Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
62. Tujuh


__ADS_3

Pondok pesantren kini terlihat sunyi, tak ada yang berkeliaran. Semuanya kini telah berada di dalam masjid untuk melaksanakan sholat isya yang akan dilanjutkan dengan sholat tarawih secara berjamaah.


Islam bangkit dari lantai lalu berdiri di samping Sarifuddin yang baru saja telah menyentuh bahunya seakan menyuruh Islam untuk bangkit dari duduknya.


"Nah, kita dengar bagaimana caranya Ustad Rahman melafalkan surah dan bagaimana caranya Ustad Rahman menjadi imam, mungkin kita bisa jadikan contoh," usulnya membuat Islam mengangguk.


Kini sholat dilaksanakan dengan khusyu dan sholat ini seperti biasanya dipimpin oleh Rahman.


Islam senantiasa mendengar dan mencerna baik-baik apa yang dilafalkan oleh Rahman. Bagaimana cara ia membawakan surah itu dengan nada suara yang lemah lembut.


Apa ia bisa seperti Rahman?


...***...


Islam menatap buku yang telah ditulis oleh Sarifuddin untuk ia hapalkan dengan mudah sambil berbaring. Tak ada yang rumit di sini hanya saja tulisan Sarifuddin yang mirip tulisan dokter, susah untuk ditebak.


"Din!" panggil Islam membuat Sarifuddin yang sedang mengaji itu menoleh.


"Kalau misalnya lo dikasih pilihan, mau pilih Khadijah atau Katrin, lo pilih siapa?"


Sarifuddin menghentikan lantunannya lalu terlihat sedang berpikir.


"Siapa?" tanya Islam sambil mengangkat kedua alisnya.


"Tidak ada," jawabnya sambil meletakkan Al-Qur'an itu di atas dadanya lalu berbaring ke kasur.


"Kok, nggak ada?"


"Karena tidak penting. Walaupun saya kasih pilihan maka tetap pilihan kita itu adalah ukti Khadijah."


"Jangan tanyakan pada saya, tetapi tanyakan hal ini pada hati kita karena sesungguhnya Allah ada di dalam semua hati bagi orang yang menyadarinya," jelasnya.


Islam mengangguk tanda mengerti.


Tak berselang lama lampu ruangan kamar mati membuat ruangan kamar menjadi gelap. Cahaya terang terlihat setelah Sarifuddin memukul-mukul senter di telapak tangannya agar bisa menyala.


"Tak ada alasan untuk belajar," ujarnya membuat Islam tertawa.


Islam meraih senter itu dan mengerahkan cahayanya ke arah buku sementara Sarifuddin kini telah merapikan sarungnya bersiap untuk tidur.


"Sudah hapal Al-fatihah?" tanya Sarifuddin.


"Sudah," jawab Islam.


"Tau tidak kenapa surah Al-fatihah itu cuman ada tujuh ayat?"


Islam mematikan senternya dan menoleh menatap Sarifuddin yang sedang menatapnya di tengah kegelapan.


"Kenapa?" tanya Islam dengan rasa penasaran.


"Angka tujuh itu spesial," ujarnya.


"Oh iya?" tanya Islam yang tak percaya.


Sarifuddin mengangguk.


"Apanya yang spesial?"


"Angkat tujuh itu penuh dengan kata sempurna."


"Maksud lo? Gue nggak ngerti."


"Untuk rumus pitagoras, tujuh dianggap sebagai angka sempurna. Tujuh adalah gabungan antara angka tiga dan empat, segitiga dan persegi."


Kedua alis Islam bertaut.


"Lo ini santri atau guru matematika, sih?"

__ADS_1


"Calon anggota DPR saya," jawabnya membuat Islam tertawa.


"Mau tau kesempurnaan apa lagi?" tanya Sarifuddin.


"Apa?"


"Allah menciptakan langit dan bumi lalu Ia berhenti di hari ketujuh dan Allah SWT kemudian mensucikan hari itu."


"Rasulullah juga melewati tujuh lapis langit dan bertemu dengan beberapa Nabi pilihan Allah. Ia harus melewati berlapis-lapis langit tersebut hingga akhirnya bertemu dengan Allah SWT."


"Sekarang saya tanya warna pelangi ada berapa?" tanya Sarifuddin membuat Islam seketika diam membeku.


"Berapa?"


Islam mengangkat jari tangannya sambil membayangkan pelangi.


"Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu."


"Ada tujuh, kan?" tanya Sarifuddin membuat Islam yang sedang mencoba menghitung warna itu menoleh.


"Oh iya tujuh," ujarnya dengan senyum yang terbias.


Islam baru sadar jika warna pelangi ada tujuh.


"Sekarang hitung berapa hari dalam satu minggu?" tanya Sarifuddin.


"Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan minggu."


"Ada tujuh kan?"


Islam tersenyum kegirangan lalu mengangguk.


"Hari ke tujuh hari apa?"


"Hari minggu."


"Nah itu kenapa agama lain sembahyang di hari minggu," jawab Sarifuddin.


"Ih kok bisa gitu, yah?" tanya Islam dengan wajahnya yang agak syok.


"Itu lah istimewanya angka tujuh."


"Selain itu ada lagi?" tanya Islam yang semakin penasaran.


"Nabi Yusuf as sering menyebutkan angka tujuh dalam tafsir mimpinya."


