Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
92. Kapan?


__ADS_3

"Mau main sekarang?"


Khadijah menggeliat geli, suara Islam berhasil membuatnya merinding tak karuan.


"Sayang."


"Em?" Khadijah menoleh menatap Islam yang seperti anak kecil menginginkan sesuatu.


"Ayo!" bisiknya.


"Apa?"


Islam tersenyum lalu melirik ke arah bagian bawah tubuhnya beberapa kali berusaha untuk memberi kode pada istrinya yang super polos itu.


"Ada apa?"


Islam mendecapkkan bibirnya lalu dengan tak tahannya ia menarik pinggang istrinya ke dalam pelukannya yang berhasil membuat Khadijah gemetar.


"Kode apa yang bisa kamu mengerti, sayang?"


Khadijah terdiam.


Islam meraih tangan Khadijah dan melingkarkannya pada leher Islam yang terasa hangat dan hal itu berhasil membuat Khadijah sesak nafas.


Islam menyisir lembut anak-anak rambut istrinya dan menyelipkannya pada atas telinga istrinya yang teraba lembut. Ah, rasanya Islam ingin mengigit telinga istrinya itu karena gemas.


"Sayang!" panggil Islam lagi.


"Em? Apa?"


"Ck, kenapa selalu mengatakan apa, sayang?"


"La-la-lalu harus berkata apa?"


Islam tersenyum lalu menunduk mendekatkan bibirnya pada telinga Khadijah. Khadijah menutup kedua matanya saat pipi Islam menyentuh rapat pipinya.


"I love you," bisik Islam.


Islam mengecup telinga istrinya itu dengan penuh kelembutan dan menyeret bibirnya turun ke leher istrinya yang lembut.


Nafas Khadijah sesak. Apa yang dilakukan oleh pria yang kini berstatus menjadi suaminya itu benar-benar membuatnya nyaman. Rasanya geli tapi Khadijah tak bisa melarang Islam untuk tidak melakukannya, ini adalah kewajibannya.


"Aaah akhi."


Islam menghentikan kecupannya yang telah nyaris turun ke dada istrinya itu. Ia menatap istrinya yang terlihat kesakitan seakan telah dipukul olehnya.


"Ini belum apa-apa, sayang. Ini baru permulaan."


"Tapi-"


"Apa?" tanyanya lembut.


"Khadijah sedang sakit."


"Tidak sakit. Keningmu tidak panas."


"Ma-ma-maksud Khadijah itu-"


"Ada apa sayang? Hm?"


Islam membelai lembut pipi istrinya sambil menatapnya dengan penuh perhatian dan percayalah semakin lama Khadijah merasa menyukai belaian lembut sang suami.


"Katakan!"


Khadijah tertunduk malu.


"Khadijah sedang kedatangan tamu."

__ADS_1


"Tamu? Tamu siapa yang datang malam-malam seperti ini?'


Islam melepas pelukannya lalu ia melangkah berniat untuk mendekati pintu kamar tapi dengan cepat Khadijah memegang pergelangan tangan Islam.


"Bukan itu maksud Khadijah!"


"Lalu apa, sayang?" tanya Islam yang kembali memeluk pinggang istrinya ke dalam pelukannya.


"Emm, tanggal merah."


"Tanggal merah?"


Khadijah mengangguk.


"Apa hubungannya dengan tanggal merah?"


Khadijah menarik nafas panjang lalu tatapannya menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari jawaban.


Islam terdiam sejenak. Apa mungkin ini tanggal merah? Islam berpaling berniat untuk melihat tanggal yang ada di dekat pintu.


"Mau kemana?"


"Melihat tanggal."


"Bukan tanggalnnya yang merah."


Khadijah kembali memegang pergelangan tangan Islam yang kembali menghentikan langkahnya dengan wajah bingung.


"Lalu apa yang merah, sayang?"


Khadijah menghembuskan nafas panjang lalu ia tersenyum gugup menatap suaminya.


"Di bawah," bisik Khadijah.


Alis Islam bertaut tidak mengerti.


"Apa?"


"Emmm, da-da-darah."


"Darah?"


Khadijah kembali mengangguk.


"Apa yang berdarah?"


"Di bawah!" bisik Khadijah sambil melirik ke arah bawah dan tak berselang lama ia kembali menatap Islam yang terlihat terdiam, sepertinya ia memikirkan sesuatu.


"Kamu menstruasi?" tanya Islam dengan wajah takutnya.


Khadijah mengangguk membuat Islam menghela nafas panjang dan membaringkan tubuhnya ke kasur. Akhirnya pelukan erat itu terlepas.


