
Baby Triplet sakit,seluruh penghuni rumah panik.Segera Maria menelfon dokter pribadi keluarganya untuk memeriksakan kondisi terkini dari cicit cicitnya itu.
Tak lama,seorang Dokter datang memeriksa si kembar tiga.Dia berkata mereka tidak apa apa,hanya terkena demam biasa dan akan mereda setelah minum Paracetamol dan antibiotik.Kania menarik nafas lega,dia merasa takut akan terjadi sesuatu pada belahan jiwanya itu.
Segera setelah diberi kabar oleh Kania jika anak anaknya sakit,Farel pulang dari kantor.Dia memasang wajah panik dan cemas berlebih hingga membuat aura pria tampan itu terlihat suram.
"Sayang,apa yang terjadi dengan anak anak kita?"Tanya Farel pada Kania.
"Mereka hanya demam biasa,kata Dokter mereka akan segera sembuh setelah minum obat,"sahut Kania sambil memberi asi kepada bayi perempuannya.
"Ya...Tuhan,jantungku seperti mau lepas saja.Aku takut sekali,"celoteh Farel.Dia terduduk lemas diatas sofa,seolah tulang belulangnya lenyap dari tubuhnya.
Begitulah rasanya menjadi orang tua saat anak anak terserang sakit,Kania dan Farel baru mengetahuinya saat ini.Ada rasa sesal dihati sepasang suami istri itu,mereka belum sempat berbakti kepada kedua orangtua tapi mereka sudah meninggal dunia.
"Kami sayang pada kalian,sehat sehat ya nak,"Kania mencium anak anaknya secara bergantian.
Bi Sumi masuk kedalam kamar,dia membawa nampan berisi satu gelas besar air jahe gula aren.Wanita itu meminta Kania untuk meminumnya sampai habis agar kesehatan tubuh Kania terjaga.Sangat tidak lucu jika anak anak Kania sakit dan Kania juga ikut jatuh sakit.Siapa yang akan merawat mereka nantinya?Meski ada Beby sitter,peran seorang Ibu tidak bisa digantikan oleh apapun dan dengan alasan apapun.
"Bi,terimakasih.Bibi sudah sangat perhatian padaku,"Kania memeluk tubuh Bi Sumi.
"Sama sama Non,"Bi Sumi mengelus punggung Kania pelan.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama,Rio tiba dikediaman Mananta.Dia langsung mencari keberadaan Farel untuk mendiskusikan sesuatu.
Farel turun kelantai bawah,dia melihat Rio dan langsung mengajaknya masuk kedalam ruangan pribadinya.
"Bos,saya rasa kita harus memberi pengawalan ketat pada Hanum.Angela pasti akan mencoba untuk melenyapkan wanita itu untuk menghilangkan saksi kunci kebohongannya,"Rio memberi saran pada Bosnya.
"Betul juga,kalau begitu aku akan meminta beberapa orang pengawal untuk menjaga Hanum dari jauh,"Farel menyetujui saran pemberian Rio.
Tok...Tok...Tok...
Terdengar suara pintu diketuk.Kania masuk kedalam ruang pribadi Farel tanpa menunggu persetujuan dari suaminya itu.
"Ada apa?"Tanya Farel pada Kania.Tapi wanita itu enggan menyahut karena ada Rio di ruangan itu.
Farel memberi kode kepada Rio untuk keluar dari ruangan,Rio mengangguk tanda setuju.
"Sekarang,hanya ada kita berdua saja disini.Katakan,apa yang sedang mengganggu pikiranmu?"Tanya Farel.
"Sepertinya aku masuk angin,apa kamu bisa mengerok punggungku dengan koin dan minyak gosok?"Tanya Kania dengan nada manja.Wanita itu bergelayut dipangkuan suaminya.
__ADS_1
"Tentu saja bisa,mau disini atau dikamar?"Tanya Farel.
"Disini saja,"sahut Kania.
"Tapi..."Kania sedikit ragu.
"Tapi apa?"Farel penasaran.
"Jangan meminta lebih ya,aku benar benar tidak enak badan,"pinta Kania.
"Itu tergantung nanti,"Farel tersenyum licik.
*
*
*
Kring...Kring....Kring...
Ponsel Rio berdering,Rio segera mengangkat telfon masuk yang ternyata dari Renata istrinya.
"Hallo sayang,"Sapa Rio penuh cinta.
"Aku sedang duduk santai saja dikamar,kamu sendiri sedang apa?"Tanya Rio balik.