"Kaum Nabi Hud, Kaum Ad. Kaum Ad telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus tanpa henti."


"Ibadah tawaf dilakukan 7 putaran. Seorang mukmin bertawaf di sekeliling Baitullah sebanyak tujuh putaran."


"Setelah itu melakukan sa’i antara shafa dan marwa sebanyak tujuh kali juga lalu melempar jumrah sebanyak tujuh kali."


"Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam menerangkan orang-orang yang akan dinaungi oleh Allah SWT pada hari kiamat itu hanya menyebutkan tujuh golongan."


"Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam juga bersabda: 'Khatamkan al-Quran setiap 7 hari dan jangan lebih cepat dari itu' seperti itu."


"Malam lailatul qadar banyak yang menyebutkannya terjadi pada angka ganjil dan salah satunya adalah angkat tujuh."


Sarifuddin kini terdiam setelah menjelaskan panjang lebar membuat Islam sadar jika pria berpeci yang selalu miring ini bukanlah santri biasa.


Dia adalah pria yang punya banyak ilmu. Bagaimana bisa ada orang secerdas Sarifuddin yang berada di dalam pesantren yang jauh dari kota.


Ada berlian di dalam pondok pesantren dan kini berlian itu sedang terbaring di atas kasur yang agak tua.


"Kenapa lo tau semua itu? Lo belajar dari mana, sih sampai punya banyak ilmu kayak gitu?"


Sarifuddin tersenyum.

__ADS_1


"Dari Al-qur'an."


"Semua yang lo tau ada di situ?" Tunjuk Islam ke arah Al-Qur'an yang sedang dipeluk oleh Sarifuddin.


"Iye," jawabnya.


"Wah," kagum Islam dengan nada suaranya yang seakan berbisik.


Islam untuk kesekian kalinya kagum pada benda yang bernama Al-Qur'an itu dan pada Sarifuddin yang telah menyebutkan sebagian kecil dari Al-qur'an.


"Sudahlah hapal mi cepat itu!" Tunjuk Sarifuddin pada buku yang dipegang oleh Islam.


Islam tersenyum lalu kembali menyalakan senter untuk melihat tulisan Sarifuddin.


"Kok ini nggak mau nyala?" tanya Islam.


"Dipukul dulu!"


Islam memukul senter itu di telapak tangannya dan tak berselang lama senter itu menyala membuat Islam terkejut. Sarifuddin tertawa membuat Islam ikut tertawa.


Kali ini Islam harus benar-benar serius untuk menghapal surah-surah pendek agar ia bisa menjadi imam masjid. Untuk apa ia menjadi seorang pria jika tidak bisa menjadi imam. Rahman juga seorang pria, sama sepertinya dan itu berarti ia juga bisa.


...***...


Islam melangkah menuruni anakan tangga bersama dengan Sarifuddin setelah ia selesai melaksanakan sholat subuh secara berjamaah di masjid.


Islam memelankan jalannya ketika ia melihat Rahman dan Khadijah yang sedang berdiri berhadapan. Walau jarak mereka tidak dekat tapi tetap saja mereka terlihat sedang berbicara, entah apa yang mereka bicarakan Islam juga tidak bisa mendengarnya.


"Ayo Islam!" ajak Sarifuddin yang terlihat telah memakai sendal miliknya.


Sarifuddin mengernyit heran pada Islam yang terlihat terpatung menatap sesuatu membuat Sarifuddin menoleh ke arah apa yang Islam lihat.


Khadijah yang mendengar nama Islam disebut langsung menoleh menatap Islam yang kini sedang menatapnya.


Islam tersenyum walau terlihat terpaksa ke arah Khadijah.


Rahman ikut menoleh menatap Islam yang kini mulai melangkah turun dari tangga dan mendekati keduanya.


"Assalamu'alaikum," ujar Islam sembari tersenyum.


"Waalaukumsalam," jawab Rahman dan Khadijah secara bersamaan.


"Ngebahas apaan, sih?" tanya Islam yang menatap Rahman dan Khadijah secara bergantian.


"Nggak baik loh kalau ngomong berduaan kayak gini yah nggak apa-apa, sih tapi jangan sering-sering."


"Em buat lo, bro," ujar Islam sambil menepuk pundak Rahman.


"Kalau mau ngomong-ngomong aja, sih tapi kayaknya nanti lo udah nggak bisa ngomong kayak gini lagi sama Khadijah."


"Kenapa begitu?" tanya Rahman.


"Karena nanti Khadijah bakalan nikah sama gue. Sekarang lo boleh ngomong sama Khadijah tapi nanti lo udah nggak bisa," ujar Islam lalu melangkah pergi meninggalkan Rahman dan Khadijah.


Sarifuddin berlari mengikut di belakang Islam yang terus melangkah.


Khadijah menarik nafas dan menahannya di dada.


"Khadijah permisi, Assalamu'alaikum," pamit Khadijah lalu ikut melangkah pergi.


Rahman terdiam terpatung ditempatnya berdiri.


Perkataan Islam telah meracuni pikirannya. Ini tak boleh dibiarkan, Islam tak boleh memiliki Khadijah dan Rahman harus berbuat sesuatu.


...----------------...


Kira-kira apa yang akan Rahman lakukan?

__ADS_1


Ada yang tau?


🌸Salam sayang dari Author🌸


__ADS_2