Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
65. Imam Masjd part 2


__ADS_3

"Khadijah," ujar Islam pada alat pengeras suara itu.


Kedua mata Khadijah membulat setelah mendengar namanya terdengar dari alat pengeras suara yang ada di setiap sudut ruangan masjid.


Semua pada santriwati dengan serentak saling berbisik dan menatap ke arah Khadijah yang diam membeku.


Khadijah memejamkan kedua matanya. Pria bernama Islam itu benar-benar nekat dan tak main-main dengan ujarannya.


Yang membuat Khadijah kaget adalah itu berarti Islam yang benar-benar akan menjadi imam sholat malam ini.


Tapi tunggu! Apakah Islam bisa?


"Itu sepertinya bukan Rahman," ujar Umma Nur.


Di lantai atas para santri terlihat kebingungan setelah mendengar nama itu. Mengapa Islam mengatakan itu.


Islam menoleh menatap Abah Habib yang terlihat kebingungan.


"Maaf, Islam hanya mengetes apakah benda ini masih bagus atau tidak," ujar Islam sambil menyentuh alat pengeras di kerah bajunya berusaha untuk memberi alasan.


Islam tersenyum saat mereka semua mengangguk tanpa rasa curiga sedikitpun. Islam melirik menatap Rahman yang terlihat menatapnya dengan tajam seakan begitu sangat tak suka kepada Islam.


Sepertinya Rahman sadar dengan nama yang Islam sebut. Bagi Rahman Islam sudah berbuat dua kesalahan yaitu merebut posisinya menjadi imam dan yang kedua ia menyebutkan nama Khadijah di depan semua orang.


Bagaimana dengan Khadijah?


Hah, sudah pasti dia bisa mendengarnya.


Islam menarik nafas panjang lalu memulai sholat dengan suara lemah lembutnya seperti apa yang selama ini selalu diajari oleh Sarifuddin.


Jika saja para santri sedang tak sholat maka mereka mungkin akan saling bertatapan dan menanyakan apa ini benar suara Islam atau suara ini adalah suara rekaman saja.


Mereka semua tak menyangka jika pria pembuat onar ini punya suara yang benar-benar merdu seperti ini.


Mereka semua mengira jika Islam hanya bisa membentak tapi ternyata ia bisa juga menjadi imam.


Lihatlah sekarang dengan pakaiannya yang hanya menggunakan kaus hitam, celana jeans dan peci hitam, itupun milik Sarifuddin.


Surah-surah yang dilafalkan oleh Islam saat memimpin sholat ini semuanya telah diajari oleh Sarifuddin.


"Sami'allahu liman hamidah. Allahu Akbar!"


Islam sujud ke atas sajadah diringi dengan suasana yang sunyi, hanya ada suara kipas yang berputar menyejukkan ruangan masjid.


"Allahu Akbar!'

__ADS_1


Islam bangkit dari sujudnya lalu duduk tahiyat akhir dan mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri untuk menutup sholatnya.


Islam mengusap wajahnya dengan kedua belah tangannya diiringi senyum di bibirnya. Akhirnya ia telah selesai melaksanakan sholat diikuti oleh semua orang yang ada di dalam masjid ini.


...***...


Khadijah menyentuh dadanya yang bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Khadijah tersenyum di balik cadarnya saat memikirkan ini semua.


Benarkah itu Islam?


Khadijah tak menyangka ternyata Islam tidak hanya handal menggoda setiap perempuan yang ia jumpai tapi ternyata ia juga bisa menjadi imam bahkan suaranya itu lebih merdu di bandingkan Rahman.


"Itu tadi bukan Rahman kan?" bisik Umma Nur yang belum sadar juga.


"Khadijah!" panggil Ustazah Fitri membuat Khadijah menoleh.


"Apa ukhti mendengar nama ukhti disebut sebelum sholat oleh imam?"


"Nama Khadijah?" tanya Khadijah berpura-pura tak tau.


Ustazah Fitri mengangguk.


...***...


Islam berbalik badan lalu ia menatap Abah Habib, Akbar, Akbir dan yang lainnnya yang sedang terdiam dengan wajah kaku, syok dan kagum menjadi satu.


Islam merangkak mendekati Abah Habib lalu meraih tangan keriput itu dan mengecupnya. Seketika air mata Abah Habib tumpah dari ujung matanya dan membawa tangannya untuk mengelus rambut Islam.


Ini adalah keinginan Abah Habib seumur hidupnya dan salah satu tujuannya membawa Islam ke pondok pesantren.


Abah Habib yang selalu merasa ragu dan tak percaya itu jika Islam akan berubah kini ia bisa menjadi percaya jika seseorang bisa berubah.


