
Sarifuddin membuka pintu membiarkan pria penjaga keamanan itu membaringkan tubuh Islam ke kursi mobil.
"Lepasin gue!" berontak Islam membuat pegangan pria penjaga keamanan itu lepas hingga Islam terjatuh ke tanah.
Abah Habib dan Syuaib berlari mendekati Islam dan membantunya bangkit namun Islam kembali memberontak.
"Gue mau pulang!!!" teriak Islam yang berusaha untuk lepas dari pegangan Abah Habib dan Syuaib namun tubuh lemasnya tak bisa menolak hal itu.
"Pergi sana!!!" teriak penjaga keamanan yang mendorong Ustad Hasim, Akbar dan Akbir keluar dari diskotik.
Akbar menarik nafas panjang berusaha untuk bersabar meladeni pria penjaga keamanan itu yang kini memasang wajah sok sangar.
"Lepasin!!!" teriak Islam membuat Akbar menoleh menatap Islam.
Wajah Akbar memerah karena marah dan membuat rahagnya menegang. Bocah ini yang telah meresahkan semua orang!
"Islam!!!" teriak Akbar yang kemudian berjalan dengan tergesa-gesa mendekati Islam dan berniat untuk memukulnya namun dengan cepat ditahan oleh Akbir.
Kedua mata Akbar terbelalak menatap Akbir yang dengan berani menahan tangannya yang siap untuk menampar pipi Islam yang sudah lemas tak berdaya.
"Lepaskan!" pintahnya dengan nada dingin.
"Tidak," tolak Akbir.
"Lepaskan!!!" teriak Akbar yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Akbir yang menahan pergelangan tangannya cukup keras.
"Mengapa akhi Akbir suka sekali mencampuri urusan anak dan Abi-nya?"
"Abi apa yang akhi Akbar katakan? Mana ada seorang ayah yang mau memukul anaknya dengan tangan seperti ini?" tanya Akbir.
"Akhi Akbir tidak mengerti karena-"
"Karena ana tidak punya anak," potong Akbir.
Akbar kini terdiam menatap raut wajah Akbir yang kembali sedih, tak ada bedanya saat dia di atas mobil.
"Ana memanglah pria yang tidak memiliki anak tapi ana tau bagaimana cara mendidik anak bukan cara mengasari anak," ujar Akbir lalu melepaskan pegangannya dan berpaling meninggalkan Akbar yang kini hanya bisa terdiam.
Oh Tuhan kali ini ia membuat Akbir kembali mengungkit tentang nasibnya itu.
Akbar yang terdiam itu kini mengangkat pandangannya menatap Abah Habib yang terlihat kecewa.
"Ayo masuk!" ajak Abah Habib yang kemudian melangkah masuk ke dalam mobil.
"Pak haji kiyai! Ini motor ana bagiamana?" tanya Syuaib yang menuntun motornya mendekati mobil.
"Taruh saja di situ! Nanti kalau kita ke kota baru motor itu kita bawa pulang," ujar Abah Habib.
"Nanti ada yang ambil."
"Siapa juga yang mau ambil itu motor jelek, mungkin kalau motor itu seperti orang mungkin tuanya sudah seperti pak haji kiyai," sahut Sarifuddin yang sudah berada di dalam mobil membuat Abah Habib tersentak kaget.
"Heh antum jangan sembarang bicara yah!" Tunjuk Syuaib dengan kesal.
"Sudah! Cepat masuk! Nanti waktu sahur kita habis!" pinta Abah Habib.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mobil kini melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan beraspal yang sepi. Di atas mobil yang dikendarai oleh Syuaib sudah ada sepeda motor butut milik Syuaib yang diikat sekuat mungkin.
Bagi Syuaib sepeda motor ini sangat berarti baginya dan tak akan tergantikan, banyak sejarah dan kenangan pada motor ini. Orang lain tidak akan mengerti.
...***...
Bruk
Akbar menghempas tubuh Islam ke lantai setelah ia tiba di ruangan Abah Habib.
Islam meringis, ia sudah separuhnya sadar namun ia masih dibawah minuman alkohol. Malam tadi ia minum banyak sekali hingga perutnya penuh.
"Akbar!!!" teriak Abah Habib yang dengan cepat mendorong Akbar agar menjauhi Islam yang berusaha untuk duduk.
Kini di dalam ruangan hanya tersisa Abah Habib, Islam dan Akbar sementara Ustad Hasim dan Akbir sibuk membersihkan mobil bekas muntahan Islam. Di satu sisi Syuaib sibuk dengan sepeda motornya dan Sarifuddin ada kelas hari ini hingga bukan ia yang mengantar Islam masuk ke dalam ruangan.