"Ahhh, kenapa tidak bilang dari tadi?"


"Akhi Islam tidak bertanya."


Islam mengusap kepalanya itu dengan perasaan hampa membuat Khadijah duduk di pinggir kasur. Sesekali tangannya merapikan lengan baju gamisnya yang merosot memperlihatkan bahu mulusnya. Ini karena perbuatan Islam yang membukanya dan tak menutupnya lagi.


"Sayang."


Islam bangkit dari kasurnya dan bertiarap di atas kasur meletakkan kepalanya itu di atas paha istrinya.


"Jadi tidak boleh?"


"Dalam Al-qur'an tidak diperbolehkan menggauli istri dalam keadaan kotor."


"Lalu kapan?"

__ADS_1


"Apa?"


"Berhenti. Wanita tidak menstruasi setiap hari kan?"


"Hanya tujuh hari."


"Tujuh hari?" kaget Islam yang langsung duduk menatap istrinya yang mengangguk.


"Lama sekali, sayang," ujar Islam bernada manja.


Khadijah tersenyum. Khadijah tak menyangka jika pria yang selalu dilihat oleh orang-orang sebagai pria kasar dan nakal itu ternyata sangat manja seperti anak kecil.


"Itu tidak lama."


Islam melirik menatap istrinya yang diam menatapnya. Hah, indah sekali bibir istrinya itu.


Islam menarik istrinya dalam pelukannya dan membaringkannya di atas kasur membuat Khadijah kembali merasakan jantungnya berdebar saat pipinya berada di atas dada Islam.


Jari tangan Khadijah pun berada tepat di atas dada Islam hingga ia bisa merasakan kulit halus tubuh suaminya itu.


"Sayang."


"Iya?"


"Kapan darahnya berhenti?"


"Ini hari ke lima jadi masih ada dua hari lagi."


Islam menghela nafas panjang. Ia menyentuh dagu istrinya dan membawanya agar Khadijah menatap wajahnya.


"I love you, Khadijah," bisik Islam sembari mengelus rambut istrinya yang panjang.


Khadijah tersenyum malu. Ia ingin menunduk agar tak melihat wajah Islam yang membuat Khadijah merasa benar-benar tak tahan dengan wajah tampan pria itu, tapi dengan cepat Islam memegang dagu Khadijah agar tak menunduk.


"Kenapa tidak menjawab?"


"Khadijah malu."


"Kenapa harus malu?"


Khadijah menggeleng. Ia tak tahu harus berkata apa sekarang.


Islam tersenyum lalu mengecup kening Khadijah yang spontan menutup kedua matanya. Kecupan itu tak terlepas dari kening istrinya membuat Khadijah mengernyit heran.


Ini sudah cukup lama dan Islam tak bergerak lagi sedikitpun. Khadijah menjauhkan wajahnya dan alhasil membuat Khadijah bisa melihat kedua mata Islam yang telah tertutup. Apa pria itu sudah tidur?


"Akhi!" panggil Khadijah.


Tak ada jawaban.


Khadijah tersenyum lalu kembali merapatkan keningnya itu ke bibir Islam. Pelukan itu mulai merenggang dan tak seerat tadi membuat Khadijah yakin jika suaminya itu benar-benar telah tertindur.


...*******...


Cahaya matahari nampak malu-malu untuk naik dan menyinari sinarnya yang menebus kaca hingga merambah ke sepasang pengantin baru yang masih tertidur di atas kasur putih.


Dahi Khadijah mengkerut saat sinar matahari hangat menyilaukan kedua matanya dan membuat Khadijah terbangun dari tidur lelapnya.


Khadijah membuka mata dengan sempurna dan tersenyum menatap pemandangan indah di pagi hari yakni wajah suaminya.


Hidung pria itu mancung, bibir yang sedikit tebal di bawah sedangkan di bibir atasnya terlihat tipis berwarna pink segar. Alis pria yang telah menjadi suaminya itu agak tebal dan berbentuk seakan telah di poles agar terlihat indah mengikuti kelopak matanya yang kedua matanya itu masih tertutup.


Kulit wajah pria itu terlihat mulus bahkan Khadijah tak pernah melihat jerawat atau bahkan bekas jerawat di sana. Betapa sempurnanya cucu Abah Habib ini.


"Sudah puas melihat?" tanya Islam dengan mata yang masih tertutup membuat kedua mata Khadijah membulat karena terkejut.


Oh Tuhan, bagaimana bisa Islam tahu jika sejak tadi ia melihat wajah Islam?

__ADS_1


Malu!


Sangat malu!


__ADS_2