
Bruk
Bruk
Bruk
"Sahur!!! Sahur!!! Sahur!!!"
"Sahur!!!"
"Bangun semua!!!"
"Sahur!!!"
Bruk
Bruk
Bruk
Islam mengerutkan dahinya saat tidurnya terganggu setelah suara keributan terdengar. Islam menggeliat di atas kasurnya dengan matanya yang menyipit setelah terkena cahaya lampu yang menyilaukan mata. Islam membuka mata secara perlahan menatap Sarifuddin yang terlihat memasang baju kokonya.
"Abirama! Bangun!" ujar Sarifuddin yang menyentuh dan mengguncang tubuh Abirama, ia berusaha membangunkannya.
"Islam! Bangun eh!"
"Kristian! Ali! Bangun!" ujarnya lagi sambil menyentuh kaki Ali dan Kristian secara bersamaan.
Islam menghela nafas, kedua matanya masih mengantuk membuatnya menarik sarung dan menutup semua tubuhnya.
Entah beberapa kali Sarifuddin menyebut nama Islam, Kristian, Abirama dan Ali sambil berusaha membangunkan mereka dengan guncangan.
"Apaan sih lo? Hah? Ganggu tau nggak!" kesal Ali yang kini berusaha untuk duduk di kasurnya.
"Kenapa? Udah pagi yah?" tanya Kristian yang kini sedang menggaruk kepalanya sambil sesekali menguap lebar.
"Bangun sahur!"
"Buat apa? Sahur itu apa?" tanya Abirama dengan suara beratnya dan serak, ciri khas orang bangun tidur.
"Sahur! Berarti makan," jawabnya.
"Hah? Makan!!!" Kaget Ali yang kemudian tersenyum gembira dengan kedua matanya yang berubah menjadi berbinar.
"Maksud lo kita makan?"
"Iye," jawabnya.
Mendengar hal itu membuat Ali langsung melangkah menuruni tangga dengan wajah yang begitu antusias.
"Yuk lapar nih gue!" ajaknya.
Sarifuddin tersenyum.
"Ajak Islam, Kristian dan Abirama!"
"Lo sehat? Bukannya puasa itu cuman buat orang agamanya Islam yah? Kristian kan agamanya Kristen, nah si Abirama agamanya Hindu, mana mereka puasa?" jelas Ali.
"Eh saya juga ikut," ujar Abirama yang dengan cepat bangkit dari kasurnya.
__ADS_1
"Heh Kristian!!!" panggil Ali sambil menarik kedua kaki Kristian yang sudah sudah setengah sadar.
"Bangun lo!!!" teriak Ali.
Kristian tertawa saat dirinya telah berada di atas lantai setelah ditarik oleh Ali. Kristian bangkit lalu merentangkan kedua tangannya ke atas sambil menguap lebar.
"Eh bangunin si Islam tuh!" Tunjuk Kristian ke arah Islam yang tubuhnya masih ditutupi dengan sarung.
"Lo aja deh!"
"Loh kenapa?" tanya Sarifuddin yang menatap menatap heran ke arah Sarifuddin yang tak mau membangungkan Islam.
Ali menggeleng, ia tak berani melakukannya.
"Memangnya kenapa?"
"Islam itu mukanya galak kalau lagi serius apalagi marah. kamu tidak liat waktu dia marah sama pak kiyai? Sama Kakeknya sendiri aja kayak gitu apalagi sama kita," jelas Abirama.
"Yah sudah kita semua pergi ke tempat makan biar saya saja yang bangungkan Islam."
Ali dan Abirama kini melangkah menuju pintu keluar. Langkah Abirama terhenti, ia menoleh menatap Kristian yang sedang berdiri sambil menutup kedua matanya seperti orang yang sedang tertidur.
Abirama menghela nafas berat lalu segera melangkah mendekati Kristian dan menarik pergelangan tangan Kristian dan membawanya keluar kamar dengan kedua mata Kristian yang masih tertutup.
Sarifuddin duduk di pinggir kasur Islam, menatap dari atas hingga ujung kaki Islam yang ujung jari kakinya sedikit terlihat.
"Islam!" panggilnya dengan hati-hati sambil menyentuh punggung Islam.
Tak ada pergerakan.
"Islam!" Sarifuddin kembali mencoba hal yang sama dan tetap saja tak ada respon dari Islam.
"Nggak!"
Suara Islam akhirnya terdengar, suara berat dan serak itu berhasil membuat Sarifuddin terdiam dengan perasaan gugupnya.
Sarifuddin bangkit dari pinggir kasur lalu beranjak pergi.