"Apa yang kamu lakukan?" Tatap Abah Habib tak menyangka.
"Andai ana tau kalau dia sudah minum di tempat itu mungkin ana sudah benar-benar memukulnya!!!" teriak Akbar penuh emosi.
Akbar kembali melangkah berniat untuk memukul Islam, namun dengan cepat ditahan oleh Abah Habib.
"Jangan Akbar!!! Abah tidak ingin antum memukulnya!"
"Dia telah minum-munuman keras, Abah. Ini adalah perbuatan dosa," jawab Akbar.
"Lalu antum kira memukul anak sendiri itu bukanlah dosa?" tanya Abah Habib.
"Anak apa yang Abah maksud, Abah? Anak yang tidak berguna seperti ini? Dia bahkan tidak tau mana perbuatan yang baik dan buruk," jelasnya.
Suara cekikikan terdengar dari belakang sana membuat keduanya menoleh menatap Islam yang sudah bangkit dari lantai walau ia belum berdiri dengan tegak.
"Siapa gue?" tanya Islam hingga beberapa air mata itu menetes lagi.
Islam tersenyum sinis lalu melangkah mendekati Akbar namun ia kembali terjatuh dan dengan cepat ia kembali bangkit dengan susah payah.
"Siapa gue?!!" teriak Islam yang berhasil membuat semuanya terkejut.
"Siapa gue?!!"
"Gue selalu tanya sama diri gue sendiri, sebenarnya gue ini siapa?"
"Gue ini anak siapa?!!"
"Lo Abi gue atau bukan sih?"
"Kenapa lo selalu bisa nyakitin gue?!!"
"Hah? Kenapa?!!" teriak Islam untuk yang kesekian kalinya.
Nafas Islam sesak, dadanya terasa sakit.
"Gue emang anak yang nggak berguna!!! Gue anak nggak berguna!!!"
"Gue juga nggak mau punya Abi kayak lo!!!"
__ADS_1
Akbar menoleh mengalihkan pandangannya, ia tak mau menatap Islam yang terus menatapnya.
Islam melangkah dengan berat beberapa langkah hingga...
Bruak
Tubuh Islam terhempas ke meja membuat barang-barang di atas meja berhamburan ke lantai. Kepala Islam masih terasa pusing dan sakit!
Akbar melangkah berniat itu membantu Islam namun dengan cepat ditahan oleh Abah Habib.
Islam mengangkat kepalanya lalu menoleh menatap Abah Habib dan Akbar yang kini terbelalak kaget menatap dahi Islam yang berdarah dan mengalir hingga pipinya.
Islam yang merasa aneh itu langsung meraba pipinya dan menatap darah segar yang berada di ujung jari-jari tangannya.
Islam tersenyum sinis.
"Islam dahimu berda-"
"Nggak usah peduli sama gue!!!" teriak Islam.
Langkah Akbar terhenti. Kalimat peringatan itu membuat Akbar mengurungkan niatnya untuk mendekati Islam.
"Ini tuh nggak sakit!!!"
"Ini nggak ada apa-apanya dibandingkan sakit hati gue."
"Sakit hati lebih sakit daripada sakit fisik!!!" teriak Islam.
Akbar hanya mampu terdiam membisu.
"Kenapa Tuhan harus ngasih gue Abi yang kayak lo?!!"
Plak
Tamparan keras mendarat di pipi Islam membuat tubuh Islam terhempas ke lantai dengan keras.
"Akbar!!!" jerit Umma Nur yang langsung mendorong dada Akbar dengan kedua tangannya.
Plak
Kedua mata Akbar terbelalak sambil menyentuh pipi kanannya yang telah ditampar oleh Umma Nur.
"Umma tampar Akbar?" tanya Akbar dengan tatapan tak menyangka.
"Iya, ini balasan karena kamu sudah menampar pipi Islam," jawab Umma Nur yang telah menangis.
Umma Nur berlari menghampiri Islam dan menyentuh pundak Islam membantunya untuk berdiri.
"Nggak usah sentuh gue!!!" teriak Islam yang menghempas tangan Umma Nur.
Islam berubah bangkit dari lantai walau itu sulit. Islam menatap Akbar sejenak lalu tersenyum sinis.
"Umi akan marah kalau Umi tau," ujar Islam lalu melangkah pergi.
"Islam!" panggil Umma Nur yang berlari keluar dari ruangan.
__ADS_1
Akbar menghembuskan nafas panjang setelah menahan nafasnya yang sesak. Akbar menoleh menatap Abah Habib yang kini semakin kecewa.
"Islam!!!" teriak Umma Nur yang terus melangkah mengikuti Islam yang terus melangkah pergi.