
Kania menelusuri tiap sudut rumah barunya,mulai dari ruang tamu,kamar tidur sampai kamar mandi.Dia benar benar puas dengan hasil renovasi itu,semua terlihat baru dan rapih.
Tidak ada lagi genteng bocor,tembok retak,plafon rusak dan lain lain.Tiba Kania membuka pintu halaman belakang,tempat paling favorit bagi Kania di rumah itu.Kebun sayur mayur hilang,berganti menjadi taman bunga dengan sebuah gazebo mini didalamnya.Entah kenapa Kania merasa sedikit kecewa.
Farel merangkul Kania dari belakang,dia menyapukan wajahnya pada tengkuk sang istri.
"Kamu suka tidak dengan rumah ini?"Tanya Farel.
"Suka,tapi aku tidak suka dengan taman bunga dan gazebo itu.Aku lebih suka kebun sayur milikku,dulu aku sering menghabiskan sebagian waktuku disana bersama Ayah dan Ibuku,"Tutur Kania.
"Maaf,aku ceroboh dan tidak bertanya dahulu padamu.Besok aku akan meminta orang untuk merombaknya lagi,"ucap Farel.
"Tidak perlu,buang buang tenaga dan uang saja,"larang Kania.
"Apa kamu marah padaku?"Farel menatap istrinya serius.
"Tidak,"sahut Kania malas.
"Jangan bohong,"Farel mendesak.
"Iya,sedikit,"Kania akhirnya mau berkata jujur.
"Maafkan aku,"Farel merajuk manja.
"Iya,aku memaafkan mu."
Puas berkeliling,Kania merasakan pegal dan nyeri di bagian punggung.Farel mengajak Kania untuk beristirahat didalam kamar.Menjadi wanita hamil memang butuh pengorbanan,selain harus memikul beban berat dia juga harus menahan rasa pegal,linu dan sakit di sekujur badan.
Tapi Kania senang menjadi Ibu hamil,karena dia bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang lebih dari orang orang yang ada disekitarnya.Tidak hanya dari Farel saja,melainkan dari Nenek,Rio,Renata,Bi Sumi juga Dian dan Dion.
Suasana rumah menjadi sepi setelah Kania dan Farel masuk kedalam kamar.Renata dan si kembar juga sudah masuk kedalam kamar masing masing.Tinggallah Rio seorang diri diruang tengah,minum kopi sambil menonton televisi.
Tak lama,pintu kamar Renata terbuka.Dia berjalan keruang tengah untuk menemui Rio.Mendengar suara langkah kaki mendekat Rio menoleh kearah belakang dan memfokuskan pandanganya pada sumber suara itu.
"Renata?Kenapa bangun?"Tanya Rio.Dia hanya basa basi saja,karena sebenarnya dia juga menginginkan Renata bangun untuk menemuinya.
"Aku ingin mengobrol berdua denganmu,"sahut Renata sambil senyum malu malu.Senyum itu terlihat manis dan menyilaukan dimata Rio.
"Sini,mendekat lah padaku,"Rio menepuk sofa disebelahnya.Dia meminta gadis itu untuk duduk disampingnya dan tidak jauh jauh darinya.
Diluar dugaan,Renata malah dengan nakalnya duduk dipangkuan Rio.Membuat mata Rio melebar karena merasa seperti tersengat listrik.
Cup,,
Sebuah ciuman mendarat di pipi Rio.
"Aku rindu padamu,"bisik Renata.
__ADS_1
"Sama,aku juga."Ucap Rio.
Renata menjatuhkan kepalanya di dada bidang sang kekasih,rasa nyaman dirasakan oleh gadis itu.Terlebih saat Rio membelai rambut Renata mesra.Ternyata berpacaran itu indah,kalau tau begitu Rio sudah mencoba untuk berpacaran dari dulu.Kini pria itu benar benar menyesal karena telah menjomblo sampai umur cukup matang.
Tangan Renata bergerak,dia mengelus dada bidang Rio pelan dan membuatnya sedikit geli.Rio tau apa yang sedang di inginkan oleh wanita itu,segera Rio menghujani Renata dengan ciuman.
Permainan mereka kali ini lebih panas dari sebelumnya,mungkin karena Rio sudah lebih ahli dari sebelumnya.Tapi keduanya masih ingat untuk menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar berciuman.
"Kak Re,"suara seseorang memanggil.Re segera menyudahi aksi panasnya dengan Rio.
"Seperti ada yang memanggilku,"Renata kembali memasang telinga.
