
Ting...Tong...
Bel rumah berbunyi,Bi Sumi keluar dari dapur untuk membuka pintu.Dia sedikit terkejut melihat Tuan Farel pulang kerumah sambil menggandeng seorang gadis kecil.Disisinya ada Renata,dia melambaikan tangan sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Pagi Bi,"sapa Farel.
"Pagi,"
"Tolong buatkan camilan yang enak untuk Aurel,"
"Iya,Tuan,"
Farel mengajak Aurel masuk kedalam rumah,mereka melangkah menuju kamar anak anak kembar Kania.Sementara Bi Sumi dan Renata pergi kedapur.
Ceklek,
Pintu kamar anak anak terbuka,Kania dan Bu Tina ada disana.
"Aku pulang,"ucap Farel.
Kania menoleh kebelakang,dia terkejut saat melihat Farel mengajak Aurel bersamanya kerumah itu.
"Kamu mengajaknya kesini?"Kania sedikit kesal.
"Kania,dia memintaku untuk mengajaknya kemari.Dia bilang dia ingin mencicipi masakan enak dari Bi Sumi,"sahut Farel santai.
"Hallo Tante,"sapa Aurel.
"Hallo.Kamu sudah baikan?"Tanya Kania.
"Sudah Tante,"
"Kalau begitu sebaiknya kita keluar kamar,kita menonton televisi,"ajak Kania.
"Tidak mau,aku ingin bermain dengan adik adik kecil itu,"Aurel menolak ajakan Kania.
"Ah,tapi..."Kania tercekat.
Kania,kamu ikut aku keluar.Biar Aurel main dengan si kembar,ada Bu Tina yang mengawasi.Kamu tidak perlu khawatir,"ucap Farel.
"Iya,baiklah,"Kania memasang wajah pasrah.
Diluar kamar,Farel memarahi Kania yang terlihat keberatan jika anak anaknya bermain dengan Aurel.Padahal Aurel juga anak dari Farel meskipun tidak lahir dari perut Kania.
Kania hanya diam saat dimarahi,dia sadar sikapnya tadi salah.Tapi menata hati dan pikiran untuk menerima sesuatu yang tidak dikehendaki oleh diri itu sangat tidak mudah.
Kania melarikan diri ke taman belakang,memberi makan ikan ikan sambil merenung.Semua sudah terjadi,harusnya dia sudah bisa menerima kehadirannya tapi kenapa masih terasa begitu sulit?
Air mata Kania menetes,dia merasa terluka dan kecewa.Renata menghampirinya,dia tau apa yang dirasakan oleh Kania saat itu.
"Kania,"panggil Renata.Kania menoleh kearah kebelakang sambil menyeka air matanya.
"Sedang apa kamu disini?"Tanya Renata.
"Menenangkan diri,"sahut Kania.
"Aku tau apa yang kamu rasakan.Tapi,cobalah untuk menerima segalanya dengan baik.Kamu tau kan,semuanya adalah kehendak dari Tuhan?"
"Iya,aku tau.Tidak seharusnya aku bersikap ke kanak kanakan,"
__ADS_1
Kania dan Renata berpelukan.
*
*
*
Kring...Kring...Kring...
Telfon rumah berdering.Farel yang sedang bersantai menonton tv bergegas untuk mengangkatnya.
"Hallo,"sapa Farel.
"Hallo,ini aku Cindy.Bagaimana keadaan Aurel?"Tanya Cindy.
"Dia baik baik saja,dia sedang bermain dengan anak anakku saat ini,"sahut Farel.
"Aku akan pulang nanti sore,besok pagi aku akan menjemputnya dirumahmu.Tolong katakan itu padanya,"
"Oke,aku akan sampaikan padanya,"
"Terimakasih,kamu sudah mau membantuku menjaga Aurel,"
"Sama sama,"
Cindy menutup telfon,obrolan mereka pun berakhir.
"Bagaimana keadaan Aurel?"Tanya Dion sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Dia baik baik saja,"Cindy tersenyum lega.
"Iya,kamu benar,"
"Sekarang,ayo kita masukan barang barang kita ke koper agar tidak gugup dan tidak ada yang ketinggalan,"
"Ayo,"
*
*
*
Jam makan siang tiba,Farel mengajak seluruh anggota keluarganya untuk makan bersama.Termasuk Aurel,Renata dan Bi Sumi.
