
🌺Mari Belajar Mengenal Huruf Hijaiyah🌺
ا : Alif ب : Ba ت : Ta ث : tsa ج : jim
ج : ha خ : kho د : dal ذ : dzal ر : ro
ز : zay, zayy atau za س : sin ش : syin ص : shod
ض : dhod ط : tho. ظ : zho ع : ain غ : ghoin
ف : fa ق : qof ك : kaf ل : lam م : mim
ن : nun هـ : ha و : waw ي : ya
ء : hamzah لا : la
...****************...
Islam duduk di hadapan Sarifuddin yang terlihat sedang meletakkan buku iqro ke atas bantal membuat Islam hanya bisa diam menatap aura wajah Sarifuddin yang terlihat berbeda, agak mengerikan.
"Oh tunggu sebentar!" ujarnya lalu ia bangkit membuat Islam mendongak ke arah mana Sarifuddin pergi.
Sarifuddin meraih penggaris plastik dari laci lemarinya lalu kembali duduk membuat Islam mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Buat apaan penggaris?" tanya Islam.
"Buat jaga-jaga."
Islam mengangguk tanda mengerti tanpa curiga sekali pun.
"Sekarang kita mulai," ujarnya lalu membuka iqro itu membuat kedua mata Islam menyipit.
Bagi Islam rasanya ada cahaya kilau yang terlihat saat iqro itu pertama dibuka, yah seperti inilah yang dirasakan orang yang tak pandai mengaji.
Islam menatap seluruh tulisan hijaiyah itu membuat kenangan masa kecilnya kembali teringat. Islam ingat betul saat Akbar dan Umi mengajarinya mengenal huruf hijaiyah.
Sebuah keluarga kecil yang penuh dengan cinta. Untuk sesaat Islam merasa dirinya adalah anak yang paling disayang tapi rasa itu hilang setelah Akbar pergi untuk mengabdi di pesantren dan jarang kembali ke rumah.
Plak
Islam tersentak kaget dengan mata melototnya ketika Sarifuddin memukul bantal dengan penggaris plastik.
"Lo kenapa sih? Bikin kaget aja," kesalnya.
"Hust!" Sarifuddin meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Islam membuat Islam terdiam dengan wajah kebingungan.
Ada apa dengan Sarifuddin?
"Selama saya mengajari Islam belajar mengaji maka panggil saya pak Ustad!"
Islam melongo.
"Gila lo," umpatnya.
Plak
Islam tersentak kaget ketika Sarifuddin kembali memukul permukaan bantal yang selalu digunakan Sarifuddin untuk tidur.
"Lo kenapa sih?" kesalnya, ia masih kebingungan.
"Saat ini, saya Sarifuddin sudah resmi menjadi guru mengaji Islam dan itu berarti Islam sudah menjadi murid bagi saya," jelasnya sambil menyentuh dadanya.
"Gila lo," umpatnya.
Kedua mata Sarifuddin melotot membuat Islam terkejut bukan main. Sarifuddin menggerakkan penggaris plastik itu ke arah pipi Islam membuat Islam dengan cepat menghindar membuat Islam bisa merasakan jika rambutnya telah ditampar oleh penggaris plastik itu.
Islam bangkit lalu merabah rambutnya dengan wajah syok. Sariffudin hampir saja menamparnya dengan penggaris!
"Din! Lo kenapa?" tanya Islam yang agak sedikit takut.
"Panggil saya Ustad Sarifuddin!" pintahnya dengan wajah serius.
Islam yang terdiam itu melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk menahan tawanya. Lucu sekali Sarifuddin ini.
Islam melepaskan tawanya berharap Sarifuddin ikut tertawa tapi itu salah, Sarifuddin malah melayangkan penggaris itu ke permukaan lengan Islam.
"Heh! Berani lo-" ujaran Islam terhenti saat ia berniat untuk bangkit dari duduknya tetapi dengan cepat Sarifuddin menindih kepala Islam dengan penggaris membuat Islam mau tidak mau harus kembali duduk.
"Lo kenapa sih?" bisiknya.
"Panggil saya ustad Sarifuddin!!!" geretaknya membuat Islam tersentak.
Berani sekali pria ini.
"Saya kan sudah bilang Bugis itu keras," ujarnya sambil memukul-mukul penggaris plastik itu ke telapak tangannya.