Islam membuka kedua matanya setelah mengangkat sarung dari wajahnya membuat kedua matanya yang merah karena tangisan menatap permukaan pintu yang telah tertutup rapat. Tak ada lagi orang di dalam kamar selain dia. Islam mengigit bibir, ia rindu dengan Mawar, Uminya. Jika di hari puasa ada Umi yang membangunkannya dengan penuh kelembutan, suara lembut sambil membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang kini Islam tak bisa merasakan hal itu lagi.
Ruangan Makan
Abah Habib menatap serius ke arah meja yang selalu ditempati oleh Islam untuk makan bersama teman-temannya, tak ada Islam di sana.
"Sarifuddin!" panggil Abah Habib membuat Sarifuddin yang sedang berbincang dengan Ali, Kristian dan Abirama itu menoleh.
"Kemari!" panggilnya sambil menggerakkan tangannya.
Sarifuddin bangkit lalu melangkah ke arah Abah Habib.
"Ada apa Pak kiyai?" tanya Sariffudin.
"Mana Islam?"
"Islam endak mau ikut sahur."
"Kenapa?"
"Tidak tau juga," jawabnya.
__ADS_1
"Sudah antum bangungkan?"
"Sudah tapi memang dia tidak mau."
Mendengar hal itu Abah Habib menghela nafas lalu mengangguk perlahan mengisyaratkan agar Sarifuddin kembali ke tempatnya dimana dari kejauhan Kristian, Abirama dan Ali menatap sambil berbisik.
"Abah!"
Abah Habib menoleh menatap Umma Nur yang kini sedang berdiri di hadapan Abah Habib.
"Apa yang Umma lakukan di sini? Umma sedang sakit."
"Di mana Islam?" tanya Umma Nur yang menatap ke segala arah.
"Umma, kembali ke kamar! Umma sedang sakit."
"Abah, Umma sudah tidak apa-apa. Umma hanya demam karena terkejut setelah melihat penampilan Islam. Di mana Islam sekarang?"
Abah Habib menghela nafas panjang.
"Dia tidak mau sahur. Tenang saja Abah akan menyuruh Syuaib membangungkan Islam."
"Tidak perlu! Biar Umma saja yang membangungkan Islam."
Umma Nur berpaling lalu melangkah meninggalkan Abah Habib beberapa langkah.
"Tidak perlu Umma yang membangunkan Islam!"
Langkah Umma Nur terhenti, ia menoleh dan menatap bingung pada Abah Habib.
"Kenapa?"
"Islam tidak seperti anak yang sering kita temui di pesantren, dia berbeda. Kepalanya keras seperti batu dan susah untuk di taklukkan dengan apa pun."
Umma hanya terdiam lalu beberapa detik kemudian ia kembali berpaling meninggalkan Abah Habib yang hanya bisa pasrah melihat kepergian Istrinya.
...***...
Islam menatap lantai dengan tatapan sedihnya, pikirannya sejak tadi memikirkan Mawar, Uminya. Rindu, yah itu yang ia rasakan.
Suara pintu yang diketuk diiringi suara pintu yang dengan pelan terbuka terdengar membuat Islam dengan cepat mengusap kelopak matanya yang basah itu dengan punggung tangan lalu kembali berpura-pura tidur.
Islam bisa mendengar suara langkah yang mendekatinya dengan hati-hati, persis seperti pembunuh. Islam bisa merasakan seseorang duduk di pinggir kasurnya dan sesuatu terasa mendekatinya hingga tangan lembut terasa membelai rambutnya dengan lembut membuat kedua mata Islam yang sembab itu terbuka dengan cepat, belaian ini persis seperti belaian Mawar, Umi-nya.
"Islam!" panggil Umma Nur.
"Umi!" ujar Islam yang dengan cepat bangkit dari kasur sambil menggenggam pergelangan tangan Umma Nur yang kini terlihat tersenyum.
Senyum Islam berangsur hilang dari bibirnya, kini yang ada di hadapannya bukan Mawar tapi seorang wanita tua dengan kepala yang tertutup dengan hijab seperti apa yang Mawar kenakan.
Islam masih terdiam, untuk beberapa detik ia berhasil mengingat wajah wanita tua ini. Islam masih ingat jika wanita ini selalu menciumnya saat datang berkunjung di rumah.
"Ini Umma, bukan Umi," ujar Umma Nur.
Islam terdiam lalu ia tertunduk.
"Islam rindu dengan Umi?" tanya Umma Nur sambil membelai rambut Islam.
Umma Nur bisa melihat jika cucunya itu baru saja telah menangis.
__ADS_1
"Islam menangis?" tanya Umma Nur.