Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
96. Welcome


__ADS_3

2 Tahun Kemudian...


Suara gemuruh tepuk tangan terdengar setelah Islam memotong pita untuk meresmikan Restoran berlantai tiga yang diberinama Restoran Islam.


Di sini bukan hanya ada para tamu tapi juga para pendiri pondok pesantren yang datang, seperti Abah Habib, Umma Nur, Akbir, ustazah Fitri, ustad Hasim, ustad Firdaus, ustad Faizal, Rahman, Nenek Una, Nenek Sia, Katrin, Sarifuddin dan ketiga sahabat Islam, Abirama, Kristian, Ali dan tak ketinggalan istri Ali yang tetap setia dengan kameranya.


Islam tersenyum saat Mawar dan Akbar memberikannya pelukan hangat dan rasa bangganya pada Islam.


Islam menoleh menatap istrinya, Khadijah yang kini tersenyum menatapnya. Islam mengecup pipi kiri dan kananya lalu ia menunduk untuk mengecup perut istrinya yang telah mengandung calon bayi dari Islam yang kini telah berusia tujuh bulan.


Semua orang melangkah masuk ke dalam restoran dan menikmati hidangan yang ada telah disediakan di dalam sana.


"Welcome to restoran Islam!!! Di sini dijamin nggak ada babinya!!!" teriak Ali yang sedang memperlihatkan papan menu di pinggir jalan.


"Kamu teh yang benar kalau ngomong, atuh," tegur Kristian.


"Lah, emang benar kan nggak ada babinya."


"Tapi kamu teh tidak usah disebut! Nanti orang bisa salah paham."


Abirama menggeleng, dua pria ini selalu saja berdebat.


"Papa!!!" suara anak kecil terdengar membuat semua orang menoleh menatap bocah laki-laki yang berlari menghampiri Ali.


Ali tersenyum dan memeluk bocah laki-laki itu. Yah, bocah itu adalah putra dari Ali, Alfa namanya yang baru berusia satu tahun lebih.


"Widih, udah besar aja, nih kecebong si Ali," ujar Abirama yang mencubit pelan pipi Alfa.


"Jangan ikutin Papa kamu, yah! Papa kamu soalnya nggak bener," ujar Kristian.


"Eh, enak aja lo. Gue udah tobat kali."


"Alhamdulillah," ujar mereka dengan kompak.


"Nah, lo berdua kapan nikah?" tanya Islam membuat Kristian dan Abirama garuk-garuk kepala.


"Nikah lo biar punya bocah kayak gue. Noh kayak si Islam udah ada calon babi-"


"Baby goblok!" tegur Islam.


"Gila, katanya udah tobat," sahut Abirama.


"Keceplosan gue."


"Nih, lo tunggu anak gue keluar nanti terus gebukin anak lo."


"Waduh, bahaya."

__ADS_1


Suasana restoran kini begitu sangat ramai dengan kedatangan para tamu yang berdatangan tanpa henti. Abirama, Kristian Ali dan Sarifuddin adalah salah satu pelayan di restoran ini lengkap dengan seragam putih khusus untuk pelayan.


Mengenai dengan Sarifuddin, Sarifuddin kini tinggal bersama dengan keluarga Akbir dan Akbir telah mengangkat Sarifuddin menjadi anak angkatnya.


Akbir juga telah memutuskan untuk membangun rumah tepat di samping rumah Akbar agar mereka tak merasa jauh.


Berkat Akbir kini Sarifuddin telah duduk dibangku kuliah untuk mewujudkan cita-citanya menjadi anggota DPR.


Selama Sarifuddin menjadi anak dari mereka, kehidupannya jadi berubah. Sarifuddin bisa kembali merasakan rasanya memiliki sebuah keluarga lengkap.


Sarifuddin tersenyum malu saat Aisyah menoleh lalu ikut tersenyum, sejak tadi Sarifuddin terus menatapnya tanpa henti. Gadis berparas bule yang kini menjadi gadis yang dicintai oleh Sarifuddin.


Sarifuddin berlari dan meraih nampang berisi gelas kotor yang di angkat oleh Aisyah.


"Sini biar ana yang bawa."


"Tidak perlu, akhi."


"Tidak apa-apa biar ana saja!"


Aisyah tersenyum saat nampang itu telah berhasil berpindah tangan ke tangan Sarifuddin. Sarifuddin membawanya pergi dengan perasaan bahagianya.


"Ramai juga, yah."


"Iya," sahut Kristian membuat Abirama menoleh.


"Restoran apa?"


"Namanya restoran Kristen."