Islam menyalimi semua para jejeran para ustad yang menyambutnya dengan senyuman bahkan ada yang memukulnya dengan keras karena terlalu bahagia, Syuaib contohnya.


"Ma sya Allah!!!" teriaknya lalu tertawa sambil mengangkat jempolnya.


"Ustad!" tegur Akbir sambil menyikut perut Syuaib agar berhenti untuk tertawa.


Islam hanya mampu geleng-geleng kepala lalu kembali merangkak mendekati Rahman yang terlihat menatap Islam dengan tatapan marah dan tak suka yang menjadi satu.


Islam tersenyum walau sejujurnya ia ingin mencekik leher pria ini dan menguburnya. Islam menjulurkan tangannya ke arah Rahman, mengajaknya untuk bersalaman tapi tanpa diluar dugaan Islam, Rahman malah mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain.


Islam tersenyum kemenangan. Rasanya ia ingin berteriak dan tertawa sekeras mungkin tepat di hadapan wajah Rahman, biar saja dia semakin kesal dengannya.


"Rahman!" tegur Ustad Firdaus membuat Rahman menoleh.

__ADS_1


"Cepat jabat tangan Islam!" bisiknya.


"Ana tidak mau Abi," ujarnya bersikeras.


"Cepat, Nak!"


"Tapi dia-"


"Ada Abah di sini," bisiknya dengan mata melotot berusaha untuk mengancam Rahman.


Rahman menoleh menatap Islam yang dengan jahilnya mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum, sepertinya dia sedang mengejek.


Rahman menarik nafas panjang. Sungguh sangat menjengkelkan raut wajah Islam jika ditatap seperti ini. Rahman menoleh menatap Abah Habib yang terlihat sedang menatapnya dengan serius.


Sialnya bukan hanya Abah Habib yang sedang menatapnya tapi semua para ustad. Rahman mendengus kesal lalu ia mengangkat tangannya dan menjabat tangan Islam dengan perasaan terpaksa.


Belum genap dua detik mereka berjabat tangan Rahman langsung melepasnya dan segera mengusap telapak tangannya itu ke bajunya berusaha untuk menghilangkan bekas tangan Islam dari telapak tangannya.


Islam tersenyum lalu kembali merangkak mendekati seseorang yang belum ia jabat dan belum ia cium punggung tangannya.


Islam mendongak menatap wajah seseorang itu membuat senyum Islam berangsur hilang dari bibirnya.


Wajah Akbar terlihat jelas dikedua matanya yang terasa memanas. Haruskah ia juga mencium punggung tangan Abinya yang kini terlihat tersenyum penuh harap.


Akbar juga ingin punggung tangannya dicium oleh Islam seperti apa yang dilakukan Islam kepada Abah Habib dan yang lainnya.


Senyum Islam yang berangsur hilang dari bibirnya membuat Akbar sadar jika putranya itu masih sangat membenci dirinya.


Kedua mata Islam memanas, sejujurnya ia ingin menangis. Islam bisa mengingat ketidak hadiran Akbar disetiap harinya dan air mata yang mengalir dari kedua mata Mawar yang telah membengkak karena Akbar yang membatalkan kepulangannya.


Islam bangkit lalu melangkah pergi dari masjid membuat semua orang menoleh menatap kepergian Islam yang terus melangkah.


Akbar hanya bisa terpatung di tempat duduknya. Putranya itu masih membencinya. Akbar juga seharusnya sadar jika telapak tangan yang menginginkan kecupan dari bibir Islam ini pernah menampar pipi Islam saat ia mabuk dulu.


"Islam!" panggil Sarifuddin yang tak kunjung membuat Islam menoleh.


Ada apa dengan Islam?


Islam terus melangkah, ia menuruni anakan tangga dengan kedua matanya yang telah memburam, yah Islam gagal menahan air matanya hingga berhasil tumpah.


Islam tau jika Akbar adalah Abinya tapi Islam juga tak akan pernah bisa memaafkan orang yang telah membuat Uminya menangis.


Bagi seorang anak sosok ibu adalah segalanya dan tak akan pernah tergantikan. Mungkin ibu bisa saja memukul anaknya berulang kali dan akan membuat anaknya menangis, tetapi jika sosok ayah yang memukul anaknya maka bukan matanya yang menangis tapi hatinya.


Jika mata yang menangis maka masih bisa diusap, tapi ketika hati yang menangis tak bisa diusap.

__ADS_1


Islam tak akan pernah bisa melupakan tamparan keras yang berhasil mendarat di pipinya. Walaupun saat kejadian itu Islam mabuk tapi ia masih sadar dan bisa mengingat semuanya dengan jelas.


__ADS_2