
Aurel terus menempel pada Dian dan Dion sepanjang hari,dia senang bisa bermain dan belajar bersama mereka.Malam itu Aurel memberanikan diri meminta izin pada Farel dan Kania untuk menginap.
Farel langsung mengizinkannya,tapi Kania perlu waktu lama untuk mengatakan Iya.Meskipun begitu Farel merasa senang,karena sang istri akhirnya mau berusaha untuk melakukan hal baik pada Aurel.
Selesai makan malam,Aurel ikut dengan Dian dan Dion ke kamarnya.Diam diam Kania mengikuti,dan mengintip kegiatan mereka dari balik pintu kamar.
"Aurel,apa kamu senang tinggal di rumah ini?"
"Iya,aku senang.Disini ada Kak Dian dan Dion,kalau dirumah aku tidak memiliki teman,Mama tidak mengizinkan aku untuk main diluar,"
"Kenapa tidak di izinkan?"
"Teman temanku selalu mengolok olok aku,mereka bilang aku anak haram dan pembawa sial,"
Aurel terlihat murung,matanya yang berkaca kaca sudah dapat mewakili bagaimana perasaanya saat ini.Dian dan Dion memeluk Aurel,mereka mencoba untuk menenangkan anak perempuan itu.
Hati Kania tersentuh,dia merasa iba pada nasib Aurel.Tidak ada yang ingin menjadi anak haram diluar nikah,termasuk Aurel.Dia tidak salah apapun,yang salah adalah Cindy dan Farel.
Kania berinisiatif untuk pergi kedapur,dia mengambil banyak camilan dan makanan ringan kemudian membawanya ke kamar Dian dan Dion.
Anak anak itu berjingkrak kegirangan,terutama Aurel.Dia sangat hobi makan,terlebih ngobrol sambil ngemil.
"Anak anak,main yang akur ya.Tidak boleh berantem,oke!"ucap Kania.
"Oke,Kakak,"Dian mengacungkan jempol tanganya keatas.
"Terimakasih Tante,Tante baik dan perhatian sekali.Aku sayang sama Tante,"cicit Aurel.Hal itu membuat hati Kania merasa malu dan tersipu.
"Ah,terimakasih,"Kania menyunggingkan senyum kecil.
Selesai menyuguhkan makanan dan minuman ringan untuk anak anak,Kania pergi keruang tengah untuk menonton tv.Farel menghampiri dan duduk disisinya.
"Mana Renata?"Tanya Kania.
"Dia tertidur dikamar anak anak kita,"sahut Farel.
"Oh,ya sudah,"
Kania kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi.
"Anak anak itu sedang apa?"
"Bermain dan belajar,sudah waktunya bagi Aurel masuk ke sekolah.Kamu harus bicarakan itu dengan Cindy,"
"Baiklah,aku akan bicara padanya besok,"
"Dia butuh bermain dan mengobrol dengan teman teman seusianya,bersekolah adalah cara paling baik untuk mencari teman,"
__ADS_1
"Terimakasih atas saran baikmu itu."Farel mengacak acak rambut Kania.Wanita itu hanya diam dan memasang ekspresi wajah datar.
Wahai diri,engkau sangat mencintai pria itu.Berusahalah untuk menerima masa lalunya,tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.Semua pasti pernah melakukan kesalahan,termasuk Farel.
Waktu berlalu,jam menunjukan pukul 21.00 malam.Kania kembali mengintip kamar Dian dan Dion untuk memeriksa apakah mereka sudah tidur dengan nyenyak.Anak anak sudah tidur,mereka tidur di ranjang yang sama dengan posisi yang tidak beraturan.
Kania membopong Aurel dan memindahkannya keranjang Dion.Kania khawatir Aurel akan jatuh karena ranjang Dian terlalu sempit untuk dihuni oleh tiga orang.
Dari jauh,Farel memperhatikan perlakuan lembut Kania pada Aurel.Dia merasa terharu,matanya berkaca kaca.Farel segera pergi dari tempat itu sebelum Kania tau kalau sejak tadi dia selalu mengawasinya.
*
*
*
Cindy dan Dion datang kerumah,mereka ingin menjemput Aurel dan membawa anak itu pulang.Sebagai ucapan terimakasih,mereka memberi Kania dan keluarganya oleh oleh makanan khas Negara yang baru mereka kunjungi.
"Maaf,aku sudah banyak merepotkan keluarga ini,"ucap Cindy.