"Waduh, enak tuh isinya babi semua. Kalau begitu saya juga mau, namanya restoran Hindu."


"Asek."


Kristian dan Abirama tertawa. Sepertinya rencananya itu lumayan bagus juga.


Katrin yang sedang melangkah itu menghentikan langkahnya setelah tanpa sengaja ia menabrak seseorang membuatnya dengan cepat menoleh.


Katrin mengerutkan dahinya menatap Rahman yang terlihat menunjuknya seakan ia mengenal Katrin.


"Katrin!" Tunjuk Rahman.


Katrin menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Rahman.


"Lo Rahman, yah!" Tunjuk Katrin.


Yah, mereka saling mengenal sebab mereka telah bersahabat sejak kecil dan pendidikanlah yang memisahkan mereka. Katrin dulu merupakan santriwati di pesantren dan Rahman adalah santri di pesantren juga hingga Katrin memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di kota Jakarta dan Rahman melanjutkan pendidikannya di Arab Saudi.

__ADS_1


Mereka tiga bersahabat dan satunya lagi adalah Khadijah yang kini telah menjadi calon ibu dari janin yang sedang dikandungnya.


"Bagaimana kabar ukhti?" tanya Rahman.


"Alhamdulillah baik kalau lo gimana?"


"Baik juga syukur Alhamdulillah. Emmmm, udah nikah?" tanya Rahman membuat Katrin tertawa.


"Belum, kalau lo?"


"Belum juga," jawab Rahman sambil menggeleng dengan senyumnya.


Kini suasana menjadi canggung. Rasanya malu jika mereka mengingat masa kecilnya yang selalu main di sungai tanpa mengunakan baju karena ingin main air.


Bagi Katrin, Rahman adalah sahabat yang selalu menggendongnya sementara Khadijah selalu menangis di belakang karena tak digendong oleh Rahman. Lumayan konyol jika membahas tentang kisah kecil mereka.


Islam tersenyum menatap keramaian restorannya. Rahman berbincang dengan Katrin, Ali sibuk menggendong buah hatinya dengan wajah tertekan sementara sang istri, Kia sibuk dengan kameranya.


Abirama dan Kristian sibuk melayani beberapa para tamu, para ustad sibuk berbincang dengan Abah Habib yang selalu setia didampingi oleh Umma Nur sementara Akbir dan sang istri, ustazah Fitri sedang duduk di meja makan berhadapan dengan Akbar dan Mawar sambil sesekali tertawa.


Akbir dan ustazah Fitri kini juga telah merasa sangat bahagia karena Sarifuddin telah menjadi anaknya membuat mereka bisa merasakan rasanya memiliki anak, impian mereka yang paling keduanya ingingkan selama ini.


Islam melangkah mendekati Khadijah yang berada di luar restoran.


"Kenapa?" tanya Khadijah.


Khadijah tersenyum lalu menggeleng. Tak bisa ia ungkapkan perasaan bahagia ini dengan sebuah kata-kata, ini bukanlah akhir dari kisah ini. Kisah ini masih panjang.


Islam memeluk tubuh istrinya lalu ia berlutut menatap perut istrinya yang setiap menitnya ia cium dengan penuh cinta.


"Dua bulan lagi, Nak. Dua bulan lagi kita akan bertemu. Wellcome to dunia nantinya, Nak dan welcome to restoran Islam."


Islam bangkit dan melangkah masuk ke dalam restoran sambil melingkarkan tangannya di pinggang Khadijah dengan perasaan bahagia.


Rasa bahagia yang tak henti-hentinya Islam panjatkan kepada Tuhan karena telah memberinya kebahagiaan seindah ini.


Kenangan yang paling terindah bagi Islam adalah kenangannya disaat belajar puasa di pesantren dan kelak nanti jika buah hatinya telah besar maka Islam berjanji akan mendidiknya dengan nilai agama dan yang lebih utamanya adalah belajar puasa.


Yah, cukup Islam yang belajar puasa diusia dewasanya, tak perlu pada putranya dan Islam akan mengajarkan puasa pada anaknya kelak seperti Sarifuddin, tokoh pria yang paling Islam kagumi dalam hidupnya yang puasa diusia lima tahun.


Tanpa Sarifuddin maka siapalah Islam sekarang.


Dan untuk Sarifuddin welcome to keluarga besar Abah Habib berserta Umma Nur.


Dan untuk kamu! Iya kamu yang sedang menatap tulisan ini.


Welcome to akhir kisah Islam belajar puasa.

__ADS_1


...~Tamat~...


__ADS_2