
banyak kejutan yang Kania dapat hari ini selain kedatangan Renata,Dian dan Dion.Kado untuk si kembar tiga mulai berdatangan dari orang orang yang sudah tidak sabar menantikan kehadiran mereka.
Nenek menghadiahi calon anak anak Kania sebuah mobil baru yang ukuranya lebih besar dan lebih mewah.Sementara Farel menghadiahi anak anaknya sebuah helikopter yang bisa dipakai untuk pergi ke sekolah tanpa macet.Rio dan Renata menghadiahi si kembar beberapa setel pakaian,sepatu dan stroller.
Dari semua hadiah ada,yang paling berguna dan bermanfaat adalah hadiah dari Renata dan Rio.Untuk apa bayi baru lahir dibelikan mobil mewah dan helikopter?Mereka bahkan tidak bisa langsung membuka mata dan melihat keindahan dua benda mahal itu.Nenek dan Farel benar benar aneh!
Tapi meskipun begitu,Kania tetap menerima hadiah pemberian Nenek dan Farel.Dia tidak mau mereka tersinggung dan marah padanya jika Kania menolak pemberian mereka.
Dikamar baru Kania.
"Kamar ini apa tidak terlalu kecil?"Tanya Renata.
"Tidak apa apa,aku hanya tinggal disini sampai si kecil lahir saja.Setelah mereka lahir aku akan kembali ke kamar atas,"sahut Kania.
"Naik turun tangga dengan membawa perut sebesar gunung memang sulit,keputusanmu untuk pindah kamar sementara cukup bagus,"Renata menyunggingkan senyum.
"Ngomong ngomong,aku sudah memiliki nama untuk si kembar loh"Ucap Kania sambil malu malu.
"Benarkah?Tolong beritahu aku,"Renata sangat antusias.
"Namanya Julian,Julio dan Juliet Mananta,"sebut Kania lancar.
"Nama yang bagus,apa suamimu sudah tau tentang nama nama itu?"Tanya Renata lagi.
"Belum,"sahut Kania singkat.
"Kalau dia protes bagaimana?"Renata mencoba memperingatkan temanya itu.
"Tidak ada yang berani protes padaku,tiga bayi ini adalah milikku,aku menguasai segala hal tentang mereka termasuk nama,"ucap Kania lantang.
"Idih,mantap!"Renata mengacungkan kedua jempol tanganya ke atas.
Dian dan Dion datang menghampiri Kakak Ipar mereka diruang tamu.
"Kakak,semua barang barang itu untuk apa?"Tanya Dion penasaran.Farel sibuk mengumpulkan cat,kuas,dan beberapa aksesoris ruangan.
"Untuk mendekor ulang kamar pribadi kami diatas,sebentar lagi baby kami lahir,kami perlu menambah nuansa anak anak pada kamar itu,"sahut Farel.
"Apa kami boleh membantu?"Tanya Dian.
"Tidak boleh,ini pekerjaan orang dewasa.Bagaimana kalau kalian bantu Bi Sumi menyiapkan makan malam saja di dapur?"Ucap Farel.
"Iya,baiklah."Sahut Dian dan Dion kompak.
__ADS_1
Dua bocah itu cemberut,mereka berjalan malas menuju dapur.Bi Sumi melihat tingkah lucu Dian Dan Dion yang sepertinya sedang kesal karena sesuatu.
"Kalian kenapa?"Tanya Bi Sumi.
"Tidak apa apa,"sahut Dian.
"Jangan bohong,katakan saja dengan jujur,"desak Bi Sumi.
"Orang orang sedang sibuk menyambut kedatangan tiga bayi itu,mereka lupa pada kami,"ceplos Dion.
"Astaga,jadi kalian cemburu?"Bi Sumi tertawa kecil.
"Tidak,kami tidak cemburu,"bantah Dian.
"Kalau tidak cemburu apa namanya?"Tanya Bi Sumi lagi.Dian dan Dion bungkam.
"Sayang,kalian berdua sudah besar.Sudah bisa melakukan segalanya sendiri,wajar kalau perhatian orang orang pada kalian sedikit berkurang.Tapi ada satu hal yang perlu kalian tau,cinta kami untuk kalian tidak akan pernah berkurang sedikitpun,"jelas Bi Sumi.
"Benarkah?"Dian menatap serius.