"Tidak apa,kami tidak merasa direpotkan,"ucap Farel.
"Terimakasih,kalian sudah mau menjaga Aurel sementara waktu,"sambung Dion.
"Iya,sama sama,"sahut Kania.
Aurel bergelayut di lengan Kania,bocah itu menatapnya dengan tatapan manis.
"Boleh,kamu boleh datang kesini kapanpun kamu mau,"Kania membelai rambut panjang Aure.Tapi wajahnya saat itu masih terlihat dingin dan datar.
Akhirnya ada kemajuan,Kania sudah mau bersikap baik dan lembut pada anak pertama suaminya.Farel memperhatikan sambil tersenyum kecil,sementara Cindy sedikit terkejut karena secepat itu Kania mau menerima kehadiran Aurel.
Cindy dan Dion membawa Aurel pergi,Tak lama,Renata juga ikut pamit pergi.Dia tidak enak jika meninggalkan Rio terlalu lama dirumah,terlebih pria itu memiliki banyak kesibukan yang akan sulit jika dikerjakan seorang diri.
"Kapan kamu akan pergi program hamil?"Tanya Kania.
"Besok,pagi.Katanya Rio sudah membuat janji dengan dokter spesialis,"jawab Renata.
"Aku doakan semoga usaha keras kalian segera membuahkan hasil,"sambung Farel.
"Amin,"ucap Kania dan Renata berbarengan.
"Aku akan mentransfer sejumlah uang ke rekening Rio,gunakan uang itu untuk tambahan program hamil,"Farel memberi sebuah bantuan kecil.
"Ah,tidak perlu repot repot,"Renata merasa tidak enak hati.
"Kami tidak merasa direpotkan,"Kania memberi kode agar Renata tidak menolak bantuan dari Farel.
__ADS_1
"Kalau begitu,terimakasih banyak ya,"ucap Renata.
"Sama sama,"ucap Farel.
Rumah kembali sepi tanpa anak anak,Aurel sudah kembali kerumahnya,sementara Dian dan Dion sudah pergi kesekolah.Tiga anak kembar Kania selalu tidur tiap selesai sarapan dan mandi.
Waktunya bagi Kania bersantai menikmati hari dengan menonton tv dan meminum secangkir kopi hangat.
"Santai sekali hidupmu,"sindir Farel halus.
"Memangnya apa yang mau aku kerjakan lagi?"Balas Kania ketus.
"Pijitin aku,"pinta Farel.
"Eh,tidak bisa melihat istri menganggur sedikit,"celoteh Kania kesal.
"Tidak mau nih?"Farel menetap tajam.
"Mau kok,"Kania menyerah.
Saat sedang asik memijit punggung suaminya,tiba tiba Kania merasa mual,kepalanya juga sedikit pusing.
"Hoek...Hoek..."Kania menutup mulutnya dengan tangan.Dia berlari kecil menuju kamar mandi.
Farel yang khawatir mengikuti dari belakang,dia menggedor pintu agar Kania tidak menguncinya dari luar.
"Sayang,kamu tidak apa apa kan?"Tanya Farel.
"Tidak,sepertinya asam lambungku naik karena kebanyakan minum kopi,"sahut Kania.
"Tapi,bisa saja bukan karena itu,"
Kania membuka pintu,dia keluar dari kamar mandi dengan wajah sedikit pucat.
"Apa maksudmu?"Tanya Kania bingung.
"Jangan jangan,kamu sedang hamil lagi,"celoteh Farel.
Kania terdiam,dia mengingat ingat kapan terakhir kali dia mendapatkan menstruasi terakhir.Sepertinya dia sudah telat beberapa minggu,dia tidak memperhatikan karena dia terlalu sibuk dengan kegiatannya sehari hari.
"Bagaimana kalau memang benar aku sedang hamil lagi?"Kania menatap Farel.
"Ya bagus,banyak anak banyak rejeki,"Farel tertawa.
"Tapi anak anak masih kecil,pasti akan sangat merepotkan sekali.Apa lagi aku kemarin melahirkan dengan cara sesar,apa tidak akan berbahaya?"Kania menekuk wajahnya.
"Kita pergi ke Dokter saja,kita tanya secara langsung,"ajak Farel.
__ADS_1
"Tidak,aku mau testpack dulu.Kalau positif,baru kita ke Dokter,"
Bersambung...