
"Jadi kita semua ini mau masuk kelas dan ikut belajar to?" tanya Sarifuddin sementara Islam, Kristian, Abirama dan Ali kini terdiam sambil saling bertatapan.
...****...
Sarifuddin melangkah dengan santainya membuat semua para santri menoleh dan terkagum saat mereka semua menatap ke arah Sarifuddin.
Tunggu!
Mereka tak terkagum karena kedatangan Sarifuddin tapi mereka semua terkagum melihat empat pria yang berbaju koko yang berjalan di belakang Sarifuddin yah siapa lagi jika bukan Islam, Kristian, Abirama dan Ali yang memutuskan untuk ikut masuk kelas.
Semua santri yang berada di dalam kelas menjadi diam setelah Sarifuddin dan keempatnya masuk ke dalam kelas. Semua mata tertuju pada mereka.
"Ini kelasnya?" tanya Kristian yang menoleh menatap ke sekeliling ruangan kelas dimana ada banyak foto dan tulisan Alquran.
"Iye, duduk di sini!" pintahnya yang kini duduk di kursi paling belakang.
Islam mengangguk lalu duduk di kursi kosong yang berada di depan Sarifuddin bersama dengan Ali, sementara Abirama duduk di samping Sarifuddin.
Kristian terdiam sejenak ia menoleh ke kiri dan kanan, tak ada kursi kosong lagi.
"Saya duduk dimana atuh?" tanya Kristian.
"Itu!" Tunjuk Sarifuddin ke arah depan kursi yang berada di samping kursi pria berpeci putih yang sedang membaca Al-Qur'an.
Kristian tak pikir panjang, ia duduk sambil sesekali menatap santri yang terus membaca Al-qur'an.
Islam menatap ke sekelilingnya dimana beberapa santri masih menatapnya dan juga Kristian, Abirama dan Ali.
Apa mereka juga masih terlihat aneh walaupun mereka memakai baju seperti apa yang mereka gunakan.
Islam melirik ke arah Kristian yang terlihat terdiam dengan wajah datarnya menatap santri yang sedang sibuk membaca Al-qur'an. Islam menoleh menatap Ali yang berada di sampingnya. Ali terlihat menyeramkan disaat ia memaingkan lidahnya di dalam rongga mulut dengan bibir yang sedikit terbuka serta beberapa kancing baju koko-nya yang terlihat terbuka memperlihatkan kalung besinya. Untung saja baju koko ini memiliki lengan panjang jika tidak maka tato gadis tel*njangnya itu yang berada di lengan tangannya akan terlihat.
Islam menoleh ke belakang menatap Abirama yang sibuk dengan sarungnya yang selalu kedodoran, sejak di dalam kamar urusan Abirama dengan sarungnya itu belum juga usai.
Tak berselang lama para santri berlarian masuk ke dalam kelas membuat Islam yang sibuk menatap poster tara cara shalat di dinding tepat di sampingnya itu menoleh menatap pria bertubuh gemuk melangkah masuk ke dalam kelas.
Untuk sementara waktu Islam memutuskan diam di kursinya menatap para santri yang sibuk membaca doa yang sama sekali tak dimengerti oleh Islam, mereka mengucapkannya secara bersamaan.
"Ini mau belajar apa sih?" bisik Abirama ke arah Sarifuddin yang duduk diam seperti patung.
"Loh itu santri yang baru yah?" tanya ustad bertubuh gemuk itu, namanya ustad Hasim.
Semuanya menoleh menatap Islam dan tiga sahabatnya itu yang spontan menatap ke arah para santri.
"Iya Ustad, mereka ikut kelas," jawab salah satu dari mereka.
Ustad Hasim melangkah menghampiri Islam dan ia tersenyum memberi kesan yang hangat. Islam tak mengerti mengapa orang-orang yang berada di pesantren ini sangat suka tersenyum, bukan hanya Sarifuddin yang selalu tersenyum seakan tak punya beban hidup tapi pria bertubuh gemuk juga ini selalu tersenyum.
"Antum namanya siapa?" tanya Ustad Hasim.
__ADS_1
"Abdi?" tanya Kristian sambil menunjuk ke arah hidungnya.
"Oh nama antum Abdi," ujar Ustad Hasim sambil mengangguk.
"Lah? Bukan!"
"Bukan? Tadi bilangnya Abdi sekarang bilang bukan."
"Maksudnya abdi itu dalam bahasa Sunda artinya saya," jelas Abirama.
"Oh astagfirullah, hahaha Afwan saya tidak tau dan tidak mengerti bahasa Sunda, jadi nama antum siapa?"
"Kristian putra Kristen," jawab Kristian membuat Ustad Hasim dan para santri terbelalak kaget setelah mendengar nama Kristian.