"Kalau aja gue tau kayak gini mending gue belajarnya sama si Rahman tadi," ocehnya sambil mengelus lembaran iqro itu agar terbuka lebar, maklum buku ini masih baru.
__ADS_1
"Apa?!!" geretak Sarifuddin.
"Nggak!"
"Kalau mau sama ustad Rahman, silahkan!" Tunjuk-nya ke arah pintu yang tertutup.
Islam mendecapkan bibirnya lalu berujar, "Ya udah deh."
Islam bangkit dari kasur sambil mengangkat iqro berniat untuk melangkah pergi namun langkahnya terhenti dengan tiba-tiba.
Tak bagus rasanya jika ia minta bantuan kepada pria yang juga menyukai Khadijah. Mana harga diri?
Islam berbalik badan menatap Sarifuddin yang sedang meliriknya dengan sembunyi-sembunyi lalu berlagak tidak peduli.
"Gue sama lo aja deh!" putusnya lalu melangkah kembali mendekati Sarifuddin dan duduk di depannya membuat Sarifuddin tersenyum.
"Kita mulai sekarang?"
"Iya ustad Sarifuddin," jawab Islam persis seperti anak kecil.
Sarifuddin tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Akhirnya ia bisa memukul dan memarahi Islam seperti ini.
"Buka kembali!" Tunjuk-nya pada iqro yang masih tertutup itu.
Islam menurut dan membukanya dengan asal hingga...
Plak
Islam terbelalak kaget sambil meringis setelah Sarifuddin memukul jari tangannya dengan penggaris.
"Looooo... ada apa ustad Sarifuddin?" tanya Islam dengan nada suaranya yang awalnya meninggi hingga menjadi lembut dan terpaksa tersenyum menatap Sarifuddin.
"Halaman pertama!" Tunjuk-nya.
Islam mengangguk lalu membuka lembaran iqro itu dengan pelan dan hati-hati seakan iqro ini mau meledak saja.
"Cepat!!!" teriaknya sambil memukul lengan Islam dengan penggaris membuat Islam dengan cepat membuka halaman pertama.
"Liat ini?" Tunjuk Sarifuddin pada huruf hijaiyah ا .
"Iya ustad," jawabnya sambil mengangguk seperti anak kecil.
"Tau?" tanya Sarifuddin.
"Tau," jawabnya sambil tersenyum.
"Satu," jawab Islam yang masih tersenyum itu.
Plak
Sarifuddin memukul keras permukaan bantal membuat Islam tersentak dari tempat duduknya.
"Mana satu?" Tatapnya dengan mata melotot yang nyaris mau keluar.
"Mana?" tanya Sarifuddin lagi.
Islam menelan salivanya dengan paksa lalu mengerakkan jari telunjuknya ke arah huruf ا (Alif).
Plak
Sarifuddin memukul jari tangan Islam membuat Islam meringis dan memeluk jari tangannya.
"Lo itu ngajarin gue atau nyiksa gue sih?" kesalnya dengan raut wajah yang ingin menangis.
"Hormat sama pak Ustad!" tegur-nya.
Islam menghela nafas berat, hanya pasrah yang bisa ia lakukan.
"Iya, pak ustad Sarifuddin."
"Lanjut lagi!" pintahnya.
Keduanya yang sama-sama fokus menatap iqro tiba-tiba menoleh ke kiri dan kanan ketika lampu penerang ruangan kamar telah dimatikan.
Islam tersenyum bahagia, itu berarti jam belajarnya telah usai.
Kedua mata Islam menyipit saat cahaya senter menyilaukan matanya. Senyum Islam sirna dari bibirnya saat menatap wajah Sarifuddin yang diterangi cahaya senter.
"Tak ada alasan untuk belajar," bisiknya.
Islam mendecapkan bibirnya dengan rasa lelah. Ia pikir ia akan tidur nyenyak malam ini.
"Ikuti saya!" pinta Sarifuddin lalu menyebutkan satu persatu huruf hijaiyah.
...****...
Syuaib merapikan lipatan sarungnya agar tidak melorot saat ia berpatroli untuk memastikan agar semua santri sudah tidur.
__ADS_1
Langkah Syuaib terhenti saat ia mendengar suara pria yang menyebutkan huruf hijaiyah dan satu suara pria yang terdengar mengikut. Beberapa kali ia mendengar suara pukulan penggaris membuat Syuaib dengan rasa penasaran mengintip di jendela.
