
"Kemari antum!!!" teriak Akbar yang kemudian menarik kerah baju Islam dengan kasar.
Akbar menarik Islam yang beberapa kali memberontak berusaha untuk lepas dari cengkraman Abi-nya yang begitu sangat kuat. Semua para santri menoleh dan berbisik sambil menatap ke arah Islam yang begitu diperlakukan sangat kasar.
Akbar membuka pintu ruangan Abah Habib membuat Abah Habib yang sedang membaca Al-Qur'an itu menoleh dan terbelalak kaget menatap cucunya yang kerah bajunya masih dijambak kasar oleh Akbar.
"Astagfirullah, ada apa ini?" tanya Abah Habib.
Islam yang masih sesak nafas itu karena dipaksa untuk jalan langsung menghempas tangan Akbar dan menatapnya dengan tajam.
Abah Habib melangkah mendekati Islam dengan wajahnya yang terlihat khawatir. Ia menyentuh kedua pipi Islam dan menatap setiap inci wajah Islam dengan teliti, ia takut jika Islam terluka.
"Apa yang antum lakukan kepada Islam?" tanya Abah Habib.
"Dia hampir merokok di belakang masjid," jawab Akbar.
Abah Habib terbelalak kaget, ia menoleh menatap Islam yang kini tertunduk.
"Apa itu benar?" tanya Abah Habib.
Islam tak berani menatap, ia masih saja tertunduk.
"Katakan saja, Nak!" bujuk Abah Habib dengan nada lemah lembutnya.
Islam tersenyum simpul lalu mengangkat pandangannya, semoga saja Abah Habib akan marah setelah mengetahui ini dan membiarkannya pulang. Islam tak sanggup jika hidup tanpa Mawar, Umi-nya.
"Iya," jawab Islam.
Abah Habib menghela nafas panjang.
"Abah dengar kan? Kalau begitu pulangkan saja Islam dan tiga sahabatnya itu!" usul Akbar membuat Islam tersenyum bahagia dengan tatapannya yang menatap ke arah Akbar.
"Setuju," sahut Islam dengan cepat sementara Kristian, Abirama dan Ali juga ikut tersenyum bahagia, akhirnya rencananya akan segera berhasil.
"Kalau gini kan enak, mending gue balik aja yah! Dari pada gue di sini nambah masalah, betul nggak?" jelas Islam lalu bertanya pada ketiga sahabatnya itu.
"Betul," jawab mereka dengan kompak.
Abah Habib yang terlihat bingung itu kini menoleh menatap Akbir yang terlihat tersenyum di pintu masuk yang dibiarkan terbuka. Beberapa detik kemudian Akbir melangkah pergi membuat Abah Habib kini kembali buka suara.
"Tidak," jawabnya membuat senyum Islam lenyap seketika dari bibirnya.
Islam menoleh menatap Kristian, Abirama dan Ali yang kini saling bertatapan tidak mengerti.
"A-apa?" tanya Islam meminta kejelasan.
"Antum semua tidak Abah pulangkan tapi antum semua akan Abah hukum."
"Apa?!!" teriak Islam, Kristian, Abirama dan Ali yang begitu sangat terkejut.
__ADS_1
...****...
Islam berdiri di depan pintu ruangan tempat mandi yang selalu dijadikan tempat antri oleh para santri. Islam tak mengerti mengapa Abah Habib membawanya ke tempat ini. Apakah ini hukumannya? Membersihkan tempat mandi?
Islam menoleh menatap Kristian, Abirama dan Ali yang kini ikut menatapnya dengan tatapan yang terlihat menduga-duga.
"Ini hukumannya?" tanya Islam dengan santai.
"Iya," jawab Abah Habib yang kemudian mengangguk.
Islam menghela nafas lalu mengangguk ia kemudian melankah masuk ke dalam tempat mandi bersiap untuk meraih sikat yang ada di sudut ruangan.
"Mau apa?" tanya Abah Habib membuat Islam terheran.
Islam mengerutkan alisnya lalu menoleh menatap tiga sahabatnya itu yang ikut terheran, mereka juga tak mengerti.
"Yah mau nyikat lantai lah," jawabnya.
Abah Habib tertawa lalu menggeleng membuat Islam dan yang lainnya terheran.
"Terus hukuman kita apa?"
Abah Habib tersenyum lalu ia menjawab, "Isi kolam dan ember itu dengan air!"
Islam menoleh menatap kolam besar yang ada di dalam tempat mandi, ukurannya cukup besar tapi masih bisa terisi dengan cepat, toh hanya satu.
"Oky," jawab Islam enteng.
Islam menoleh menatap tiga pintu tempat mandi yang masing-masing memiliki kolam dan ember.
"Ini ambil airnya bagaimana?" tanya Islam membuat langkah Abah Habib terhenti lalu ia menoleh.
"Itu ada ember! Isi ember itu dengan air lalu tuangkan ke kolam itu!" jelasnya.
