
Rio memasukan beberapa setel pakaian kedalam ranselnya,besok pagi dia sudah harus kembali bekerja dikediaman Mananta.Renata menekuk wajahnya,dia kesal karena masa bersenang senangnya dengan Rio telah berakhir.
"Jangan cemberut dong sayang,tiap week end aku akan pulang.Kita bisa bersama dan bersenang senang lagi,"goda Rio sambil mencolek dagu istrinya.
"Tapi aku masih belum puas,"rengek Renata manja.Mendengar hal itu,pikiran Rio jadi traveling.Dia menaruh ranselnya dilantai dan menaikan istrinya keatas kasur.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"Tanya Renata.
"Katanya kamu belum puas,"Rio mengedipkan matanya sebelah.
"Astaga,sayang.Bukan itu yang aku maksud,"Renata berkilah.
Rio tak peduli dengan ocehan Renata,langsung saja dia menghujani leher Kania dengan ciuman dan gigitan gigitan kecil.
"Dasar,pria nakal!"Maki Renata sambil merem melek.Dalam beberapa menit saja,pasangan pengantin baru itu sudah tampil polos.
Lenguhan keduanya memadati ruang tidur,menjadi tanda mereka tengah asyik saling menikmati permainan satu sama lain.Setelah melakukan pemanasan ekstra selama setengah jam,keduanya menuju ke permainan inti.
Rio selalu saja kasar dalam bermain,tapi entah kenapa Renata malah menikmatinya.Mungkin karena selera Renata memang sedikit lebih absurd daripada wanita lain diluar sana.
"Aku mencintaimu sayang,"bising Rio mesra.
"Aku juga mencintaimu,"Renata menjambak rambut Rio kuat.
Satu jam berlalu,aktifitas menyenangkan itu akhirnya selesai.Rio benar benar puas dengan pelayanan Renata,begitu juga sebaliknya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu,"Rio mengecup kening Renata.Pipi Renata memerah,dia langsung menutupi wajah malunya dengan selimut tebal.
"Aku sudah melihat segalanya darimu,kenapa kamu masih saja malu?"Rio menatap heran.
"Aku sendiri tidak tau,"Renata tertawa.
Gemas,Rio menggelitik Renata hingga menjerit dan membuat kegaduhan.
"Renata,pelan pelan.Nanti Dian dan Dion terbangun karena mendengar suaramu!"Rio sedikit mengomel.
"Kamu yang memulainya,kenapa jadi aku yang dimarahi?"Protes renata.Rio tersenyum melihat wanita itu memajukan bibirnya kedepan seperti anak bebek.
Keduanya saling berpelukan,mereka saling menghangatkan satu sama lain.Iseng,Renata mencoba menghitung bunyi detak jantung suaminya.Satu,dua,tiga,dan terlewatkan olehnya.
"Kamu sedang apa?"Tanya Rio.
"Menghitung detak jantungmu,"sahut Renata singkat.
"Kurang kerjaan saja!"Rio menggeleng gelengkan kepalanya.
"Memang tidak ada kerjaan kan?"Renata menatap Rio.
"Kalau begitu,pijitin aku,"pinta Rio.
"Tidak mau,aku lelah,"Renata langsung memberi pria itu penolakan.
"Kok bisa lelah?Memangnya apa yang kamu lakukan seharian ini?"Tanya Rio lagi.
__ADS_1
"Aku melayani mu tiap empat jam sekali,apa kamu lupa?"Renata membulatkan kedua matanya dengan sempurna.Kalau sudah begitu dia sangat mirip dengan reog dari Ponorogo.
"He...He...He...Maafkan aku,aku hanya sedang bercanda saja,"ucap Rio santai.
"Dasar,pria menyebalkan!"seloroh Renata kesal.
"Jangan marah dong sayang,besok week end aku ajak kamu shoping deh,"Rio mencoba merayu.
"Yang benar?"
"Iya,benar.Tapi kamu jangan marah lagi ya,"
"Oke deh."
Rencana Rio untuk merayu Kania berhasil,wanita mana yang tidak suka diajak shoping?Seluruh wanita didunia baik itu muda sampai tua pasti akan suka.
Lelah mengobrol,keduanya tertidur dibawah naungan selimut.
*
*
*
Pagi hari,Rio mengerutkan dahi saat membaca pesan singkat dari Farel.Wajahnya terlihat cemas dan sedikit pucat.Bagaimana bisa orang yang sudah meninggal hidup lagi?Angela benar benar sulit untuk ditaklukan.
