Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
88. Pernikahan


__ADS_3

Suasana rumah ustad Hasim kini telah ramai dengan kedatangan para tamu yang mulai berdatangan. Tidak terlalu banyak karena mereka hanya mengundang orang yang dekat-dekat saja.


Semua orang telah berkumpul karena tak lama lagi acara akad nikah akan segera dimulai. Rahman terlihat tersenyum bahagia. Jas putih, peci putih dan pita hitam telah menghias penampilannya di hari yang spesial ini.


Di tempat yang berbeda dan di waktu yang sama di dalam kamar, Islam terdiam dengan wajah sedihnya menatap namanya dan nama Khadijah yang tertera di permukaan kertas undangan kusut.


Undangan yang pernah ia ingin beli tapi diberi percuma oleh pria pembuat undangan beberapa hari yang lalu.


Islam boleh saja mengungkapkan kata ikhlas untuk melepas Khadijah tapi tidak dengan hatinya. Sejujurnya hati Islam menginginkan Khadijah, yah gadis bercadar itu.


Islam sudah mencoba untuk melupakan Khadijah tapi tak mudah baginya untuk melupakan. Setiap malam bayangan Khadijah selalu terbayang menghantuinya.


Air mata Islam menetes membasahi permukaan kertas undangan itu tepat di atas nama Khadijah. Islam meremuk kertas itu lalu tak berselang lama ia bangkit dari kasurnya dan melangkah pergi.


...***...


Khadijah terdiam menatap tubuhnya yang telah terbalut dengan pakaian pengantin berwarna putih bertabur kilauan indah dan di atas jilbabnya telah dihiasi dengan mahkota berkilau.


Khadijah menghela nafas. Ia menunduk menatap bouquet bunga mawar putih di atas meja.


Hari ini ia benar-benar akan menikah dengan Rahman!


Pintu terdengar terbuka membuat Khadijah menoleh. Ia langsung terkejut menatap siapa yang ada di hadapannya.


"Akhi Islam!"


Tatapnya kaget. Ia bisa melihat kedua mata Islam yang memerah dengan nafas tersengal, sepertinya Islam telah berlari untuk bisa sampai ke sini.


Islam mendekat dengan langkahnya yang begitu sangat berat membuat Khadijah sedikit takut. Ada banyak kesedihan pada mata pria bernama Islam itu.


Islam menghentikan langkahnya lalu terdiam menatap Khadijah yang sorot matanya penuh tanda tanya.


"Apa kamu mencintai saya?" tanya Islam membuat Khadijah terkejut.


"Katakan!"


"Apa kamu mencintai saya?"


Khadijah tertunduk lalu memutar tubuhnya membelakangi Islam.


"Pergilah akhi! Nanti ada orang yang melihat akhi di sini."


"Kamu belum menjawab pertanyaan saya, Khadijah."


Nafas Khadijah begitu terasa sesak seakan ada yang menekan dadanya sangat kuat hingga ia tak mampu bernafas.


"Jawab pertanyaan saya, Khadijah! Apa kamu mencintai saya?"


Khadijah terdiam kedua iris matanya bergerak bersamaan tidak beraturan seakan tidak ada titik fokus.


"Katakan, Khadijah!"


"Ayo katakan!"


"Apa kamu mencintai saya?"


"Ayo katakan!"


"Iya, ana mencintai akhi Islam!!!" teriak Khadijah yang langsung menoleh menatap Islam yang seketika terdiam.

__ADS_1


"Ya, ana mencintai akhi Islam tapi cinta itu sudah tidak mungkin lagi Khadijah pertahankan."


"Kenapa?"


"Karena Khadijah tidak lama lagi akan menjadi istri dari akhi Rahman."


"Kamu menginginkannya?"


Khadijah seketika terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa lagi.


"Kalau begitu mari!"


Khadijah mengangkat dagunya menatap Islam yang terlihat menjulurkan tangan kananya ke arah Islam sedangkan tangan kirinya masih memegang undangan kusut itu.


"Ikut saya!"


Khadijah mengernyit heran. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Islam lakukan.


"Kalau kamu mencintai saya maka mari ikut saya dan katakan pada semuanya jika kita saling mencintai."


"Dengan cara ini kita akan bersama dan hidup untuk selamanya, Khadijah."


Khadijah menggeleng membuat raut wajah Islam yang penuh harap itu terkejut.


"Afwan, akhi Islam. Khadijah mohon maaf. Ana memang mencintai akhi Islam tapi kehormatan nama Abi tetap nomor satu."


"Menghentikan pernikahan ini dan mengatakan pada mereka semua jika kita saling mencintai bukanlah jalan keluar, itu hanya bisa membuat malu Abi dan Khadijah tidak mau."


