
Suasana masjid kini semakin ramai seiring berjalanya waktu yang telah mendekati waktu sholat maghrib. Setelah semua telah membatalkan puasa dengan memakan buah kurma mereka akhirnya memutuskan untuk sholat.
Khadijah menyentuh pipinya yang terasa hangat itu karena merasa takut jika namanya disebut oleh Islam jika benar ia yang menjadi imam hari ini.
"Ada apa, Khadijah?" tanya ustadzah Fitri yang sejak tadi menatap Khadijah.
"Tidak apa-apa, ukhti," jawab Khadijah.
Kini suasana menjadi sunyi dan itu berarti sholat maghrib segera akan dilaksanakan. Khadijah terasa bergetar karena khawatir.
Bagaimana jadinya jika itu benar Islam dan dia menyebut namanya. Sudah jelas jika semua orang yang di dalam masjid ini akan mendengarnya.
"Lurus dan rapatkan saf!"
Suara itu terdengar dari alat pengeras suara yang ada di sudut ruangan membuat Khadijah bernafas lega, suara itu adalah suara Rahman, bukan Islam.
Hampir saja ia jantungan.
Ruangan Makan
Khadijah mengangkat wadah berisi tumisan kangkung itu lalu menuangkannya ke wadah saji di atas meja.
Khadijah menoleh menatap ke arah meja dimana Islam sering ada di sana. Khadijah hanya memastikan jika bukan Islam yang menjadi imam di masjid tadi karena memang ia tidak mau bukan karena ia tidak ada di masjid.
Khadijah tersenyum di balik cadarnya saat ia berhasil menatap Islam yang sedang duduk di atas karpet sambil meletakkan piringnya di atas meja yang telah diisi dengan makanan itu.
"Hust!" sikut Sarifuddin setelah tanpa sengaja menatap Khadijah yang diam-diam menatap Islam yang rupanya tak sadar akan hal itu.
"Apa?" tanya Islam yang telah siap untuk makan.
"Menunduk dan lirik ke arah jarum jam dua!" bisiknya.
"Maksudnya?" Tatap Islam tak mengerti.
"Menunduk dan lirik ke arah jarum jam dua!" bisiknya dengan mata melotot.
Islam hanya menurut membuatnya mau tak mau harus menunduk dan melirik ke arah yang telah diberitahu oleh Sarifuddin.
Seketika Islam tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapih.
Wah, diam-diam ada yang sedang menatapnya.
Dari sini ia bisa melihat Khadijah yang sedang menatap ke arahnya sambil memegang wadah bekas tumisan kangkung.
Islam mengangkat dagunya hingga wajahnya benar-benar mengarah ke Khadijah yang langsung terlihat terkejut bukan main.
Islam tersenyum lebar lalu mengangkat tangannya ke atas kepalanya membentuk love ke arah Khadijah yang tersenyum malu-malu di balik cadarnya.
Khadijah berpaling lalu melangkah pergi dan di dalam tempat yang sama Akbar terlihat ikut tersenyum menatap tingkah laku Islam dan Khadijah.
Haruskah perjodohan ini tetap berlanjut semetara Islam terlihat sangat mencintai putri dari Ustad Hasim itu.
Sudahlah! Biar takdir yang mengatur kisah mereka berdua.
...***...
__ADS_1
Islam melangkah menaiki anakan tangga menuju masjid yang terlihat telah ramai setelah kedatangan para santri yang sudah berdatangan ke masjid.
Islam menghentikan langkahnya dengan perasaan yang bergitu sangat takut. Jantungnya berdetak sangat cepat membuat tubuhnya berhasil bergetar.
"Ada apa?" tanya Sarifuddin yang terlihat menunduk menatap Islam yang berada di anakan tangga di bawah Sarifuddin.
"Gue bisa nggak, yah?" tanya Islam, wajahnya sudah pucat karena khawatir pada hasilnya nanti.
Islam sangat khawatir jika ia nanti menjadi imam sholat. Bagaimana jika ia salah? Apa ini tidak apa-apa?
Sarifuddin melangkah turun mendekati Islam lalu menyentuh pundaknya membuat Islam tersadar dari lamunannya.
"Kenapa?"
"Din! Gimana kalau gue salah?"
"Tidak apa-apa, namanya juga belajar to," ujarnya berusaha menenangkan Islam.
"Din, masalahnya kalau gue salah, ini bukan urusan gue sama makmum tapi urusannya sama Allah," jelasnya.
