Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
71. Vidio Call


__ADS_3

Islam ikut tertawa lalu menggaruk belakang telinganya yang tak gatal itu. Bukan hanya dia yang tertawa tapi Abi-nya juga.


"Assalamu'alaikum," ujar Abah Habib yang kemudian muncul sambil membawa ponselnya.


Dengan cepat Khadijah bangkit dari kursi dan melangkah mundur memberi jarak antara ia dan Islam.


Semuanya membalas salam dengan wajah tegangnya apalagi dengan Akbar, masalahnya dia yang membiarkan Khadijah menyuapi Islam.


"Sudah lama di sini?"


"Sudah mau keluar ya Abah. Ana permisi dulu, Assalamu'alaikum," ujarnya lalu ia melangkah keluar.


"Waalaikumsalam," jawab Abah Habib sambil tersenyum menatap kepergian Khadijah sementara Islam mendengus kesal, pria tua ini menganggu momen indah saja.


"Islam!" panggil Abah Habib sambil melangkah mendekati Islam dengan tangannya yang menyodorkan ponsel tua itu.


Islam mengernyitkan dahinya menatap ponsel itu seperti sebuah senapan saja.


"Kenapa?"


"Ada telpon dari Mawar," jawabnya membuat Islam dengan cepat meraihnya dan mendekatkannya ke telinga.


"Islam." Suara dari sebrang terdengar, itu suara Umi.


"Umi, Islam sakit, Umi," aduh Islam seperti anak kecil dengan raut wajahnya yang ingin menangis.


"Islam sakit apa?" tanya Mawar dengan nada suara lemah lembut, suara yang sangat Islam rindukan.


"Kepala Islam sakit, tulang Islam, kaki Islam, tangan Islam...."


"Ah manja kali lah anak ini," ujar Syuaib yang berada di pintu.


Mendengar hal itu Akbar melirik menatap tajam pada Syuaib yang rupanya belum sadar dengan tatapan itu.


"Heh, anak ana itu," ujar Akbar.


"Semuanya sakit, Umi," lanjut Islam.


"Islam sudah minum obat?"


"Belum, Islam baru bangun nih, Um."


"Kalau begitu makan dulu lalu minum obat."


"Iya, Umi."


Islam sesekali tertawa saat ia bisa berbicara panjang lebar bersama Mawar. Meluahkan rasa rindu setelah nyaris sebulan keduanya tidak bertemu.


Mau kemanapun seorang anak pergi dan selama pun itu maka tetap saja sang ibu adalah tempat mengadu.


Lihatlah sekarang Islam bahkan menceritakan apa yang terjadi di pesantren dari ia yang pergi ke pasar, kabur dari pondok, memasak di dapur dan dikejar oleh anjing.


Ada tawa yang sesekali lolos dari mulut Islam setelah menceritakannya sementara Akbar hanya bisa tersenyum mendengar percakapan mereka.


Ponsel Abah Habib ia matikan setelah percakapan itu berakhir dengan ucapan salam.


"Ini handphonenya," ujar Islam sambil menjulurkan ponsel tua itu bahkan tombolnya pun telah usang hurufnya.


Abah Habib meraihnya sambil tersenyum.


"Lama juga, yah. Mungkin habis pulsanya ini," ujar Abah Habib yang kemudian menatap seluruh bagian ponselnya.


Islam mendecapkan bibirnya. Perhitungan sekali pria tua ini.


"Wah ini hilang sudah tombolnya satu!" Tunjuk Abah Habib pada tombol ponsel bagian bawah yang telah kosong.


Islam menunduk lalu meraih tombol pagar yang berada di atas selimutnya.


"Nah ini nih," ujar Islam sambil menjulurkannya.

__ADS_1


"Itu tombol ponsel atau jabatan tuh, mudah banget dicopot," sahut Syuaib membuat Islam tertawa.


"Tidak apa-apa yang penting pulsanya banyak. Bagaimana? Bahagiakan bisa dengar suara Mawar?"


"Iya sih, tapi nggak seru soalnya saya nggak bisa liat muka Umi."


Abah Habib mengernyit heran, ia menoleh menatap Akbar dan Syuaib yang juga tidak mengerti.


"Memangnya bisa lihat muka sambil telpon?" tanya Abah Habib.


"Bisa."


"Caranya?"


"Handphone saya mana? Nanti saya kasih tau," jelasnya.


Abah Habib mengangguk lalu ia membuka lemari dan meraih ponsel milik Islam.


"Ini." Julurnya.


Islam tersenyum sambil menyambut ponselnya yang sudah lama ia tak sentuh.


Ah, ponsel! Apa kabarmu?


Islam mengernyit heran, bagaimana bisa ponsel yang telah disimpan selama itu masih memiliki baterai yang masih banyak.


"Ini siapa yang sering pakai handphone gue nih?" tanya Islam yang menatap penuh curiga kepada Abah Habib.


"Tidak ada, cuman Abah sering chas nanti lobet," jelasnya membuat Islam mengangguk.


