Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
86. Malam Takbiran


__ADS_3

Islam memundurkan duduknya dan bersandar di dinding masjid setelah melaksanakan sholat isya secara berjamaah dan kali ini suasana masjid agak sepi karena para santri dan santriwati telah dipulangkan.


Islam yang sejak tadi menatap Abah Habib yang sedang bicara di atas mimbar itu menoleh setelah mendengar suara tangisan disebelahnya dan itu adalah suara tangisan Sarifuddin.


"Lo kenapa?"


"Saya sedih, kasian."


"Sedih kenapa?"


"Besok itu sudah tidak puasa lagi."


Islam terkejut bukan main. Ia menatap Sarifuddin dengan tatapan tidak menyangka.


"Apa? Jadi besok udah nggak puasa?"


Sarifuddin mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah.


"Tapi kenapa?"


"Kan puasa cuman 30 hari, Lam dan hari ini sudah hari ke 30."


Islam terdiam dengan wajah sedihnya. Bagaimana bisa puasa telah habis sementara masih ingin belajar puasa. Ia masih ingin merasakan bulan puasa, Islam tak ingin berpisah dari bulan yang penuh kebahagiaan ini.


Islam mengusap pipinya yang tiba-tiba saja ditetesi oleh air mata yang jatuh dari kedua matanya.


Mengapa rasanya sangat sakit hanya karena berpisah dengan bulan puasa. Rasa sedih yang tak pernah ia rasakan seperti ini tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Awalnya ia tak peduli tapi mengapa kali ini ia sangat peduli pada perpisahan ini.


"Jangan menangis!" bisik Sarifuddin sambil mengelus punggung Islam yang menangis sesegukan.


"Lo juga nangis."


Sarifuddin mengusap pipinya dan menatap air mata yang ada di telapak tangannya.


"Cuman se...se...sedikit."


...***...


Suara lantunan takbir hari raya terdengar di toa masjid saat di lantunkan oleh Akbar begitu merdu.


Islam meletakkan ponsel ke telinganya dan terdiam menanti jawaban telpon dari sebrang.


"Halo."


Suara dari sebrang terdengar membuat Islam tersenyum bahagia.


"Umi!" teriak Islam seperti anak kecil.


"Islam, Umi rindu, Nak."


"Islam juga rindu, Mi. Umi dimana sekarang?"


"Umi di rumah."


Islam mengigit bibirnya berusaha untuk tidak menangis. Islam bisa mendengar suara sesegukan Mawar dari sebrang.


"Islam kapan pulang, Nak?"


"Islam nggak tau."


"Umi udah masak ketupat sama rendang, itu masakan kesukaan Islam."


"Iya, nanti Islam makan kalau Islam sampai di rumah."


"Islam, jangan nangis, yah!"


"Iya."


Islam mengusap pipinya yang basah itu lalu kembali berbicara panjang lebar.


...****...


Sarifuddin mengusap batu nisan milik Bapaknya sambil sesekali punggung tangannya mengusap pipinya yang basah.

__ADS_1


Setelah berbicara panjang lebar akhirnya ia bangkit lalu menoleh menatap Islam yang kini sedang bersandar di dinding.


"Udah?"


Sarifuddin mengangguk setelah ia tiba di hadapan Islam yang terlihat berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Cengeng banget, sih lo. Masa gitu aja nangis."


"Tapi kita juga tadi menangis."


Islam mendecapkkan bibirnya. Sial! Sarifuddin ternyata mengingat kejadian saat ia tadi memergokinya menangis seperti anak kecil saat bicara dengan Mawar di telpon.


"Udahlah! Lo jangan kasi tau siapa-siapa!" bisik Islam.


Kini keduanya berjalan di siring lapangan yang terlihat samar-samar. Suasana begitu sunyi, hanya ada suara takbiran yang terdengar.


"Sekarang kita ngapain, nih?"


"Tidak ada."


"Masa gitu aja? Masa nggak ada perayaan perpisahan bulan puasa?"


"Tidak ada, palingan semuanya sedang menangis di masjid karena perpisahan bulan ramadhan."


Islam mengangguk, tidak heran lagi jika semua orang menangis. Islam tahu bagaimana sedihnya berpisah dengan bulan puasa.


Islam menghentikan langkahnya lalu menatap jahil pada Sarifuddin.


"Din!"


Sarifuddin menoleh.


"Kenapa?"


"Lo mau nggak malam takbiran ini beda dari tahun yang lalu?"


"Apa?"


Islam tersenyum lalu mengangguk dengan wajah jahilnya dan...


"Buat apa dibakar?"


"Udah bakar aja!"


Petasan itu menyala membuat Islam dengan cepat mengangkatnya ke udara hingga suara keras terdengar dan menghasilkan kembang menyala berwarna-warni di atas sana.


Dor!!!


"Astagfirullah!!!" teriak Abah Habib yang tersentak kaget dari atas sajadahnya.


Abah Habib menoleh sambil mengusap dadanya yang berdebar-debar menatap para ustad yang sama terkejutnya.


"Suara apa itu?" tanya Abah Habib.