Sarifuddin tersenyum.
"Maka ucapkan bismillah dan libatkan Allah di dalamnya maka Allah akan senantiasa memperlancarkan semuanya, yakin saja!"
Islam mengangguk lalu kembali melangkahkan langkahnya menuju ruangan masjid.
"Din, lo sholat di belakang gue, yah!" ujarnya membuat Sarifuddin tersenyum.
"Tidak bisa, saf itu khusus untuk pak haji kiyai dan para ustad pengajar di pondok pesantren. Saya di belakang saja," jelasnya lembut.
Jantung Islam berdetak kencang membuat sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Kini ia masih berada di saf paling belakang dengan tatapannya yang menatap ke arah Rahman yang telah memasang alat pengeras suara di kerah bajunya.
"Islam, ayo maju!" bisik Sarifuddin membuat Islam menoleh.
"Sekarang?"
Sarifuddin mengangguk.
"Tapi-"
"Demi Khadijah," bisiknya lagi.
Islam tersenyum lalu menatap ke arah Rahman yang telah siap untuk membaca niat sholat isya.
"Tunggu!" teriak Islam lalu melangkah maju membuat semua orang menoleh.
Islam melangkah maju membela saf yang terlihat rapih itu. Semuanya menatap bingung pada Islam yang dengan tiba-tiba berteriak di tengah keheningan.
"Ada apa dengan anak itu?" tanya Akbar yang terlihat keherangan.
Islam menghentikan langkahnya tepat di hadapan Abah Habib yang juga sejak tadi menatap Islam dengan bingungnya.
Islam menatap gemetar pada sorot mata Abah Habib yang menatapnya. Islam menelan salivanya dengan paksa.
"Ada apa?" tanya Abah Habib yang terlihat masih kebingungan.
__ADS_1
Islam masih terdiam. Sejak tadi batinnya menyuruhnya untuk bicara tapi ini rasanya sangat sulit.
"Mau sholat di samping Abah?" tanya Abah Habib.
Islam menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Islam menoleh menatap Sarifuddin yang terlihat tersenyum lebar seakan berusaha untuk memberi dan meyakinkan Islam jika dia pasti bisa.
Islam mengangguk lalu menoleh menatap Abah Habib yang masih diam menantinya untuk bicara.
"I-i-islam mau jadi imam," ujar Islam akhirnya.
Semuanya melongo setelah mendengar apa yang baru saja diujarkan oleh Islam bahkan para santri yang ada di belakang terlihat terbelalak kaget.
Apakah ini benar?
Apa mereka tidak salah dengar?
Bagaimana bisa Islam, si pria preman itu menjadi imam masjid untuk shalat hari ini.
"Apa?" tanya Abah Habib yang berusaha untuk membenarkan pendengarannya, mungkin saja ia salah dengar.
"Saya mau jadi imam," ujar Islam.
"Apa kamu serius?" tanya Akbar yang melangkah mendekati Islam.
"Serius," jawabnya.
Abah Habib dan Akbar saling bertatapan dengan rasa tak percayanya.
"Ma sya Allah, silahkan!" ujar Akbir yang melangkah mendekati Islam dan menyentuh pundaknya.
Islam tersenyum saat menatap Akbir lalu ia menoleh menatap Akbar dan Abah Habib.
"Apa boleh?" tanya Islam.
Abah Habib dengan cepat mengangguk lalu berujar, "Silahkan!"
Islam tersenyum lalu melangkah mendekati Rahman yang sejak tadi diam dengan wajahnya yang kaget dan tak percaya jika Islam benar-benar meminta hal ini.
Islam menghentikan langkahnya lalu tersenyum menatap Rahman.
"Boleh?" tanya Islam sembari menjulurkan telapak tangannya meminta alat pengeras suara yang ada di kerah baju Rahman.
Mau tak mau Rahman hanya bisa menurut dan membawanya melepas alat pengeras suara itu dari kerah bajunya lalu ia menjulurkannya ke arah Islam.
"Terimakasih," ujar Islam lalu meraih benda itu dan memasangnya di kerah bajunya.
Islam berdiri membelakangi semuanya. Islam tersenyum, jadi seperti ini rasanya berdiri membalakangi ratusan makmum.
"Ehem..."
Islam tersenyum sejenak setelah ia mengingat sesuatu.
"Khadijah," ujar Islam pada alat pengeras suara itu.
......................
__ADS_1
Lanjut di part berikutnya, yah~~~