya," jawabnya.


Telpon terputus disusul bunyi notif di ponsel Syuaib membuat Syuaib menyalakan ponselnya dan menatapnya. Mobil itu melesat cepat setelah Syuaib telah mengetahui keberadaan Ustad Hasim.


"Itu Ustad Hasim!" Tunjuk Akbir.


Mobil itu kini menepi di siring jalan tepat di belakang mobil yang Ustad Hasim gunakan untuk mengantar tiga sahabat Islam itu. Mereka berlarian keluar dan menghampiri Ustad Hasim yang terlihat masih serius menatap motor butut milik Syuaib.


"Itu motor jeleknya Ustad Syuaib!" Tunjuk Sarifuddin membuat Syuaib tersentak kaget dengan mata melototnya.


"Enak aja antum," ujar Syuaib yang tak terima.


"Itu ada kopernya juga," tambahnya lagi, tak peduli Syuaib masih memasang mata melototnya agar Sarifuddin tau jika ia sedang marah.


Semuanya menoleh menatap sebuah bangunan bercat putih dengan garis bercampur hitam, ada banyak kendaraan di bagian area parkiran. Di depan sana terlihat dua pria bertubuh besar serta berotot yang terlihat berpakaian hitam dan dengan kaca mata hitam.


"Itu lampunya mati-mati, Abah tidak bisa baca," aduh Abah Habib yang kemudian melangkah mendekati tempat itu.


"Tempat apa ini?" tanya Syuaib pada salah satu pengunjung yang baru saja keluar dengan jalan yang terlihat sempoyongan, pria itu mabuk.


"Apa?"


"Tempat ini tempat apa?" tanya Syuaib sambil menunjuk.


Pria itu tertawa tak jelas seperti orang gila membuat Syuaib keherangan.


"Ini surga!!!" teriaknya lalu ia melangkah pergi.


"Bahlul ente!!! Mati dulu baru masuk surga!!!" teriak Syuaib yang terlihat kesal pada pria yang masih berjalan sempoyongan itu.


Bruak


Suara keras itu terdengar membuat Syuaib menoleh menatap pria tadi yang sudah tergeletak di aspal.


Pria itu telah ditabrak.


Syuaib menghela nafas lalu menggeleng dan melanjutkan langkahnya.


Mereka semua kini melangkah mendekati tempat itu yang beberapa pengunjung terlihat keluar masuk. Dari kejauhan dua pria penjaga kemanan diskotik itu tertawa kecil menatap gerombolan berbaju gamis panjang dan koko putih serta sarung dan peci terlihat mendekatinya.


"Assalamu'alaikum," ujar Abah Habib membuat penjaga kemananan itu tersenyum sinis.


"Waalaikum'salam, pak haji kiyai yah?" tanya penjaga keamanan itu membuat Abah Habib terkejut.

__ADS_1


"Kok antum tau?"


"Penampilan anda seperti kiyai saja."


"Loh memang Abah ini kiyai," jawabnya sambil tersenyum.


Abah Habib menatap ke arah pintu yang terlihat gelap di dalam sana, persis seperti terowongan gelap.


"Antum liat cucu Abah?" tanya Abah Habib.


"Cucu siapa?"


"Cucu Abah, namanya Islam ramadhan nah itu motornya!" Tunjuk Abah Habib ke arah motor Syuaib membuat dua penjaga itu menoleh.


"Itu motor ana pak haji kiyai, motor ana dipakai sama si Islam ke sini nah ini bukan motor Islam," tegur Syuaib yang tak terima.


Dua penjaga kemanan itu saling bertatapan lalu kembali menatap Abah Habib.


"Kami tidak melihat cucu anda pak," jawabnya.


"Masa tidak lihat? Itu motor yang dia pakai ada di situ jadi pasti Islam ada di dalam. Cari dulu lah di dalam! Rambut cucu saya itu pajang terus mukanya ganteng lah-"


"Suka marah-marah juga," tambah Sarifuddin.


"Iya tolong lah cari cucu Abah! Dia pasti ada di dalam," sambung Abah Habib.


"Saya Abi nya si Islam!" sahut Akbar sambil mengangkat tangannya.


Dua penjaga kemanan itu menghela nafas panjang seakan bosan mendengar penjelasan Abah Habib dan yang lainnya.


"Kami tidak tau."


"Cari dulu lah!"


"Kami tidak bisa."


"Kalau begitu Abah saja yang masuk ke dalam buat cari cucu Abah," ujar Abah Habib yang kemudian melangkah namun dengan cepat dicegah oleh dua penjaga itu.


"Anda tidak boleh masuk!" larangnya.


"Abah cuman mau cari cucu Abah!"


"Anak ana ada di dalam!" sahut Akbar yang juga berusaha untuk masuk.


"Kami cuman sebentar!" tambah Akbir.


"Jangan larang kami! Islam!!!" teriak Ustad Hasim.


"Ini bukan tempat untuk kalian semua!!!" teriak penjaga kemanan itu.


Mereka, Abah Habib, Akbar, Akbar, Syuaib dan Ustad Hasim berteriak meminta untuk diberikan izin agar bisa masuk ke dalam sana sementara dua penjaga keamanan itu sekuat tenaga menahan agar mereka tak lolos masuk.


Sarifuddin mengernyit heran menatap aneh pada mereka yang berusaha untuk masuk semetara ada ruang untuk masuk di sampingnya. Sarifuddin menghela nafas sambil menggeleng lalu melangkah masuk dengan santai.


"Heh!!! Jangan masuk!!!" teriak salah satu penjaga kemanan itu yang kemudian mengejar Sarifuddin.


Sarifuddin menoleh dan terbelalak kaget menatap pria bertubuh besar itu yang berlari mendekatinya sambil berteriak. Dengan cepat Sarifuddin berlari berusaha menjauhi kejaran penjaga kemananan itu yang masih mengejarnya.


kedua mata Sarufuddin melotot menatap apa yang ada di depan matanya setelah ia telah berhasil melewati terowongan.

__ADS_1


"Astagfirullah!!!" teriaknya.


__ADS_2