Sepanjang acara makan siang berlangsung,Kania membisu.Dia tidak mengucapkan apapun dari mulutnya.Meski begitu dia masih mendengarkan ocehan Aurel dengan Renata dan Farel.Suara begitu lantang dan cerewet.Persis seperti suara Ayahnya.
Kania makan dengan buru buru,dia ingin segera menghabiskan makanannya dan pergi dari tempat itu.
"Kania,kamu makan sedikit sekali.Apa perutmu akan kenyang?"Tanya Farel.
"Perutku sudah kenyang sejak tadi,bahkan dari sebelum makan,"ucap Kania.
"Tante kenapa?Apa Tante sedang tidak enak badan?"Tanya Aurel polos.
"Iya,Tante sedang tidak enak badan sekaligus tidak enak hati.Jadi sekarang Tante mau tidur dulu dikamar,kamu main saja Om Farel dan Tante Renata ya,"
"Iya Tante,"
__ADS_1
Renata dan Bi Sumi saling bertukar pandang satu sama lain.Disisi lain mereka kasihan pada Kania,tapi mereka juga kasihan pada Aurel.
Dian dan Dion kembali dari sekolah,mereka sedikit bingung saat melihat Aurel disana.
"Siapa dia?"Bisik Dian pada Dion.
"Aku tidak tau,mungkin keponakan Kakak Ipar,"
Farel memanggil Dian dan Dion,dia meminta mereka mengajak Aurel bermain.Sikembar menurut,dia mau mengajak Aurel bermain setelah mereka selesai berganti pakaian dan makan siang.
Aurel terlihat bahagia saat bermain kejar kejaran dengan Dian dan Dion,anak itu tidak pernah bermain dengan teman temanya selama ini.Cindy selalu mengurungnya didalam rumah agar anak itu terhindar dari Bullyan teman temanya.
"Dia terlihat sangat bahagia,"ucap Renata.
"Iya,kamu benar.Sepertinya aku harus sering sering mengajaknya main kerumah ini,"
"Kita pikirkan hal itu nanti saja.Sebaiknya kamu temui Kania,biar aku yang menjaga dan mengawasi anak anak,"Renata memerintah Farel untuk menemui dan berbicara dengan Kania.
"Oke,mohon bantuannya ya!"
Farel pergi menemui Kania dikamarnya.Wanita itu baru saja selesai mandi air dingin,mungkin untuk mendinginkan hatinya yang sedang kepanasan dan dilanda perasaan iri.
Farel memeluk Kania dari samping,dia menghujani wanita itu dengan ciuman.
"Aku suka bau badanmu,"
"Jangan menggodaku,aku sedang tidak mood untuk goda menggoda,"
"Kania,dengarkan aku.Jika kamu tidak juga mau menerima anak itu,itu artinya kamu juga tidak mau lagi hidup bersamaku,"celoteh Farel kesal.
"Apa kamu sedang mengancam aku?"Kania merasa tersinggung dengan ocehan suaminya.
"Tidak,bukan begitu maksudku,"Farel kalang kabut.
"Tapi omongan mu tadi terdengar seperti ancaman,"seloroh Kania kesal.
"Hah,salah bicara lagi,"Farel memijit pelipisnya pelan.
Kania mengambil pengering rambut,dia mengeringkan rambutnya yang basah.Farel merebut pengering itu dan membantu Kania mengeringkan rambutnya.
"Apa kamu masih mencintai aku?"Farel memasang wajah serius.
"Masih,"sahut Kania singkat.
"Kalau kamu masih mencintai aku,terimalah juga masa lalu dan kekuranganku,"pinta Farel penuh harap.
"Aku menerimanya,"ucap Kania dengan nada malas.
"Lalu kenapa sikapmu begitu kepada Aurel?"Farel menyudutkan Kania.
"Mungkin karena aku masih memerlukan waktu untuk menerimanya,"
"Sampai kapan aku harus menunggu kamu bisa menerimanya?"
"Entahlah,aku tidak tau!"Kania mengalihkan pandangannya keluar jendela.Mengamati dedaunan kering yang jatuh dari atas pohon karena tiupan angin.
Farel menarik nafas panjang dan menghembuskan secar perlahan.Rupanya,Farel masih harus bersabar menghadapi sikap Kania.Farel tidak boleh lelah,dia yakin kalau suatu saat nanti Kania pasti bisa menerima Aurel dengan baik.
Bersambung...
__ADS_1