"A...apa?" tanya Ustad Hasim yang tak percaya.
"Nama saya Kristian putra Kristen," jawabnya sambil mengucapkannya dengan pelan-pelan.
Ustad Hasim yang masih terkejut itu segera menutup mulutnya lalu sedikit menunduk mendekatkan wajahnya pada Kristian yang agak ketakutan, pria gemuk ini terlihat agresif dan aktif.
"Antum tau tidak?"
"Apa?" tanya Kristian ketakutan.
"Nama antum ada nama agama lain, tidak boleh memakai nama yang seperti itu! Nanti antum dikira agamanya bukan Islam," bisiknya namun suaranya itu masih bisa didengar oleh beberapa santri.
"Maaf, agama saya memang Kristen."
"Hah?!!" kagetnya.
Kristian kembali membuang nafas lalu mengeluarkan kalung salib dari baju kokonya.
"Saya Kristen!" ujar Kristian sambil memegang ujung salibnya.
Kedua matanya yang terbelalak kaget itu menatap apa yang diperlihatkan oleh Kristian dengan cepat kembali memasukan kalung salib itu ke dalam baju koko Islam.
"Serius?"
"Saya serius! Saya Kristen, puji Tuhan!!!" teriaknya sambil mengangkat kalung salibnya membuat semua orang terbelalak.
"Tolong disembunyikan! Saya suka jantungan!" bisiknya lalu segera melangkan ke arah Islam.
"Nah kalau yang ini namanya siapa?" Tunjuk-nya ke arah Islam.
Islam menatap kesekelilingnya dimana semua orang sedang menatapnya dengan serius.
"Islam," ujar Islam.
"Saya tanya nama antum, bukan agama!"
__ADS_1
"Yah iya Islam."
"Nama!"
"Yah iya Islam," jawabnya dengan mengeraskan sedikit suaranya agar Ustad Hasim mendengarnya.
"Pak Ustad! Nama dia memang Islam," ujar Sarifuddin.
Ustad Hasim tertawa, sepertinya ia sudah salah. Tak berselang lama ia menghentikan tawanya, mendengar nama itu ia teringat dengan seseorang. Ia menatap Islam dengan serius.
"Antum cucunya Abah Kiyai?" tanya Ustad Hasim.
"Betul pak Ustad," jawab Sarifuidfin.
Ustad Hasim menatap dari ujung kaki sampai ujung peci Islam. Pria ini tidak menggambarkan pria yang baik-baik terlebih lagi dengan Ali yang duduk di samping Islam. Menatapnya saja seperti dipalak preman satu kampung.
Ustad Hasim menelan salivanya dan melangkah melewati Ali yang masih menatapnya dengan tajam.
"Nah antum! Nama siapa?"
"Nama saya Abirama putra Hindu," jawab Abirama dengan semangat.
"Hindu? Oh jangan bilang kalau agama antum-"
Abirama mengangguk membuat kedua mata Ustad Hasim melotot tak menyangka.
"Ah yang benar antum?"
"Benar pak Ustad, agama saya memang Hindu," jawab Abirama sambil tersenyum.
Ustad Hasim menutup mulutnya seakan masih tak menyangka. Ia menoleh menatap ke arah Islam, Kristian, Abirama dan Ali secara bergantian.
Apa yang terjadi di pesantren ini?
Ustad Hasim menoleh menatap para santri yang juga terlihat syok, baru kali ini ada pria non Islam yang ikut masuk pesantren dan ikut bergabung di dalam kelas.
"Em sudah! Sudah! Kita lanjut ke materi saja!" ujarnya lalu melangkah ke arah meja pengajar yang ada di depan.
Ustad Hasim yang menjelaskan materi itu sesekali menoleh menatap ke arah empat pria yang berhasil mencuri perhatian Ustad Hasim.
Kristian yang terlihat merapikan pecinya yang agak miring sambil sesekali mencium kalung salib yang beberapa kali ia keluarkan dari baju kokonya.
Islam terlihat sesekali mengganggu santri yang duduk di meja depannya dan sambil sesekali menyentuh poster tata cara sholat di dinding persis seperti anak kecil yang melihat sebuah buku bergambar.
Bagaimana dengan Ali? Jangankan melihatnya disaat Ustad Hasim ingin menatap Ali, Ali ikut menatap Ustad Hasim dengan tatapan tajam dan menusuknya.
Ustad Hasim menoleh menatap Abirama yang sibuk dengan sarungnya bahkan sesekali ia meminta Sarifuddin untuk merapikannya.
Ustad Hasim menggeleng, rasanya kepalanya ini terasa sakit melihat tingkah laku mereka.
__ADS_1