"Ada apa?Kenapa wajahmu seperti itu?"Renata merasa sedikit panik.
"Tidak ada apa apa,kamu jaga diri dan anak anak dengan baik ya.Jangan keluar rumah kalau tidak ada kepentingan mendesak,"ucap Rio.
"Besok saja ceritanya,aku sedang buru buru,"
"Ya sudah,hati hati dijalan."
Renata memeluk Rio,dia mencium tangan Rio dan Rio mencium kening Renata.Keduanya saling melambaikan tangan dan berpisah.
"Kak,"Dian menarik tangan Renata dan membangunkan wanita itu dari lamunannya.
"Eh,iya nak.Ada apa?"Tanya renata.
"Aku dan Dion berangkat sekolah dulu,"pamit Dian dan Dion.
"Oke,belajar yang rajin ya,"ucap Renata.
Dian dan Dion berangkat ke sekolah dengan penuh suka cita.Tinggalah Renata seorang diri dirumah,karena Ibunya juga sudah kembali bekerja dikediaman Mananta.
Renata masuk kedalam kamarnya,dia bersiap untuk membuka kado pernikahan yang belum sempat dia buka semuanya.Renata merobek kertas kado satu persatu dan mengeluarkan barang barang yang ada didalamnya.
Ada yang memberi peralatan masak,tas,make up dan kain bahan pakaian.Ada juga yang memberi hadiah sepatu couple,pakaian tidur,sampai bed cover.Semua hadiah itu sangat bermanfaat,Renata akan menggunakannya dengan baik.
Selesai membuka kado,Renata memutuskan untuk menelfon Kania.Dia merasa penasaran dengan pesan singkat yang Farel berikan pada Rio.
Tut...Tut...Tut...
__ADS_1
Telfon tersambung.
"Hallo sayang,"sapa Kania hangat.
"Apa kabar?"Sapa Renata.
"Baik,kamu sendiri bagaimana?"Sapa Kania balik.
"Baik juga.Kania,aku mau tanya sesuatu,"ucap Renata.
"Tentang apa?"Tanya Kania.
"Pesan singkat yang tadi farel kirimkan ke Rio itu tentang apa ya?Kenapa wajah Rio berubah jadi cemas dan khawatir?"Tanya Renata penasaran.
"Mungkin Farel cerita kalau Angela masih hidup,"sahut Kania.
Deg,
Wanita jahat itu masih hidup?Artinya,Rio mungkin ditugaskan untuk melakukan hal yang berbahaya.Seperti mengawasi gerak gerik Angela,mengejar dan menangkapnya.Bagaimana kalau Rio tertembak seperti Ibunya dulu?Tiba tiba Renata merasa kesal pada Kania.
Yang menjadi incaran pembunuh adalah Kania,tapi kenapa jadi semua orang yang repot?Bayaran menjadi asisten pribadi memang fantastis,tapi resiko yang akan ditanggung oleh Rio juga tak kalah fantastis.
"Bagaimana kalau aku minta Rio mengundurkan diri saja?Aku tidak mau Rio kenapa napa!"Gumam Renata dalam hati.
"Renata,kok kamu diam saja?"Kania merasa curiga.
Tanpa ba,bi,bu,Renata langsung menutup telfon dan membuat Kania kebingungan.
Dikediaman Mananta.
Kania masih memikirkan sikap Renata yang aneh,apa yang sebenarnya terjadi padanya?Apa telah terjadi sesuatu?
"Sayang,kamu kenapa?"Tanya Maria.
"Aku hanya memikirkan Renata,dia menutup telfon tanpa permisi.Tidak biasanya dia seperti itu,"tutur Kania.
"Mungkin dia kelupaan sesuatu,seperti sedang memasak,mencuci baju dan lan lain,"Maria menasihati Kania untuk positif thinking.
"Betul juga,kenapa aku jadi terlalu khawatir padanya?"Kania menyunggingkan senyum.
Tiba tiba Bu Ani berlari kecil menghampiri kania,dia terlihat panik.
"Non,si kembar demam,"ucap Bi Ani.
"Demam?Kok bisa?Tadi mereka baik baik saja,"Kania syok berat.
"Iya Non,saya saja tidak tau,"ucap Bi Ani.
Kania naik ke lantai atas,Maria dan Bi Ani mengikuti dari belakang.
--->π»π»π»<---
Tidak ada pekerjaan yang tidak memiliki resiko didunia ini.Apapun pekerjaanmu,jalani,nikmati dan syukuri.
__ADS_1
Author.