"Aku tidak mendengar apapun,"ucap Rio.Renata dan Rio akhirnya melanjutkan ciuman mesra mereka.
"Kak Re,"suara memanggil terdengar lagi.Renata kembali melepas ciumannya dari Rio.
"Itu suara Dian,sepertinya dia terbangun dan mencariku.Aku harus menemuinya.
"Tapi aku masih rindu,"Rio merengek kesal.Dia masih belum puas dengan pergulatan tadi,tapi Renata sudah mau pamit pergi.
"Kita lanjutkan lagi nanti,sekarang aku akan menemui Dian dulu,"ucap Renata.
"Janji,nanti kamu kesini lagi?"Rio menatap ragu.Dia masih enggan membiarkan kekasihnya pergi begitu saja.
"Iya,aku berjanji.Aku akan segera kembali untuk menemui kamu,"Renata mencoba untuk meyakinkan.
"Baiklah,aku akan menunggumu."Rio merelakan Renata pergi menuju kamar Dian.
"Dian,kamu kenapa?"Renata berjalan mendekat.
"Aku mimpi dikejar kejar monster,"sahut Dian polos.
"Ha...Ha...Ha...Tidak ada monster didunia ini,jadi kamu tidak perlu takut,"Renata menertawai tingkah lucu adik perempuan Kania itu.
"Kakak,temani aku tidur,"rengek Dian manja.
"Ayo naik keranjang,aku akan menemanimu tidur."
Renata berbaring disisi Dian,satu menit,dua menit,lima menit kemudian dia ikut tertidur lelap dengan Dian.Renata baru saja melakukan kesalahan,dia melupakan janjinya pada Rio begitu saja.
*
*
*
Keesokan harinya,Rio terus menerus memasang wajah kesal.Dia menunggu Renata kembali sampai subuh hari,tapi yang ditunggu malah ketiduran.
__ADS_1
Renata terus meminta maaf pada Rio,segala cara telah dilakukan Renata tapi hasilnya nihil.Rio terus saja memasang wajah zombi dan membuatnya takut.
"Rio kenapa?"Tanya Kania penasaran.
"Dia sedang marah padaku,"Renata memasang wajah sedih.
"Kenapa bisa marah?"Tanya Kania lagi.
"Semalam aku janji akan menemaninya mengobrol,tapi aku malah ketiduran,"Sahut Renata.
"Pria memang begitu,egois,maunya menang sendiri.Sedikit sedikit marah,sedikit sedikit ngomel,"Kania berkisah dengan sedikit emosi.
"Apa benar seperti itu?"Tanya Renata balik.
"Benar,"
"Aku jadi takut nih mau membina rumah tangga,"Renata menekuk wajahnya.
"Tidak perlu takut,mau seperti apapun pria dia tetap akan takluk pada wanita yang dicintainya,"ujar Kania dengan nada penuh percaya diri.
"Oh,begitu,"Renata menyahut lemas.
Sepertinya Kania harus melakukan sesuatu pada Rio agar pria itu tidak marah lagi pada Renata dan membuat teman baiknya sedih.Kania berjalan keluar rumah menghampiri Rio yang sedang duduk manis di kursi teras.
"Rio,"Panggil Kania.
"Iya Nona,"
"Apa kamu mau dipecat?"
"Tidak Nona,tolong jangan pecat saya.Saya sangat butuh pekerjaan ini,lagi pula apa kesalahan yang baru saja saya lakukan?"Rio memasang wajah bingung.
"Kalau begitu cepat temui Renata,bilang padanya kalau kamu sudah memaafkannya.Satu lagi,jangan membuatnya sedih lagi,"Perintah Kania.
"Tapi Nona,"Rio merasa enggan.
"Mau melawanku?"Kania mengancam.
"Tidak,saya tidak berani,"Sahut Rio lemas.
"Lalu kenapa kamu masih berdiri disini?"Kania menatap asisten pribadi itu tajam.Rio bergegas masuk kedalam rumah untuk menemui Renata.
Entah sejak kapan Kania memiliki keahlian mengancam dan mengintimidasi orang lain.Mungkin sejak dia menikah dengan Farel dan sering cekcok dengan suaminya itu.Yang jelas Kania merasa puas,karena kini dia tidak mudah ditindas atau dipermainkan oleh orang lain seperti dulu.
--->🌻🌻🌻🌻🌻<---
Hallo,
__ADS_1
Mohon dukungan untuk karya Author yang satu ini dengan memberikan like,vote dan komen sebanyak banyaknya.Terimakasih😘
Peluk hangat,Author.