Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
42. Cadar


__ADS_3

"Umiiiiiii!!! Islam rinduuuuu!!!" teriak Islam sekeras mungkin, meluangkan rasa rindunya dengan berteriak.


Islam tertawa membuat Khadijah ikut tertawa kecil. Islam menghela nafas lalu tersenyum, ia memejamkan kedua matanya sambil merentangkan kedua tangannya menikmati hembusan angin segar yang menerpa wajahnya.


"Bagaimana?"


Islam menoleh menatap Khadijah yang sudah duduk di bangku. Islam tersenyum lalu ikut duduk walau bangku mereka berbeda dan berjarak agak jauh.


"Lumayan." Islam mengangguk.


Kini suasana menjadi sunyi. Tak ada diantara mereka yang bicara. Islam sesekali melirik menatap setiap inci keindahan mata Khadijah yang terlihat menatap pemandangan di depan sana.


"Boleh saya bertanya?" tanya Islam membuat Khadijah menoleh menatap Islam sejenak lalu kembali menatap ke arah penggunungan yang indah bagai lukisan.


"Tanya tentang apa? Tentang Umi Khadijah?"


Islam menggeleng, "Bukan," jawabnya.


"Lalu?"


"Kenapa kamu pakai penutup mulut?" tanya Islam yang menunjuk ke arah cadar hitam yang menutupi separuh wajah Khadijah.


"Ini?" tanya Khadijah yang memegang ujung cadarnya.


"Iya."


"Ini cadar."


"Cadar?" tanya Islam sok tak tau padahal Sarifuddin telah memberitahunya dulu.


Islam hanya ingin Khadijah bicara, suara lembut Khadijah terdengar indah.


Khadijah tersenyum di balik cadarnya.


"Ini adalah cara yang terbaik untuk menjauhkan pandangan seorang pria terhadap gadis yang tidak halal baginya."


"Maksudnya?"


"Seperti yang anda lakukan."


Islam menggaruk belakang telinganya dengan perasaan tak nyaman. Apa Khadijah sedang menyinggungnya sekarang? Karena sejak tadi Islam terus menatap Khadijah tanpa henti.


Islam kini mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain.


"Jadi termasuk saya?" tanya Islam.


"Iya," jawabnya.


"Umi saya juga pakai jilbab tapi dia tidak pakai cadar dan dia juga agamanya Islam sama seperti kamu."


Khadijah terdiam.


"Apa semua wanita muslim harus pakai cadar?" tanya Islam.


"Hanya sebagian orang yang melakukannya," jawab Khadijah.


"Lalu kenapa kamu pakai cadar kalau wanita muslim juga bisa tidak memakai cadar?"


"Seorang wanita yang memakai cadar hanyalah wanita yang sadar jika keindahan tidak selalu bisa dipertontonkan oleh banyak orang hingga mengundang nafsu seorang pria."


"Keindahan apa? Wajah?" tanya Islam persis seperti anak kecil yang bertanya pada ibunya.


"Sesungguhnya wanitalah yang diciptakan paling lama karena Allah yang menciptakannya seindah mungkin."


"Khadijah bersyukur diciptakan menjadi seorang wanita maka dari itu Khadijah menjaganya dengan cara menjaga aurat dan menggunakan cadar," jelasnya.


Islam seketika terdiam. Islam tak habis pikir dan ia benar-benar tak menyangka jika ada gadis yang seperti Khadijah.


Islam masih terdiam, ia masih sibuk dengan pikirannya yang beradu dengan kalimat Khadijah.


"Kenapa?" tanya Khadijah.


"Kamu sudah punya pacar?"

__ADS_1


"Pacar?" tanya Khadijah.


Islam mengangguk.


"Khadijah seorang muslimah jadi Khadijah tidak pernah berpacaran," jawabnya.


"Tapi saya juga orang yang beraga Islam dan saya juga pacaran."


"Karena akhi Islam belum mengerti tentang agama," jawab Khadijah.


Islam mengalihkan pandangannya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis bercadar ini rupanya cerdas sehingga ia mampu menjawab semua pertanyaan yang ia berikan.


"Boleh saya lihat wajah kamu?" tanya Islam.


Khadijah begitu sangat terkejut setelah mendengar pertanyaan Islam namun rasa terkejut itu ia tak tunjukkan pada Islam, ia menyembunyikannya.


"Untuk apa?"


"Yah mau lihat aja sih," jawabnya.


"Seorang wanita bercadar hanya membuka cadarnya jika di hadapan suaminya kelak."


"Maksud kamu yang bisa melihat wajah kamu hanya suami kamu?"


Khadijah mengangguk.


"Sudah menikah?"


"Belum," jawabnya yang kemudian tertunduk.


"Mau menikah dengan saya?" tanya Islam membuat Khadijah terbelalak kaget.


Khadijah bangkit dari bangku membuat Islam mendongak.


"Mau?" tanya Islam.


"Akhi Islam bisa saja menikahi Khadijah tapi satu pertanyaan Khadijah."


"Apa?" tanya Islam.


Khadijah berpaling lalu melangkah membuat Islam bangkit dari bangku.


"Tunggu!"


