Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
59. Al-Fatihah


__ADS_3

Islam melangkah dengan tergesa-gesa menghampiri Sarifuddin yang nampaknya sedang menanti Islam di siring lapangan sambil memegang sapu yang telah ia dan Islam gunakan tadi.


"Kenapa?" tanya Sarifuddin.


Tak menjawab pertanyaan yang Sarifuddin berikan, Islam langsung menarik Sarifuddin dan membawanya menuju lantai dua sambil berlari.


Islam tak pernah menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh Sarifuddin.


"Kenapa sih?" tanya Sarifuddin setelah mereka tiba di dalam ruangan kamar sambil menatap Islam yang terlihat mengunci pintu kamar dengan rapat.


"Ada apa?" tanya Sarifuddin lagi, kali ini wajahnya terlihat khawatir.


Islam menopang pinggang lalu berjalan ke arah ranjangnya sementara Sarifuddin terlihat mengikut.


"Kenapa?"


Islam menoleh.


"Gue mau dijodohin," jawabnya.


"Lah terus?"


"Yah gue kabur dari ruangan Abah. Gue bilang mau ke toilet tapi gue ngumpet di kamar biar gue nggak ditanya-tanya tentang perjodohan itu," jelasnya.


"Kenapa harus kabur? Kalau kita mau yah terima saja," nasehatnya.


Islam melirik Sarifuddin dengan tatapan tak mengertinya.


"Kalau gue mau dijodohin, gue nggak bakalan kabur terus ngumpet di sini sama lo."


"Kenapa tidak mau?"


Islam yang mendengar hal itu membuat raut wajahnya perlahan berubah.


"Gue suka sama Khadijah."


Sarifuddin berlari mendekati Islam dan berlutut di depannya.


"Kalau begitu beritahu kepada mereka kalau Islam sukanya sama Khadijah terus mereka pasti akan membatalkan perjodohan ini dan memutuskan untuk menjodohkan Islam dengan Khadijah, selesaikan?"


Islam menghela nafas panjang.


"Nggak semudah itu, Din. Gue belum pantas jadi calon suami buat Khadijah."


"Kenapa begitu?"


"Khadijah mau suami yang bisa jadi imam untuk dia dan imam sholat untuk pondok pesantren."


Islam terdiam sejenak.


"Gue baru aja udah hapalin bacaan dan tata cara Wudhu terus bacaan sholat. Ngaji? Gue baru belajar hijaiyah tadi malam."


"Gimana caranya gue bisa jadi imam?" resah Islam lagi.


Sarifuddin kini terdiam sejenak. Ia menyentuh dagunya dengan kedua matanya yang bergerak kiri dan kanan berusaha untuk berpikir.


"Sebenarnya jadi imam itu bisa saja tidak tau mengaji."


Kedua mata Islam membulat setelah mendengar apa yang Sarifuddin katakan.


"Maksud lo?" tanya Islam yang begitu antusias.


"Jadi imam itu harus hapal bacaan ayat Al-Qur'an."


"Gue kan nggak tau ngaji," protes Islam.


"Kan bisa dihapal to?"

__ADS_1


Islam terdiam sejenak lalu ia kembali menoleh saat Sarifuddin kembali bicara.


"Kita hapal saja bacaan surah-surah pendek."


"Surah apaan sih?" tanya Islam yang kebingungan.


"Surah di Al-Qur'an. Contohnya itu seperti surah Al-Ikhlas, An-Nas dan masih banyak lagi. Tapi yang lebih penting itu surah Al-Fatihah."


"Al-Fatihah?"


"Tau?" tanya Sarifuddin.


Islam dengan cepat menggeleng membuat Sarifuddin segera bangkit dan meraih Al-Qur'an dari lemarinya lalu meletakkannya ke atas bantal.


"Bismillah," ujar Sarifuddin saat membuka Al-Qur'an itu.


Islam dan Sarifuddin kini duduk berhadapan sementara Al-Qur'an itu berada di antara mereka.


"Ini surah Al-fatihan." Tunjuknya membuat Islam mengangguk.


"Hapal tidak?"


Islam menghentikan anggukannya lalu ia terdiam memikirkan sesuatu.


"Hapal?" tanya Sarifuddin lagi.


"Hapal, tapi dikit," jawab Islam dengan santai membuat Sarifuddin menghela nafas panjang.


Sepertinya akan susah untuk mengajari Islam.


"Nah sekarang perhatikan!"


"Kita mau belajar ngaji lagi?" tanya Islam dengan wajah malasnya.


"Tidak. Saya cuman mau menjelaskan tentang surah Al-fatihah."


"Ini surah Al-Fatihah. Surah Al-Fatihah adalah surat pembuka dalam kitab suci Al-Quran, yang memiliki arti pembukaan."


"Surat yang terdiri dari 7 ayat ini tergolong surat Makiyyah, yang berarti surat ini diturunkan sebelum Rasulullan hijrah ke Madinah."