Abah Habib berlari keluar dari masjid bersama dengan para ustad yang begitu terbelalak menatap cahaya api di atas sana.


Dor!!!


Abah Habib menutup kedua telinganya sambil memejamkan mata saat ledakan itu terdengar sangat keras.


Abah Habib dan para ustad mendongak.


"Serangan dari mana itu?" tanya Abah Habib.


"Itu petasan. Nah, itu Islam!"


Syuaib menunjuk ke arah Islam yang sedang tersenyum lebar sambil memegang ganggang petasan di samping Sarifuddin yang terlihat meringis ketakutan.


Akbar menggeleng menatap apa yang dilakukan oleh Islam. Untuk pertama kalinya ada yang menyalakan petasan di dalam pondok pesantren.


"Ustad Syuaib! Turun dan suruh Islam berhenti!"


Syuaib mengangguk lalu segera berlari menuruni anakan tangga untuk menghampiri Islam.


"Cepetan nyalain lagi!" bisik Islam tidak sabaran.

__ADS_1


Sarifuddin menyalakan korek api dengan wajah takutnya hingga kembang api berjenis sparklers itu menyala menghasilkan spark atau letupan api yang menyala begitu indah.


"Kebakaran!!!" teriak Sarifuddin yang ketakutan.


Islam tertawa lalu segera berlari di lapangan membuat lapangan yang gelap itu terhias dengan spark yang indah.


"Islam!!!" teriak Syuaib tapi Islam tidak mendengarnya, Islam asik dengan kembang apinya.


Syuaib melangkah mendekati Sarifuddin yang terlihat tersenyum sambil menyalakan korek api ke kembang api itu.


"Sari-"


Ujaran Syuaib terhenti saat Sarifuddin menyodorkan kardus kecil berisi kembang api ke pelukan Syuaib yang menatap heran.


Sarifuddin berlari mengikuti Islam yang terlihat tersenyum lebar dan menggoyang-goyangkan ganggang kembang api itu menghasilkan cahaya panjang yang indah.


Bruak


Suara tawa Sarifuddin lenyap saat tubuhnya terkapar di tanah setelah ia tersandung dan terjatuh ke tanah.


Sarifuddin kembali bangkit lalu mengusap dadanya yang telah terbentur di tanah dan tak berselang lama Sarifuddin kembali tertawa dan kembali berlari di lapangan.


"Numpang lewat!!!"


Sarifuddin menoleh ketika Syuaib berlari dengan kencang melewatinya sambil memegang dua kembang api yang menyala di tangannya.


Akbar menepuk jidatnya lalu menggeleng menatap apa yang Syuaib lakukan bahkan Syuaib ikut bermain disana dan dengarlah suara Syuaib yang paling besar.


"Islam!" panggil Umma Nur yang melangkah mendekati Islam membuat Islam menoleh.


"Sedang apa?"


"Sedang-"


Islam menghentikan ujarannya saat menatap Khadijah yang berdiri di sana.


"Sedang bermain, Umma. Umma mau?"


Umma Nur terdiam sejenak lalu dengan ragu ia mengangguk membuat Islam meletakkan kembang api ke tangan kanan Umma Nur.


"Nanti meledak."


"Tidak, ini cuman menyala."


Umma Nur tersenyum lebar saat kembang api menyala begitu indah.


"Wah, cantik sekali, Nak."


Islam tersenyum lalu mengerakkan tangan Umma Nur ke kiri dan kanan sambil memeluknya dari belakang.


Akbar yang ada di teras masjid terlihat menggeleng pelan sambil menghela nafas panjang. Ia menoleh ke kiri menatap Abah Habib yang sudah lenyap.


Akbar menoleh ke arah kanan dan belakang berusaha untuk mencari sosok Abah Habib yang sudah tak terlihat lagi.


Tak berselang lama suara tawa Abah Habib terdengar membuat Akbar menoleh menatap Abah Habib yang ikut bermain kembang api di bawah sana bersama dengan yang lainnya.


"Islam membawa kebahagiaan," ujar Akbir membuat Akbar menoleh.


"Baru kali ini ada yang berani bermain petasan di tengah-tengah pondok pesantren dan membuat semua orang tertawa."


"Dan itu dilakukan oleh Islam, Anak antum," sambungnya sambil menepuk bahu Akbar.


"Bukan anak ana tapi anak kita," ujar Akbar lalu merangkul bahu Akbar yang tersenyum begitu bahagia.


Keduanya menoleh menatap ke arah lapangan dimana semua orang sedang bermain kembang api di sana.


Suasana malam yang awalnya sunyi kini menjadi indah dengan suara tawa yang beriringan dengan cahaya kembang api yang begitu indah.


Malam takbiran yang dulunya selalu dihiasi dengan tangisan kini dibuat berwarna oleh kehadiran Islam.


Yah, Islam. Mungkin kamu tidak akan percaya jika Islam seperti pelangi berwarna yang menghias di pondok pesantren ini.


Islam, siapa lagi yang bisa membuat semua orang tersenyum dan tertawa jika bukan Islam?


🎆🎇🎇

__ADS_1


__ADS_2