Islam melongo lalu tersenyum sinis, apakah tak ada hukuman yang lebih sulit daripada ini?
"Em Sarifuddin!"
"Iya pak haji Kiyai?" sahut Sarifuddin.
"Awasi mereka dan jangan pernah membantunya!"
"Baik, pak haji kiyai," jawab Sarifuddin menurut.
"Cih, nggak usah ngelarang Sarifuddin buat bantuin gue! Gue dan teman-teman gue juga nggak butuh bantuan!" ujar Islam dengan santai.
Abah Habib tersenyum lalu mengangguk dan kemudian ia melangkah pergi.
"Aduh, enggak mikir kali yah tuh si tua bangka kalau ngasih hukuman? Masa cuman dihukum kayak gini aja, nggak ada geregetan gitu. Nggak ada apa hukuman yang lebih sulit dari pada ini?" oceh Ali yang kini meraih ember yang dijulurkan oleh Abirama.
__ADS_1
"Ini sudah hukuman yang sangat sulit," ujar Sarifuddin membuat raut wajah santai Islam berubah.
"Emang ambil airnya dimana?" tanya Islam.
Sarifuddin tersenyum.
...****...
"Aaaaaa!!!" teriak Islam yang kini berada di tengah sungai yang airnya mengalir begitu jernih.
Sungai yang begitu sangat bersih itu sangat berbeda jauh seperti sungai yang pernah ia Islam temui. Baru pertama kalinya bagi Islam melihat sungai yang begitu sangat indah. Ada air terjun yang begitu tinggi di bagian bukit dengan pepohonan hijau dan rindang, banyak pohon besar di sini. Ada banyak bebatuan besar yang terlihat berlumut hijau yang membuat pemandangan sungai ini semakin cantik.
Jangan salah, pemandangan ini tak didapatkan dengan mudah. Islam, Kristian, Abirama dan Ali harus mati-matian menuruni bukit yang lumayan terjal dan jalan bebatuan sambil membawa ember untuk sampai ke sungai ini.
"Anjirt, hampir mati gue!!!" teriak Ali yang membaringkan tubuhnya ke atas batu besar dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kalau begini saya tidak lelah kalau pemandangannya seperti ini" puji Abirama yang terlihat menopang pinggang persis seperti penjelajah di TV yang mengangumi keindahan alam.
"Ah gue mau air!!!" teriak Kristian yang kini bertiarap di atas batu.
Bibir Kristian terlihat kering, wajahnya pucat dan berkeringat bahkan baju kokonya sudah basah.
"Isi ember-nya dengan air!!! Terus cepat naik!!!" teriak Sarifuddin yang suaranya menggema.
Islam, Kristian, Abirama dan Ali mendongak menatap Sarifuddin yang terlihat berdiri di bukit, ia tak ikut turun ke sungai. Sarifuddin hanya bertugas untuk menjadi penunjuk jalan.
"Anjing tuh bocah, dia nggak tau apa kalau lidah gue udah keluar gara-gara turun bukit kayak gini, pake teriak-teriak lagi di atas," kesal Ali yang masih berusaha mengatur nafasnya yang sesak.
"Tian, lo tarik tuh Sarifuddin terus kita tenggelamin dia di sungai!" pinta Islam.
Kristian yang sedang mengusap lehernya dengar air sungai itu menoleh.
"Saya cuman mau minum bukan mau ngebunuh orang," ujarnya lalu kembali mengusap leher dan dadanya dengan air.
"Udah lah mending cepat ambil air!" ujar Abirama yang kemudian menenggelamkan embernya dengan air lalu ia melangkah pergi meninggalkan Islam, Kristian dan Ali yang kini saling bertatapan.
"Enteng banget bilangnya," kesal Islam yang geleng-geleng kepala.
Islam kini ikut mengisi air di embernya membuat Ali dan Kristian bangkit dan ikut melakukan hal yang sama.
Beberapa menit kemudian Islam kini telah berada di tengah-tengah bukit yang jalannya benar-benar miring. Islam pikir turun bukit lebih melelahkan tapi ternyata naik bukit juga jauh lebih melelahkan. Islam menghentikan langkahnya yang berada di jalan menanjak itu, ia menoleh menatap wajah Ali dan Kristian yang sudah pucat dengan mulut yang menganga.
"Ca-pek gu-e!" aduh Ali sambil sesekali menelan salivanya melewati kerongkongannya yang terasa kering.
Islam hanya terdiam, tenaganya sudah habis untuk bicara.
Kristian menghempaskan tubuhnya ke atas rerumputan, tak peduli itu berduri ataupun tidak yang ia tahu ia lelah.
"Ayo cepat!!!" teriak Sarifuddin yang kini sudah bersama dengan Abirama di atas sana.
__ADS_1
Islam, Kristian dan Ali menoleh menatap Sarifuddin dengan wajah lelahnya.
"Sabar anjing!!!" teriak Ali.