Islam kemudian tersenyum lalu menghubungi tiga sahabatnya yang sangat ia rindukan, yah siapa lagi jika bukan Kristian, Abirama dan Ali.


Sudah lama ia tak bertemu dengan mereka.


Berdering, yah ketiga sahabatnya itu berdering.


Abah Habib dan Syuaib melangkah mendekati Islam dengan wajahnya yang terlihat sangat serius menatap permukaan layar ponsel milik Islam.


Islam tertawa.


"Emang iya," jawab Islam.


"Kok Abah bisa ada di situ?"


"Iya kan ini ada kameranya."


Abah Habib yang mendengar hal itu dengan cepat menatap ponsel tua miliknya.


"Ini kenapa tidak ada kameranya?"


"Beda pak haji kiyai, ini ponsel jaman dulu dan itu yang sekarang nanti kalau mau kita beli di kota tapi beliin ana juga," jelas Syuaib sambil menunjuk.


"Cari kesempatan antum," sahut Akbar.


"Hay guys," ujar Kristian sambil melambai.


"Eh antum!" Tunjuk Abah Habib dengan wajah bahagianya.


"Assalamu'alaikum, pak haji kiyai," sapa Kristian.


"Waalaukumsalam, bagaimana kabarnya?"


"Baik puji Tuhan."


"Tuhan siapa?" tanya Syuaib dengan wajah tak berdosa.


Abah Habib, Akbar dan Islam langsung menoleh menatap Syuaib yang dengan cepat tertunduk.


"Eh, Ram!" sapa Islam saat Abirama telah mengangkat vidio call.

__ADS_1


Abirama tersenyum lalu melambaikan tangannya membuat Abah Habib ikut melambaikan tangannya tepat di depan kamera .


"Jangan dekat-dekat! Tangannya nggak keliatan, mundur dikit!" tegur Islam.


"Ini?"


"Nah," ujar Islam setelah Abah Habib memundurkan tangannya.


"Masih di pesantren?" tanya Abirama.


"Iya nih."


"Bagus, belajar yang rajin aja," ujar Abirama yang terlihat melangkah menatap ke arah jalan sambil sesekali menunduk menatap kamera.


"Lo dimana, sih?" tanya Islam.


"Sibuk dia tuh," ujar Kristian.


"Enak aja. Saya masih mending ngangkat nah itu si Ali tidak ngangkat vidio call," protes Abirama.


Tak berselang lama kamera Ali mulai menyala membuat Islam, Kristian dan berteriak dengan kompak.


"Eh Anjing!!!" teriak Ali sambil melambaikan jari tengahnya.


"Eh bangsat!!! Goblok lu," umpat Islam.


"Astaghfirullah," ujar Abah Habib, Akbar dan Syuaib.


Senyum Islam menghilang dari bibirnya. Islam lupa jika ada mereka di sini.


"Eh pak haji kiyai! Ini sendalnya lupa saya balikin," ujar Ali sambil mengangkat sendal milik Abah Habib.


"Oh iya sendal Abah itu yang sudah hilang. Antum dapat dimana?"


"Bukan dapat, orang dia nyolong," ujar Islam lalu tertawa.


"Wah anjirt lu. Jan percaya pak haji! Gue cuman pinjam niatnya mau balikin tapi kelupaan sampai di rumah," jelas Ali.


Abah Habib tertawa sambil mengangguk.


"Tidak apa-apa, ambil saja! Itu hadiah dari Abah yang penting dipakai di jalan kebaikan."


"Jalan kebaikan apaan? Jelan sesat kalau si Ali," sahut Islam.


"Jalan sesat apa?" tanya Abah Habib tidak mengerti.


"Sendalnya dipakai mencuri," canda Islam yang kemudian tertawa melihat Abah habib yang terlihat syok.


"Astagfirullah, Jan pakai mencuri! Nanti di neraka tangannya dipotong, mau?"


"Dipotong sama siapa?"


"Sama Zabaniah, itu nama malaikat-malaikat yang bertugas menyiksa sekaligus memotong tangan orang yang suka mencuri."


"Yah nggak apa-apa sih yang penting nggak main keroyokan," ujar Ali membuat Islam, Kristian dan Abirama tertawa cekikan.


Abah Habib yang menggeleng tak menyangka itu menoleh setelah Sarifuddin datang dan membisikkan sesuatu ke telinga Abah Habib yang langsung mengangguk.


"Abah permisi dulu, ada keperluan sedikit."


Abah Habib kemudian melangkah pergi bersama dengan Akbar dan Syuaib.


"Eh, Din! Sini lo! Ini ada Kristian, Abirama sama si Ali," panggil Islam membuat Sarifuddin tersenyum lalu segera naik ke atas kasur.


"Ada si Sarifuddin?" tanya Kristian.


"Assalamualaikum," ujar Sarifuddin sambil tersenyum ciri khasnya.


"Eh anjirt! Masih hidup lo?!!" teriak Ali membuat senyum Sarifuddin lenyap.

__ADS_1


...----------------...


Vidio callnya lanjut di part berikutnya, yah 🌺


__ADS_2