Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
24. Dia


__ADS_3

Islam terdiam sambil menyentuh tempat tisu berwarna biru. Rasanya tak ada semangat pada dirinya. Setelah keluar kelas rasanya kepalanya berat disaat Ustad Hasim sesekali memberikan pertanyaan kepadanya yang sama sekali tak dimengerti oleh Islam. Jika dipikir rasanya Ustad Hasim pilih kasih dimana ia hanya terus bertanya pada Islam tanpa pernah bertanya pada Ali, entah mengapa seperti itu.


Kini mereka duduk diam di sebuah meja makan, ada banyak meja di sini. Sudah sejak tadi para santri di kantin menatapnya dan juga menatap ke arah tiga sahabatnya itu yang tak henti-hentinya tertawa dan bercanda seperti orang gila.


Sarifuddin meletakkan piring berisi makanan di atas meja membuat Islam dan tiga sahabatnya itu menoleh.


"Wih makanan!" ujar Ali dengan berbinar, tangannya berniat meraih piring itu namun dengan cepat diangkat oleh Sarifuddin.


"Ini punya ku, kalau mau, kita semua antri di sana!" Tunjuk Sarifuddin ke sebuah arah membuat Islam menoleh menatap para santri yang berbaris panjang sambil memegang piring.


"Kalau makan harus gitu? Antri dulu?" tanya Islam tak menyangka.


"Iye," jawab Saruffuddin yang rongga mulutnya sudah penuh dengan makanan.


Islam menghembuskan nafas lelah, mengapa hidup di pesantren harus serba mandiri. Islam tak pernah membayangkan akan seperti ini. Jika di rumah ia akan hanya duduk diam di kursi sementara semua makanan akan disiapkan oleh Mawar, Umi-nya.


Islam menoleh, niatnya ingin bertanya kepada tiga sahabatnya itu apakah mereka akan ikut mengantri atau malah tidak ikut makan namun kedua mata Islam terbelalak menatap kiri dan kanannya yang sudah kosong, tak ada tiga sahabatnya itu lagi.


"Mereka semua dimana?" tanya Islam kepada Sarifuddin yang dengan santainya menunjuk.


Islam menoleh menatap Kristian, Abirama dan Ali yang terlihat ikut mengantri sambil memegang piring yang siap untuk diisi dengan makanan.


"Pergi saja cepat! Nanti nasinya habis!" ujar Sarifuddin yang masih sibuk mengunyah.


Mendengar hal itu membuat Islam bangkit dari karpet merah lalu melangkah ke arah meja tempat piring yang tak jauh dari antrian para santri yang kelaparan.


Islam yang ikut berdiri di belakang santri itu kini menggeleng pelan menatap Ali yang merebut barisan salah satu santri yang hanya bisa pasrah. Bukan hanya Ali yang melakukan kecurangan itu tapi Kristian dan Abirama yang merebut barisan antrian para santri. Tak butuh waktu lama bagi mereka bertiga untuk mencapai meja yang telah disajikan dengan beberapa jenis lauk, entah apa Islam tak bisa melihatnya.


Islam yang berdiri lemas tanpa ada rasa semangat menyalip atau merebut barisan santri kini membulatkan mata dengan tatapan tak menyangka melihat Kristian, Abirama dan Ali yang sudah keluar dari barisan sambil membawa piring yang telah terisi dengan makanan.


Islam yang melihat itu hal itu tak mau kalah, dengan cepat ia melangkah ke barisan paling depan membuat santri yang berada di depan itu merasa tak nyaman membuatnya menatap Islam dengan serius, baru kali ini ada yang melakukan hal curang.


"Kenapa lo? Nggak suka?" tanya Islam, nyolot membuat santri itu menggeleng.


Islam menoleh, ia menyendok nasi putih dan meletakkannya di atas piring. Islam yang serius dengan lauk pauk yang ada di atas meja itu kini teralihkan ketika ia tak sengaja melihat seorang gadis berjilbab pink dengan cadar hitam yang menutupi bagian separuh wajahnya dan hanya memperlihatkan bulu mata hitam nan lentik serta alisnya yang terukir indah dengan alami tanpa ada tambahan dari pensil alis. Gadis itu terlihat sedang sibuk menuangkan sayur kangkung tumis ke dalam sebuah wadah di atas meja hidangan.


Islam melangkah mendekati lauk pauk yang membawanya dekat dengan gadis bercadar yang tubuhnya terlihat kecil ditutupi jilbab besarnya yang menutupi dadanya. Kulit dahinya putih bersih dan berkilau membuat Islam tak berkedip sedikit pun.


Kini gadis itu berdiri tepat dihadapan Islam yang hanya dipisahkan oleh meja hidangan. Gadis bercadar hitam itu melangkah pergi tanpa pernah mengangkat pandangannya, jika saja gadis bercadar itu mengangkat pandangannya mungkin ia akan melihat Islam yang tak henti-hentinya meletakkan telur saus kecap ke atas piringnya.


