Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
51. Bacaan Sholat


__ADS_3

Islam menyandarkan punggungnya ke dinding dengan raut wajahnya yang terlihat sedih.


Sholat isya kali ini seperti biasa dipimpin oleh Rahman dan hal inilah yang membuat Islam berhasil diam, tak seperti biasanya.


Islam menoleh menatap Rahman yang terlihat menyalimi Abah Habib, Akbar dan para pengurus pondok pesantren. Jika saja dia paham agama mungkin Islam lah yang ada di sana, bukan Rahman.


Islam menghela nafas panjang. Apakah ia salah harus bersaing dengan Rahman untuk mendapatkan Khadijah?


Dibandingkan dengannya, sudah jelas jika Khadijah akan memilih Rahman untuk menjadi suaminya.


Islam saat ini langsung sadar diri. Islam sadar dan Islam tau bagaimana dirinya saat ini.


Rahman adalah imam masjid sedangkan Islam sholat saja jarang.


Rahman penghafal Al-Qur'an sedangkan Islam mengaji saja sudah lupa.


Rahman lulusan sekolah agama sedangkan Islam hanya lulusan sekolah negeri itupun Islam harus keluar masuk ruangan BK karena kenakalannya.


Rahman adalah ketua organisasi keagamaan sedangkan Islam adalah ketua geng motor yang ditakuti dan selalu meresahkan warga.


Rahman selalu bertutur kata yang lembut sementara Islam selalu berujar dengan kata-kata kasar.


Sahabat Rahman kebanyakan seorang hafiz sedangkan Islam memiliki sahabat yang berbeda agama dengannya terutama dengan Ali yang brengseknya minta ampun.


Islam menghela nafas panjang, dadanya terasa sesak setelah memikirkan ini semua.


Apakah mungkin ia akan bisa seperti Rahman dan mendapatkan hati Khadijah.


Jika dipikir-pikir perempuan mana yang tak tergila-gila kepada Rahman yang begitu memiliki banyak keahlian di bidang agama dan keahlian di atas mimbar serta di atas sajadah semetara Islam hanya pandai bergaya-gaya menantang maut di atas motor.


Tuhan, mengapa terlalu sempurna saingan Islam dalam hal meraih hati Khadijah?


"Kenapa?" tanya Sarifuddin.


Islam terdiam. Ia melirik Sarifuddin sesaat lalu ia tersenyum dan tertunduk.


"Ada masalah apa?" tanya Sarifuddin.


"Gue nggak tau. Sebenarnya bukan gue yang ada masalah tapi gue yang cari masalah."


Sarifuddin terdiam, ia ingin mendengar Islam kembali bicara. Sarifuddin tak ingin bertanya tentang hal itu. Sarifuddin bisa melihat jika saat Ini Islam begitu sangat serius.


"Gue salah karena gue udah jatuh cinta sama Khadijah," ujarnya tulus.


Sarifuddin terdiam. Ia ikut tertunduk dengan perasaan sedihnya. Baru kali ini Islam berbicara tentang hal itu.


Islam menoleh menatap Rahman yang kini sedang sholat dengan khusyu.


"Gue nggak yakin bisa bersaing sama si Rahman."


"Kenapa begitu?"


"Yah lo liat aja lah! Semua orang pasti udah tau gimana gue dan gimana sama si Rahman."


Sarifuddin mengelus pundak Islam yang kini terlihat terpatung.


"Jangan pantang menyerah! Jodoh itu sudah diatur, tinggal kita yang menjalani," jelasnya.


Islam menoleh menatap Sarifuddin yang jarak wajahnya tidak terlalu jauh.


Sarifuddin terdiam dan gerakan tangannya yang mengelus pundak Islam terhenti dengan kedua matanya yang menatap wajah Islam.


Islam mengernyit heran. Ada apa dengan pria ini?

__ADS_1


"Lo kenapa?" tanya Islam.


"Kalau diliat-liat muka kita itu kayaknya ganteng sekali yah," pujinya sambil tersenyum.


Islam melongo. Baru kali ini ketampanannya dipuji oleh seorang pria.


"Ih apaan sih lo?" tanya Islam yang kemudian menghempas tangan Sarifuddin dan menggeliat geli.


...****...


"Ini!"


Sarifuddin meletakkan buku berwarna biru di atas kasur milik Islam. Islam menunduk menatap buku itu dan meraihnya.


"Buku apaan nih?"


"Itu buku bacaan sholat," jawabnya lalu meraih toples kripik pisang di lemari bajunya dan duduk di atas kasur sambil menatap Islam yang terlihat membuka tiap lembaran kertas buku itu dengan wajah kebingungan.