Langkah Khadijah terhenti lalu ia menoleh namun pandangannya terlihat menunduk seakan tak mau menatap Islam.


Untuk beberapa detik ini Islam kembali mengingat apa yang telah dikatakan oleh Sarifuddin mengenai tentang Khadijah.


Khadijah selalu menjaga pandangannya dan selalu menunduk jika berbicara terhadap lawan jenisnya.


Hah cobalah lah lihat Islam dulu! Bagaimana bisa wajah tanpa yang berdarah ini diabaikan seperti ini oleh seorang gadis.


"Kita belum kenalan."


Islam menjulurkan tangannya ke arah Khadijah meminta untuk dijabat.


"Nama saya Islam ramadhan, umur 22 tahun dan saya-"


"Cucu Abah Habib," potong Khadijah.


"Nggak niat perkenalkan diri juga?" tanya Islam yang masih menjulurkan tangannya.


"Nama ana Khadijah," jawabnya lalu melangkah pergi memberi jarak antara ia dan Islam.


"Tunggu!" Tahan Islam membuat langkah Khadijah terhenti.


"Kamu nggak niat mau nyentuh tangan saya? Salaman?" tanya Islam.


Khadijah menoleh menatap Islam yang terlihat tersenyum sambil menggerakkan jari-jari tangannya yang siap untuk dijabat.


"Tidak semudah itu," jawabnya lalu ia melangkah pergi meninggalkan Islam yang terlihat tersenyum simpul.


Islam menatap telapak tangannya lalu tertawa.

__ADS_1


"Apa? Lo mau dia sentuh lo? Nggak usah ngarep lo!" ejeknya memukul jari-jari tangannya itu.


"Gila, gue bisa juga ternyata ngomong saya kamu, hahaha," tawa Islam lalu menarik nafas panjang.


...***...


Islam bersiul dengan santai memasuki kamarnya membuat Sarifuddin terbelalak kaget dan dengan cepat bangkit dari kasurnya. Ia menatap kaget Islam sampai Islam benar-benar ada di samping ranjang miliknya.


"Itu kenapa? Kok berdarah?" tanya Sarifuddin sambil menyentuh dahinya sendiri.


Islam yang mendengar hal itu langsung meraba dahinya dan merasakan jika darah itu sudah mengering.


"Ini tadi waktu adegan goblok di episode sebelum ini," jawab Islam membuat Sarifuddin melongo.


"Episode apa?" tanya Sarifuddin.


"Episode kehidupan gue yang penuh penderitaan," jawabnya sambil meraih handuk dari lemari.


"Mau kemana?" tanya Sarifuddin ketika Islam berpaling membelakanginya.


Islam menoleh, menatap Sarifuddin 45 derajat.


"Mau mandi," jawabnya.


Langkah Islam kini tertahan lalu ia menoleh menatap Sarifuddin dengan wajah senang.


"Lo tadi tau nggak? Gue ketemu sama siapa?" tanya Islam sambil menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum.


"Ketemu sama siapa?"


"Tebak dulu dong!"


Sarifuddin terdiam dengan wajah datar. "Ali?"


"Kok Ali sih? Nggak ada niat gue mau ketemu sama tuh si bocah, dia lagi sibuk ngurusin pacarnya yang hamil."


"Terus siapa?"


"Khadijah," jawabnya dengan ekspresi bangga.


"Ukti Khadijah?" tanya Sarifuddin tak percaya membuat Islam mengangkat kedua alisnya.


"Kenapa bisa ketemu?"


"Ye kepo lo, udah ah gue mau mandi," putus Islam lalu melangkah pergi.


Langkah Islam terhenti seketika ketika ia menatap Khadijah yang terlihat sedang berdiri berhadapan dengan Rahman di depan ruangan Abah Habib.


Jarak mereka memanglah tak dekat tapi entah mengapa Rahman seakan begitu dalam menatap Khadijah yang terlihat tertunduk. Dari sini Islam bisa melihat Rahman yang banyak bicara dan Khadijah yang terlihat mengangguk.


Satu yang ada dipikiran Islam, apa yang mereka lakukan dan apa yang Rahman katakan kepada Khadijah?


"Itu Ustad Rahman," ujar Sarifuddin yang kini berdiri di samping Islam sambil menatap Rahman dan Khadijah.


"Gue tau," jawab Islam ketus.


Kini Islam terdiam, kedua sorot matanya menatap tajam pada mereka.


"Ustad Rahman itu memang suka sama Ukti Khadijah."


Islam melirik sinis.


"Kok lo tau?"


"Semua orang juga sudah tau. Beberapa kali saya liat mereka ketemu dan itu si ukhti Khadijah juga sering dapat hadiah dari Ustad Rahman."


"Dia ambil?"


"Yah pasti. Tidak ada yang bisa menolak pemberian hadiah dari ustad muda seperti Ustad Rahman."


"Ah diam lo!!!" bentak Islam dengan marah membuat Sarifuddin tersentak kaget.


Islam mendecapkan bibirnya kesal lalu melangkah pergi membuat Sarifuddin menoleh.

__ADS_1


"Mau kemana?"


"Neraka!!!" teriak Islam.


__ADS_2