Islam mengangguk membuat Sarifuddin menatap penuh curiga. Apa Islam mengangguk karena mengerti atau malah ia hanya sekedar angguk saja.


"Tau Rasulullah kan?" tanya Sarifuddin.


"Lo kira gue nggak tau dia siapa? Cucu kiyai nih," ocehnya dengan wajah agak kesal sambil memukul dadanya.


"Kalau begitu siapa itu Rasulullah?"


Islam mendecapkan bibirnya lalu menyandarkan tubuhnya ke tiang besi ranjang.


Sarifuddin sepertinya meremehkannya.


"Rasulullah itu adalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau nabi terakhir dari 25 nabi," jelas Islam.


Sarifuddin tersenyum.


"Itu tau ternyata," ujarnya tak menyangka.


"Yah tau lah," ujar Islam sambil tersenyum sinis.


Islam tak sebodoh itu soal agama yah walaupun lebih banyak bodohnya.


"Nah sekarang kita lanjut tentang surah Al-Fatihah ini. Surah ini adalah surah yang wajib dibacakan saat melaksanakan sholat."


"Syarat sahnya sholat adalah dengan membaca surah Al-fatihah."


"Kalau nggak baca?"

__ADS_1


"Tidak sah."


"Loh kenapa kayak gitu? Kan sama aja sama surah yang lain. Yang lain kan asalnya dari Al-Qur'an semua?" protes Islam.


"Memang semua surah asalnya dari Al-Qur'an tapi semua surah itu memiliki arti yang berbeda."


"Tidak sahnya sholat jika tidak dibacakan dengan surah Al-Qur'an telah dijelaskan di dalam Hadits Riwayat Muslim: 'Tidak sah shalatnya seseorang yang tidak membaca Al Fatihah'"


"Jadi wajib baca surah itu?" tanya Islam.


"Wajib," jawabnya membuat Islam mengangguk.


"Tau tidak kalau surah ini adalah surah pertama dalam al-Qur'an. Surah ini diturunkan di Makkah sehingga tergolong surah makiyah dan terdiri dari tujuh ayat."


"Mau tau keutamaan dan manfaat surat Al-fatihah?"


"Apa?"


"Manfaatnya ada banyak, kalau kita membacanya sebelum belajar maka Allah akan melancarkan segala niat baik, dimudahkan mencapai tujuan, serta dijauhkan dari hambatan."


Islam mengangguk seakan kali ini ia kembali menjadi seorang guru pengajar.


"Al Fatihah sendiri sebenarnya memiliki banyak nama lain, di antaranya adalah Ummul-Kitab, Ummul-Quran, as-Sab'ul Matsani, Asy-Syifa, atau Ar-Ruqyah."


Islam melongo. Apa yang dikatakan Sarifuddin ini?


"Mau tau manfaat yang lebih dahsyat lagi?" tanya Sarifuddin.


"Apa?" tanya Islam yang kini mulai bosan.


"Surah Al-Qur'an ini bisa digunakan untuk meluluhkan hati seseorang," bisik Sarifuddin.


Kedua mata Islam terbelalak menatap Sarifuddin setelah mendengar ujarannya.


"Maksud lo meluluhkan hati seseorang itu kayak orangnya suka juga sama kita?" tanya Islam dengan wajah antusias.


"Benar jika Allah menghendaki," jawabnya.


"Itu berarti bisa meluluhkan hati Khadijah juga?" tanya Islam.


"Bisa."


"Caranya?"


"Caranya yaitu membaca surah Al-fatihah setiap hari selama 1 minggu dengan khusyuk setelah salat wajib maupun sunah lalu berdoa sama Allah dengan menyebut nama seseorang yang kita suka."


"Kira-kira berhasil?"


"Tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak," jawab Sarifuddin.


Islam kini tersenyum lalu mengangguk. Sepertinya ia harus bisa menghapal surah Al-fatihah itu dan menyebut nama Khadijah.


Sarifuddin kini bangkit dari kasur lalu melangkah ke arah lemari dan meraih buku dan pulpen membuat Islam mengernyit heran.


"Lo mau belajar lagi?" tanya Islam.


"Saya mau tulis penyebutan ayat ini dengan tulisan huruf agar Islam bisa baca terus kita hapal, kan kita belum bisa mengaji," jelasnya membuat Islam mengangguk.


Islam kini membaringkan tubuhnya di atas kasur milik Sarifuddin sambil menatap Sarifuddin yang sedang sibuk menulis.


"Bisa nggak lo baca sambil nulis! Gue lebih cepat hapal kalau gue denger," ujar Islam.


Sarifuddin mengangguk dengan senyum antusias. Ia mulai menulisnya sambil melafalkannya dengan suaranya yang benar-benar merdu.


Islam bahkan mendengar bacaan Sarifuddin seperti nyanyian yang begitu merdu.


Kenapa tidak daftar saja di kompetisi pencarian penyanyi dangdut? Mungkin dia lolos.

__ADS_1


__ADS_2