"Tapi saya mencintaimu-"


"Cinta ana kepada Abi jauh lebih besar dari itu," potongnya membuat Islam terdiam.


Islam tertunduk sejenak sambil memejamkan kedua matanya dengan keras hingga air matanya itu menetes membasahi pipi.


Islam mengangguk.


"Saya tidak melarang jika alasannya seperti itu."


Islam menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan lewat mulutnya.


"Saya akan be...berdoa yang terbaik untuk kamu."


"Hi..hi...hidup dan bahagialah bersama Rahman sampai tua nanti."


"Jika kelak nanti dia sangat mencintaimu dan kamu juga mencintainya maka jangan beritahu saya karena setelah itu kabar kematian yang akan kamu dengar."


"Jika kelak nanti setelah menikah dan dia memukulmu maka beritahu saya. Saya akan memukul Rahman dan membawamu pergi darinya karena sampai kapanpun saya tetap mencintaimu."


"Saya tak peduli jika kondisimu nanti tak suci lagi setelah bersamanya, saya akan tetap menunggumu."


Islam melangkah pergi dari kamar dan menutup pintu itu dengan pelan. Bersamaan dengan perginya Islam, Khadijah menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menangis sesenggukan.


...***...


"Baik apa boleh kita mulai?" tanya Bapak penghulu yang kini sudah siap dan Rahman yang sudah ada di depannya.


Ia menoleh ke sekeliling dimana sudah banyak orang di sini.


"Mungkin sudah bisa," jawab Ustad Hasim.

__ADS_1


Mawar menoleh saat Islam duduk di sampingnya. Islam tersenyum berusaha untuk bersikap baik-baik saja.


"Apa Islam sudah menangis?"


"Enggak," jawab Islam lalu tertawa.


"Baik mungkin bisa kita mulai sekarang," ujar Bapak penghulu itu membuat semua orang menoleh.


Rahman mengangguk lalu menjulurkan tangannya ke arah Bapak penghulu itu.


Islam mendecapkan bibirnya, tak sanggup ia melihat hal ini, namun ia kembali duduk saat bahunya di tekan turun oleh Akbar.


"Kembali duduk dan jangan pergi kemana-mana!"


Islam hanya bisa menurut


membuatnya mau tak mau ia harus duduk kembali.


"Tunggu!"


Semua orang menoleh menatap Umma Nur yang baru saja membuat semua orang menoleh.


"Sebelum akad nikah Khadijah ingin memperlihatkan wajahnya kepada calon suaminya."


"Tidak usah, Umma. Saya tetap akan menikahinya walaupun saya tidak melihat wajahnya," jelas Rahman.


"Umma tau, tapi ini kemauan Khadijah."


Rahman menoleh menatap ustad Hasim saat dia memegang bahunya.


"Pergilah! Ini kemauan putriku."


Rahman mengangguk lalu ia segera bangkit dan melangkah masuk menuju masuk ke dalam kamar.


Islam gelisah tak karuan. Jari tangannya meremas kesal celananya seakan tak sanggup untuk menghadapi ini semua.


Rahman akan melihat wajah Khadijah! Gadis yang sangat ia cintai!


Pintu kamar ditutup dari luar dan hanya menyisahkan Rahman dan Khadijah di dalam kamar.


Rahman menelan salivanya saat menatap Khadijah yang duduk di pinggir kasur membuat Rahman gugup. Ia melangkah mendekati Khadijah dan duduk di sampingnya.


Khadijah memejamkan kedua matanya yang meneteskan air mata dan nafasnya yang tertahan saat ia merasakan kasur itu bergerak saat Rahman duduk di belakangnya, tidak terlalu dekat tapi itu bisa membuat Khadijah takut.


"Khadijah, ana datang untuk melihat wajah antum," ujarnya.


"A...apa antum sudah siap?"


Rahman tersenyum.


"Yah, tentu saja, ukhti."


Khadijah berusaha untuk mengatur nafasnya yang terasa sesak itu membuat dadanya terasa sakit.


Khadijah menoleh menghadap ke depan Rahman yang menyambutnya dengan senyuman. Khadijah memejamkan kedua matanya dengan jari tangan kananya yang memegang pinggiran cadar yang siap untuk dibuka sementara Rahman terdiam dengan tatapan seriusnya menanti Khadijah untuk membuka cadarnya.


Dengan kedua mata yang masih tertutup serta jari yang gemetar Khadijah berujar, "Bismillahirrahmanirrahim."


Khadijah melepaskan cadarnya di hadapan Rahman yang langsung kehilangan senyuman menatap wajah Khadijah yang terpampang jelas di hadapannya.

__ADS_1


.....


Bersambung.....


__ADS_2