"Ini mau buat apa sih?" tanya Islam.


"Itu buat bekal jadi imam. Kalau mau jadi imam berarti harus bisa hapal bacaan sholat."


"Emang wajib?"


"Yah wajib lah."


Islam kembali membuka lembar tiap lembar buku itu dan menatapnya dengan serius.


Di buku ini begitu sangat lengkap dari tatacara wudhu sampai gerakan dan bacaan sholat pun ada. Islam bisa melihat bacaan sholat dari berbagai gerakan.


Selama ini yang Islam pikir adalah hanya melakukan gerakan sholat saja tetapi disetiap gerakan itu memiliki bacaan tertentu.


"Ini kok tulisannya ada yang Arab sih? Gue kan udah lupa cara ngaji."


Islam yang masih kebingungan itu mulai menatap tulisan huruf yang berada di bawah huruf hijaiyah.


"Panjang banget," keluhnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Memang begitu," jawab Sarifuddin dengan santai.


"Ini lo hapal semua?" tanya Islam sambil memperlihatkan huruf hijaiyah bacaan iftitah.


"Iye."


"Harus?"


"Lah iya dong harus," jawab Sarifuddin.


Islam mendecapkan bibirnya dengan perasaan lelah. Belum Islam membacanya dan hanya menatap huruf hijaiyah-nya saja sudah lelah, apalagi ia harus membacanya.


Islam membuka setiap lembaran sampai ke lembaran terakhir membuatnya tak habis pikir. Islam membaringkan kepalanya yang pening itu membuat Sarifuddin mengernyit heran.


"Kenapa?"


"Pusing gue."


"Pusing kenapa?"


"Gue pikir kalau sholat itu yah sholat aja, nggak usah ada bacaan tapi ternyata gila, banyak banget."


"Itu tidak banyak kalau kita mau belajar."


Islam mengerakkan kepalanya yang masih terbaring itu menatap ke arah Sarifuddin yang sedang meletakkan toples ke dalam lemari dan menutupnya dengan rapat.

__ADS_1


"Apa gue nyerah aja yah?"


"Wih, jangan dong!" kagetnya.


"Yah masalahnya panjang banget, gila."


Islam menghempaskan buku itu ke atas dahinya dan kembali menghela nafas panjang.


"Kalau kita ini menyerah sekarang berarti kita akan menyesal nanti."


"Belajar terus nanti juga bisa."


"Tidak ada orang yang bisa langsung bisa, semuanya pasti harus belajar dulu. Saya juga dulu begitu, harus belajar dulu."


Islam bangkit dari kasurnya lalu ia terdiam dengan wajah sedihnya.


"Saya juga dulu begitu tapi saya belajar samapai bisa."


"Kalau tidak mau belajar yah tidak akan bisa."


"Tapi ini susah, Din," ujar Islam.


"Susah kalau cuman diliat saja."


"Kalau gue yang cuman liat aja susah apalagi kalau gue mau ngehapal semuanya."


"Kalau susah berarti saya juga tidak bisa tapi buktinya saya bisa," jelas Sarifuddin.


Islam tersenyum menatap Sarifuddin yang terlihat ikut tersenyum.


"Iye to?" tanyanya membuat Islam tertawa.


"Iya juga sih," jawab Islam sambil mengangguk.


"Jadi siap belajar?"


"Siap!!!" teriak Islam semangat 45 yang membara sambil mengangkat tinjunya.


Senyum Islam lenyap ketika ruangan kamar menjadi gelap, Yap lampu telah dimatikan dari pusat.


"Yah, baru juga mau belajar," kesal Islam di tengah kegelapan.


Kedua mata Islam membulat menatap kaget pada senter yang dinyalakan tepat di bawah dagu Sarifuddin membuat wajah Sarifuddin persis seperti hantu.


"Ah brengsek, kaget gue!" kagetnya.


"Tak ada alasan untuk belajar,"


bisiknya persis seperti hantu.


Islam kini tersenyum membuatnya tertunduk menatap lembar buku bacaan sholat yang disenter oleh Sarifuddin.


Islam mulai membacanya sementara Sarifuddin sesekali membenarkan bacaan yang salah saat diucapkan oleh Islam.


Tak peduli malam yang telah larut atau gelapnya ruangan kamar yang hanya diterangi oleh cahaya senter.


......................


Catatan :


Kata Kita yang selalu diucapkan oleh Sarifuddin memiliki arti kata Kamu dalam bahasa Bugis, Sulawesi Selatan.


Kata Kita merupakan kata yang dianggap lebih sopan.

__ADS_1


Jadi jangan salah paham yah readers. ◉‿◉


__ADS_2