"Iya,benar.Jadi jangan khawatir lagi ya?"Ucap Bi Sumi.Dian dan Dion menganggukkan kepala kompak.
Dalam diam,Dian dan Dion berpikir apa yang dikatakan Bi Sumi ada benarnya juga.Untuk apa mereka cemburu pada bayi bayi itu?Mereka juga kan calon saudara Dian dan Dion juga.Mereka harus menyambut kedatangan bayi bayi itu dengan penuh suka cita.
*
*
*
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Kania menangis,dia diserang oleh rasa takut berlebih hingga mengalami sedikit depresi.Wajar saja,ini adalah pengalaman pertamanya melahirkan.Meskipun ditemani banyak orang,Kania masih saja teringat pada almarhumah Mamanya.
Andai saja orangtua Kania masih hidup khusunya Mamanya,Kania pasti tidak akan kalut seperti ini.
"Kania,buang jauh jauh pikiran buruk yang ada dikepalamu.Yakinkan hatimu,semua akan berjalan lancar dan baik baik saja,"Maria memberi sebuah nasihat.Kania mengangguk sambil menyeka air mata.
"Farel,aku menyimpan surat wasiat di laci meja rias ku,"ucap Kania.Dia menggenggam tangan suaminya erat.
"Kania,"Farel melotot.
"Farel,apapun bisa terjadi saat proses melahirkan,aku hanya berjaga jaga saja,"Kania menyunggingkan senyum kecil.
Suami istri itu saling berpelukan satu sama lain,lalu saling mengutarakan kata cinta.Romantisme diantara Farel dan Kania terjalin lebih kuat karena sebuah kehawatiran.Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Kania atau anak anaknya?Farel terus memikirkan itu sejak seminggu yang lalu.
__ADS_1
Sebenarnya Farel sangat ingin menangis,tapi dia menahannya karena takut mental Kania down.
Tiba dirumah sakit,Kania langsung menjalani serangkaian pemeriksaaan,berganti pakaian dan masuk keruang rawat inap.Farel terus menemani Kania untuk memberikan support dan semangat.
Waktu yang ditunggu tiba,beberapa suster datang menjemput Kania dan membawanya masuk keruang oprasi.
"Banyak banyak berdo'a ya Bu,jangan tegangng.Yakinlah semua akan berjalan dengan lancar dan selamat semuanya,"ucap salah satu perawat perempuan.
"Terimakasih ya sus,"ucap Kania.Sang suster hanya menjawab dengan sebuah senyuman.
Pintu ruang oprasi tertutup,tiba tiba pandangan mata Farel kabur dan gelap.
"Nenek,"panggil Farel sambil terus berpegangan pada tembok.
"Cucuku,"Maria berlari tergesa-gesa mendekati Farel.
Farel kehilangan kesadaran,dia jatuh pingsan.Maria sangat menghawatirkan keadaan cucunya,terlebih tubuh Farel dingin,wajahnya pucat dan bibirnya sedikit membiru.
"Farel,Nenek tidak menyangka kalau hanya badanmu saja yang besar,mental mu kecil,"keluh Maria lirih.Rio dan Bi Sumi tertawa mendengar celotehan Nenek tua itu.
Farel membuka mata,dia merasa ada mata tangan tangan kecil yang menampar wajahnya.
"Apa aku masih hidup?"Ucap Farel sambil memencet ujung kepalanya yang pusing.
"Hei,buka matamu.Lihat wajah anak anakmu yang menggemaskan ini,"bisik Maria.
"Anak?"Farel bergegas bangkit dan sekuat tenaga melawan rasa pusingnya.
Maria,Renata dan Rio,masing masing dari mereka menggendong satu bayi.Farel menangis,tubuhnya melemas.Jangankan menggendong bayi bayinya,berdiri saja dia tidak bisa.
"Kamu kenapa?"Tanya Maria.
"Kakiku lemas,mungkin karena terlalu senang,"Farel menyeka air mata.
"Kania,mana Kania?"Farel teringat pada istri tercintanya.
"Ada dikamar sebelah sedang beristirahat,"sahut Maria.
"Tapi dia baik baik saja bukan?"Tanya Farel panik.
"Dia baik baik saja kok,jangan khawatir."Sambung Renata.
--->π»π»π»<---
__ADS_1
Support dari keluarga adalah doping terbaik bagi seseorang yang sedang menghadapi kesusahan dan kegelisahan.
Author.