Syuaib tersenyum lalu segera berlari, ini harus diketahui oleh Abah Habib kalau Islam belajar mengaji.
Sarifuddin menghentikan bacaannya saat ia mendengar suara langkah cepat seperti orang berlari di depan pintu kamarnya.
"Suara apa itu?" tanya Sarifuddin.
"Tikus mungkin," jawab Islam.
Sarifuddin terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Oh iya kalau saya dengar seperti tikus," jawabnya.
Ruangan Abah Habib
"Yang benar antum?" tanya Abah Habib yang tak percaya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Syuaib.
"Benar pak haji kiyai, ana tidak bohong. Ana lihat sendiri kalau Islam yang sedang belajar mengaji sama santri yang pecinya selalu miring itu," jelasnya.
Abah Habib tersenyum lalu menoleh menatap Akbar yang sedang merapikan beberapa buku di rak.
"Akbar!"
Akbar menoleh.
"Islam belajar mengaji," ujarnya memberitahu.
Akbar hanya mengangguk membuat senyum Abah Habib lenyap dari bibirnya. Abah Habib menoleh menatap Syuaib yang masih duduk di depan mejanya.
"Antar Abah ke sana!"
"Baik pak haji kiyai," jawabnya lalu segera bangkit dari kursi.
Abah Habib yang sudah sampai ke pintu keluar itu menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Akbar.
"Antum tidak mau pergi?"
"Tidak," jawabnya.
Abah Habib menghela nafas lalu segera melangkah mengikuti Syuaib yang terlihat sangat bersemangat.
Syuaib berjalan pelan-pelan seperti pencuri ketika ia sudah hampir di pintu kamar Islam membuat Abah Habib menatap heran.
"Kenapa-"
"Hust!" tegurnya sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir agar Abah Habib berhenti bicara dengan nada keras.
"Kenapa?" bisik Abah Habib.
"Nanti didengar Islam," bisiknya yang nyaris tak terdengar membuat Abah Habib mengangguk.
Syuaib kini berjalan mengendap-ngendap dan mengintip di jendela kamar begitupula dengan Abah Habib.
"Itu." Tunjuk-nya.
Abah Habib menyipitkan matanya berusaha untuk melihat ke dalam. Ia bisa mendengar suara Sarifuddin dan Islam tapi ia tak bisa melihatnya dengan jelas.
"Kaca mata Abah mana?"
"Itu." Tunjuk Syuaib ke arah kaca mata yang berada di dalam saku baju Abah Habib.
Abah Habib tertawa saat ia lupa jika kaca matanya ada di saku bajunya sendiri.
"Hust!" tegur Syuaib membuat Abah Habib juga ikut meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Abah Habib tersenyum setelah memasang kaca matanya dan melihat dengan jelas Islam dan Sarifuddin yang sedang belajar huruf hijaiyah yang hanya bermodalkan cahaya senter.
Plak
Abah Habib tersentak kaget saat ia melihat dengan kedua mata kepalanya melihat Sarifuddin yang memukul Islam, cucu kesayangannya itu dengan penggaris.
"Astagfirullah, dia memukul cucuku," ujarnya tak percaya sambil menutup mulutnya yang menganga.
"Hust!" tegur Syuaib lalu dengan cepat menarik Abah Habib pergi dari depan jendela kamar Islam dan Sarifuddin.
Sarifuddin kembali menghentikan sebutannya pada huruf hijaiyah itu setelah mendengar suara di depan jendela kamarnya.
"Kenapa?" tanya Islam.
"Sepertinya tikus sekarang sudah pandai bicara," jawabnya lalu kembali mengajari Islam yang sudah lelah itu.
10 menit kemudian...
Akbar tersenyum menatap Islam yang sedang menyebutkan huruf hijaiyah secara diam-diam dibalik jendela.
Akbar mengusap pipinya yang basah itu, yah dia menangis. Sedih rasanya ketika melihat putranya lebih memilih belajar mengaji dengan orang lain daripada Abi-nya sendiri.
__ADS_1
Akbar merasa telah gagal menjadi Abi yang baik untuk Islam, Ia gagal. Hanya ada rasa benci yang ada untuknya dari Islam, bukan rasa sayang.