"Aku sedang merindukanmu,"goda Renata centil.
"Ha...Ha...Ha...Pandai sekali kamu membuat hati suami senang,"celetuk Rio renyah.
"Harus dong,kan sayang.Ngomong ngomong aku mau bicara sesuatu sama kamu,"Renata mengajak Rio untuk mengobrol kearah yang lebih serius.
"Soal apa?Kelihatanya penting,"Tanya Rio.
"Bisa tidak kamu mengundurkan diri jadi asisten pribadi Farel?"Tanya Renata.
"Kenapa memangnya?"Tanya Rio penasaran.
"Aku tidak mau kamu jadi incaran penjahat yang mengejar ngejar Kania,"sahut Renata dengan nada khawatir dan cemas.
"Sejak dulu,kamu tau aku adalah orang kepercayaan Tuan Farel.Aku akan melakukan apapun untuk melindunginya dan keluarga besarnya,termasuk Kania.Kenapa baru sekarang kamu protes soal profesi ku?"Rio protes pada Renata.
__ADS_1
"Aku takut sesuatu terjadi padamu,"Rengek Renata.Dia masih mencoba untuk meluluhkan hati Rio.
"Sudah menjadi resiko pekerjaan sayang,lagi pula setiap pekerjaan memang punya resiko kan?"Rio berharap Renata mau mengerti keputusannya.
"Tapi,aku.."Ucapan Renata tercekat.
"Jangan berlebihan,aku akan hati hati dan menjaga diri.Kamu tidak boleh bersikap seperti itu,Kania itu bos ku,dia juga bos mu,teman baikmu,"Rio menasihati.
"Iya,aku mengerti,"Renata mengalah.
"Sudahlah,positif thinking saja jangan macam macam!"Pinta Rio.
"Ok."Sahut Renata malas.
Rio tau Renata kecewa,tapi dia sungguh tidak bermaksud untuk melakukan hal itu.Dia hanya ingin Renata menghargai profesi yang sudah lama dia geluti.Memang resiko menjadi tangan kanan Farel itu besar,tapi itu sepadan dengan gaji dan fasilitas yang diberikan oleh Farel.
Belum lagi bonus yang dia dapat berupa kendaraan pribadi,tanah,sampai ruko.Mencari pekerjaan seperti ini sangat sulit,dan 1001 ada bos yang baik dan royal seperti Farel.Rio termasuk sangat beruntung bisa bekerja dan mengabdi pada keluarga Mananta.
Ditempat lain,Renata terus menggerutu.Dia merasa Rio tidak paham dengan dirinya yang sedang cemas dan khawatir pada keselamatannya.Renata merasa heran,kenapa Ibu dan suaminya itu sangat setia pada keluarga Mananta bahkan hingga rela bertaruh nyawa untuk mereka.Menyebalkan!
Dian dan Dion menghampiri Renata dikamarnya,mereka minta diajari belajar.Karena sedang tidak mood dan kesal pada suaminya,Renata menolak permintaan si kembar.
Renata meminta mereka untuk belajar sendiri,jika ada kesulitan mereka diminta untuk menelfon guru les mereka disekolah.Dian dan Dion merasa sikap Renata berubah,perubahan itu tidak disukai oleh mereka.
Didalam kamarnya,Dian dan Dion melakukan obrolan yang cukup serius.
"Apa yang sedang terjadi dengan Kak Renata ya?Kenapa dia jadi cuek dengan kita?"Dian kebingungan.
"Aku sendiri tidak tau,apa mungkin dia sudah lelah mengurus kita?"Dion juga ikut bingung.
"Jadi,kita harus bagaimana sekarang?Apa kita ikut tinggal bersama Kak Kania saja?"Ucap Dian serius.
"Tapi,apa kita tidak merepotkan dia ya?"Tanya Dion.Dia terlihat sedikit ragu,apa lagi Kania sudah memiliki tiga orang bayi.
"Tentu saja tidak,kita kan sudah bisa melakukan segala hal sendiri,"Dian menimpali.
"Kenapa ya,orangtua kita harus meninggal dunia saat kita masih kecil?Hidup kita sekarang jadi susah,"Dion memasang wajah sedih.
Keduanya saling berpelukan agar bisa saling menguatkan satu sama lain.
--->π»π»π»<---
__ADS_1
Cinta yang paling murni yang pernah ada didunia ini adalah cinta orang tua kepada anak anaknya.
Author.