Islam duduk di atas karpet, meletakkan piringnya di atas meja membuat Kristian, Abirama, Ali dan Sarifuddin terkejut bukan main. Dari sini sangat jelas jika Islam tak mengambil telur sesuai anjuran pesantren, piringnya penuh dengan nasi putih yang ditutupi dengan telur saus kecap.


"Astagfirullah, banyaknya!" kaget Sarifuddin.

__ADS_1


"Tau aja kamu, Lam kalau telur abdi udah habis," ujar Kristian dengan logat sundanya yang kental sambil tertawa cengengesan dan meraih telur dari atas piring Islam yang terlihat sesekali menoleh ke arah meja dimana masih banyak yang mengantri.


"Makanya lo kayak gue dong," ujar Ali yang meraih telur yang telah disembunyikan di bawah nasi putih.


Sarifuddin menggeleng.


"Kalau seperti ini bisa-bisa santri yang lain ndak dapat telur," ujar Sarifuddin.


Islam yang masih terdiam itu kini kembali menoleh berusaha mencari gadis bercadar itu yang tak kunjung kembali. Islam tak melihatnya lagi.


"Endak usah mi dicari!" ujar Sarifuddin membuat Islam menoleh menatap Sarifuddin yang terlihat menatapnya dengan tatapan mengejek, sepertinya Sarifuddin tau apa yang sejak tadi Islam cari.


"Enak tuh kalau makan mi, mana mi? Tadi gue nggak liat di meja," cerocos Ali sambil mengangkat piringnya.


"Mi apa?" tanya Sarifuddin tak mengerti.


"Nah lo tadi yang bilang katanya ada mi!"


Sarifuddin terdiam sejenak lalu menggeleng sambil tersenyum membuat senyum ciri khasnya itu kembali terlihat.


"Mi itu adalah kata tambahan dari kalimat Bugis," jelasnya.


"Jadi bukan makanan?" tanya Ali dengan wajah datar tanpa ekspresi membuat Sarifuddin mengangguk.


"Aneh bahasa lo," kesalnya yang kembali menyuapi mulutnya dengan makanan.


"Tidak usah dicari!"


Islam terkejut, dengan cepat ia menoleh menatap Sarifuddin.


"Maksud lo?"


"Dia hanya muncul satu kali itupun hanya untuk mengisi sayur kangkung."


Islam mendekatkan jarak duduknya, merasa antusias dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Sarifuddin.


"Kok lo tau?"


"Memang begitu, saya hanya bisa liat dia itu dua kali dalam sehari itupun kalau dia menuangkan sayur kangkung," jelasnya.


Islam mengangguk lalu kembali menatap ke arah dimana ia terakhir kali melihat gadis bercadar itu.


Kini suasana menjadi sunyi, mereka semua sibuk dengan makanannya kecuali Islam yang sibuk mencari sosok gadis bercadar itu.

__ADS_1


"Din!" bisik Islam membuat Sarifuddin menoleh.


"Lo kenal sama cewek yang mulutnya ke tutup itu?"


"Itu cadar!"


"Oh, yah mana gue tau, tapi lo kenal kan?"


Sarifuddin terdiam sejenak lalu berbisik, "Dia itu Ukhti Khadijah."


"Dia anaknya pak Ustad Hasim, kita tau kan ustad Hasim? Itu yang tadi mengajar kita di kelas."


Islam mengangguk, Bagaimana bisa ia lupa dengan pria gemuk itu.


"Nah dia itu anak bungsunya ustad Hasim, yang paling bontot. Ustad Hasim itu punya tiga Anak, dua perempuan dan satu laki-laki, nah yang ukhti Khadijah ini yang anak terakhir."


Islam mengangguk, tatapannya begitu serius.


"Dia itu cantik, benar-benar cantik dan sholeha."


"Lo udah pernah liat mukanya?"


Sarifuddin menggeleng.


"Terus gimana caranya lo tau dia cantik?" tanya Islam.


"Liat saja dari matanya, matanya sudah memperlihatkan dia itu cantik."


"Dia itu spesial dan istimewa."


"Dia itu calon istri idaman para santri, dia itu baik hati, kalau bicara begitu lembut sekali persis seperti bubur bayi dan dia itu selalu menunduk jika bicara dengan laki-laki."


"Dia itu pemalu persis seperti daun putri malu tapi yang ini tidak ada durinya."


"Dia itu hapal 30 juz Al-quran, pokoknya idaman sekali tidak ada kekurangannya."


"Hah indah sekali," kagumnya dengan wajah berbinar sementara disatu sisi Islam terdiam, ia kembali menoleh ke arah meja hidangan yang benar-benar tak memperlihatkan gadis itu lagi.


Kemana dia?


Kemana gadis bercadar itu ?


Dimana dia?

__ADS_1


.....


Dia Khadijah!


__ADS_2